
Keesokan harinya, jam sudah menunjukkan pukul 8 pagi dan Zainal masih nonton tv kesukaannya.
"Paman, kenapa tidak berangkat ke pesantren, ini sudah pukul 8 pagi"kata Naira.
"Paman berhenti mengajar disana"sahut Zainal yang membuat Naira terkejut.
"Kenapa paman?"tanya Naira.
"Ini semua salah paman"ucap Zainal.
"Maksud kakak Zainal apa?"tanya Firda yang datang membawa cemilan dalam toples.
"Abi menyuruh kakakmu untuk sementara berhenti mengajar"kata Fatimah yang baru datang.
"Ada masalah apa paman?"tanya Naira.
"Paman telah berbohong kepada Abi, Abi bertanya kepada paman kenapa Naira tidak masuk mengajar, saya jawab kamu pergi ziarah kemakam ayahmu tapi ternyata ummi melihat kamu dengan dokter Akmal pergi ke toko buah"sahut Zainal.
"Paman, maafkan Naira"kata Naira dengan perasaan sedih.
"Naira tidak salah, salah paman sendiri karena telah berbohong kepada Abi"sahut Zainal.
"Naira, sebaiknya kamu berangkat sekarang nanti terlambat"kata Fatimah.
"Iya, Naira akan segera berangkat, Assalamu'alaikum"kata Naira sambil membuka pintu.
"Waalaikumsalam"sahut Zainal.
"Kakak, maafkan saya dan Naira yang telah merepotkan kakak Zainal"kata Rahmawati.
"saya merasa tidak pernah direpotkan oleh kalian"sahut Zainal.
"Firda, apa kamu sudah punya pasangan hidup?"tanya Fatimah yang melihat Firda sedang makan cemilan.
"Sudah tapi dia belum punya pekerjaan"kata Firda.
"Kalau dia tidak punya pekerjaan, artinya dia tidak serius sama kamu"sahut Rahmawati.
"Tapi saya sayang sama dia"sahut Firda.
"Berapa lama kamu kenal dengan dia?"tanya Zainal.
"Sudah 10 tahun"sahut Firda.
"Lebih baik kamu lupakan saja dia, kakak akan mengenalkan kamu kepada teman kakak"kata Zainal kepada Firda.
"Firda tidak mau"sahut Firda.
"Tidak salahnya jika berkenalan terlebih dahulu, siapa tahu kamu suka dengan dia"kata Fatimah.
"Apa kamu tidak malu, jika ponakan kamu yang mendahului menikah"kata Zainal.
"Nanti Firda pikirkan"sahut Firda sambil berjalan menuju kamarnya.
**********
Didalam kantor Naira sedang bersandar di kursinya sambil memandangi seisi ruangan. Tiba-tiba Attar datang bersama Abi.
"Assalamu'alaikum"kata Attar yang melihat Naira berada didalam kantor.
"Waalaikumsalam"sahut Naira yang tidak melihat Attar dan Abi memasuki kantor.
"Abi, ini surat dari saya"kata Naira sambil memberikan amplop yang didalamnya berisi surat.
__ADS_1
"Naira, surat apa ini?"tanya Abi.
"Saya ingin mengundurkan diri untuk tidak mengajar lagi"kata Naira yang membuat Attar terkejut.
"Naira kenapa?"tanya Attar sambil menghampiri Naira.
"Tidak apa-apa, Naira hanya ingin istirahat saja"sahut Naira.
"Baiklah, jika ini keputusan yang kamu buat,saya akan menerimanya"kata Abi.
"Terimakasih Abi, kalau begitu saya pamit pergi, Assalamu'alaikum" kata Naira sambil keluar dari kantor.
"Waalaikumsalam"sahut Abi.
Attar yang tidak terima Naira mengundurkan diri,ia segera berlari mengejar Naira.
"Naira"panggil Attar yang membuat Naira berhenti didepan kelas.
"Ada apa?"tanya Naira.
"Apa alasannya sehingga kamu mengundurkan diri?"tanya Attar.
"Kamu tidak perlu tahu alasannya"sahut Naira sambil berjalan keluar pintu gerbang.
"Apa karena dokter Akmal, kamu mengundurkan diri?"tanya Attar yang membuat Naira berhenti berjalan.
"Bukan karena Akmal"sahut Naira.
"Terus karena apa?"tanya Attar.
"Kamu bisa menanyakan kepada Abi, beliau mengetahui semuanya"ucap Naira sambil melambaikan tangan ketika melihat taksi.
Ketika Attar kembali ke kantor, ia melihat ummi sedang membuat kopi untuk Abi.
"Assalamu'alaikum"kata Attar.
