
Ketika Naira pulang dari pesantren, tiba-tiba Naira dibius oleh dua orang laki-laki dan dimasukkan kedalam mobil berwarna hitam gelap.Mobil itupun sampai disebuah rumah yang tidak berpenghuni yang tidak jauh dari tempat tinggalnya. Naira diikat kedua tangan dan kakinya. Saat Naira sudah sadar,ia melihat ruangan itu tampak gelap dan banyak tahi tikus dimana-mana, sehingga membuat Naira ingin muntah.
"Tolong lepaskan saya"teriak Naira.
Tiba-tiba seseorang perempuan cantik memakai topeng masuk dari balik pintu.
"Siapa kamu?"tanya Naira yang melihat perempuan itu melepaskan cadarnya.
"Kamu ingin tahu siapa aku?"tanya perempuan itu.
"Apa saya pernah melakukan kesalahan sama kamu sehingga kamu menculik saya seperti ini?"tanya Naira sambil meneteskan air mata.
"Iya"teriak perempuan itu sambil melepaskan topengnya.
"Rania"kata Naira yang kaget melihat wajah perempuan itu mirip dengannya.
"Apa kamu mengenaliku wahai kakakku tersayang"sahut Rania sambil tertawa.
" Rania, kenapa kamu mengikat kakakmu seperti ini?apa salah kakak?"tanya Naira.
"Aku ingin kakak merasakan apa yang aku rasakan selama ini"sahut Rania dengan emosi.
"Kakak dan ibu mencari kamu selama ini, kamu kemana saja?"tanya Naira.
"Ibu dan ayah tidak pernah menyayangiku, dia hanya menyayangi kakak Naira seorang"kata Rania sambil meneteskan air mata.
"Tidak Rania, ibu sayang dengan kita"sahut Naira.
"Jika ibu sayang dengan kita, kenapa waktu kita tenggelam disungai, ibu lebih dulu menyelamatkan kak Naira daripada aku"kata Rania dengan nada tinggi.
"Kak Naira selama 17 tahun, aku hidup kesana kemari tidak tentu arah, aku pikir ayah dan ibu akan mencari keberadaan aku ,tapi ternyata sampai detik ini mereka tidak mencari aku"kata Rania.
"Rania, lepaskan kakak, kakak ingin pulang"sahut Naira.
"Aku ingin kembali kehidupan ibu, tapi bukan sebagai Rania tapi sebagai Naira"kata Rania.
"Maksud kamu apa?"tanya Naira.
"Aku ingin kita bertukar tempat, biarkan aku menjadi Naira"kata Rania sambil tersenyum.
"Rania, jangan lakukan itu"teriak Naira yang melihat Rania keluar dari ruangan.
**********
"Naira, kamu dari mana?ini sudah pukul 9 malam?"tanya Rahmawati yang melihat putrinya baru datang.
"Saya dari rumah teman"sahut Rania yang melihat ruangan yang luas itu.
"Kemana baju dan cadarmu?kenapa berpakaian seperti itu?"tanya Rahmawati dengan heran.
"Pakaian saya basah terkena hujan, jadi minjam baju teman"sahut Rania.
"Oh begitu, yuk ganti bajumu kita makan malam"ajak Rahmawati sambil berjalan kearah meja.
Dimeja Rania yang menyamar sebagai kembarannya Naira, merasa takjub melihat ruangan dapurnya begitu luas dan bersih.
"Nita, ambilkan piring bersih"perintah Rahmawati yang melihat Nita sedang berada di rak piring.
"Ibu, ini piringnya"sahut Nita sambil duduk.
"Astaga, anak ini yang melihatku waktu itu, ternyata dia adiknya Naira, apakah dia mengenaliku?"tanya Rania dengan terkejutnya.
"Naira, ibu sudah buatkan makanan kesukaanmu sayur asem dan udang goreng tepung"kata Rahmawati dengan senyum.
"Aduh bagaimana ini, aku alergi udang, kalau aku tidak makan ibu bisa curiga"kata Rania dalam hati.
