
Terlihat diluar ruang kamar rawat Rahmawati, Naira tampak gelisah memikirkan kondisi ibunya, sementara Rania hanya menangis sesenggukan di kursi yang sudah disediakan oleh pihak rumah sakit.
Setengah jam kemudian pintu kamar rawat inap Rahmawati terbuka, terlihat dokter dan beberapa suster mulai keluar dari ruangan itu membawa alat tabung oksigen yang saat itu dipasangkan kedalam hidung Rahmawati.
"Dokter, bagaimana dengan keadaan ibu saya?"tanya Naira yang melihat raut wajah dokter dengan sedih.
"Maafkan saya, saya sudah berusaha semaksimal mungkin. Tapi Allah berkehendak lain"
"Yang sabar dan tabah ya"kata dokter itu.
"Ibu..."panggil Naira yang masuk kedalam ruangan disusul Rania dibelakangnya.
"Ibu...kenapa ibu meninggalkan aku dengan Rania"Naira menangis yang memeluk jenazah ibunya.
"Ibu, katanya sudah berjanji sama aku, agar merawat anakku bersama"ucap Rania yang mencium tangan ibunya.
"Ibu..."teriak Nita yang baru sampai masuk kedalam ruang rawat Rahmawati dan melihat Ibunya sudah tertutup kain.
"Kak Naira,apa yang terjadi dengan ibu"tangis pecah Nita di samping Naira.
"Ibu sudah meninggalkan kita semua"
"Tidak mungkin...,ibu, Nita sudah bawakan minuman yang ibu minta,yuk bangun ibu"Nita mulai mengguncang tubuh ibunya.
"Nita jangan, kasihan tubuh ibu"cegah Naira.
Tok..tok..tok..!
"Permisi, mobil ambulance untuk mengantarkan jenazah sudah siap. Kami akan mengantarkan beliau kerumah duka, Silahkan tolong lengkapi administrasinya"kata suster itu.
"Iya suster"sahut Rania yang mengusap air matanya.
********
"Ara"panggil Bella kepada Adik iparnya yang sedang mencuci pakaian.
"Ada perlu apa?"
"Tolong bersihkan baju aku dan Akmal dong"perintah Bella yang menaruh pakaiannya didekat Ara.
"Itu tugas kamu yang mencuci,kamu kan istri kakakku. Jadi kamu cuci sendiri"
"Kakak tidak bisa terlalu lelah kata dokter, jadi kamu bersihkan ya"
"Aku sudah selesai, kamu bisa cuci sendiri"kata Ara yang meninggalkan Bella sendiri.
"Ih, dasar adik sialan. Awas saja kamu nanti"batin amarah Bella.
"Bibi Ati"panggil Bella.
"Ada apa nyonya Bella?"
"Tolong, bersihkan pakaian aku"perintah Bella.
"Jangan mau bibi, tugas kamu bagian dapur saja"sahut Sisca yang baru datang.
"Baik nyonya"
__ADS_1
"Tapi mama, kata dokter aku tidak boleh terlalu lelah mengerjakan pekerjaan rumah"
"Apa selama ini kamu mengerjakan pekerjaan rumah?"tanya Sisca yang membuat Bella bungkam dan tidak berani menjawab. Karena selama ini ia tidak pernah mengerjakan pekerjaan rumah tangganya,ia hanya sibuk santai didalam kamar dan tidak pernah sama sekali memegang yang namanya sapu.
"Tidak ma, nanti Bella laundry saja pakaiannya"ucap Bella yang kembali mengambil pakaiannya.
"Jangan terlalu sering laundry nanti boros pengeluaran. Kamu tidak lihat anakku banting tulang bekerja dirumah sakit"
"Iya mama, aku tahu tapi sudah sebulan ini mas Akmal tidak pernah menafkahi aku"sahutnya dengan mimik wajah minta dikasihani.
"Kamu tidak ingat dengan uang 50 juta yang kamu pinjam dari papa atau kamu sudah lupa, selama ini Akmal itu membayar hutang yang kamu pinjam dari papa"Sisca yang mulai marah dibuat oleh Bella.
"Tapi.."belum selesai Bella bersuara, sudah Sisca pergi dari hadapannya.
"Dasar nenek lampir, selalu aku saja yang salah"batin Bella.
Sementara Akmal dirumah sakit sedang termenung memikirkan Naira. Sudah lebih dari satu bulan Naira menghilang dari muka bumi ini. Akmal segera berharap semoga ia dipertemukan lagi dengan Naira. Orang yang ia cintai selama ini.
Saat Akmal asyik melamun tiba-tiba seorang perempuan seusianya masuk ke ruangannya dengan memakai jilbab berwarna merah.
Tok..tok..tok..!
"Dokter, tolong periksa Ayah saya"kata perempuan itu.