"Attar, yuk minum kopi bersama Abi"ucap Abi.
"Abi, apa Abi tahu kenapa Naira mengundurkan diri?"tanya Attar yang melihat Abi sedang minum.
"Karena Abi menyuruh pamannya berhenti mengajar untuk sementara"sahut Abi.
"Kenapa Abi melakukan itu?"tanya Attar.
"Attar, duduk dulu kita bicarakan baik-baik"sahut ummi.
"Abi harus membuat Naira kembali mengajar lagi kalau tidak Attar akan kabur dari rumah"ancam Attar yang membuat ummi kaget.
"Attar, kamu mau kemana?"tanya ummi.
"Abi, abi harus membawa Naira kembali mengajar lagi, ummi tidak mau Attar kabur dari rumah"sahut ummi dengan rasa khawatir.
"Ummi saja kerumah bapak Zainal, meminta dan memohon kepada Naira untuk kembali mengajar ke pesantren"sahut Abi.
"Baik,Abi"kata ummi.
*********
Saat Naira mengetuk pintu rumah,ternyata pintunya tidak dikunci dan Naira segera masuk,ia melihat dan mendengar Ibunya berbicara dengan Fatimah.
"Jadi Nita itu bukan adiknya Naira"Kata Fatimah yang membuat Naira terkejut.
"Iya, kami menemukannya dijalan saat kami mau pulang kampung"kata Rahmawati.
__ADS_1
"Saya takut orang tua Nita mencari keberadaannya, karena saya menyayangi Nita seperti anak saya sendiri"sahut Rahmawati.
"Apakah Naira mengetahui bahwa Nita bukan adik kandungnya?"tanya Fatimah.
"Iya, Naira sudah mengetahuinya"sahut Rahmawati sambil menatap Firda.
"Ibu"panggil Naira.
"Naira, kenapa kamu pulang cepat?"tanya Fatimah.
"Naira mengundurkan diri untuk tidak mengajar lagi"sahut Naira.
"Kenapa?"tanya Rahmawati yang segera menghampiri Naira.
"Naira hanya ingin istirahat untuk sementara"kata Naira sambil menaiki tangga.
"Ada apa dengan Naira?"tanya Fatimah.
"Saya juga tidak tahu, saya akan membujuk Naira dulu"kata Rahmawati sambil menaiki tangga.
Didalam kamar Naira hanya berdiri menatap keluar jendela kamarnya.
"Naira"panggil Rahmawati yang melihat Naira berdiri didekat jendela.
"Ibu ada apa?"tanya Naira.
"Ibu ingin kamu kembali lagi mengajar, kasihan pamanmu yang membiayai kehidupan kita sehari-hari, belum lagi tante Firda yang ikut dengan pamanmu"sahut Rahmawati.
"Naira akan memikirkannya"sahutnya.
\*\*\*\*\*\*\*\*\*
Naira yang hanya seharian berada didalam kamar, ia selalu membayangkan apa jadinya kalau ia menikah dengan dokter Akmal. Akankah ia akan membawa ibu dan adiknya kerumah mertuanya atau tidak, sebenarnya ia tidak ingin jauh dari ibunya yang kedua kalinya.
"Naira"panggilan yang membuat Naira tidak ingin keluar dari kamar,ia merasa sudah bersahabat dengan kamarnya selama lima tahun ini.
"Iya"jawabnya yang tidak ingin mengecewakan ibunya.
"Kamu belum makan malam, ini ibu bawakan sup ayam"kata ibunya dengan perasaan senang karena putrinya sudah mau membukakan pintu.
"Ibu, kita pindah rumah saja, Naira tidak ingin merepotkan paman lagi"katanya dengan nada rendah.
"Kita mau pindah kemana?"
"Kerumah kita yang lama"sahut Naira.
"Rumah kita yang lama sudah ibu jual untuk pengobatan almarhum ayahmu"sahut ibunya dengan perasaan sedih.
"Pindah kemana saja, yang penting tidak merepotkan paman"ucap Naira.
"Baiklah, besok kita akan mencari rumah kontrakan"ucap ibunya.
"Nita tidak ingin pindah dari sini"kata Nita yang mendengar perkataan Naira dan ibunya.
"Kenapa Nita tidak ingin pindah dari sini?"tanya ibunya sambil menatap Nita.
"Disini nyaman, luas dan tenang"sahut Nita.
"Nita, ibu tidak ingin merepotkan pamanmu, pamanmu sudah banyak membantu kita"sahut ibunya.
"Nita, nanti kita cari rumah kontrakan yang bagus dan luas seperti rumah paman"kata Naira.
"Janji ya kak Naira"sahut Nita.
__ADS_1
"Iya"sahut Naira.
*Bersambung*