Cinta Pythagoras, Saranghae Om Duda

Cinta Pythagoras, Saranghae Om Duda
Duka mendalam


__ADS_3

Dua hari berlalu. Hari-hari di lalui Gwen dengan hampa. Seperti robot, Gwen menjalani hari-harinya dengan mengikuti agenda.


Dua hari tanpa melihat Rain. Sore itu sepulang sekolah, Bulan datang berkunjung ke rumah Gwen.


"Kenapa sih kak Gwen udah lama ga main ke rumah kita?" ucap Bulan yang rebahan di kasur Gwen.


"Iya nih Lan, kakak banyak tugas sekolah"


"Oh..kak Rain juga lagi liburan dengan teman-temannya ke Bandung. Kakak ga di ajak?" tanya Bulan.


"Ga.." suara gemetar Gwen hampir saja membuat dia mengeluarkan air mata. Kini kedua nya sudah tampak asing. Biarlah, Rain berhak untuk mencari kebahagiaan nya. Itu lah yang selalu terpatri di pikiran Gwen.


Waktu berlalu, semua kembali seperi dulu, saat Rain belum masuk dalam kehidupan Gwen. Saat ini Rain sudah mulai kuliah. Pernah sekali saat Gwen akan berangkat sekolah, dia melihat Rain berangkat kuliah dengan menggunakan almamater kuningnya. Dia tampak gagah.


Gwen dari kejauhan melihat nya dengan tersenyum dan air mata yang meleleh di pipinya.


Bahagia lah kak..karena kamu memang pantas mendapatkan kebahagiaan..doa ku yang terbaik untuk mu..


Dua bulan berlalu. Bersyukur nya hubungan kedua keluarga mereka tetap berjalan baik walau kedua anak sulung mereka tak saling tegur. Gwen kadang datang untuk berkunjung yang di minta Sky untuk ke rumah nya, membantu membuat kue. Dan saat tiba waktu Rain akan pulang dari kampus, dia akan pulang.


Selama satu bulan ini, keadaan seperti aman. Tapi tidak untuk hari ini.


Sky yang meminta Gwen mengantarkan resep kue yang kemarin mereka buat datang ke rumah itu. Gwen tahu jam segini Rain sedang kuliah, hingga dengan cepat berlari menyebarang.


"Hai..bi. Ini aku diminta tante Sky ngantar buku resep ini, mau buat katanya" ucap Gwen yang melihat teh Yuyun di taman sedang menyiram bunga-bunga milik Sky.


"Maaf non, minta tolong, letakkan di meja dapur ya. punten lagi nanggung soal nya.." pinta teh Yuyun.


"Siap teh"


Gwen masuk ke dalam, melangkah menuju dapur, dan harus melewati ruang keluarga. Saat itu lah tubuhnya bergetar, terpaku diam di tempat. Seperti melihat hantu, tubuh Gwen meremang. Sepasang manusia itu tengah asik bercumbu, saling ******* bibir masing-masing di atas sofa. Gwen seolah tidak percaya pria yang dia lihat dengan bibir mel*mat bibir gadis itu adalah Rain. Bahkan tangan pria itu mer*mas d*da gadis itu yang meng*rang nikmat.


Berulang kali otak nya memerintahkan untuk pergi dari sana, tapi seolah terpaku, kakinya tidak bisa beranjak. Matanya terus menatap kedua nya yang tengah asik dengan dunia mereka. Tampak nya keduanya tak merasa ada seseorang yang sedang menonton aksi mereka atau bahkan sama sekali tidak perduli akan kehadirannya.

__ADS_1


Akhirnya kesadaran Gwen muncul, dengan perlahan dan kaku, Gwen memutar tubuhnya untuk kembali ke rumah.


"Loh non, kok buku resep nya di bawa pulang lagi?" tanya teh Yuyun.


"Oh..eh.. iya teh. Aku letak di sini aja ya" buru-buru Gwen meletakkan buku itu di atas meja di teras rumah dan segera berlari.


Tak pernah dirasakan nya sesakit ini. Bahkan saat penyakit nya kambuh tidak akan sesakit ini.


Tapi apa yang dia sesali? bukan kah ini yang dia harapkan? Rain bisa berhenti mengharapkan nya dan berpaling pada gadis lain? tapi kenapa rasa nya sakit? sesak seolah ada yang sedang mer*mas jantung nya?


Gwen mengunci kamar, masuk ke kamar mandi lalu menangis di bawah shower. Meratapi nasib nya yang begitu menyedihkan.


