
Rain terdiam mendengar penuturan Bee. Dia paham maksud wanita itu. Hanya karena dia duda dan perbedaan usia mereka yang cukup jauh membuatnya dianggap tidak pantas untuk Olin. Hatinya seperti teriris. Dua kali jatuh cinta, dua kali pula harus kandas di tengah jalan.
Apa mungkin memang dia ditakdirkan untuk hidup sebatang kara hingga ajal menjemput?
"Jadi, itu keputusan Tante? Bagaimana dengan perasaan Olin? Aku tidak malu mengakuinya Tante, kalau aku sangat mencintai Olin. Aku juga bukan tidak sadar kalau banyak perbedaan diantara kami. Apa Tante tidak percaya kalau aku bisa membahagiakan Olin?" tanya Rain tegas.
Dia benci didoktrin tidak mampu membahagiakan Olin. Lagi pula mereka saling mencintai kan?
"Maaf, Tante bukan bermaksud menganggap remeh pada mu. Kamu anak yang hebat. Pria sukses dengan bergelimang prestasi, tapi... Rain pahami Tante, Olin tidak cocok untukmu, dia terlalu muda!" Bee tetap pada pendiriannya.
Bee tahu dia sudah membuat Rain sedih sekaligus kecewa padanya, tapi dia tidak punya pilihan lain. "Tante Rasa hanya itu yang perlu Tante omongkan dengan mu. Tante percaya kalau kamu bisa mengerti dan mau menjauhi Olin, ini semua demi kebaikannya. Tante pamit dulu!"
Bee bangkit berdiri, lalu pergi meninggalkan Rain dengan beban pikirannya. Rain mengepal tinjunya, tidak terima akan nasib cintanya yang selalu kandas.
Siangnya, Olin ingin menemui Rain. Dia ingin dipeluk pria itu karena setelah perbincangannya semalam dengan Bee membuat Olin tidak bergairah untuk melakukan apapun, bahkan untuk mengikuti pelajaran.
Langkahnya terhenti, kala matanya menangkap sosok Bee yang baru saja keluar dari ruangan Rain.
Wajah Olin terlihat begitu ketakutan. Terlintas pikiran buruk mengenai tujuan kedatangan Bee ke sekolah.
"Tante masih ngapain ke sini? Apa jangan-jangan, Tante ingin...,"
Olin segera berlari menuju ruang UKS setelah memastikan Bee menghilang di balik tembok.
"Kenapa Tante Bee datang? Apa katanya?" sosor Olin.
__ADS_1
Rain hanya melirik sekilas, lalu kembali buang muka, bersikap cuek seperti yang biasa dia lakukan kala pertama kali bertemu Olin.
"Jawab aku, Tante Bee bilang apa?" Olin menarik tangan Rain, mengayun-ayunkan seperti tingkah anak kecil yang merengek meminta sesuatu.
Rain yang sudah tidak tahan, sedih, kecewa bercampur putus asa, menyentak tangannya hingga terlepas dari pegangan Olin.
Gadis itu melongo, terkejut melihat sikap kasar Rain padanya. "Ada apa?" tanya nya lemah.
"Mulai sekarang, kau jangan datang ke sini lagi, jangan pernah menemuiku!" bentar Rain menatap tajam pada Olin. Dia tidak tega, tubuhnya bergetar hanya untuk mengatakan hal itu, karena dia tahu kalau perkataan dan sikap kasarnya membuat Olin tersakiti.
Mata Olin memanas. Bentakan Rain mengiris hatinya. "Katakan padaku, apa yang dikatakan Tante Bee?"
"Tidak ada. Hanya saja aku sadar, kalau betapa bodohnya aku menghabiskan waktu bermain-main bersamamu!"
"Tapi... Aku pikir Om cinta sama ku, kalau gak kenapa Om mencium ku semalam?" Air mata Olin sudah menganak sungai. Sakit hatinya membuatnya hampir pingsan. Bagaimana mungkin dalam waktu satu malam saja, Rain berubah total. Sikap lembutnya yang kemarin dia perlihatkan yang berhasil menyentuh hati Olin yang terdalam kini berubah 180 derajat.
Olin mundur, menatap mata Rain dengan ketidakpercayaan. Inikah pria yang sangat dia cintai itu? Kenapa hatinya mengatakan kalau Rain bukan pria brengsek, dan perkataan pria itu hanya satu alat untuk menyakiti hatinya.
"Aku gak percaya. Yang aku tahu, kau mencintaiku. Aku mohon jangan tinggalkan aku," ucap Olin di tengah isak tangisnya.