"Dimana ayahmu?"tanya Akmal.
"Diruang melati"sahutnya.
"Baik, saya periksa ayahmu, silahkan kamu keluar dulu"
Setelah lima menit, akhirnya dokter Akmal keluar dari ruangan pasien.
"Ayah kamu baik-baik saja, cuma beliau butuh istirahat total selama seminggu atau beliau butuh liburan"senyum dokter Akmal.
"Terimakasih dokter Akmal"balas senyum perempuan itu.
"Bukankah kamu temannya Naira?"
"Benar saya temannya Naira, perkenalkan nama saya Azizah"jawab ia dengan ramah.
"Apa kamu tahu dimana Naira sekarang?"
"Saya tidak tahu, sudah hampir dua bulan saya tidak melihat Naira dan.."tangis Azizah sambil memeluk dokter Akmal.
"Maaf, kalau saya boleh tahu kenapa kamu menangis?"tanya Akmal yang melepaskan Azizah yang memeluk dirinya.
"Attar kabur dari rumah sebelum tiga hari menjelang pernikahan kami. Sepertinya Attar pergi mencari Naira. Sehingga membuat ayahku jatuh sakit"jawab Azizah sambil terus menangis.
"Sejak kapan Attar kabur dari rumah?"
"Sekitar satu bulan yang lalu"kata Azizah yang menghapus air matanya.
"Pakai saputangan ini untuk menghapus air matamu"Akmal yang prihatin dengan Azizah langsung memberikan saputangannya dari saku bajunya.
"Terimakasih"
"Ya sudah, aku pergi dulu. Kalau terjadi sesuatu dengan ayahmu, kamu bisa panggil aku disana"tunjuk Akmal kearah ruangannya.
__ADS_1
"Terimakasih"senyum Azizah.
******
Setelah pemakaman selesai semua pelayat sudah mulai pergi meninggalkan tiga saudara itu yang masih saja menangis di kuburan ibunya.
"Ibu, maafkan Rania"tangis pecah yang keluar dari mata Rania.
"Ibu, terimakasih sudah merawat dan membesarkan Nita"
"Rania, Nita,yuk kita pulang"ajak Naira kepada kedua adiknya.
"Iya kak"sahut Nita.
Ketika mereka sampai dirumah kontrakan mereka, Nita segera berlari masuk kamar dan tiba-tiba membawa koper yang berisikan pakaiannya.
"Nita, kamu mau pergi kemana?"tanya Naira yang sedang duduk menenangkan Rania yang masih saja menangis.
"Aku tidak ingin tinggal satu rumah dengan orang yang telah membuat ibu meninggal"sahut Nita yang menatap Rania.
"Nita, kamu ingatkan pesan ibu, jika ibu telah tiada. Kita tidak boleh berpisah"kata Naira yang mencegah adiknya pergi.
"Maafkan aku"kata Rania yang masih saja menangis.
"Aku tidak mau punya kakak seperti dirimu kak Rania"Nita yang mulai emosi itu meluapkan amarahnya kepada Rania seperti gunung yang mengeluarkan larva panas.
Plak..!
"Nita, jangan berkata seperti itu dengan kakakmu"yang tidak sengaja Naira menampar adiknya.
"Tampar terus aku kak Naira, sampai kakak puas. Selama ini kak Naira tidak pernah sama sekali menamparku, tapi karena dia, kak Naira berani menampar aku"Nita yang mulai merasakan sakit disekitar pipinya pun mulai menangis.
"Nita, maafkan kakak. Saya tidak sengaja"sahut Naira yang merasa bersalah karena telah menampar adiknya.
"Kak Naira selalu saja membela Rania karena Rania adalah saudara kandung. Sedangkan aku hanya anak pungut"teriak Nita.
"Nita, walaupun kamu bukan adik kandungku, tapi aku sudah menganggap kamu sebagai bagian dari keluarga ini. Jangan tinggalkan kami"mohon Naira kepada adiknya.
"Pilih aku yang pergi dari sini atau kak Rania?"
"Biar aku saja yang pergi dari sini"sahut Rania yang mau keluar dari membuka pintu.
"Rania, kamu mau pergi kemana?"tanya Naira yang memegang tangan Rania.
"Aku akan pergi jauh, aku tidak ingin Nita pergi dari sini. Ini semua kesalahanku"
"Rania, jangan pergi saya mohon"
"Assalamu'alaikum"
"Waalaikumsalam"sahut Nita.
"Rania, jangan pergi"teriak Naira yang akan menyusul Rania tapi dicegah oleh Nita.
"Biarkan saja dia pergi"sontak langsung Nita segera menutup pintu dan menguncinya.
"Rania.."tangis pecah Naira sambil masuk kedalam kamar.
__ADS_1
*Bersambung*