Cinta Pythagoras, Saranghae Om Duda

Cinta Pythagoras, Saranghae Om Duda
Benarkah Sahabat?


__ADS_3

Olin menahan hasratnya untuk tidak ikut keluar bersama Rain, melihat pasien yang datang. Dia tahu itu adalah salah satu siswa yang ingin menarik perhatian Rain.


Selama ini hampir tidak ada siswa yang datang, kalau pun mereka sedang tidak enak badan, maka pasti akan memilih untuk pulang dan memeriksakan dirinya ke dokter.


"Kamu kenapa?" tanya Rain yang sudah berdiri di depan siswa yang duduk di tepi ranjang. Pria itu bersiap untuk mengeluarkan stetoskop dari jas putihnya.


"Dada aku kok berdebar-debar ya, Dokter?" tanya siswa yang membusungkan dadanya. Olin yang melihat hal itu jelas mengerti kalau itu semua merupakan trik dari pasien gadung itu. Olin kenal gadis itu, Kartika namanya, anak kelas XI yang juga merupakan model dan bintang iklan.


Olin mengumpat geram, melihat tingkah laku Tika yang mencoba menggoda Rain. Pandangannya terarah pada dada yang membulat besar. seketika Olin melihat dada, ukurannya jauh lebih kecil.


"Aku tahu ini ini pasti alasan Kartika untuk menarik perhatian print rain dengan harap kau bisa menggoda milikku," umpat Olin mengepal tinju.


Rain tidak jadi mengeluarkan stetoskop nya dari pupil mata yang juga secara bicara terus itu tidak terlihat sebagai orang yang sedang sakit dan menyadari bahwa gadis itu hanya ingin menarik perhatian.


"Tampaknya kamu baik-baik saja, tidak ada yang salah atau sakit dari dirimu. Silakan kembali ke kelas," ucap Rain datar.


"Dokter, tapi benar kok aku sakit, lihat aja nih," ucapnya sambil membusungkan dadanya lebih lagi.


Rain mencoba tersenyum, tidak ingin dianggap sadis dan tidak punya sikap ramah pada siswa di sana. "Tapi kamu benar-benar sehat," jawab Rain geleng-geleng kepala. Keberanian anak-anak sekolah zaman sekarang sangat berani.


Olin yang mengintip di balik pintu sungguh tidak tahan lagi, ingin segera keluar, tapi kalau keluar, akan ketahuan kalau dia sering datang main ke kantor Rain.


Kartika menunjukkan sikap keras kepalanya, kalau dia tidak akan pergi dari sana sampai Rain memeriksanya.


Rain mengalah, mengeluarkan stetoskop nya dan meletakkan di sekitar dadanya dengan tanpa menekan dan hanya sampai batas kemeja gadis itu. Rain memperhatikan wajah Kartika yang tampak senyum-senyum, mulai menggoda.


"Sudah, kau baik-baik saja. Hanya kurang tidur, jadi banyak-banyak beristirahat," ucapnya mundur dan duduk di kursi.

__ADS_1


"Dokter, kalau nanti jantung ku kambuh lagi, aku boleh gak telpon dokter?" tanyanya mengembangkan senyum.


Bentar tebakan Rain dan Olin, ini adalah akal-akalan Kartika, jalannya untuk minta nomor telepon Rain.


"Lihat aja, kalau sampai Rain ngasih nomor teleponnya, aku akan memarahinya!" umpat Olin dengan pelan.


"Maaf, saya jarang memantau ponselku. Kalau memang untuk alasan emergency kesehatan, saya sarankan kamu segera menghubungi dokter rumah sakit," jawab Rain berusaha bijak, jangan sampai dianggap tidak bijak meladeni siswa.


Kartika putus asa. Tampaknya pesona dan cara dia menggaet cowok yang dia sukai selama ini tidak berhasil. Jadi, Kartika memutuskan untuk pergi saja.


"Aku pergi saja kalau begitu!" umpatnya turun dari ranjang, lalu bergegas keluar.


Setelah memastikan tidak ada orang lain, Olin pun keluar dari persembunyiannya. Rain mengerutkan kening melihat tatapan Olin yang seperti ingin menelannya bulat-bulat.


"Lihat'kan, jadi banyak cewek-ceweknya yang mampir di sini. Ini semua salah Om, pake acara keluar dari tempat persembunyian!" umpat Olin merajuk kesal. Rain kadang gak paham dengan cara berpikir gadis itu. Kenapa dia harus keberatan Rain keluar dari sana?


