
Gimana penampilan ku?" tanya Olin memutar tubuhnya di depan cermin. Tepat saat mereka tiba di rumah Naya, Mbak salon yang dipesan untuk membantunya merias wajah dan juga rambutnya juga telah tiba di rumah Naya.
"Gue akui Lo emang cakep banget. Sumpah, gue baru nyadar kalau Lo cakep," jawab Naya ogah-ogahan. Tapi itu benar. Gadis itu memang cantik, bahkan ada kata yang tepat di atas cantik maka itu lebih cocok untuk Olin.
"Non, ada orang di luar, nanya non Olin," ucap pelayan Naya.
Mungkin itu cowok lu udah datang ya jemput," tebak Naya.
"Iya, pasti Rain," sambar Olin penuh semangat.
Bergegas keduanya menuruni anak tangga. Naya sudah memperingatkan agar Olin pelan-pelan saja, takut jatuh karena pakai high heels, tapi Olin mana mau dengar, dia terlalu bersemangat untuk menemui Rain dan menunjukkan penampilannya yang begitu memukau.
Malam itu tepat saat pada anak tangga terakhir, lantai yang begitu licin hingga Olin kehilangan keseimbangan. Beruntung Rain maju ke depan dan menangkap tubuh gadis itu hingga tidak jadi mendarat di lantai.
"Apa gue bilang," cibir Naya yang juga sempat terkejut Dia pikir kalian akan terjerembab jatuh ke lantai.
"Iya, untuk ada pacar aku," jawab Olin cengengesan. Naya hanya dapat memutar bola mata kala mendengar ucapan Olin.
"Oh, iya Om. Ini teman terbaik aku," ucap Olin mengenalkan. Rain mengulurkan tangan, tentu saja dia tahu Naya, pertama kali bertemu di UKS waktu Sagara sedang sakit lalu setelahnya dia memantau siapa saja orang yang berada di sekitar Olin dan mengetahui bahwa Naya adalah satu-satunya teman perempuan yang dianggap oleh sebagai sahabat terdekatnya.
"Apa kabar, Nay?" sapa Rain ramah. Hanya pada Naya dia mau bersikap ramah, itu pun karena dia tahu Naya sangat baik pada Olin.
"Naya, kita pergi, ya. Tungguin aku pulang," ucap Olin mengedipkan mata.
Sudah 15 menit mereka dalam perjalanan, tapi sesuatu yang ditunggu Olin belum juga dia dengar dari pria itu. Dari tadi dia duduk diam dan mencoba memberikan tanda kepada Rain agar pria itu mengerti bahwa seharusnya memuji penampilannya.
Bukankah aturan mainnya seperti itu, ketika seorang gadis berdandanan untuk kekasihnya, maka sang pria seharusnya memuji penampilan gadis itu untuk membuatnya gembira.
__ADS_1
Eheem.. Olin sengaja berdehem agar Rain menoleh padanya.
Pelajaran bagi Olin, seharusnya dia tidak terlalu membuat ekspektasi yang terlalu tinggi akan sikap Rain, terlebih mengingat bahwa kekasihnya adalah beruang kutub yang sangat dingin dan juga tidak banyak bicara. Jadi, harusnya Olin tidak mengharapkan pujian seperti yang dia tonton dalam film drama Korea favoritnya.
Harapannya saat selesai dirias dan Rain melihatnya untuk pertama kali, pria itu akan memuji penampilannya yang begitu mempesona dan bahkan tidak bisa mengalihkan pandangannya, tapi insiden yang membuatnya hampir tergelincir itu membuyarkan semua angan-angannya. Selain tidak sempat melihatnya berjalan dengan anggun, Rain juga harus sigap menangkap gadis itu agar tidak jatuh.
Namun, Olin tidak bisa disalahkan juga, karena gadis seusianya memang saat ini sedang terbuai dengan kisah percintaan yang romantis, berharap bahwa apa yang dia tonton bisa terjadi pada kisah cintanya.
Eheeeem...
Olin kembali mengulang dan kali ini lebih keras agar Rain sadar bahwa dia bukan sedang ingin membersihkan tenggorokannya, tapi meminta perhatian dari pria itu.
"Kau kenapa? Tenggorokan mu sakit? Apa kau batuk atau ingin minum?" tanya Rain hanya menoleh sekilas pada Olin lalu kembali fokus pada jalanan.
"Aku baik-baik saja, tidak perlu memedulikan ku," ucap Olin merenggut kesal, membuang pandangannya keluar jendela.
