Cinta Pythagoras, Saranghae Om Duda

Cinta Pythagoras, Saranghae Om Duda
Om Duda


__ADS_3

"Woi..lihat jalan. Nyungsep baru tahu rasa Lo" Deri menepuk bahu Rain yang masih melihat ke arah kumpulan gadis itu.


"Kenapa?tumben banget pangeran kegelapan kita ngelirik cewek" timpal Exel.


Malas untuk mendebat semua pertanyaan dan pernyataan sahabatnya, Rain berlalu mempercepat langkah nya menuju kantin.


"Nyet, emang dari Dede- dede gemes tadi ada yang Lo taksir?" tanya Exel sembari menambahkan saos pada mi ayam nya.


"Kagak. Berisik Lo ah" sahut Rain malas.


Tak lama bel istirahat pertama bunyi. Mereka masih anteng duduk di sudut kantin menghitung banyak nya siswa yang berdatangan ke kantin. Wajah mereka tampak kelaparan ingin melahap setiap dagangan kang jualan di kantin sekolah ini.


"Auuu..itu ada empat iblis, gila dari dekat lebih cakep ya" ujar salah satu siswi yang diimbangi teriakan heboh dari yang lain.


"Aduh, gue pengen banget sapa mereka" sambung yang lainnya.


Dari ketiga siswa yang kini ngantri di tukang jualan bakso, hanya satu yang menatap ke arah four Devil dengan malu-malu.


Nama nya Gwen Claretta, siswa kelas X yang kemarin sempat menarik perhatian Rain. Gadis dengan tinggi 157 cm, berkulit putih susu dan berambut ikal panjang.


Gwen sama seperti teman sekelasnya bahkan semua hawa di sekolah ini menyukai Rain. Tapi Gwen tidak terlalu percaya diri untuk menunjukkan rasa suka nya.


Kalau gadis lain ingin menunjukkan diri dan terang-terangan menyatakan suka pada Rain, Gwen tidak berani. Bukan karena dia tidak cantik Gwen malah cantik banget. Wajah nya begitu teduh dengan mata besarnya membuat orang yang melihat pasti gemes. Belum lagi lesung pipi yang membuat senyum nya semakin manis. Alasannya hanya satu.


Saat itu, salah satu anggota Majalah sekolah, memilih dan mewawancarai Rain sebagai profil siswa multi talenta, guna jadi murid yang menginspirasi di majalah sekolah.


Sang pewawancara bertanya kriteria gadis yang di sukai Rain untuk menjadikan pacarnya. Dengan tegas Rain mengatakan tidak suka pada cewek lemot dan tidak pintar dalam bidang akademik.


Di situ lah Gwen memupuskan harapan nya. Gwen boleh menang di fisik, tapi tidak di otak. Gwen memang tidak termasuk kategori gadis bodoh, tapi dia juga tidak pintar. Bakat yang dia punya pun hanya makan, karena memang dia jago masak.


Setelah selesai memesan, Nara, teman sebangku Gwen yang juga juara kelas semester satu kemarin, menarik tangannya ke bangku yang kosong. Kebetulan sekali, meja yang kosong tinggal yang ada di sebelah empat iblis.

__ADS_1


Meja itu sudah jadi incaran banyak gadis, tapi mata Deri yang melihat ke arah body aduhai Nara menahan meja itu untuk mereka.


"Makasih kak" ucap Nara dengan aksen genitnya.


"Anytime, cantik"


Nara dan Juli senyum-senyum centil ke arah keempat pria super tampan sekolahan itu. Sementara Gwen hanya duduk dalam diam.


Walau tak melihat pun, Gwen tahu Rain tengah menatap ke arah nya. Bulu tengkuknya meremang.


"Kalian kelas X berapa MIPA 1 kak" sambar Juli ingin mencari perhatian.


"Kenalan dulu dong. Masa ngobrol ga pake kenalan" ucap Exel menggoda. Bangkit dan duduk di samping Nara yang membuat gadis itu salah tingkah.


Nara merasa beruntung, bisa duduk di dekat four Devil. Belum tentu siswi yang lain punya kesempatan emas kayak gini.