"Mmmm... Nanti kita pulang bareng, ya?" pinta Olin memohon. Sepertinya hubungan mereka hanya berjalan perlahan saja. Tidak ada kemajuan yang signifikan.


"Kenapa begitu? Kita kan beda arah. Lagi pula, bukannya biasanya kamu pulang sama Sagara? Atau sama teman kamu yang satu?" tanya Rain kembali ke ruang kerjanya.


Olin diam sesaat. Tiba-tiba tersenyum. Tanpa sadar Rain sudah memberitahu rahasianya. Kalau sampai pria itu tahu dia pulang dengan siapa, maka artinya pria itu pasti memperhatikannya sedetail itu.


"Kenapa kau tersenyum? Kau membuatku ngeri," ucap Rain menaikkan sebelah alisnya.


"Om stalking aku, ya? Sampe tahu kalau aku pulang dengan siapa," tukas Olin tersenyum lepas, semakin cantik saja wajahnya.


"Udah, balik sana. Udah bel!" seru Rain yang ingin cari alibi. Dia tidak ingin Olin terus meledeknya.

__ADS_1


"Pokonya tunggu aku pulang, jangan sampai ditinggal," ucap Olin meninggalkan Rain yang belum sempat mengeluarkan aksi protesnya.


***


Olin melirik jam di pergelangan tangannya, sebentar lagi jam pulang sekolah. Namun, tiba-tiba dia ingat belum menyampaikan pesan pada Naya untuk pulang duluan. Sudah dua hari Naya tidak sekolah. Saat kemarin Olin ke rumahnya, pelayannya bilang lagi pergi ke rumah eyangnya di Jogja.


Pagi ini dia melihat gadis itu memasuki kelasnya saat tiba di sekolah tadi. Buru-buru Olin mengirim pesan pada Naya, memberitahukan pada gadis itu bahwa dia tidak bisa pulang bersama.


Tapi pesannya hanya dibaca, sama sekali tidak berniat membalas. Hingga pelajaran terakhir berakhir, Naya tetap tidak membalas pesan Olin.


Bel berbunyi, dia bingung, harus ke kelas Naya atau langsung ke ruang UKS, agar memastikan Rain tidak meninggalkan nya. Olin kesal kalau harus di hadapkan dengan dua pilihan seperti ini.


Yang satu orang yang dia cintai, yang satu sahabatnya, lantas dia harus memilih yang mana? Ingin berlari ke UKS, tapi hati kecil Olin mengapa mengatakan kalau Naya saat ini sedang tidak baik-baik saja, dan dia merasa gadis itu membutuhkan dirinya.


Ingin menghubungi Rain, tapi dia belum punya nomor pria itu, jadi Olin memutuskan untuk ke kelas Naya.


Olin sempat berpapasan di koridor ruang kelas mereka. Pria itu masih sama, tidak mau berbicara dengannya. Olin masuk dan mendapati Naya masih menyusun bukunya ke dalam tas.


"Nay, kenapa pesan aku gak dibalas?" tanya Olin mengambil kursi di depan Naya. Gadis itu hanya meliriknya sekilas, lalu fokus kembali pada buku-bukunya. Setelah semuanya masuk dalam tas, Naya segera bangkit tanpa mengatakan apapun juga.


"Loh, Nay, kok aku ditinggal?" tanya Olin mengejar sahabatnya itu. Kali ini apa lagi salahnya hingga Naya tidak mau bicara padanya?


Gadis itu mengabaikan panggilan Olin, terus berjalan menyelusuri koridor hingga pintu utama gerbang sekolah, yang biasanya tidak pernah dilalui Naya saat pulang sekolah. Olin terus mengejar hingga keluar dari penjara sekolah. Keduanya saling mengejar di pinggir jalan raya.


"Naya! Kamu jangan begini dong, setiap ada masalah gak cerita langsung musuhi aku! memangnya kali ini aku ada salah apa lagi? Ngomong, Nay! Kamu menganggap aku sahabat mu, bukan, sih?" teriak Olin kesal. Selalu begitu, setiap ada masalah pasti dibawa diam, dan tiba-tiba udah didiami aja.


"Gue benci sama Lo! Karena Lo sahabat gue musuhi gue!" jawab Naya berteriak di depan wajah Olin.

__ADS_1


__ADS_2