
Olin sudah siap berangkat hanya tinggal menunggu Naya datang. Tante Bee sudah meminta sopir untuk mengantar mereka ke acara itu. Tamara mengadakan acara di salah satu cafe di Kemang.
"Lama banget, sih?" tanya Olin begitu Naya muncul di depan pintu. Mata Olin terbelalak melihat penampilan Naya yang sangat berbeda malam ini. Gadis itu terlihat sangat cantik dan memukau. Naya yang tombol, tidak peduli pada penampilannya, kini memakai riasan tipis dan lihat bibirnya yang dipoles dengan warna pink lembut.
Olin jadi tidak marah atas keterlambatan Naya yang sampai dua jam. "Kau cantik sekali," lanjut Olin tersenyum.
Bee yang keluar dan mendapati kedua gadis itu, ikut terperangah melihat penampilan Naya. "Kamu cantik banget Naya, Tante sampai pangling," ucapnya Bee memperhatikan penampilan Naya.
"Jadi cuma Naya yang cantik, Tante? Aku gak?" protes Olin memonyongkan bibirnya, pura-pura cemberut dan tidak terima.
"Kalian berdua sangat cantik dan memukau. Tante harap kalian happy malam ini, tapi ingat jangan pulang terlalu malam," jawab Bee, lalu menerima uluran tangan Olin dan Naya sebelum pamit.
Sopir yang mengantar, mereka suruh pulang karena akan pulang naik taksi saja. "Ayo masuk," ajak Olin menggandeng tangan Naya, tapi langkah Olin terhenti karena kaki Naya tidak bergerak sama sekali.
"Ada apa, Nay?" Olin mengerutkan kening. Apa Naya tidak enak badan atau terjadi sesuatu pada dirinya, kenapa gadis itu menolak masuk? Sesaat Olin pikir karena gadis itu tidak percaya diri dengan penampilannya, tapi setelah mendengar ucapan Naya, barulah dan melihat kehadiran seseorang, baru lah Olin paham.
"Sorry ya, Lin. Aku...,"
Sosok Alex muncul di hadapan mereka. Olin paham, dia hanya manggut-manggut sembari tersenyum. Jadi, Naya memberitahukan rencana mereka yang ingin menghadiri pesta ulang tahun Tamara di tempat itu.
"Oke deh, aku paham. Aku masuk sendiri aja," jawab Olin berat. Dia bukan tidak suka melihat perkembangan hubungan mereka, Olin ikut senang kalau Naya bahagia, tapi Olin memang merasa sangat malas kalau menghadiri acara itu sendiri.
Setelah penolakan, Naya saat itu, Alex membuktikan janjinya, akan terus mengejar dan mendapatkan hati Naya.
Pria itu tidak sungkan untuk mendatangi kelas Naya dan memperlihatkan niatnya mendekati gadis itu di depan semua teman-teman Naya, terlebih di depan Saga.
__ADS_1
Awalnya, Naya pikir kehadiran Alex dengan semua perhatiannya, sedikit banyak bisa membuat Saga cemburu dan mulai mau mengakui perasaannya walau sedikit pada Naya. Namun, kenyataannya pria itu tidak peduli sama sekali.
Hal itu membuat Naya sadar kalau Saga memang tidak punya rasa padanya. Jadi, gadis itu menyerah memutuskan untuk mencoba mengenal Alex, menerima uluran tangan terbuka pria itu. Ya, kalau nanti cinta itu tak kunjung datang, berarti mereka memang bukan berjodoh.
Hari ini seharusnya mereka pergi nonton, tapi karena Naya sudah lebih dulu berjanji pada Olin, hingga dia memutuskan pergi dengan Olin meski akan membuat Alex kecewa.
Tapi pria itu bersikeras tetap untuk mendatangi tempat itu untuk menemui Naya. "Aku akan tetap datang, tidak akan menganggu, menunggu sampai acara itu selesai. Hanya agar bisa melihatmu," ucapnya.
Naya jadi tidak enak hati, tidak bisa menolak pria itu lagi hingga membiarkannya datang. Naya bersyukur, Olin bisa mengerti keadaannya.
"Kalau gitu, aku masuk dulu," jawab Olin tersenyum. Dia ingin memberikan kesempatan pada keduanya untuk menikmati kebersamaan mereka.
