
Setelah selesai makan dan lagi-lagi bermesraan, Rain mengantar Olin pulang. "Benar kamu gak bolos sekolah?" tanya Rain melirik gadis nya yang sejak tadi memegang bibirnya yang tampak semakin tebal, dan semua itu karena ulah Rain.
"Benar, Om. Hari ini ada rapat guru, jadi kita disuruh pulang. Gak percaya amat sama pacar sendiri," jawab Olin.
Mata gadis itu seketika melihat sebuah amplop yang menarik perhatiannya. Amplop berwarna pink tampak lembut.
"Apa ini?" tanya Olin mengambil amplop itu dari dashboard mobil.
"Undangan," jawab Rain singkat.
Olin yang penasaran membuka undangan itu. Sebuah undangan ulang tahun seorang gadis bernama Aurelia Sigra. Dengan lantang Olin membaca nama itu.
"Siapa Aurelia Sigra? Udah kayak jenis mobil aja," ucapnya kembali meletakkan undangan itu di tempat semula.
Acara itu akan diadakan besok malam di sebuah klub ternama tempat anak muda berkumpul.
"Teman sekolah," jawab Rain singkat.
"Om pergi?"
"Belum tahu." kembali Rain hanya menjawab dengan singkat.
"Kenapa belum tahu? Itu 'kan undangan udah dapat, kenapa kau pergi?" susul Olin yang masih penasaran.
"Rada malas pergi."
"Kenapa? Pergi lah," jawab Olin masih menatap tajam wajah Rain. Dia sudah membayangkan acara pesta ulang tahun itu pasti sangat meriah, akan ada penampilan DJ dan juga banyak minuman dan kegembiraan. Jangan lupa, pastinya banyak cewek cantik di sana dan Olin benci jika Rain sampai pergi.
"Ya udah aku pergi," jawab Rain yang ingin menyudahi perdebatan itu. Sebenarnya percakapan itu tidak penting, tapi Rain tahu Olin tidak akan berhenti mengulik semuanya.
Sejujurnya Rain malas untuk pergi namun, ketiga temannya juga memaksa, karena acara ulang tahun itu sekaligus menjadi ajang mereka untuk reuni kecil-kecilan.
"Kalau gitu aku ikut!"
Rain yang terkejut dengan perkataan Olin tiba-tiba menghentikan mobil dengan rem mendadak. Olin yang kaget melotot pada Rain. Caranya untuk memprotes tindakan pria itu yang tiba-tiba saja berhenti. Pasti terkejut karena tidak menyangka bahwa dirinya adalah meminta ikut.
__ADS_1
"Ikut?"
"Iya, Ikut. Kenapa? Om malu ya, bawa aku?"
"Dasar bodoh! Kamu mikir apa sih!" ucap Rain menyentil kening Olin.
"Terus, kenapa aku gak nggak boleh ikut? Atau jangan-jangan Om mau pergi ya dengan cewek lain, yang lebih cantik dan lebih seksi? Bukan kayak aku yang cuma anak SMA. Om malu kan bawa aku? Malu punya pacar anak SMA? Atau jangan-jangan aku malah gak dianggap sebagai pacar kali, ya," nyolot Olin memonyongkan bibirnya.
Rain menatap gemas wajah gadis itu. Ingin rasanya dia mencium kembali bibir Olin yang begitu menggemaskan dan hal itu dia lakukan. Rain menarik tengkuk Olin dan ******* kembali bibir yang sudah mengeluarkan kata-kata yang menurut Rain sangat tidak masuk akal.
Siapa yang tidak bangga memiliki pacar secantik Olin. Dia mungkin masih SMA, tapi paras dan juga bentuk tubuhnya sangat sempurna, tidak kalah dengan gadis yang sudah lebih dewasa bahkan terkadang, justru Rain sendiri yang merasa minder, menganggap dirinya terlalu tua untuk Olin karena usia mereka sangat terpaut jauh. Rain takut tidak bisa mengimbangi dan berbaur dengan Olin dan teman-temannya nanti. Anak-anak seumuran Olin lebih modis ketimbang di zamannya.
"Kalau masih ngomong yang gak jelas, gak. cuma bibir kamu yang aku cium, tapi setiap jengkal tubuhmu aku kasih tanda," bisik Rain setelah melepas ciuman mereka.
Pipi Olin bersemu merah. Diremasnya sisi rok sekolahnya menahan debar jantungnya. Lalu dia ingat kembali undangan itu.
"Terus undangan itu?"
"Aku ingin mengajakmu, tapi pasti gak dikasih izin sama Tante mu," ucap Rain.
"Aku akan cari akal. Pokoknya, aku mau ikut!" seru Olin.
***
Besoknya Olin menemui Naya. Meminta bantuan gadis itu. Hanya bantuan kecil, yang menurut Olin pasti mau dibantu oleh sahabatnya itu.
