
"Kangen banget sama kalian," sapa Sky yang menjadi tuan rumah. Kali ini acara perayaan ulang tahun pernikahan mereka diadakan di rumah, hanya mengundang teman-teman dekat Bumi dan para istri mereka.
"Aku juga kangen banget," jawab Bee tulus, sudah lama tidak bertemu karena kesibukan masing-masing. Belum lagi Sky sering menemani Bumi keluar negri, mengunjungi putri mereka Bulan yang melanjutkan pendidikan di luar negeri.
Winda istri Ryan juga hadir, hanya Agus yang tidak ada malam itu.
"Rain mana?" tanya Winda yang memang sejak dulu sudah dekat dengar Rain. "Kemarin Bumi cerita kalau dia sudah kembali dari Jerman," lanjut Winda.
"Lagi keluar, bertemu teman-teman. Mana mungkin mau gabung sama para orang tua kayak kita," jawab Sky tertawa renyah. Para ibu-ibu mengambil tempat di ruang keluarga, ngobrol santai bertiga.
"Udah punya pacar dia?" tanya Winda penasaran. Semua yang tahu kisah Rain, pasti paham kekhawatiran Sky saat ini.
Sky tampak menghilangkan napas panjang, begitu berat terasa lalu mengangkat kedua pundaknya sebagai tanda jawabban bagi pertanyaan Winda. Tidak ada yang tahu, bahkan dia sendiri sebagai ibunya. Rain sangat tertutup soal masalah asrama, bahkan ketakutan kalau putranya itu tidak tertarik pada wanita lain membuatnya ketakutan.
Bee mengenal Rain, saat itu anak itu baru lulus kuliah terakhir kali mereka bertemu, setelahnya tidak pernah mendengar kabar mengenai anak sulung Sky dan Bumi itu.
"Gimana kalau kita kenalkan sama seorang gadis? Kalau kita gak gerak cepat, bisa-bisa Rain jadi perjaka tua. Aku punya kenalan,"" lanjut Winda dengan wajah serius.
"Tapi aku takut, dia gak mau. Kamu tahu sendiri Win, ponakan kamu yang satu itu susah untuk dibilangin," jawab Sky memainkan jarinya pada permukaan cangkir. Anak sulungnya itu semakin tertutup, terlebih sejak kematian istrinya itu.
Setelah kepergian Gwen, tidak pernah terdengar Rain dekat dengan seorang gadis. Setiap kali Sky ataupun bumi menanyakan perihal keinginannya untuk berumah tangga, Rain pasti mengalihkan topik pembahasan itu dan meminta kepada mereka untuk tidak membahasnya lagi.
"Tapi kamu harus ingat umur, Rain. Mama juga ingin menimang cucu. Jangan sampai Bulan menikah lebih dulu dari kamu," tukas Sky saat mereka membahas perihal masa depan Rain. Bicara panjang lebar, anak yang sedang dinasehati hanya diam. Mengucapkan kalimat pamungkasnya setiap membicarakan perihal pernikahan.
__ADS_1
"Untuk saat ini aku tidak ingin memikirkannya dulu Pa, Ma," jawab Rain kala itu. Sudah dua tahun sejak terakhir kali mereka membahas masa depan Rain, meminta untuk menikah, tapi tetap saja selalu gagal. Sepertinya gairah pria itu sudah mati menikmati kesendiriannya dengan seribu kenangan Gwen di hati dan pikirannya, seolah tidak ada gadis yang mampu menembus kembali hatinya yang sudah tertutup setelah kepergian Gwen, satu-satunya gadis yang pernah Rain cintai.
"Kita coba aja dulu. Ada anak dari temanku, gadis itu baik dan sopan. Nanti kita atur pertemuan dengan Rain." Winda kembali meyakinkan Sky yang akhirnya hanya diangguk wanita itu. Resiko apapun akan dia ambil, asa bisa melihat putranya itu bisa bahagia lagi.
"Jadi, sekarang Rain bekerja di rumah sakit mana?" tanya Bee ikut angkat bicara setelah sejak tadi hanya menyimak.
