
Malam itu Olin tidak bisa tidur, tubuhnya menegang tidak bisa melupakan apa yang sudah mereka lakukan. Nyaris saja, dan semua terhenti karena Rain yang punya self-control yang luar biasa. Padahal, Olin sudah ikhlas menyerahkan dirinya.
"Gimana tadi?" bisik Naya yang datang malam itu ke rumah Danendra. Naya mulai menyelidik karena melihat di tubuh gadis itu ada bekas merah dan Naya tebak itu pasti ulah Rain.
"Apa?" tanya Olin tersipu malu. Dia tidak akan mungkin sanggup untuk menceritakan nya pada Naya. Sungguh sangat mendebarkan! ini
"Lo mau cerita atau gue kasih tau Tante Bee?" Ancam Naya menarik rambut Olin agar gadis itu mau berbalik.
Olin tersenyum, mengawali ceritanya.
"Naya, kamu harus merasakannya suatu hari nanti. Beranikah mengungkapkan perasaan mu pada kak Saga. Akan sangat membahagiakan kalau kita memiliki seseorang yang mencintai kita, bersama dengan kita menjalani hari-hari," ucap Olin memeluk Naya. Keduanya berbaring dengan satu selimut menghangatkan tubuh mereka.
Naya ikut bahagia melihat senyum dan wajah gembira Olin. Dia juga ingin merasakan kebahagiaan seperti itu, tapi apa dia berani mengatakan perasaannya pada Saga? Lantas kalau pun dia mengatakannya, apa Saga akan menerima?
***
Sudah dua hari Olin hanya memeluk Naya, menghabiskan waktu nya dengan gadis itu karena Rain sedang berada di Jerman selama seminggu. Dia rindu, tapi harus bisa menahannya.
"Sudah lah, berulang kali kau memperhatikan ponsel mu, dia akan pulang kalau sudah waktunya pulang," ucap Naya melirik gadis di sebelahnya. Naya sudah sejak tadi menunggu Olin di kelasnya kala gadis itu ikut rapat OSIS lagi.
"Apa dia lagi senang-senang sampai gak ingat padaku?" umpatnya kesal, menyambar tasnya lalu melangkah bersama Naya.
"Dia hanya sibuk," jawab Naya menenangkan Olin. Gadis itu segitu bucinnya hingga merasa akan mati jika satu hari saja mendapatkan kabar dari Rain.
Apa benar jatuh cinta bisa membuat orang kehilangan akal? Hari ini Naya ingin sekali mengajak Saga bicara, mencoba melakukan apa yang dikatakan oleh Olin, untuk mengungkapkan perasaannya pada Saga tapi keberanian nya masih tipis hingga Saga pergi bersama ketiga temannya, meninggalkan Naya yang menunggu Olin.
__ADS_1
"Kanaya Putri," panggil seseorang dari arah belakang. Serentak keduanya menoleh ke arah pemilik suara itu. Pria tinggi, mungkin hampir 170 cm. Wajahnya sangat asing, hingga keduanya tidak mengenali pria itu, tapi karena masih mengenakan seragam sekolah mereka, maka pria itu pastilah siswa sekolah mereka.
"Kau siapa?" tanya Kanaya memicingkan mata.
"Aku Alex, anak XII IPA 2," jawabnya singkat, namun masih terus memperhatikan Kanaya.
Ingatan Olin terbuka, dia pernah melihat pria itu di ruang kepala sekolah ketika guru bahasa Inggris memintanya untuk mengantar tugas mereka ke ruangan guru dan meminta Olin menyerahkan sudah ke ruang kepala sekolah.
"Kamu anak baru itu 'kan? Pindahan dari Jogja?"
"Benar. Aku ingin bicara pada Kanaya," ucapnya kembali menoleh pada wajah Naya.
"Tentu saja boleh," jawab Olin tersenyum penuh arti pada sahabatnya itu. Dari tatapan mata Alex, jelas kalau pria itu menyukai Naya dan itu mungkin kesempatan bagi Naya untuk mendapatkan seorang kekasih.
"Aku pergi dulu, mau les," ucapnya mengedikan mata. Naya yang ingin mencegah Olin pergi, urung dilakukan karena garis itu memang harus pergi les.
***
"Maaf kalau aku mengganggu waktumu," ucap Alex sopan. Pria itu tampak begitu salah tingkah di hadapan Naya. Sejak pertama kali masuk sekolah, Alex melihat Naya dan saat itu pula dia jatuh cinta kepada gadis itu.
