
Keesokan paginya,Naira yang sibuk memasukkan bajunya kedalam koper,Naira melihat seisi ruangan kamar itu dengan perasaan sedih sebab didalam kamar itu terdapat kenangan yang ia lalui sejak lima tahun terakhir.
Naira berjalan keluar dari kamar dan menuruni tangga,ia melihat ibu dan adiknya sudah siap dengan kopernya masing-masing.
"Kalian yakin mau pergi dari sini"kata Zainal yang tidak ingin melepaskan kepergian Naira.
"Iya paman"sahut Naira.
Saat Naira membuka pintu, ia melihat Akmal sedang berdiri diteras rumah.
"Akmal, sejak kapan kamu disana?"tanya Naira.
"Naira, dokter Akmal yang mencarikan rumah kontrakan buat kita"
"Yuk kita berangkat"ajak Akmal.
"Paman,bibi,tante Firda,kami berangkat dulu, Assalamu'alaikum"kata Naira sambil meneteskan air mata.
"Waalaikumsalam"sahut Zainal.
"Kak, saya mohon pamit"kata Rahmawati sambil memeluk Fatimah disusul Firda.
"Hati-hati dijalan"kata Zainal sambil melambaikan tangan kepada mereka.
Saat Zainal mau menutup pintu,ia melihat dari kejauhan ummi khasanah berjalan menuju rumahnya.
"Assalamu'alaikum"kata ummi yang melihat Zainal mau menutup pintu.
"Waalaikumsalam"sahut Zainal.
"Ummi,silahkan masuk"kata Zainal.
"Ada perlu apa?"tanya Zainal.
"Saya ingin bertemu dengan Naira"sahut ummi.
"Naira sudah pindah dari sini"sahut Fatimah yang datang sambil membawa nampan kecil.
"Kalau boleh ummi tahu,Naira pindah kemana?"tanya ummi.
"Saya juga kurang tahu Naira pindah kemana"sahut Zainal.
"Ada perlu apa mencari Naira?"tanya Fatimah.
"Saya ingin Naira kembali mengajar di pesantren"sahut ummi.
"Nanti saya akan menelepon ibunya Naira"sahut Zainal.
"Terimakasih"sahut ummi.
"Silahkan diminum tehnya"kata Fatimah.
"Terimakasih, tapi ummi harus segera pulang dulu takutnya Abi cariin ummi, Assalamu'alaikum"kata ummi.
"Waalaikumsalam"sahut Zainal dan Fatimah.
**********
Setelah melakukan perjalanan sekitar 20 menit,akhirnya mereka berhenti disebuah rumah yang besar dan mewah, halaman rumahnya begitu luas dan bersih.
"Rumah siapa ini?"tanya Rahmawati yang takjub melihat rumah semegah itu.
"Itu rumah yang saya beli untuk ibu dan Naira tempati"sahut Akmal.
"Tidak perlu repot-repot, kami bisa mencari rumah kontrakan"sahut Naira.
"Tidak apa-apa, rencananya setelah kita menikah, saya juga akan tinggal disini"sahut Akmal sambil melirik Naira.
"Yuk kita masuk"ajak Akmal.
__ADS_1
"Besar sekali ruangan ini"kata Nita.
"Ibu, ini kunci rumah,kalau begitu saya akan kembali kerumah sakit, Assalamu'alaikum"kata Akmal.
"Waalaikumsalam"sahut mereka.
"Ibu, Nita mau kamar itu"sahut Nita sambil berlari masuk kedalam kamar.
"Kenapa saya kangen dengan Attar?apakah saya menyukai Attar?"tanya dalam hatinya.
"Naira, kenapa melamun?"tanya Rahmawati.
"Tidak apa-apa"sahut Naira.
"Ya sudah, cepat kamu kekamar dan beristirahatlah"ucap Rahmawati sambil meninggalkan Naira didepan pintu masuk.
********
"Abi, Attar tidak ada di kamarnya"kata ummi yang baru saja keluar dari kamar Attar.
"Mungkin Attar dikamar mandi"sahut Abi dengan santainya.
"Tidak ada, pintu kamar mandi terbuka"sahut ummi dengan perasaan khawatir.
"Mungkin Attar sedang keluar"sahut Abi yang langsung masuk kamar.
"Abi, ummi takut Attar pergi dari rumah"ucap ummi.
"Abi tahu sifat Attar, dia tidak mungkin pergi dari rumah"sahut Abi.
"Ya sudah, cepat ummi memasak,Abi sangat lapar"kata Abi.
"Baik Abi"sahut ummi sambil masuk dapur.
Ditengah jalan Attar yang sedang bersedih karena Naira pindah rumah tidak pamit kepada dirinya. Ia mulai mencari-cari dimana alamat rumah Naira,saat Attar duduk diatas jembatan ia melihat Naira duduk didalam mobil bersama dokter Akmal.
"Naira"teriak Attar sambil menghentikan mobil Akmal.
"Naira, kenapa kamu pindah tidak memberitahu saya"kata Attar sambil berjalan menghampiri Naira.
"Maafkan saya, karena saya terburu-buru"sahut Naira.
