Cinta Pythagoras, Saranghae Om Duda

Cinta Pythagoras, Saranghae Om Duda
Anak Kurang Kasih Sayang


__ADS_3

Bee bersikeras ingin ikut ke sekolah Bhinneka Tunas Bangsa. Dia penasaran atas apa yang terjadi hingga menyebabkan Olin dan Nay.


Keduanya dihadapkan di depan Miss Brenda, kepala sekolah dan juga orang tua masing-masing, tapi tetap saja, tidak satupun dari mereka yang mau mengaku alasan pertengkaran itu.


"Kalau kalian gak mau bilang, gimana masalah ini bisa selesai?" tanya pak Rudi, kepala sekolah Bhinneka.


"Kamu, orang tua mu mana?" lanjut pak Pak Rudi menoleh pada Naya. Kemarin Miss Brenda sudah mengatakan harus membawa orang tua masing-masing.


"Orang tua saya lagi di luar negeri, Pak," ucap Naya acuh tak acuh. Setiap berurusan dengan orang tua, dia pasti merasa kesal, marah dan juga sedih. Dia selalu terbuang, menghadapi semua masalah di usianya yang masih belia seorang diri.


Orang tuanya selalu sibuk bekerja seolah dengan memberikan uang yang banyak kepada dirinya maka itu sudah cukup. Menganggap bahwa uang itu bisa membuat Kanaya bahagia. Yang mereka tidak sadari adalah semakin jarak terbentang di antara mereka maka, rasa sayang dan kepedulian antara orang tua dan anak sudah tidak ada lagi.


Kedua orang tuanya sibuk dengan kehidupannya masing-masing meninggalkan Kanaya seorang diri di rumah besar, berteman dengan seorang pelayan tanpa adanya perhatian dan juga kasih sayang dari orang tua.


"Loh, ini gimana? Maaf, Bapak dan Ibu Danendra, karena sudah menyita waktu kalian yang berharga," kali ini perhatiannya penuh pada Bintang dan Bee. Dia sendiri bingung harus bagaimana.

__ADS_1


"Gak papa, Pak. Maaf anak kami sudah membuat keributan di sekolah. Kedepannya kami akan lebih menaruh perhatian dan juga menasehati agar selalu bersikap baik. Perihal Naya, kami juga bisa dibilang adalah walinya. Dia sudah seperti putri kami sendiri, jadi masalah ini jangan diperlebar, Pak," ucap Bee yang berhasil mengangkat wajah Naya dan menoleh ke arah Bee. Air mata gadis itu mengembang, lalu menunduk untuk menyembunyikannya agar tidak dilihat siapapun.


Dia semakin menyesal karena sudah berkelahi dengan Olin dan mengatai hal buruk tentang gadis itu. Selama ini Bee sangat baik padanya, sejak kecil dia selalu disambut dengan penuh kasih sayang di rumah wanita itu, menganggapnya seperti anak sendiri.


Perhatiannya tidak pernah berbeda antara dirinya dengan Olin. Apa yang mereka berikan kepada Siera dan Siena, itu pula yang Naya dan Olin dapatkan dari wanita itu. Harusnya dia mengerti dan sadar bahwa pertengkaran itu bisa membuat hati Bee menjadi sedih, bagaimanapun Olin adalah anggota keluarga mereka.


Pak Rudi masih ingin angkat bicara seolah tidak terima kalau masalah ini selesai begitu saja. Namun, melihat tatapan dan rahang tegas Bintang yang sejak tadi diam, dia pun akhirnya mengangguk setuju.


Siapa yang tidak kenal Bintang Danendra, pengusaha besar yang punya kuasa, sekaligus sahabat baik dari pemilik sekolah yayasan Bhinneka ini.


tante Om aku minta maaf Aku janji nggak akan pernah bertengkar lagi dengan siapapun ucap Olin setelah mereka berada di luar ruangan kepala sekolah air matanya tidak berhenti menangis merasa malu dan juga bersalah karena sudah merepotkan kedua orang tua angkatnya itu di yang mengetahui bahwa perasaan oleh begitu sensitif memeluk Gadis itu mencoba menenangkannya.


"Iya, Sayang. Sudah jangan nangis lagi. Yang terpenting dari semuanya, kamu sudah mendapat pelajaran dari semua ini, ada yang harus dipikirkan sebelum dilakukan itu, namanya pembelajaran dan pastinya akan membuat kamu semakin bijak dalam bersikap. Tante dan Om nggak marah," ucap Bee mengusap kepala gadis itu.


"Hal yang biasa kalau bertengkar dengan teman. Om dan Tante tidak akan pernah marah padamu karena kamu adalah anak yang pintar, cerdas dan juga baik hati," tambah Bintang ikut mengusap puncak kepala Olin, yang membuatnya semakin merasa bersalah karena kasih sayang kedua orang itu dibalasnya dengan mencoreng wajah mereka akibat pertengkaran dengan Naya.

__ADS_1


"Sekarang kamu masuk ke kelas. Belajar yang baik, Om dan Tante pamit pulang dulu," ucap Bee melerai pelukan mereka.


Olin mengangguk, lalu pergi meninggalkan keduanya. Bee dan Bintang hanya bisa menatap punggung gadis itu, mereka harus semakin memberikan kasih sayang dan perhatian yang lebih pada Olin, agar gadis itu tidak merasa sendiri.


"Terima kasih, sudah menjadi sosok papa yang bijak untuk Olin, Sayang," ucap Bee tersenyum lembut pada Bee.


"Terima kasih juga sudah menjadi istri dan ibu yang baik," jawab Bintang, menatap lembut wajah cantik Bee. Kalau gak memikirkan ini masih di lingkungan sekolah, Bintang pasti sudah mencium bibir Bee.


"Sayang, tunggu aku di mobil ya. Aku mau ngajak Naya bicara sebentar," ucap Bee setelah melihat Naya keluar.


"Naya, bisa bicara sebentar, Sayang?"


Naya mengangguk, lalu mengikuti langkah Bee menuju kantin yang masih sepi, karena memang belum jam istirahat.


"Boleh Tante tahu kenapa kalian bertengkar?"

__ADS_1


__ADS_2