"Kak Naira, kenapa udangnya cuma dilihat saja"kata Nita.
"Iya, ini saya makan udangnya"kata Rania sambil memasukkan satu ekor udang goreng kedalam mulutnya.
"Besok kalian bangun pagi-pagi, kita akan kerumah pamanmu karena tante Firda akan menikah"kata ibunya sambil menatap kedua putrinya.
"Aduh, badanku gatal banget"kata Rania dalam hatinya.
"Ibu, saya sudah kenyang, saya duluan kekamar ya"kata Rania sambil berlari masuk kamar Nita.
"Kenapa dengan kakak kamu?"tanya Rahmawati dengan heran.
"Mungkin gugup, tinggal beberapa hari lagi kak Naira akan bertunangan dengan dokter Akmal"kata Nita.
"Mungkin kamu benar"sahut ibunya.
Didalam kamar Rania membuka seluruh bajunya, kini ia hanya memakai baju dalam dan celana pendek, Rania melihat seluruh badannya merah, tiba-tiba ibunya masuk sambil membawa segelas susu hangat.
"Naira, kenapa badan kamu merah-merah?"tanya Rahmawati sambil meletakkan segelas susu diatas meja.
"sepertinya alergi udang"sahut Rania keceplosan.
__ADS_1
"Sejak kapan kamu alergi udang?"tanya ibunya dengan heran.
"Saya juga tidak tahu"sahut Rania.
"Sini badan kamu, biar ibu oleskan salep"kata ibunya.
"Kenapa dileher Naira tidak ada tanda lahir?"tanya dalam hati Rahmawati.
"Sudah ibu oleskan, nanti juga sembuh, kalau begitu ibu keluar dulu dan jangan lupa minum susunya"kata Rahmawati sambil menutup pintu kamar Naira.
Keesokan paginya, Rahmawati masuk kedalam kamar Naira,ia melihat susu hangat yang ia bawa semalam ternyata tidak diminum oleh anaknya.
"Tumben, Naira tidak minum susu"kata Rahmawati.
"Ibu ada apa?"tanya Rania yang melihat ibunya masuk kamar.
"Apa ibu mulai curiga kepadaku?"tanya Rania dalam hatinya.
"Tidak, yuk kita sarapan pagi, terus kita berangkat kerumah paman"kata Rahmawati.
"Baik ibu"sahut Rania sambil membuka lemari pakaian milik Naira.
"Naira, kenapa kamu tidak menggunakan cadar?"tanya ibunya yang melihat putrinya keluar dari kamar.
"Gerah dan panas"sahut Rania sambil duduk dimeja makan.
"Ini kak teh panasnya"kata Nita sambil meletakkan teh panas didepan Rania.
"Aku tidak suka teh panas"kata Rania dengan marah.
"Kenapa?"tanya Nita.
"Tidak, maksud saya hanya ingin air putih saja"sahut Rania.
"Kenapa Naira berubah ya?ada apa yang terjadi dengan Naira?kenapa putriku berubah 90 derajat seperti ini?"tanya hati Rahmawati.
Saat akan membuka pintu, Rahmawati melihat dokter Akmal sedang berdiri diteras rumah.
"Apa kamu menunggu lama?"tanya Rahmawati.
"Tidak ibu, baru lima menit"sahut Akmal sambil tersenyum kepada Rania.
"Jadi ini calon suami kakakku, ganteng juga"kata hati Rania.
"Yuk, kita berangkat kerumah pamanmu"ajak Rahmawati sambil mengunci pintu.
Didalam mobil, Rahmawati dan Nita duduk dibelakang sedangkan Rania yang bertukar tempat dengan Naira duduk disamping dokter Akmal. Sekitar dua menit akhirnya mereka pun sampai dirumah Zainal,dimana Rahmawati banyak melihat tamu undangan sudah yang hadir.
"Maaf ibu, saya tidak bisa hadir karena banyak pasien yang harus saya periksa"kata Akmal.
