
"Nay, nanti temani aku ya, pleaseee...," pinta Olin yang sudah muncul di depan Naya saat istirahat pertama. Olin tidak sabar untuk menemui gadis itu dan meminta bantuannya.
"Memangnya mau kemana?" tanya Naya, diikuti oleh tatapan penuh tanya dari Sagara, Boby dan Fajar. Padahal baru saja Sagara mau ke kelas Olin untuk mengajak gadis itu ke kantin, sekalian mau bilang biar nanti pulang sekolah mereka bareng.
Setelah menunda sekian lama, Sagara berniat mengatakan hari ini tentang perasaannya.
"Ada deh, pokoknya kamu harus ikut sama aku," ucapnya menyatukan kedua telapak tangan sebelum meninggalkan mereka dengan tanda tanya besar di benak masing-masing.
Tak pernah menyangka bahwa pertolongan yang diminta oleh Olin ternyata menemani gadis itu ke salon, dia ingin mengubah gaya rambut sekaligus memperbaiki alisnya agar terlihat lebih dewasa dari usianya.
"Kenapa rambutmu Lo curly?" tanya Naya yang sejak tadi mengamati Olin yang tengah di urus rambutnya.
"Aku mau kelihatan lebih dewasa. Gak mau kelihatan culun kayak anak SMA," ucapnya menatap hasil di cermin. Dia puas, sesuai dengan keinginan hatinya.
"Kebanyakan orang malah ingin terlihat muda, Lo aneh, malah ingin terlihat tua," celetuk Naya geleng-geleng kepala.
Dia masih ingin membuka mulutnya, tapi seketika ingat bahwa Olin melakukan hal itu pasti karena ingin mengambil perhatian pria yang saat ini dia taksir.
__ADS_1
"Jangan bilang Lo melakukan hal ini karena ingin mengambil perhatian dokter itu?" tanya Naya.
"Hehehe, kamu pintar banget sih, Nay, bisa nebak," jawab Olin cengengesan.
Olin sudah tidak sabar menunggu besok kala Rain melihat penampilan barunya. Dia berharap pria itu akan takjub melihat gaya barunya.
***
"Ada apa dengan rambutmu? kenapa kamu Curly?" pekik Bee saat melihat rambut Olin sepulang dari salon. Rambut lurus, indah dan sehat milik Olin seketika berubah menjadi keriting.
"Bagus kan, Tante?" jawab Olin tersenyum.
"Sayang, sini. Tante mau ngomong," ucap Bee menarik tangan Olin ke sofa di rumah tamu. "Gimana pun penampilan kamu, tetap kamu sangat cantik, tapi jujur Tante bilang, penampilan ini gak sesuai dengan wajah kamu. Kenapa harus diubah gaya rambutnya?" tanya Bee mendesak. Dia ingin mendengar alasan Olin hingga gadis itu nekat untuk mengubahnya.
"Aku mau kelihatan lebih dewasa Tante," jawab Olin yang membuat kening Bee berkerut.
"Kenapa kamu malah ingin tampak jadi dewasa, Lin? Kamu itu imut, cantik sesuai umur kamu?" tanya Bee semakin penasaran.
__ADS_1
"Hah? Gak ada Tante, pengen aja ganti gaya rambut, ucap Olin gugup. "Aku ke kamar dulu ya, Tan."
Olin tidak bisa melepas senyum dari bibirnya. Terbayang olehnya bagaimana reaksi Rain kala melihatnya nanti.
"Lo kenapa, sih? Geger otak apa gimana? Kenapa rambut, Lo?" hardik Sagara saat berpapasan di depan pintu kamar Olin.
"Dih, apaan, sih. Aku cantik kan, Kak?" tanya Olin mendekat pada Sagara, bergaya di depan pria itu bak gadis seksi penggoda.
"Lo aneh!"
"Fix, Kakak norak, gak asyik, kamseupay!" Olin segera masuk setelah, meninggalkan Sagara yang bengong.
"Masa udah cakep begini, dibilang aneh, sih?"
***
Keesokan paginya, Olin sudah bersiap pergi ke sekolah lebih awal. Bahkan Sagara saja yang biasanya bangun lebih awal darinya kaget sudah mendapati Olin di meja makan pagi ini.
__ADS_1
"Gak usah komen, aku berangkat duluan," ucapnya bangkit dari duduknya, mengambil bekal dari tangan Bee dan mencium pipi wanita itu sebelum berlalu.
"Mama rasa, Olin lagi naksir seseorang," celetuk Bee menatap Sagara.