
Gwen tiba di parkiran dengan perasaan gelisah. Dia tak ingin datang sebenarnya tapi berulang kalau Nara mengingatkan nya, bahkan bisa di bilang memaksa dirinya untuk menjumpai Kai.
Sementara mereka berdua sudah lebih dulu pulang dengan pacar mereka masing-masing.
Derap langkah kaki membuat Gwen menoleh kebelakang. Fokus matanya langsung tertuju pada pria ber hoodie hitam itu. Tubuh jangkung nya begitu menarik perhatian. Bahkan Kai yang berjalan di samping pria itu tak di indahkan oleh Gwen. Hingga kali kedua Kai meneriaki nama nya baru Gwen tersadar.
"Eh..kak Kai" sahutnya gugup.
"Lama nunggu?" tanya Kai lembut.
"Gue cabut duluan" sambar Rain melangkah tanpa menunggu jawaban Kai. Ekor matanya terus melirik derap langkah sepatu milik Rain, hingga terdengar bunyi motor nya yang melaju hingga suara nya menjauh.
"Gwen.." seru Kai lembut.
"Eh..iya kak" gelagapan Gwen menjawab mengalihkan pandangannya pada Kia.
"Aku antar pulang ya, sekalian ada yang pengen aku obrolin"
"Ada apa kak? ngomong di sini aja deh kak. Ga usah ngantar aku" tolak Gwen sopan. Bisa berabe kalau Kai sampai mengantar nya. Dia masih ingat apa yang di perintahkan rain padanya, merahasiakan kalau mereka tetangga.
Four Devil sudah lama berteman, tentu mereka sudah tahu alamat Rain. Nah kalau tiba-tiba Kai mengantar Gwen, kan jadi ketahuan.
"Aku antar aja deh, ngobrolin nya sambil jalan" Kai setengah memaksa. Gwen tak bisa menolak akhirnya terpaksa naik ke atas motor sport Kai.
Motor sport merah itu berhenti di depan cafe eskrim. Di atas pintu masuk Gwen membaca nama cafe City ice cream. Tempat biasa anak-anak ABG kebanyakan nongkrong, terutama anak Bhineka karena letaknya yang tidak jauh dari sekolah itu.
"Mesan makan apa Gwen?" tanya Kai membolak balik buku menu.
__ADS_1
"Banana split aja kak" ucap Gwen malas. Dia bahkan tak berniat membuka buku menu nya. Di setiap cafe eskrim standar nya pasti ada menu yang dia sebutkan tadi.
"Kamu ga makan?ga lapar?" susul Kai.
Gwen hanya menggeleng cepat agar tak perlu di tatap Kai dengan wajahnya yang super teduh. Kadang Gwen berfikir, kok bisa ya pria yang dulu pernah dia lihat berkelahi di belakang sekolah mereka dengan anak STM sebelah, punya wajah lembut saat berhadapan dengannya. Padahal saat itu Kai begitu menyeramkan. Tapi tetap, wajah menyeramkan of the year di menangkan oleh Rain. Pria dingin itu.
"Gwen, sebenarnya aku mau ngomongin sesuatu yang penting sama kamu. Semenjak kita ketemu di kantin waktu pertama kali itu, aku kepikiran terus sama kamu. Aku suka kamu Gwen"
Hampir saja Gwen memuntahkan kembali suapan eskrim yang sudah dia masuk kan kemulutnya tadi. Walau sudah sedikit menebak maksud Kai mengajak nya ketemuan, tapi ga berharap juga tebakan itu menjadi benar. Terlebih Kai mengucapkan nya tenang banget.
"Kamu baik-baik saja Gwen?" ucap Kai panik melihat Gwen yang tiba-tiba tersedak hingga batuk-batuk. Kai cepat memberikan tisu yang dia tarik dari box tisu di atas meja.
"Iya-iya kak. Aku baik"
"Minum dulu" Gwen menerima sodoran botol mineral yang sudah di buka tutup nya oleh Kai, lalu meminum perlahan.