"Aku Nara kak"


"Nah yang ini? rambut kamu lucu banget. Biasanya gadis-gadis suka rambut lurus, Lo malah ikal gitu" celoteh Exel.


Tahu kak dia, kepercayaan diri Gwen semakin down. Dia merasa tak percaya diri dengan rambut ikalnya. Sudah beberapa kali dia minta sama bunda nya untuk smoothing, tapi bunda ga pernah izin kan.


"Rambut kamu bagus kok Gwen, ngapain di luruskan, biar aja ikal gini. Lagian kan cuma di bawah aja yang ikal, atas nya kan lurus"


Selalu ucapan yang sama dari sang bunda. Hingga Gwen tak pernah lagi membahas hal itu hingga dia SMA.


"Tapi bagus kok. Kamu cocok dengan rambut itu. Gue suka" potong Kai. Gwen spontan mengangkat wajah nya menatap ke arah Kami yang saat ini tersenyum padanya. Lalu sekilas dia melirik ke arah Rain yang seolah tak perduli. Bahkan mungkin tak menyadari Gwen ada di sana.


"Makasih kak" sahut Gwen pelan.


"Cie..Kai muji cewek. Jarang-jarang loh dia gitu. Eh Gwen, Lo udah punya cowok ga?" tanya Deri

__ADS_1


Gwen hanya menggeleng.


"Nah, ketepatan tuh. Si bonceng ini belum punya cewek. Lo mau ga sama dia?" lanjutnya.


Belum sempat mendengar jawaban Gwen, Rain bangkit dari kursi nya dan melangkah meninggalkan teman-temannya.


"Eh mau kemana Lo?" hardik Exel melihat ke arah Rain.


"Balik ke kelas" Baru selangkah, kaki nya sudah di hentikan oleh seorang gadis yang mencegat dirinya dan menyodorkan sekotak coklat Belgian mahal.


"Ini buat kakak. Mohon di terima kak" Gadis itu mengulurkan tangan yang memegang coklat dengan kepala menunduk tak berani melihat Rain.


Dengan berat Gwen menelan Saliva nya. Dia Nuri, kelas X MIPA 2. Dia juga gadis pintar di kelasnya.


Banyak banget yang suka, mana yang pintar-pintar semua. Mana mungkin dia ngelirik gue yang lemot gini


Tapi selanjutnya, mulut Gwen menganga tak kala melihat tindakan Rain. Bukan nya menjawab malah melangkah pergi tanpa menerima coklat pemberi gadis itu apa lagi mengatakan sesuatu.


"Sadis banget si t*I. Udah banyak cewek yang patah hati di buat si iblis satu itu" ucap Exel terkekeh.


Rain pergi bukan tanpa alasan. Saat Deri menahan meja untuk duduk Gwen dan teman-temannya, Rain setuju, karena dia pun ingin melihat gadis itu. Memastikan Gwen lah yang dia lihat di GOR kemarin.


Tapi setelah dengan entengnya Deri menjodohkan Gwen dengan Kai, Rain kesal. Dia tidak suka. Dia sendiri pun tak mengerti kenapa jadi tidak suka dan perduli gadis itu dengan siapa. Yang jelas dia tidak nyaman, gadis itu di dekati sahabatnya.


Satu hal yang di akui Rain. Apa yang dikatakan Kai itu benar. Gadis itu cantik. Rambut ikalnya membuat dirinya bak dewi dalam mitologi Yunani. Tanpa di sadari Rain, hatinya sempat berdetak cepat saat Gwen duduk di dekatnya tadi.


Sebisa mungkin dia membuat sikap nya masih biasa saja, walau sebenarnya dia ingin sekali menatap gadis itu. Rain suka melihat matanya. Hanya itu. Tidak lebih. Tidak ada perasaan sama sekali.


"Ngapain sih lo main cabut duluan?" Exel sudah duduk di atas meja Rain yang duduk bersandar di kursinya. Tangan nya di lipat di dadanya.


"Tahu ga Lo Rain, si Kai ngaku kalau dia suka sama si ikal" lanjut Deri memotong ucapan Exel. Dan kabar itu asli membuat Rain semakin berwajah masam hingga akhir pelajaran.

__ADS_1


__ADS_2