Alex pikir sekolah itu pasti akan sangat membosankan, terlebih karena dia murid pindahan yang tidak mempunyai teman, tapi setelah melihat Naya, dia yakin pasti akan bertahan di sekolah itu dan mengejar cinta Naya.
"Kau ingin mengatakan apa?" tanya Naya gugup.
"Naya, kau adalah orang pertama yang aku lihat di sekolah dan saat itu aku ingin mengajak mu bicara, tapi kau selalu bersama ketiga pria itu, dan aku pikir salah satu dari mereka adalah pacarmu, jadi aku putuskan untuk menjauh. Tapi saat aku tahu kalau kau belum memiliki pacar, maka aku kembali memutuskan untuk mendekatimu Naya. Aku benar-benar menyukaimu, maukah kau jadi pacarku?" ucapan Alex to the point.
__ADS_1
Sontak hal itu membuat wajah Naya terkejut. Bagaimana tidak, dia baru pertama kali bertemu dengan Alex walaupun pria itu sudah sering melihatnya, lalu tiba-tiba saja mengajaknya bicara dan kini mengajaknya pacaran. Apa ini semuanya hanya untuk mengerjainya?
Lagi pula dari penampilannya, Alex sangat keren, dengan wajah yang sangat tampan dan pasti banyak gadis yang menyukainya. Kenapa harus dirinya yang dia sukai pria itu? Naya sadar akan penampilannya yang tomboy dan tidak ada hal menarik dari dirinya yang pantas dikagumi oleh seorang pria.
"Aku nggak suka cara bercandamu," jawab Naya pada akhirnya. Dia tidak ingin dipermainkan oleh siapapun. Dan yang paling menyedihkan, apa mungkin ini hanya ajang taruhan dari anak-anak di sekolah mereka?
"Aku nggak bercanda, Nay. Aku serius! Ini isi hatiku. Aku tahu mungkin kau terkejut karena terlalu cepat mendengar pernyataan cintaku tapi aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Aku takut kalau ada pria lain yang lebih dulu mengatakan perasaannya padamu dan kau menerimanya," ucap Alex bersungguh-sungguh. Dia tahu Naya tidak akan mudah menerimanya, terlebih dengan cara tiba-tiba seperti ini tapi kalau Alex tidak mencoba, dia tidak akan tahu hasilnya.
"Tapi kenapa aku? Begitu banyak gadis yang cantik di sekolah. Aku mohon Alex, kalau hanya untuk mempermainkanku, sebaiknya lupakan!" ucap Naya beranjak dari duduknya lalu pergi meninggalkan Alex.
Pria itu mencoba untuk mengejarnya namun, Naya dengan tangannya meminta Alex untuk berhenti dan pria itu menuruti keinginan Naya.
Alex akan memberikan waktu untuk Naya. Dia sadar gadis itu perlu waktu untuk berpikir, tapi satu hal yang pasti Alex tidak akan menyerah, dia akan tetap berjuang untuk mendapatkan hati Naya.
***
Olin harus berkonsentrasi penuh untuk mengikuti les yang diajarkan oleh mentornya. Namun, sekuat apapun usaha itu, tetap saja pikirannya tersita pada pria yang sangat dirindukannya itu.
"Olin, ini undangan untukmu," ucap Tamara menyerahkan amplop berisi undangan ulang ulang tahunnya. "Aku harap kau akan datang bersama pacarmu," ucap Tamara tersenyum.
Olin memperhatikan undangan itu. Acaranya akan dilangsungkan besok. Dia ingin sekali menolak, tapi tidak tega merusak kegembiraan Tamara yang sudah dengan tulus mengundangnya. Lagi pula selama ini Tamara menjadi teman yang baik selama dia les.
Namun, yang membuat Olin bingung, acara itu diadakan pukul 07.00 malam, siapa yang harus diajaknya ke sana?
"Kau pasti datang 'kan, Lin? Aku mohon, datanglah walau hanya sebentar. Aku mengharapkan kedatanganmu," ujar Tamara menepuk pundak Olin pelan, lalu pamit pulang lebih dulu.
__ADS_1
"Mungkin aku pergi dengan Naya saja," gumamnya memasukkan semua alat tulis dan bukunya ke dalam tas dah bergegas pulang.