"Tidak apa-apa, yuk Nita kita turun"ajak Rahmawati.
"Aku sayang sama kamu"kata Rania sambil memegang tangan Akmal.
"Aku juga sayang sama kamu"sahut Akmal dengan tersenyum.
"Tumben banget, Naira memegang tangan aku, biasanya waktu aku pegang tangan dia selalu menolak katanya belum muhrim"kata hati Akmal.
"Kok kamu tidak mengenakan cadar?"tanya Akmal.
"Itu cuacanya hari ini panas jadi saya takut gerah"sahut Rania.
"Apa dia curiganya?"tanya Rania dalam hatinya.
"Kalau begitu aku turun dulu ya"kata Rania sambil turun dalam mobil.
********
Disebuah rumah kosong,Naira yang masih terikat ingin berusaha kabur dari tempat itu.
"Saya harus bisa kabur dari sini, hari ini acara pernikahan tante Firda, pasti semua orang kerumah paman termasuk Rania"kata Naira yang kondisi lemah akibat tidak makan seharian.
"Ya Allah, tolong Naira"kata Naira sambil meneteskan air mata.
"Ibu, tolong Naira"teriak Naira sambil berusaha melepaskan ikatan tangannya.
Ketika Naira berhasil membuka ikatan tali ditangan dan kakinya,ia pun kabur lewat jendela.
Sementara diruang tengah,saat Rahmawati mengambil air tiba-tiba ia mendengar Naira berteriak minta tolong membuat gelas yang ia pegang terjatuh.
"Ibu, ada apa?apa ibu sakit?"tanya Nita sambil membawa ibunya duduk ditengah acara.
"Entahlah sayang, ibu seperti mendengar suara kakakmu minta tolong"kata Rahmawati.
"Mungkin perasaan ibu saja, itu kak Naira sedang bersama kak Attar"tunjuk Nita yang melihat Rania dan Attar duduk di kursi yang sudah disediakan untuk para undangan.
"Mungkin kamu benar"sahut Rahmawati.
Sementara dikursi para tamu undangan terlihat Rania dan Attar sedang duduk bersama.
__ADS_1
"Cantik banget ya tante kamu memakai gaun itu"kata Attar yang melihat Firda sedang duduk di pelaminan bersama Zaky.
"Beruntung banget hidup kak Naira, dikelilingi cowok ganteng"kata hati Rania.
"Iya, semoga kita bisa cepat menyusul tanteku di pelaminan"sahut Rania yang membuat Attar terkejut dan tersenyum.
"Apa, coba ulangi lagi, saya tidak mendengar perkataan kamu"kata Attar sambil menatap Rania yang salah tingkah.
"Apa yang diulang"kata Rania.
"Apa kamu mencintaiku?"tanya Attar.
"Iya, saya mencintai kamu"sahut Rania sambil memegang tangan Attar.
"Kamu serius suka dengan saya, kenapa kamu menerima perjodohan dengan dokter Akmal kalau kamu mencintaiku?"tanya Attar sambil memegang tangan Rania.
"Iya, saya dipaksa oleh ibu"sahut Rania.
Dari kejauhan Azizah yang melihat Naira dan Attar sedang duduk bersama, ia mulai cemburu dan langsung menyiramkan secangkir air kewajah Rania.
"Azizah, apa yang kamu lakukan?"tanya Attar yang melihat Azizah menyiramkan air kemuka Rania sehingga membuat para tamu undangan menatap mereka bertiga termasuk Abi,ummi dan Rahmawati.
"Attar, kita ini mau tunangan, kenapa kamu malah memegang tangan Naira yang belum muhrim kamu"teriak Azizah.
Rania yang emosi pun langsung menarik jilbab Azizah sampai jilbab itu terlepas.
"Naira"teriak Rahmawati yang melihat putrinya menarik jilbab Azizah.
"Apa yang kamu lakukan?"tanya Rahmawati.
"Ibu, dia yang duluan menyiramkan air ke wajah saya"sahut Rania sambil membuang ludah ke arah muka Azizah.
