
"Naya, kenapa kamu pulang sendiri? Kak Saga mana?" tanya Olin yang mengejar Naya yang sudah berada di persimpangan jalan sekolah mereka.
"Lagi latihan," jawabnya ketus. Terus berjalan tidak mempedulikan Olin yang terus mengejarnya di belakang.
Olin merasakan sikap Naya yang dingin. Dia bingung, kali ini apa lagi yang buat gadis itu marah padanya.
"Naya, tunggu!" panggil Olin menarik tangan Naya hingga berhasil menghentikan langkah gadis itu.
"Kamu kenapa, sih? Kok cuek gini sama aku? Aku salah apa sama mu?" tanya Olin sudah berdiri di depan Naya.
Hati Naya masih panas mengingat pengakuan Sagara tadi. Dia ingin mengumpat, memaki Olin. Dia iri pada gadis itu, mendapatkan apa yang selama ini dia inginkan. Tinggal di rumah Sagara, mendapatkan kasih sayang Bee dan Bintang, bahkan kini disukai oleh Sagara. Semua yang Naya impikan diambil oleh Olin.
Namun, seketika menetap mata Olin yang tampak sedih, membaut Naya menggunakan akalnya. Kenapa dia harus menyalahkan Olin? Baik Olin atau Sagara tidak lah salah. Mereka saling menyukai, lantas apa haknya untuk marah? Sagara berhak memilih gadis mana yang diinginkan begitupun dengan Olin. Kalau ternyata dirinya tidak dipilih oleh Sagara, itu bukan kesalahan Olin. Selama ini Olin tidak pernah berpura-pura menjadi sahabatnya atau berpura berbuat baik padanya. Gadis itu memiliki perasaan yang tulus, dia menganggap Naya sebagai temannya. Jadi, mengapa Naya harus membalas ketulusan hati dengan Olin dengan marah pada gadis itu?
"Sorry Lin, gue nggak marah kok gue cuma lagi sakit kepala jadi pengen buru-buru pulang," jawab Naya pada akhirnya.
Pikiran Olin melayang pada orang tua Naya. Dia menduga, mungkin kesedihan dan sikap bad mood gadis itu karena sedang ada masalah dengan orang tuanya.
"Aku pikir kau membenciku lagi. Oh, ya Nay, aku mau cerita sebenarnya, tapi berhubung kamu lagi sakit kepala, ntar-ntar aja deh," jawabnya berjalan di sisi gadis itu.
Naya bersyukur karena memilih alasan sakit kepala hingga bisa melepaskan dirinya untuk mendengar curhatan Olin. Dia bukan tidak ingin mendengar, tapi untuk saat ini dia tidak sanggup. Naya tebak, Olin ingin bercerita mengenai perasaannya terhadap Sagara.
Namun, sudut hatinya tergelitik ingin mengetahui apa yang ingin disampaikan oleh Olin. Dia mengutuk sikap labilnya yang sebentar tidak ingin peduli namun, di sisi lain merasa terpanggil ingin mengetahui perkembangan hubungan mereka.
"Memangnya Lo mau cerita apa?_ tanya Naya menoleh pada Olin. Sungguh dia gadis yang plin-plan!
"Kita duduk yuk di cafe es krim di depan. Aku pengen curhat," ucap Olin terus semangat. Tanpa menunggu anggukan atau penolakan dari Naya, gadis itu sudah menarik tangan Naya agar mempercepat langkah mereka menuju cafe es krim tempat mereka biasa nongkrong.
__ADS_1
"Aku mau banna split satu. Kamu mau apa, Nay?" tanya Olin masih fokus melihat gambar di daftar menu. Dia suka es krim, semua rasa. Oh iya, satu lagi, dia juga suka coklat. Tadinya dia ingin memesan gelato, tapi baru Minggu lalu kan dia pesan itu bersama Naya.
"Sama aja sama pesanan Lo," jawab Naya menopang pipi. Sama sekali tidak berniat melihat daftar menu.
"Banana split dua, air mineral dua, sama kentang goreng satu porsi ya, Mbak," ucap Olin tersenyum ramah dan menyerahkan buku menu pada pelayan cafe.