Olin melangkah masuk, menemui Tamara dan teman-temannya. Hanya ada dua tiga orang yang Olin kenal karena kebetulan mereka juga les di tempat yang sama.
Gadis itu hanya mengangguk, lalu tersenyum, mengikuti langkah Tamara menuju meja yang juga sudah di hadiri beberapa teman.
Ternyata ruangan itu sudah dipenuhi oleh para tamu undangan, tidak banyak, sekitar 30 orang, tapi tempat itu memang khusus hanya untuk acara ulang tahun Tamara malam itu.
Tamara memperkenalkan Olin pada teman-temannya yang lain. Beberapa menyambut dengan senyuman, tapi tidak sedikit juga yang menatapnya sinis.
"Hai, aku Tian, boleh duduk di sini?" tanya salah satu undangan Tamara. Dia bertanya, tapi belum Olin menjawab, pria itu bahkan sudah menarik kursi di samping Olin dan duduk dengan santai.
"Kamu Olin, kan? SMA Bhineka?" tanya Tian yang hanya diangguk Olin.
Tamara tahu, Olin tidak nyaman hingga mengalihkan topik pembicaraan. Akhirnya semua saling berbagi cerita, tapi Tian tetap mengajak Olin bicara hingga gadis berambut pirang menyerang Olin dengan perkataan kasar yang berniat menyinggung Olin.
__ADS_1
"Gak guna juga ya, wajah cantik tapi bad habit, " ucapnya melihat sinis ke arah Olin. "Buktinya kamu belum punya pacar, pasti karena kebiasaan buruk kamu, ya?" ucap gadis yang dipanggil Virgi oleh Tamara tadi.
"Jangan gitu dong, belum tentu juga karena sifat Olin yang buruk, biasa aja karena memang gak mau punya pacar," jawab yang lain, tapi langsung mendapat tatapan marah oleh Virgi.
Saat suasana menegang karena perpecahan dua kubu. Ada yang pro pada Olin ada yang ikut mengejek gadis itu. Sampai suasana menjadi senyap kala langkah seorang pria yang mendekat ke arah mereka. Semua mata tertuju pada pria itu yang semakin mendekat pada Olin.
"Maaf aku terlambat." Suara itu menarik wajah Olin melihat ke pemilik suara, dan berhasil membuatnya terkejut.
Rain ada di sini. Di depannya dan saat ini sedang menatapnya. Pria yang sangat dia rindukan, hingga menggila. Bukankah pria itu bilang akan pulang dua hari lagi? Lantas kenapa sudah ada di sini?
"Kau tidak memperkenankan ku pada teman-teman mu?" tanya Rain menyadarkan gadis itu dari keterkejutannya. Rain sengaja menajamkan nada bicaranya, agar Tian sadar kalau gadis yang coba ingin dia rayu tadi adalah miliknya.
Sejak memasuki ruangan, dia sudah melihat bagaimana Tian mencoba menarik perhatian Olin, meski gadis itu merasa jengah atas sikap sok akrab pria itu.
"Oh, iya," Olin bangkit lalu memperkenalkan Rain. "Teman-teman, kenalkan ini Rain, pacarku, sekaligus calon suami aku!" Perkataan Olin mampu membungkam semua mulut yang tadi memandangnya sebelah mata, terlebih Virgi yang merendahkannya tadi menjadi sangat malu.
"Kapan kamu datang?" bisik Olin menatap lembut wajah Rain. Hatinya bergemuruh, atas kehadiran pria itu. Dia begitu gembira, sangat bahagia.
"Baru saja," jawab Rain menatap Olin. Bukan hanya Olin yang merindu setengah mati, Rain juga. Hingga mempercepat menyelesaikan pekerjaannya agar bisa segera kembali.
Seketika para gadis bersikap sok ramah, genit untuk mendapatkan perhatian pada Rain, dan hal itu membuat Olin muak.
"Boleh kita kenalan?" tanya Virgi mendekat pada Rain. Pria itu hanya membalas dengan lirikan tidak peduli lalu menatap Olin.
"Bawa aku pergi dari sini," bisik Olin dengan tatapan memerintah.
__ADS_1