Cinta Pythagoras, Saranghae Om Duda

Cinta Pythagoras, Saranghae Om Duda
Naik Ke atas


__ADS_3

"Kak..ini..dapat dari mana?" tanya Gwen masih menatap wajah Aldo.


"Kemarin sore, tidak sengaja gue nemu di tengah lapangan sekolah. Mungkin terjatuh dari tas mu" ucapnya menyerahkan pouch itu ke telapak tangan Gwen.


Buru-buru Gwen menyimpan ke daam tas nya. Menghirup nafas berharap sesaknya hilang. Ketakutan muncul di wajah nya. Dia takut Aldo akan bertanya itu apa. Dia pasti akan bingung menjelaskan nya.


"Makasih kak.."


"Gwen..maaf gue tadi ga sengaja dengar pembicaraan lo dan Tara. Lo putus dari Rain?"


Masalah yang paling tidak ingin di bahasanya kini di bukakan oleh Aldo.


"Maaf kak..aku.."


"Apa karena itu alasannya lo minta putus dari dia?" Mata Gwen terbelalak menatap Aldo.


"Maksud kakak?"


"Kalau gue bilang gue sayang sama elo, lo percaya ga?"


"Kak.."


"Gwen..cinta pertama gue mati tepat di hadapan gue. Dan itu karena bangsat bernama Rain.." suara Aldo begitu menyiratkan rasa sakit.


"Please kak..itu bukan salah kak Rain. Dia berhak menerima atau pun menolak cinta gadis itu. Dan dia sudah secara gentle mengatakan nya pada gadis itu. Tapi jika dia memilih jalan lain, bukan kak Rain yang harus di salahkan. Kak.. percayalah, gadis itu sudah tenang di sana. Dan kakak juga harus mencari kebahagiaan kakak, agar dia bisa melihat kakak tersenyum dari surga kak"


"Justru itu Gwen..justru karena sekarang gue udah bisa menerima kepergian dia. Dan gue udah sadar, makanya gue mau mengubah hidup gue lebih baik. Dan elo tahu, itu semua berkat lo. Dari lo gue bisa belajar ikhlas"


Ada jeda sesaat diantara keduanya. Hembusan angin sore membelai wajah keduanya.


"Gue ga mau hal yang sama seperti yang dulu gue alami, dialami Rain nantinya.."

__ADS_1


"Maksud kakak apa?" tanya Gwen melihat riak wajah Aldo yang penuh kesedihan.


"Gue..gue..udah tahu Gwen itu obat apa. Gue udah cek ke dokter. Bahkan untuk memastikan ragu gue, gue ke dokter bedah saraf"


Dunia Gwen hancur. Hancur seketika. Matanya sudah berkaca-kaca. "Kak.."


"Saat gue temukan kemarin, gue ingin memulangkan nya langsung, tapi entah kenapa ada dorongan untuk membukanya. Jadi gue putus kan bawa pulang. Rasa penasaran gue akan kesehatan lo membawa gue pergi ke dokter untuk bertanya" Aldo meneteskan air mata.


"Kak.." air mata Gwen jatuh.


"Kenapa harus dua kali dalam hidup gue, dua orang yang gue sayang pergi lagi? Rain berhak tahu Gwen"


"Ga kak. Aku mohon rahasiakan ini. Justru itu lah alasan ku putus dari kak Rain. Aku tidak ingin lebih dalam menorehkan luka di hati nya nanti"


"Tapi dia pasti tidak akan terima kata putus mu"


Tangis Gwen pecah. Begitu menyayat bagi yang mendengar. "Bantu aku ka, agar kak Rain membenci ku. Agar dia bisa mencari seseorang yang pantas untuk dia cintai"


"Sudah Gwen, jangan menangis lagi.." Aldo mengusap punggung Gwen berharap tangis gadis itu reda. Saat itu lah sepasang mata elang menatap tajam pada mereka berdua.


"Rain.." seruan Aldo membuat Gwen menegakkan tubuhnya dari pelukan Aldo. Menatap sosok penuh amarah dan tatapan membunuh di depan sana.


"Kak.."