"Gak!" seru Naya, kala Olin menyampaikan niatnya.
"Ish! Tolong dong, Nay. Ini penting banget buat aku. Lagi pula udah hal biasa kan kalau aku tidur di rumahmu," ucap Olin memelas.
"Iya, tapi gak pake bohong juga! Kalau selama ini Lo bilang mau nginap di rumah gue, ya Lo emang nginap. Ini, Lo mau gue bantuin bilang sama Tante Bee kalau Lo nginap di sini, tapi aslinya Lo malah kelayapan sama si Om-Om itu?" pekik Naya geleng kepala.
Dia bukan gak mau bantu kesusahan teman, tapi masa dia harus membohongi Bee, wanita yang sangat dihormati dan juga kagumi.
"Sekali ini aja, Nay, please. Ini kesempatan buat aku bisa kenal dengan teman-temannya, sekaligus melihat apa dia malu bawa aku ketemu sama teman-temannya atau gak," ucap Olin memeluk Naya.
__ADS_1
Gadis itu hanya diam. Kepalanya yang awalnya baik-baik saja tiba-tiba mendadak pusing karena kedatangan Olin yang ingin meminta bantuannya.
Kalau dia tidak bantu, dia tahu Olin pasti akan sedih dan kecewa tapi kalau dia membantu sama saja dia sudah mengecewakan Bee dengan berbohong pada wanita itu.
"Gini aja deh, biar kamu nggak bohong-bohong amat, nanti pulang dari pesta, aku kan balik lagi ke rumah kamu." Olin masih melancarkan rayuannya pokoknya dia tidak akan pulang sebelum Naya bersedia membantunya.
"Itu apa?" tanya Naya mengalihkan pandangannya pada tas yang ada di sudut ruangan.
"Oh, itu, pakaian dan semua aksesoris yang aku butuhkan buat pergi ntar malam," jawab Olin cengengesan.
Astagaaaa! lihat saja tingkah Olin. Dia datang siang ini ke rumahnya untuk memohon bantuan Naya.
Gadis itu belum menjawab bersedia atau tidak, tapi Olin bahkan sudah membawa alat tempurnya seolah setuju ataupun tidak untuk membantu, Naya diwajibkan untuk melancarkan aksinya.
Naya hanya bisa geleng-geleng kepala. Olin anggap gerakan itu justru pertanda bahwa gadis itu sudah setuju.
Olin akhirnya pulang, bersiap-siap menunggu kedatangan Naya untuk menjemputnya, sekaligus mempermisikan dirinya kepada Bee untuk menghabiskan malam itu di rumah Naya dengan alasan yang sama ingin menonton drama Korea favorit mereka.
"Ingat, Nay, jangan kelamaan jemput aku," ucap Olin yang kembali lagi hanya untuk mengingatkan Naya.
Apa Naya punya peluang untuk menolak? Tentu saja punya tapi dia tidak mengambil kesempatan itu justru membantu orang lain melaksanakan rencana.
Pukul tujuh tujuh malam, Naya datang ke rumah keluarga Danendra, untuk menjemput Olin sekaligus meminta izin kepada Bee.
"Memangnya mau nonton film apa sih, Nay? Kok Olin semangat amat tanya Bee sekilas menatap Naya, lalu kembali memasukkan biskuit ke dalam toples yang akan diberikannya kepada kedua gadis itu agar mereka punya cemilan saat menonton nanti.
"Banyak Tante, ada beberapa judul film," ucap Naya bingung. Pasalnya dia juga mau menonton film itu pun karena Olin yang memperkenalkannya. Bagi Naya, semua aktor Korea itu sangat mirip jadi susah untuk mengingat nama mereka.
"Oh, ya sudah. Ini ada cemilan tante buat untuk menemani saat kalian menonton nanti," jawab Bee tersenyum. Tepat saat itu Olin turun dengan piyamanya.
Bee tentu saja gembira. Dia pikir Olin sudah kembali ke masa remajanya, tanpa memikirkan Rain lagi. Beginilah seharusnya, di usianya yang bahkan belum genap 17 tahun ini, hanya untuk bersenang-senang dengan teman seumuran nya.
"Udah mau pergi, Lin? Makan dulu lah," ucap Bee menyambut Olin yang baru turun.
"Belum lapar Tante. Nanti makan di rumah Naya aja nanti. Iya kan, Nay?" celetuk Olin menarik lengan Naya keluar dari rumah itu.
__ADS_1
"Lo berhutang budi sama gue, gara-gara lo gue udah bohong sama Tante Bee!" umpat Naya setelah mereka berada di jalan menuju rumah Naya.
"Siap. Aku akan balas dengan bantuin kamu dapatin kakak ku," ucap Olin tertawa renyah.