Kenapa gue ketakutan banget jadinya. Kata Nara perasaan dia bahagia banget pas di tembak kak Exel..
"Maaf ya kak. Terimakasih karena kakak udah suka sama aku. Tapi maaf, aku ga bisa jadi pacar kakak" ucapnya pelan memberanikan diri menatap Kai.
"Tapi kenapa Gwen? kamu udah punya pacar?"
Gwen menggeleng. Nyatanya dia memang tidak punya pacar. Siapa juga yang mau pacaran dengan nya yang tidak modis ini.
"Kalau begitu kenapa?" desak Kai tak terima penolakan Gwen. Beberapa kali dia pacaran dengan gadis-gadis yang mengejarnya, semua dia lakoni karena nafsu dan membuang gelar jomblo. Tapi kali ini, dia benar-benar terpikat pada Gwen. Namun sayang nya gadis itu malah menolak nya.
"Aku..aku ga ada perasaan sama kakak. Maaf.." Gwen menundukkan kepalanya. Ada perasaan tidak enak harus jujur pada Kai.
__ADS_1
Kedua nya terdiam. Bahkan suara dentingan sendok Kai tak terdengar lagi. Gwen memberanikan diri untuk melihat ke depan. Kai menatap nya dengan tangan di lipat di dada. Bersandar pada sandaran kursi.
"Ma-af kak.." ulang nya lagi. Sangkin takutnya karena sudah menyinggung perasaan Kai, Gwen menjalin jemarinya dan meremas sesekali.
Untung lah Kai tersenyum lembut padanya. Walau tak mampu mengartikan senyum itu, tapi setidaknya hati Gwen sedikit lega.
"Kakak marah sama aku ya?" ucap Gwen menyesal. Tapi sungguh dia tidak bisa menerima Kai jadi pacarnya.
Bagi nya rasa itu penting. Sayang nya rasa yang dia punya sudah tertahan pada pria lain yang mungkin tak akan pernah menyukai nya.
"Ga Gwen. Aku ga marah. Aku cuma berfikir apa ini karma? dulu aku memacari banyak gadis yang suka padaku, dan hanya beberapa waktu pacaran, aku akan memutuskan mereka. Kini saat aku benar-benar jatuh hati pada seorang gadis, justru dia ga suka sama ku. Miris kan?" ucap nya sembari tertawa kecil.
"Maaf kak.." ulang Gwen.
"No Gwen. Kamu ga salah. Justru aku berterimakasih kamu mau jujur. Tapi satu hal yang perlu kamu tahu, aku bukan tipe cowok yang mudah menyerah untuk mendapatkan sesuatu. Lagi pula, mungkin kamu cinta pertamaku"
Rasa tidak enak Gwen semakin besar. Tapi tak ada yang bisa dia perbuat.
"Kalau aku mau usaha, menaklukkan hati kamu boleh ya Gwen? aku akan nunggu sampai hati kamu terbuka untuk ku"
"Kak..aku mohon jangan begitu. Kakak Berhak dapat yang mencintai kakak. Masih banyak gadis lain yang mau jadi pacar kakak"
"Tapi aku mau nya sama kamu Gwen"
Gadis itu tak berkata apa pun lagi. Dia juga tidak bisa melarang kalau Kai tetap mau mendekatinya. Kalau pun suatu hari nanti hatinya bisa suka pada Kai, mungkin itu sudah takdirnya.
Selesai menghabiskan es krim nya, Gwen minta untuk segera pulang.
__ADS_1
"Tunggu, aku antar" ucap Kai buru-buru menenggak isi botol mineral yang tinggal setengah.
"Aku naik Ojol aja kak" tolak Gwen sopan. Tapi mana lah mungkin Kai membiarkan gadis yang dia suka pulang sendiri dengan Ojol. terlebih dia yang mengajak Gwen. Dia mungkin devil di mata orang, tapi dia bukan pria tak tahu sopan terlebih pada gadis yang dia suka.