"Di rumah sakit opanya, ayah Bumi. Tapi ayah mertua ku meminta dia masuk seminggu tiga kali menjadi dokter di UKS sekolah," terang Sky.
Tepat saat itu Para pria yang sejak tadi membahas mengenai bisnis ikut bergabung bersama mereka.
"Halo para istri, lagi ngerumpi-in apa? Apa koreksi tas terbaru?" celetuk Ryan mengambil tempat duduk di samping Winda, begitu pun dengan dua pria tampan yang juga duduk di samping istri mereka masing-masing.
***
"Lo masuk bisa gak ketuk pintu dulu?" tanya Sagara, tapi tentu saja itu hanya akan dianggap Olin angin lalu.
"Jawab, Kak. Om dan Tante pulang jam berapa?" tanya Olin lagi, mengganggu konsentrasi Sagara saja.
"Gue gak tahu, Lin. Emang ada apa sih?" tanya Sagara penasaran memutar tubuhnya ingin melihat ke arah Olin.
"Aku mau minta pindah sekolah!" serunya mendudukkan dirinya, duduk bersila menatap lurus pada wajah Sagara. pilihan ini sulit bagi Olin, tapi ini satu-satunya jalan yang bisa diambil, untuk menjaga jarak dark Naya dan Sagara. Agar gadis itu bisa leluasa mendekati Sagara tanpa sungkan akan kehadirannya.
"Hah? Kenapa?" tanya Sagara kaget. Dia tahu kalau Olin suka moody an, kadang apa yang diinginkan tidak terpikir sebenarnya, tapi tiba-tiba minta pindah sekolah berarti ada masalah serius. Apa ini karena pertengkaran dengan Naya?
__ADS_1
"Gak papa. Pengen suasana baru aja," jawabnya santai, kembali mengempaskan tubuhnya di kasur.
"Mama dan Papa lagi repot, lagi kesulitan uang, jangan minta yang macam-macam," jawab Sagara asal. Dia tidak akan membiarkan Olin jauh darinya.
Pindah sekolah? Enak saja. Gimana kalau nanti ada cowok di sekolah barunya yang suka sama dia? Gak boleh! Olin harus tetap sekolah di Bhinneka.
Setelah mengatakan kalimat itu dengan tegas, Sagara memutar kembali tubuhnya, melanjutkan mengerjakan soal, walau tentu saja kini dia tidak bisa berkonsentrasi lagi. Dia takut kalau sampai orang tuanya menyetujui Olin pindah.
Setelah jam berlalu, akhirnya dia bisa fokus kembali. Suasana kamarnya tampak hening, tiba-tiba dia baru ingat kalau Olin masih di kamarnya. Tapi kenapa gak ada suaranya? Jangan-jangan...
Benar tebakannya, gadis itu sudah tidur dengan pulas. Ada dorongan besar untuk mendekati ranjang, Sagara memperhatikan wajah tenang dan cantik gadis itu. Sagara tentu saja tidak mau melewatkan pemandangan yang begitu indah ini.
Olin begitu cantik, dari sisi mana pun memandang nya. Kadang Sagara berpikir, apa yang sedang dipikirkan oleh sang pencinta kala menciptakan gadis secantik Olin.
Harus bagaimana aku mengatakan isi hatiku? Aku berharap kau mengetahuinya tanpa ku katakan...
Sagara menarik selimut, menutupi tubuh gadis itu yang meringkuk kedinginan. Kamarnya memang sangat dingin, 18 derajat suhu pada alat pendingin ruang kamarnya.
Sagara meremat dadanya, debar jantungnya begitu kencang, hanya dengan menatap Olin sedekat ini, hanya berdua, dalam diam, tanpa ada protes dan kicauan riang yang tiada henti dari bibir gadis itu.
Entah keberanian dari mana datang menghampiri Sagara, pria itu menunduk, mendekatkan wajahnya ingin mengecup bibir Olin, tapi urung dilakukan seiring terdengar suara pintu kamarnya terbuka.
"Mama...."
__ADS_1
***