Abi dan ummi yang melihat itu semakin kaget dengan sikap Naira, Attar pun juga kaget termasuk Zainal dan Fatimah, Zainal tidak menyangka bahwa Naira bersikap seperti itu didepan Azizah, ia tahu bahwa Naira selalu mengalah dan segera Rahmawati pun menyeret Rania dari kerumunan para tamu undangan.
"Saya tidak pernah mengajarkan kamu seperti itu"kata Rahmawati dengan nada tinggi.
"Tapi dia yang mulai duluan"sahut Rania dengan nada tinggi.
"Iya, kalau Azizah yang duluan setidaknya kamu jangan meludahinya seperti itu"kata Rahmawati yang dilihat para tamu undangan.
"Ibu, perempuan itu ingin merebut Attar dari aku, aku mencintai Attar"jawab Rania yang membuat kaget seluruh para undangan termasuk Abi dan ummi.
"Naira, sebentar lagi kamu bertunangan dengan dokter Akmal, jangan pernah mengecewakan almarhum ayahmu"sahut Rahmawati sambil meneteskan air,ia tidak menyangka bahwa putrinya berkata seperti itu.
"Aku tidak peduli, ayah dan ibu tidak pernah menyayangiku"sahut Rania dengan nada tinggi.
"Naira"kata Rahmawati ingin menampar Rania.
"Jangan ibu"teriak Naira yang baru datang dari balik pintu membuat seluruh para tamu undangan terkejut termasuk Abi dan ummi.
"Kenapa Naira ada dua?"tanya Abi dengan heran.
"Ibu, dia Rania"kata Naira yang menghampiri Rania dan ibunya.
"Siapa Rania?apakah kembaran Naira?"tanya Attar dengan bingung.
"Rania, kamu kembali"kata Rahmawati sambil ingin memeluk Rania,tapi Rania menghindar.
"Kenapa kamu menghindar dari ibu?"tanya Rahmawati sambil meneteskan air mata.
"Itu karena ibu dan ayah lebih menyayangi Naira dari aku, aku juga anak kandungmu, tapi kenapa ibu lebih menyayangi Naira dari aku"kata Rania sambil menangis.
"Ibu sayang dengan kalian berdua"sahut Rahmawati.
"Ibu bohong, buktinya saat aku dan Naira tenggelam disungai, ibu lebih dulu menyelamatkan Naira daripada aku, sehingga aku hanyut di bawa arus sungai"sahut Rania.
"Itu karena.."kata Rahmawati yang tidak sanggup melanjutkan perkataannya.
"Karena apa?"tanya Rania.
"Karena kakakmu Naira mengalami buta permanen sejak lahir, kakak kamu tidak bisa melihat sampai dia berusia lima tahun, sedangkan kamu bisa melihat, apapun yang kamu minta ibu selalu menuruti keinginan kamu, sedangkan kakakmu, dia hanya berada dipelukan ibu karena kakakmu takut gelap, maka dari itu ibu lebih dulu menyelamatkan kakakmu"kata Rahmawati yang membuat Rania berasa bersalah kepada kakaknya.
"Ibu sudah mencari keberadaan kamu selama ini"kata ibunya.
"Rania, ibu sayang sama kita berdua"kata Naira yang juga ikut menangis.
"Ibu, maafkan Rania yang tidak mengetahui kebenarannya"kata Rania sambil memeluk Rahmawati, begitu juga dengan Naira.
"Ibu sayang sama kalian"kata ibunya sambil mencium kening Naira dan Rania.
"Bapak Zainal, siapa perempuan itu?"tanya Abi yang melihat Rahmawati memeluk kedua anaknya.
" Dia adalah saudara kembar Naira namanya Rania yang waktu itu hilang dibawa arus sungai"kata Zainal.
"Jadi, Naira punya saudara kembar"sahut ummi.
"Iya benar"kata Zainal.
"Jadi yang bersama saya tadi bukan Naira tapi Rania"kata hati Attar.
__ADS_1
*Bersambung*