
Beruntung malam itu Bee tidak sempat menangkap pergerakan Sagara yang ingin mencium Olin, jadi dia tidak perlu menjelaskan apapun dan dianggap sebagai penjahat yang mengambil kesempatan saat anak perawan sedang tertidur.
Sebenarnya, salah Olin sendiri, kenapa dia harus tidur di ranjangnya? Itu kan sama saja memancing iman Sagara.
Namun, sejak malam itu, Sagara tidak bisa menjauhkan pikiran dari Olin. Gejolak itu semakin besar rasanya. Dia ingin mengatakan perasaannya pada Olin, tapi ragu. Selain keluarganya sudah menganggap Olin adalah anggota keluarga, ibunya juga sudah sering mengingatkan kalau dirinya harus menjaga Olin seperti adiknya sendiri, tapi kenyataannya dia justru menganggap Olin depan pandangan yang berbeda, tidak sebagai adik, tapi wanita yang dia sukai.
"Gue lihat, belakangan ini Lo rada beda kalau menatap Olin," ucap Boby saat mereka berada di ruang ganti, mereka akan bertanding basket pada pelajaran olahraga siang ini.
"Aneh gimana maksud Lo?" delik Sagara. Tiba-tiba niatnya untuk meneguk air minum dari botolnya jadi batal. Menoleh ke arah Boby, mencari tahu sampai sejauh mana sahabatnya itu mengetahui perasaannya.
"Ya aneh, beda gitu. Lo kayak-"
"Lo suka sama Olin!" sambar Fajar.
"Nah, itu...," tegas Boby sembari mengacungkan jempol ke arah Fajar.
"Dasar sarap Lo pada. Mana mungkin gue suka sama tu bocah," ucap Sagara kikuk. Jawaban spontan dan sekaligus membuatnya menyesal sudah berkata bohong.
"Lo gak bisa bohongi kita. Lagian kan gak salah kalau Lo suka sama Olin. Siapa yang gak suka dengan gadis cantik dan pintar kayak Olin? Gue aja mau," ucap Boby menyeringai.
"Sayangnya, dia gak mau sama lo!" sambar Fajar membuat ketiganya tertawa terbahak-bahak.
Namun, perkataan kedua temannya membekas dalam pikiran Sagara. Kalau kedua temannya itu saja bisa menyadari perasaannya pada Olin, tidak menutup kemungkinan kalau orang lain juga bisa tahu, Bee, misalnya.
"Kita pulang bareng," ucap Sagara yang baru saja keluar dari ruang ganti, melihat Olin yang melintas di koridor tidak jauh dari tempatnya. Sagara mengambil kesempatan untuk bicara pada gadis itu.
"Tapi aku mau jalan sama teman-teman ku. Kami janjian mau nonton pulang sekolah. Aku juga udah izin sama Tante Bee," ucap Olin menolak. Padahal selama ini, janji dengan siapa pun bisa dia abaikan, asal bisa berdekatan dengan Sagara. Kini kesempatan sudah datang dengan sendiri, tapi justru harus ditolak karena Olin sudah berjanji dalam hatinya untuk menjaga jarak.
Olin mengedarkan pandangannya, benar saja, Naya yang saat ini sedang ada di lapangan, melihat ke arah mereka.
__ADS_1
"Ada yang ingin gue bicarakan sama lo. Penting banget. Lo tungguin gue pulang sekolah, kita pulang bareng!" Sagara sudah berlari masuk ke dalam lapangan tanpa menunggu jawaban dari Olin.
"Duh, gimana ini, kalau menerima tawaran Saga, gak enak sama Nay, tapi kalau nolak, gak enak sama Sagara," batinnya. Bingung pun melanda dirinya.
***
Bel istirahat baru saja berbunyi, semua anak kelas X segera berhamburan ke luar, tujuan mereka cuma satu, memuaskan rasa lapar dan dahaga ke kantin.
Olin sudah akan melangkah bersama teman-temannya, ketika melihat kerumunan orang yang memadati pintu UKS.
"Ada apa, sih?" tanya Olin pada siswa yang kebetulan lewat, baru saja kembali dari ruang UKS.
"Ketua tim basket, kecelakaan, kakinya terkilir bahkan lututnya sobek," ucap siswa itu berlalu setelah mewartakan pada Olin.
Semua orang tahu siapa ketua yang dimaksud anak itu. Seketika Olin segera berlari ke arah UKS. Rasa khawatir akan keadaan Sagara membuatnya panik dan menerobos masuk, tepat saat guru olah raga meminta semua murid untuk bubar.