Rain bukan tidak menyadarinya tentu saja dia paham. Kali pertama melihat Olin datang, jujur dia sampai pangling, sangat terpesona atas cantiknya penampilan Olin malam itu.
Mereka tiba di sebuah klub, di sebuah hotel mewah. Tempat itu ada di lantai paling atas pada bangunan tinggi ini.
Ini kali pertama Olin mendatangi tempat seperti itu gugup dan juga sedikit khawatir takut dirinya membuat Rain jadi malu.
Naya sudah memperingatkannya untuk bersikap lebih santun dan juga menjaga cara bicaranya. Pasalnya teman-teman Rain yang nanti ada di sana pastilah lebih tua darinya, akan ada perbedaan cara bicara dan juga pembawaan diri.
"Jangan cemberut lagi, dong," ucap Rain membuka pintu dan menunduk untuk bisa melihat wajah Olin. Gadis itu masih betah duduk, tidak memilih keluar seperti yang biasa dia lakukan setelah mesin mobil dimatikan.
Olin merajuk. Dia buang muka menghadap ke sisi lain agar tidak bersitatap dengan Rain. Kembali pria itu tersenyum, lalu menarik dagu Olin, membawa wajah gadis itu untuk melihatnya.
__ADS_1
"Jangan merajuk lagi, nanti cantiknya bilang. Sayang banget udah tampil cantik mempesona begini, malah cemberut," bisik Rain tepat di bibir Olin, lalu kalimat itu ditutup dengan ciuman yang panjang dan lama.
Rain sudah paham Bagaimana mengatasi Olin kalau sedang cemberut dan juga ngambek, buktinya, ciuman itu mampu membuat mood gadis itu kembali.
"Bagiku kau selalu jadi wanita yang paling cantik, dan penampilan mu malam ini sangat memukau ku. Aku jadi takut kalau sampai teman-teman ku atau pria lain melirik mu nanti," ucapnya menggoda gadis itu hingga membuatnya tertawa.
***
Suasana di ruangan itu begitu tampak meriah dipadati oleh para tamu undangan yang hampir semua seumuran dengan Rain. Jangan harap bisa bertemu dengan gadis seumuran Olin di sini.
Melihat kedatangan Rain, sontak semua mata tertuju pada mereka. Sesuatu yang sangat luar biasa kalau sampai Rain mau datang ke acara pesta seperti ini. Biasanya siapa pun yang mengundangnya, akan dengan cepat ditolak oleh pria itu dan kedatangan Rain pada pesta ulang tahun Aurelia ini semakin membuat derajat wanita itu melambung diantara teman-teman mereka.
Suatu kehormatan seorang Rain Hendardi mau datang malam ini dan yang lebih membuat mereka tercengang bahwa pria itu datang bersama seorang gadis muda yang sangat cantik, bahkan mungkin menjadi gadis tercantik pada malam itu.
Aurelia yang punya hajatan tentu saja tidak senang karena semua pria saling berbisik mempertanyakan identitas Olin yang tidak pernah mereka lihat sebelumnya.
Mereka tahu gadis-gadis yang berada di sekitar Rain dan ketiga sahabatnya, bukan lah gadis yang biasa, paling tidak adalah seorang model terkenal yang sering wara-wiri di televisi.
Rain tahu kalau semua orang memperhatikan mereka dan hal itu semakin membuat pria itu mengeratkan pegangannya pada jari Olin.
Rain membawa Olin kemeja tempat teman-temannya duduk. Ketiganya menyambut dengan senyum dan juga rasa terkejut yang besar, tapi tidak dengan Kai, pria itu hanya mengulum senyum karena dia sudah pernah bertemu dengan Olin sebelumnya.
"Kalau Lo gak mendekat kemari, gue gak akan percaya kalau Lo adalah Rain. Bang*sat, selama ini Lo rahasiakan dari kita?" umpat Deri berdiri dari duduknya menyambut kedatangan Rain.
Rain enggan menjawab, dia hanya tersenyum geli ke arah mereka. Rain bukan tidak menganggap ketiganya sebagai sahabat hingga menutupi masalah Olin dari mereka, hanya saja untuk masalah asmara Rain memang sangat tertutup. Dulu saja ketiganya tidak tahu bahwa dia pacaran dengan Gwen yang pada akhirnya menikah dengan gadis itu sebelumnya pergi untuk selamanya.
"Kenalin, ini Olin, pacar gue. Olin, mereka sahabat-sahabatku," ucap Rain memperkenalkan dengan suara lantang.
__ADS_1