"Katanya mau cerita, Lo mau ngomong apa?" Naya mencoba mengingatkan tujuan mereka kemari.
"Oh, iya. Hmm...," Olin membersihkan tenggorokannya. Bersiap menyampaikan berita besarnya. "Aku jatuh cinta!" ucapnya dengan perasaan yang begitu bahagia.
Naya semakin lemas. Dia sangat yakin kalau benar Olin akan menceritakan mengenai perasaan pada Saga. Atau mungkin Sagara mengungkapkan perasaannya pada gadis itu? Bukannya Saga bilang akan mengatakannya nanti malam?
Naya menyentuh keningnya. Kepalanya kini benar-benar terasa sakit. Tubuhnya lemas. "Selamat Olin. Gue doakan Lo dan Sagara bahagia," ucap Naya dengan suara tercekat.
Olin menarik tubuhnya ke belakang, menatap wajah Naya dengan tatapan berkerut. "Kok sama kak Saga?"
Setelah pelayan itu meletakkan pesanan dan berlalu, barulah Naya menyentuh tangan Olin, meminta perhatian dari gadis itu agar fokus menjawab pertanyaannya. "Kalau bukan dengan Saga, terus Lo jatuh cinta sama siapa dong?"
Kali ini Olin tidak langsung menjawab. Senyumnya mengembang, dengan wajah malu-malu yang menyebutkan satu nama.
"Rain," ucapnya dengan senyum bahagia. Mata gadis itu begitu berbinar menyebut nama itu, seolah hanya dengan menyebut namanya membuat Olin bisa merasakan kehadiran pria itu.
"Siapa itu?" tanya Naya penasaran. Kerutan di keningnya masih belum hilang.
"Astaga kau tidak tahu orang yang paling tampan di sekolah kita?" tanyanya penuh semangat. Olin selalu semangat dalam menceritakan hal apapun yang dia sukai.
Naya semakin bingung, siapa yang dimaksud Olin. Memangnya siapa yang paling tampan di sekolah mereka? Untuk saat ini masih dipegang oleh Sagara.
__ADS_1
"Sagara," jawab Naya spontan.
"Dih, kali ini ada yang lebih tampan. Dokter di UKS kita!" jawabnya tersenyum.
Bola mata Naya membulat. Dokter di UKS mereka katanya? Benar sih, pria itu memang sangat tampan, tapi bukannya terlalu tua untuk Olin?
"Dokter itu?"
Olin mengangguk malu-malu. Dia benar-benar jatuh cinta kali ini Bahkan Olin baru menyadari kalau perasaannya kali ini lebih besar dari rasa sukanya pada Sagara.
"Lo serius?" Naya mencoba menyadarkan Olin. Siapa tahu gadis itu salah sebut nama.
"Iya, memangnya kenapa?" wajah Olin berubah serius.
"Dia kan... Tua," ucap Naya merasa sedikit tidak enak hati.
Tawa Olin pecah seketika. Dia pikir ada masalah apa hingga Naya merasa aneh dia memilih Rain.
"Cuma beda 10 tahun kok, belum tua lah. Lagi pula, cinta itu gak pandang usia. Dia cakep, aku suka dan jatuh cinta. Udah, masalah umur, gak penting lah," ujar Olin mulai menikmati es krimnya.
Naya terus memandang wajah Olin yang memang sangat terlihat bahagia. Gadis itu tampaknya benar-benar dimabuk kepayang. Lalu bagaimana dengan Sagara? Padahal pria itu berencana untuk mengungkapkan perasaannya pada Olin malam ini.
"Terus Saga?" tanya Naya tanpa sadar. Dia sudah bisa membayangkan bagaimana sedihnya perasaan pria itu nanti saat Olin menolaknya.
"Hah? Dari tadi kenapa kamu bawa-bawa Saga, sih?"
"Dulu kamu kan suka dia," sambar Naya. Kini dia justru kesal pada Olin yang akan membaut Saga sedih.
__ADS_1
"Dulu itu hanya rasa kagum. Kalau yang saat ini aku rasakan pada Rain, benar-benar cinta. Bahkan aku akan mendapatkan pria itu walau dia gak suka padaku!"