"Izinkan saya masuk, Pak. Saya anggota keluarganya," ucap Olin memaksa masuk. Pak Dodit yang mengenal Olin membiarkan gadis itu masuk, lalu guru itu keluar dan menutup pintu dari luar.
"Aku gak papa, Lin, jangan nangis," ucap Sagara menahan rasa sakit, bagaimana tidak, gadis itu justru menekan lukanya hingga Sagara harus menahan agar tidak mengaduh kesakitan.
"Kamu adiknya? Hubungi orang tua kalian, agar menjemputnya. Dia harus beristirahat. Saya sudah menjahit luka yang sobek," terang suara pria yang terdengar begitu tegas. Olin memutar lehernya, mencari pemilik suara itu yang sudah berdiri di belakangnya, lengkap dengan jas dokter.
Bola mata Olin membulat. Memperhatikan sosok Rain dengan seksama. Seketika dia terhipnotis, aneh tapi dia ingin tetap melihat ke arah Rain.
"Ada apa? Kenapa melihat saya seperti itu? Segera hubungi orang tua kalian," ulang Rain menaikkan sebelah alisnya.
"Saya masih bisa bawa motor, Dok," sambar Sagara mencoba mendudukkan tubuhnya, tapi kakinya kembali sakit.
Ini semua karena tim Heru. Mereka berambisi menjadi wakil dari sekolah untuk turnamen bulan depan, hingga saat latihan tadi menyerang Sagara. Memang memiliki tujuan untuk mencelakai pria itu.
__ADS_1
"Kau gak akan bisa mengendarai, bekas jahitan bisa kembali menganga!" hardik Rain dengan melipat tangan di dada. Sikap sombong, dingin dan tidak memiliki empati jelas tersirat dari sikap pria itu, tapi lagi-lagi aneh, Olin terpukau.
"Ini gak mungkin Dejavu, kan? Kok wajah ini kayak pernah aku lihat, tapi dimana, ya?" batin Olin terus memandangi Rain tanpa berkedip.
"Hey, gadis kecil, segera hubungi orang tua kalian!" ucap Rain bersiap kembali ke kursinya.
Ini hari kedua dia menjadi dokter di UKS sekolah milik Opanya. Tentu saja dia menolak pada awalnya, tapi keluarganya memohon hanya sampai menemukan dokter yang tepat bertugas di UKS itu. Lagi pula, Rain yang bekerja di rumah sakit Opanya, sekaligus menjadi kepala rumah sakit, hanya sesekali bertugas di rumah sakit ternama itu. Jika ada pasien yang membutuhkan bantuannya, Rain pasti segera datang.
Rain tidak kuasa menolak, akhirnya menerima permohonan opa dan Omanya yang sudah sangat tua.
Sangat berat bagi Rain untuk kembali ke sekolah ini lagi, walau sudah bertahun dan tentu saja banyak perubahan, tetap saja membawa memorinya pada satu sosok itu, pada kisah mereka yang sampai kapan pun tidak akan mungkin bisa dia lupakan.
"Lin, Lo dengar gak kata dokter itu," ucap Sagara menyentuh pundak Olin yang malah bengong.
"Hah? Apa kak?"
"Telpon mama, minta sopir jemput kita. Minta sekalian mang Udjo ikut, biar bisa bawa motorku," lanjut Sagara memberi perintah.
"Iya, Kak. Eh, tunggu dulu, bukannya pak dokter itu tadi bilang aku ini gadis kecil?" tanya Olin pada Sagara. Dia baru sadar setelah beberapa waktu bengong.
Sagara yang melihat mimik Olin yang begitu lucu hanya bisa mengangguk.
"Om Dokter, aku ini bukan gadis kecil lagi ya, Udah gede! Bahkan udah bisa buat anak kecil malah!" hardik Olin bangkit dari duduknya dan berdiri di depan meja Rain.
Olin kadang bingung, kenapa para cowok yang dikaruniakan wajah tampan justru memiliki sifat jelek, sombong dan juga... kaku! Sagara contohnya, dan kini dokter yang ada di depannya itu.
Rain dan Sagara yang mendengar omongan Olin yang tidak disaring terlebih dulu itu hanya bisa menahan rasa malu. Tanpa sadar Olin sudah mengikrarkan kalau dia sudah dewasa dan layak berhubungan lebih jauh dengan seorang pria.
"Kamu masih kelas X, kan?" tanya Rain memperhatikan atribut di lengan baju Olin.
__ADS_1
"Terus?" tantang Olin mencebik bibirnya ke arah Rain, sangat menggemaskan.
"Berati masih kecil. Sekarang kamu telepon ibu atau ayah kalian untuk segera datang kemari!"