Malam nya Gwen demam. Menangis di bawah siraman air selama dua jam adalah cara ampuh untuk sakit. Dua hari Gwen harus izin untuk tidak masuk sekolah.


Sore hari nya, Bulan datang lagi ke rumah nya."Hai kak, kata mama kakak sakit ya?" Bulan seperi biasa sudah menghempaskan tubuhnya di samping Gwen.


"Iya, cuman demam biasa kok. Ini juga udah baikan. Besok bisa sekolah kok" ucap Gwen tersenyum.


"Apa itu Lan?" tanya Gwen menunjuk tote bag di atas meja belajar nya.


"Dari kak Rain?" hati Gwen melambung. Begitu terharu, pria itu masih menyimpan sedikit perhatian padanya.


"Iya. Abang ngasih itu buat aku. Aneh dia itu. Padahal dari dulu dia tahu aku ga suka minum itu. Mau aku buang, cuma dia bilang mending kasih orang aja dari pada mubasir"


Tubuh Gwen merosot. Raut gembira yang tadi sempat terbit di wajah nya kini pudar. Dia kira Rain sengaja memberikan itu buat nya. Padahal waktu pacaran dulu, dia sering memberikan itu pada Gwen. Rain tahu minuman itu adalah minuman kesukaannya.


"Lan, mmm..siapa aja yang tahu kakak sakit?" tanya Gwen hati-hati.


"Semua kayaknya. Orang kita pas makan malam kemarin kok mama ngomong"


"Ini kapan dikasih kak Rain buat mu?" susul Gwen penasaran.


"Tadi pulang kuliah"

__ADS_1


Entah lah. Biar saja Gwen memelihara apa yang dia ingin pikir kan. Walau hati nya terluka melihat kejadian kemarin tapi Gwen harus tetap kuat. Setidaknya dia ingin sehat demi keluarga nya.


Besok nya setelah pulang sekolah, Gwen yang melihat motor Rain ada di parkiran berniat untuk menemui pria itu. Gwen ingin mengembalikan kotak berisi sepasang cincin itu pada Rain. Dia tidak berhak untuk menyimpan nya. Lagian itu sangat mahal. Dari pada di buang, Rain bisa menjual atau memberikannya pada pacar baru nya.


"Enak benar jadi anak kuliahan ya. Ini bisa besar" ucap nya memegang kedua dadanya di depan cermin.


"Punya gue kok kecil ya, sementara cewek itu Segede ini" ucapnya membesarkan bentuk tangannya di depan cermin.


Penuh yakin, Gwen masuk ke dalam rumah itu. Melangkah naik ke atas menuju kamar Rain saat teh Yuyun memberitahukan dimana Rain.


"Hufff...tarik...lepas..."cicitnya.


Tok...tok..tok.."


"Masuk.."teriak Rain dari dalam.


Perlahan knop pintu itu terbuka dan setelah Gwen mendorong daun pintu itu, dengan jelas dia melihat Rain tengah berdiri memeluk gadis berdada besar itu dari belakang.


Dari posisinya, Gwen bisa melihat wajah gadis itu cantik. Tubuhnya nya juga tinggi sempurna, jauh dari dirinya. Tatapan ketiga nya saling beradu. Kaki Gwen gemetar lagi. Bahkan jantung nya berdegub lebih cepat seribu kali menimbulkan nyeri. Jika lebih lama lagi berdiri di sana, Gwen pasti akan pingsan.


"Ada Apa?" hardik Rain kasar menatap sini s pada Gwen.


"Maaf..aku..aku..kemari mau mengembalikan ini.." ucap Gwen melangkah masuk. Rain seakan tak perduli dengan apa yang di katakan Gwen. Masih tetap memeluk gadis itu, menciumi leher gadis itu, lalu kembali melihat ke arah Gwen, seolah berkata,


'Kau lihat ini? aku bisa hidup tanpa mu'


Gwen sudah menengadahkan tangannya ke arah Rain menyodorkan benda itu.


"Apa ini?" gadis itu justru mengambil kotak itu dari tangan Gwen dan membukanya.


"Wah..cincin..bagus banget.." pekiknya girang.


"Kau suka sayang?" tanya Rain pada gadis nya tanpa melihat ke arah Gwen.

__ADS_1


"Suka..boleh untuk ku? aku pakai ya.." gadis centil itu sudah memakai cincin itu di jarinya tepat di hadapan Gwen. Rain menatap lurus pada Gwen yang tampak terluka melihat kejadian itu.


Tanpa suara, Gwen berbalik dan pergi, berjanji dalam hatinya untuk tidak akan menemui Rain lagi.


__ADS_2