"Sebaiknya kamu jaga jarak dengan Naira, dia calon istriku"kata Akmal sambil mendorong Attar.
"Saya tidak peduli, selagi Naira belum menikah, saya berhak mendekatinya"teriak Attar dengan melotot kearah Akmal.
"Saya peringatkan sama kamu, jauhi Naira, sebentar lagi saya akan bertunangan dengan Naira"kata Akmal yang memukul perut Attar sampai Attar mengeluarkan darah dari mulutnya.
"Sudah, jangan berkelahi"teriak Naira yang berada ditengah antara Akmal dan Attar.
"Naira,kamu memilih saya atau dia?"tanya Attar sambil menatap mata Naira.
"Naira, pasti memilih saya karena saya cinta pertamanya"sahut Akmal dengan nada tinggi.
"Kamu diam saja, biar Naira yang menjawab"sahut Attar dengan nada tinggi.
"Sudah cukup"teriak Naira yang memandangi Attar dan Akmal secara bergantian.
"Naira, katakan pada dia, bahwa kamu mencintaiku"kata Attar.
" Kak Attar, apa kamu dibutakan oleh cinta, saya pasti akan memilih Akmal"kata Naira.
"Sudah jelaskan bahwa Naira itu mencintaiku"sahut Akmal.
"Naira memilih kamu karena Naira dijodohkan oleh almarhum ayahnya bukan berdasarkan cinta"kata Attar yang menahan rasa sakit diperutnya.
" Naira,yuk kita pulang"ajak Akmal sambil masuk kedalam mobil.
"Kak Attar maafkan saya"kata Naira sambil masuk kedalam mobil.
__ADS_1
"Naira, saya tidak akan pernah membuat hidupmu tenang, saya tahu kamu mencintaiku"sahut Attar sambil melihat mobil itu melaju dengan cepat.
"Naira, terimakasih sudah memilih aku"kata Akmal sambil menyetir mobilnya.
"Cepat kita pulang ini sudah larut malam,takut ibu khawatir"kata Naira sambil fokus melihat jalanan.
"Baik"sahut Akmal.
Sampainya dirumah Naira segera masuk kamar dan ia menangis dibalik selimutnya,Naira sebenarnya menyukai Attar. Tapi disatu sisi ia juga mencintai Akmal.
"Naira kenapa menangis?apa dokter Akmal melukaimu?"tanya ibunya sambil duduk diatas kasur.
"Tidak"sahut Naira.
"Terus kenapa kamu menangis?"tanya ibunya.
"Naira bingung"sahutnya.
"Naira bingung kenapa?"tanya ibunya.
"Disatu sisi Naira mencintai Akmal dan disatu sisi lagi Naira menyukai Attar"sahut Naira sambil terus menangis.
"Nak, jangan patahkan hatinya Akmal yang telah membantu kita selama ini, ibu tahu ini adalah hal yang paling sulit"kata ibunya.
"Ini mungkin adalah doa Naira yang dikabulkan oleh Allah, karena Naira pernah meminta kepada Allah agar suatu hari nanti Akmal menjadi suami Naira"kata Naira sambil mengusap air mata.
"Seandainya kembaran Naira hidup, pasti ibu akan menjodohkan dia dengan Attar"kata ibunya sambil meneteskan air mata.
"Sepertinya kembaran Naira masih hidup, karena jasad Rania belum ditemukan"sahut Naira sambil menatap cermin.
"Ibu juga yakin bahwa kembaran kamu Rania masih hidup"kata ibunya.
"Semoga kita bisa kumpul lagi dengan Rania"sahut Naira sambil memeluk ibunya.
"Yuk, kita makan malam, ibu sudah siapkan makanan kesukaan kamu"ajak ibunya.
"Iya"sahut Naira.
**********
Diruang tengah ummi sedang mondar-mandir memikirkan Attar yang belum pulang juga.
"Abi, ini sudah larut malam, tapi Attar belum pulang juga"kata ummi khasanah.
"Sebentar lagi juga pulang"sahut Abi sambil menonton TV.
"Assalamu'alaikum"kata Attar dengan suara lemah.
"Itu anak kesayanganmu sudah pulang"sahut Abi.
"Waalaikumsalam"sahut ummi.
"Attar, kamu kenapa?"tanya ummi yang melihat darah dibaju Attar dan memar dibagian pipi.
" Apa kamu berkelahi?"tanya Abi yang melihat Attar duduk di sofa.
"Iya Abi, Attar berkelahi dengan dokter Akmal"sahutnya.
"Kenapa kamu berkelahi dengan dokter Akmal?"tanya Abi.
"Pasti merebutkan Naira"sahut ummi sambil mengompres luka Attar.
"Attar, sebaiknya kamu lupakan saja Naira,masih banyak perempuan lain diluar sana"kata Abi.
"Tidak bisa Abi, Attar mencintai Naira"sahut Attar sambil berjalan dan masuk kedalam kamar.
"Abi bagaimana ini?"tanya ummi.
"Saya tidak tahu harus berbuat apa"sahut Abi.
__ADS_1
*Bersambung*