
"Ada apa sih, Saga, Lo bawa gue ke sini?" tanya Naya saat Sagara membawanya ke belakang perpustakaan sehabis istirahat pertama. Sejak tadi malam hingga siang ini, terlebih ketika tadi makan siang di kantin bersama gengnya dan juga Olin, Sagara semakin yakin akan perasaannya pada Olin, dan sudah memutuskan akan memberitahu Olin mengenai perasaannya.
"Ada yang ingin aku sampaikan padamu," jawab Sagara terlihat salah tingkah. Sontak Naya jadi deg-degan. Jantungnya berdegup kencang, sudah tak karu-karuan lagi.
Belakangan ini Saga begitu baik padanya, memperlakukannya dengan begitu lembut, sangat berbeda dengan hari-hari sebelumnya. Bahkan pria itu acap kali memberinya coklat dan juga hadiah-hadiah kecil seperti bunga yang tak tahu dari mana dia petik.
Jadi, jangan salahkan Naya, kalau gadis itu melambung begitu tinggi dan berpikir bahwa Sagara mulai menyukainya dan saat ini pria itu mengajaknya bicara untuk menyatakan cinta kepada dirinya.
Saga tidak langsung mengatakan yang ada dalam hatinya. Dia mengeluarkan bungkusan kecil dari dalam kantongnya, membuka dan mengeluarkan isinya untuk ditunjukkan kepada Naya.
Senyum Naya merekah. Gelang itu begitu indah, terbuat dari benang warna-warni yang dipilih, dan dikelilingi oleh banyak hiasan berupa miniatur bintang dan bulan serta matahari.
"Ya ampun Saga ini...,"pekik Naya tidak bisa berkata-kata lagi. sangat menyukai gelang itu terlebih karena Saga yang memberikannya ini adalah benda pertama dari pria itu yang diberikan sebagai hadiah.
Naya begitu terkesan, Sagara begitu memahami seleranya. Naya memang menyukai gelang antik seperti itu, berbeda dengan gadis pada umumnya yang menyukai gelang emas ataupun titanium dan berlian.
"Gimana menurut lo? Bagus gak?"
"Gila, ini bukan sekedar bagus lagi. Sempurna," jawab Naya tersenyum. pandangannya tidak lepas dari gelang itu. Ingin sekali rasanya segera cepat memakaikan di tangannya.
"Lo suka?" tanya Sagara ingin memastikan. Dia senang dengan reaksi Naya.
"Gue? Suka banget," jawab Naya cepat. Matanya berbinar karena rasa haru.
"Bagus kalau begitu. Gue jadi yakin kalau Olin pasti suka," sambar Sagara sangat yakin.
"Olin?" gumam Naya lemah, seketika senyum di bibirnya yang sejak tadi merekah berangsur hilang dan tatapan matanya yang berbinar redup memandang Sagara.
"Iya Olin, gue berencana ngasih gelang ini buat dia. Gue udah pikirin, gue bakal ngungkapin perasaan gue sama Olin dan gelang ini akan menjadi pertanda kita jadian," tutur Sagara dengan berapi-api. Dia sudah bisa membayangkan bahwa Olin akan menerimanya dan begitu senang dengan hadiah yang dia berikan.
__ADS_1
Sesaat lalu, Naya sudah melambung tinggi hingga ke awan namun, kini dia terhempas seolah masuk ke dalam kubangan, jauh ke dasar bumi. Harapannya raib dan rasanya dia ingin sekali menghilang di segitiga bermuda agar tidak satu orang pun bisa menemukannya.
"Nay, menurut lo, gue nembaknya pulang sekolah nanti atau pas malam aja, gue ajak ke balkon rumah?" tanya Sagara yang sama sekali tidak bisa melihat perasaan Naya yang sudah hancur berkeping-keping
Sagara adalah cinta pertama Nay. Orang yang paling Nay percaya. Sejak kecil, Sagara baginya adalah pelindung dan juga bagian dalam hidupnya. Ketika Sagara mengungkapkan dengan terus terang bahwa ada gadis lain di dalam hatinya, tentu saja perasaan Nay hancur terjadi-cabik.
Dugaannya benar, kalau pada akhirnya kedua orang itu saling mencintai. Sejak dulu Olin dengan terang-terangan mengungkapkan rasa sukanya namun, ditanggapi cuek oleh Sagara, tapi kini, usaha Olin berbuah manis.