"Apa kau tidak dengar? Aku sudah bilang, aku gak mau melihatmu lagi! Ini terakhir kalinya aku bertemu denganmu! Sekarang, sebaiknya kau pergi dari sini!" bentak Rain yang masuk ke dalam ruangannya lalu mengunci dari dalam, agar Olin tidak bisa masuk.
"Bukaaaaa, Om. Bukaaaa... Aku mohon. Aku mencintaimu, Om. Buka pintunya!" pinta Olin sambil menangis. Beruntung ruangan UKS berada di sudut sekolah, jauh dari gedung lainnya sehingga memungkinkan tidak seorang pun mendengar cerita Miss Olin saat itu.
Rain masih membebalkan hatinya. Tidak ada yang tahu bahwa dirinya pun terluka sama halnya dengan Olin. Hatinya teriris mendengar isak tangis dari gadis yang sangat dia cintai itu.
__ADS_1
Namun, dia bisa apa? Dia punya pilihan apa? Ini yang terbaik bagi Olin. Benar kata Bee, bahwa dia tidak pantas untuk Olin!
Gadis itu berhak mendapatkan masa depan yang lebih baik bersama pria seumurannya.
Rain hanya berharap bahwa Olin akan menemukan pasangan yang bisa mencintai dan menjaganya seperti dirinya yang sangat mencintai gadis itu, dan untuk saat ini, Rain memohon agar Olin mau pergi meninggalkannya.
Semakin lama gadis itu menangis di balik pintu ruangannya, hati Rain semakin tidak tahan, jangan sampai usahanya untuk membentengi diri berakhir gagal karena tidak tahan melihat Olin menangis.
Sejak malam itu ketika dia mengantar Olin pulang, Rain sudah bersumpah di dalam hatinya bahwa hanya ada cinta untuk Olin saja, bahwa hidupnya akan didedikasikan untuk membahagiakan Olin. Dia kalah dengan egonya, Olin yang memenangkan hidupnya.
Olin yang membawanya kembali dari lembah kematian dan kini di saat dia sudah sepenuhnya menaruh harapan pada Olin, keadaan dan orang-orang di sekitar mereka yang justru menuntut agar keduanya berpisah.
Perlahan tubuh Rain merosot di balik pintu. Dia masih bisa mendengar isak tangis gadis itu yang begitu menyayat ke hati.
"Maafkan aku, Lin. Maafkan aku, Sayang. Bukan aku nggak mau untuk bersamamu lagi. Jika saja kau tahu bahwa tujuan hidupku hanya ingin membahagiakanmu. Aku begitu mencintai mu, tapi kenyataan tidak semudah yang aku pikirkan. Banyak yang menentang hubungan kita. Usap air matamu, Sayang, dan lupakanlah aku," batin Rain meremas dadanya yang terasa sakit. Ingin sekali mendobrak pintu yang menghalangi dirinya dan Olin, dia mencoba bertahan demi kesakitan yang mereka berdua rasakan.
Rain mendengar bisa tangis Olin sudah merendah dan langkah kaki gadis itu semakin menjauh sebelum tertutup oleh hempasan pintu yang begitu kuat.
Olin sudah kembali ke kelasnya, meninggalkan dirinya dengan kehampaan dan kekosongan hati.
Olin tidak benar-benar kembali ke kelas, dia justru pergi menemui guru BP untuk minta izin pulang, karena merasa tidak enak badan.
Salah satu alasan untuk dapat izin pulang, tentu saja pihak sekolah harus menghubungi orang tua atau wali siswa dan hal itu akan dilakukan guru BP. Namun, Olin memohon untuk tidak menghubungi ke rumah. Lantas Guru BP mengingat bahwa Sagara merupakan saudara Olin, wanita itu meminta Sagara datang.
"Ada apa denganmu? Kau sakit?" tanya Sagara panik. Olin hanya menggeleng lemah. Namun, pria itu bisa melihat wajah sembab gadis itu yang menandakan Olin baru saja menangis.
__ADS_1
"Aku hanya ingin pulang dan beristirahat, Kak," ucap Olin lemah, lalu Sagara lah yang menandatangani persetujuan untuk mengizinkan Olin pulang ke rumah. Sagara memaksa untuk mengantarkannya tapi Olin menolak dan mengatakan memilih untuk naik taksi online saja.
Sagara hanya bisa mengamati taksi itu membawa Olin. Dia tebak, kalau duka yang terlibat di wajah cantik Olin, pasti disebabkan oleh Rain, dan dia tidak sabar untuk memberikan pelajaran pada pria itu.