"Ini..ini lah alasannya lo minta putus dari gue? karena lo ingin bersama si bangsat ini?" geram Rain.


Keduanya kini berdiri. Menatap takut pada Rain. Seolah mereka baru saja di pergoki sedang berselingkuh.


"Rain..sabar dulu.."


"Ah, bacot lu..!" Kalimat itu terlontar sejurus dengan hantaman pukulan Rain di rahang Aldo. Membabi buta Rain menghajar Aldo hingga pria itu kesulitan untuk berdiri. Aldo sesekali membalas pukulan yang tepat mengenai pelipis Rain.

__ADS_1


"Kak..aku mohon hentikan.." jerit Gwen.


"Bangsat lo..sini lo gue bunuh lo!" semua cercaan Rain dilancarkan bersama pukulan-pukulan mematikan. Aldo sudah tidak berdaya. Hingga Gwen melerai, dengan menampar wajah Rain.


Pria itu seolah terkontrol oleh tamparan Gwen, langsung berhenti. "Fine gue ngerti sekarang. Nikmati kebersamaan kalian." ucap nya membuang ludah.


Gwen hanya bisa menatap Rain dengan penuh air mata. Kepala pusing lelah menangis terus, tapi air mata nya tidak mau berhenti.


"Buat lo, makasih untuk penghianatan lo ini. Tenang aja, ini terakhir gue jumpai lo. Gue harap lo bahagia dengan nya.." Rain menatap Gwen sekali lagi lalu berbalik melangkah pergi.


Di langkah kedua dia berhenti. Lalu berbalik kembali, mengambil kotak beludru berwarna merah dari kantong celana nya. Berganti menatap Gwen dan benda itu, lalu tanpa di duga Gwen, Rain melempar benda itu ke arah pohon yang jauh dari di depan mereka setelah nya berlalu pergi dengan motornya.


Gwen berlari ke arah tempat kotak itu di lempar Gwen tadi. Seperti orang gila, panik mencari seolah jika tidak menemukan nya dirinya tidak bisa hidup.


Aldo yang melihat Gwen, berlari membantu mencari di sekitar bunga-bunga yang ada di sana. Benda itu tergeletak di dekat lidah buaya. Aldo memungut nya dan menyerahkan pada Gwen yang masih menangis mencari di sekitar pohon dan tanaman lain.


"Gwen.."


Gadis itu meraih benda yang kini ada di telapak tangan Aldo. Gwen meraihnya, menangis hingga terduduk di tanah. Menggengam benda itu di dada nya. Perih.


Itu adalah cincin yang sudah Rain siapkan beberapa bulan lalu, dan akan menyematkan di jari Gwen saat liburan ke Bandung yang sudah mereka rencanakan. Tapi nyatanya cincin itu berakhir dengan kesedihan.


"Gwen sudah.. jangan menangis lagi..ingat kesehatan lo. Lo bisa pingsan Gwen. Gue mohon..berhenti menangis" ucap Aldo membelai puncak kepala Gwen, pria itu ikut berlutut di tanah, menemani kehancuran gadis itu.


Setelah tenang, Aldo mengantar Gwen pulang ke rumah. "Lo udah harus kuat Gwen. Kalau lo udah sembuh, Rain akan menerima penjelasan dari lo. Gue yakin kalau cinta nya kuat, dia akan memaafkan lo"


"Iya kakak..makasih.." ucap Gwen benar-benar berhutang pada Aldo. Luka Aldo saja bahkan masih mengeluarkan darah.


"Maaf ya kak, aku udah buat kakak menderita kayak gini. Harusnya kakak ga perlu membelaku tadi. Gara-gara aku kakak babak belur. Aku mohon jangan dendam dengan kak Rain ya, please" Gwen melipat tangan di dada tanda memohon pada Aldo.


"Iya. Gue justru kasihan dengan dia. Gue dulu ada di posisinya saat ini. Lo tenang aja, gue ga benci sama dia"

__ADS_1


"Udah malam. Masuk lah. Gue juga mau pulang. Jangan terlalu banyak berpikir. Istirahat nya" ucap Aldo mengelus kepala Gwen yang diangguk Gadis itu.


__ADS_2