Tapi seingatnya, Nay sudah pernah bertanya pada Olin, dan gadis itu bilang kalau dia tidak menyukai Saga lagi, karena sudah menyukai pria lain. Apa Olin berbohong padanya?
Naya bisa kehilangan siapapun, tidak dipedulikan oleh semua orang, termasuk orang tuanya, tapi tidak dengan Sagara, dia tidak bisa kehilangan pria itu. Dia tidak bisa menjadi orang nomor dua di hati pria itu.
Sejak dulu Sagara selalu mengatakan bahwa mereka adalah sahabat baik tapi itu saat mereka kecil. Ketika tumbuh remaja, Naya menginginkan lebih. Dia tidak ingin menjadi sahabat Sagara selamanya. Dia menginginkan pria itu selayaknya seorang gadis yang memiliki perasaan terhadap seorang pria.
"Jadi, Lo maksud nya gelang ini untuk Olin?" tanya Naya setelah beberapa menit terdiam mengumpulkan keberanian dan juga menguasai dirinya agar tidak terlihat oleh Sagara betapa kecewanya dirinya.
"Iya. Cakep, kan? Gue gak pede ngasih, karena ini yang pertama buat gue. Makanya gue tanya lo dulu. Kenapa, Nay? Ada yang kurang?" Sagara menatap Naya bingung. Apa ada yang belum pas dengan hadiah atau rencananya?
"Menurut Lo, Olin akan menerima gue?"
Please, Saga! Tidak tahukah pria itu kalau hati Naya sudah sangat sakit? Kenapa harus disiksa lagi dengan mempertanyakan ini dan itu lagi tentang niat pria itu menyatakan cintanya.
"Gue... Gue yakin dia akan Nerima lo," ucap Naya.
***
Tok... Tok...
Rain dengan malam membuka pintu ruangannya. Dengan wajah masam dia menyambut kedatangan tamu yang tidak diundang itu.
__ADS_1
"Halo, Om. Apa kabar? Udah lama kita gak ketemu," sapa Olin menyerobot masuk ke dalam ruangan Rain.
Ini momen yang ditunggu Olin, menemui Rain. Semesta mendukung, saat ini jam pelajaran kosong. Guru yang mengajar berhalangan datang karena sedang sakit, sementara guru pengganti banyak yang cuti.
"Lama? Kamu baru dari rumah ku kemarin!" jawab Rain memutar tubuhnya agar berhadapan dengan Olin.
Apa-apaan gadis itu, bersikap ramah hari ini, sementara kemarin dia sudah sangat cuek sama gue!
"Dih, Om cepat sensian ya," jawab Olin melangkah masuk ke ruang kerja Rain.
Rain ingin mengusir gadis itu, tapi ingat ada barang yang diminta ibunya untuk dikembalikan pada Olin.
"Nih," Rain meletakkan paper bag itu di atas meja, menyorong ke depan Olin.
Olin tersenyum, lalu kembali menyorong ke depan Rain. "Bukan punya ku."
Rain mengerutkan kening. Jelas-jelas ibunya meminta memulangkan benda itu pada Olin, setelah mendapat konfirmasi dari Bee.
"Tapi nyokap gue," Rain terdiam, sadar kalau ini lingkungan sekolah. Tidak mungkin pake Lo-gue sama siswa. "Mama bilang-"
"Awalnya emang punya aku. Tapi udah aku serahkan sama Om untuk hadiah ulang tahun," ucap Olin tersenyum. Rain menatap sesaat gadis itu, lalu kembali menyodorkan bungkusan itu.
"Saya gak bisa terima. Bawa pulang, dan segera kamu keluar," ucap Rain menyandarkan punggungnya di kursi, menatap intens gadis itu.
Harusnya, Rain mengenal watak Olin, setidaknya bisa menebak. Olin mana mungkin pergi, dia justru bangkit, mengeluarkan isi paper bag itu.
"Aku membelinya dengan tabungan dan sisa uang jajanku. Ini mahal. Aku mau Om pake ini besok. Kalau ga...," Olin menyipitkan matanya ke arah Rain sementara pria itu terpelongo melihat kemeja di dadanya yang diletakkan Olin.
Gadis itu menaikkan satu alis, menantang pria itu. Rain tidak mungkin, dong gentar atas ancaman gadis yang masih dianggap bocah.
__ADS_1
"Kalau gak?"
"Aku akan mencium Om di depan semua guru murid. Bukan di sini," ucap Olin menunjuk pipinya. "Tapi di sini!" lanjutnya menunjuk bibirnya yang membuat bola mata Rain membola.