
Penuh semangat Olin mendatangi apartemen itu. Dengan taksi online yang dia pesan, akan semakin mudah untuk sampai di alamat itu.
"Yakin di sini, Pak?" tanya Olin menatap bangunan mewah dan juga menjulang tinggi itu. Ini adalah apartemen elit, tempat artis dan pengusaha tinggal. Wajar sih, Rain sangat kaya dan menjadi pewaris dari banyak usaha Opa nya.
"Iya, Neng. Saya sudah biasa mengantar penumpang kemari, atau pun menerima orderan dari daerah sini," jawab driver taksi itu.
Olin menyerahkan selembar kertas merah, lalu bergegas turun setelah mengucapkan terima kasih pada supir itu.
Dengan langkah gontai Olin masuk dan tentu saja segera dihadang oleh satpam yang berjaga di pos nya.
"Maaf, adek mau ketemu sama siapa?" tanya pak satpam memperhatikan Olin. Jelas dia tahu kalau Olin bukanlah penghuni apartemen ini.
"Aku mau ketemu sama dokter Rain," ucapnya gugup. Kumis satpam itu membuatnya gentar, sangat berbeda dengan satpam yang ada di rumah sakit tadi.
"Kamu siapanya?" tanya pak satpam dengan nama Muklis di dadanya.
"Aku...," Olin berpikir sejenak, kalau dia bilang pacar, tentu satpam itu tidak akan percaya. Olin memang cantik, tapi untuk sekelas Rain, gak mungkin dia mau pacaran sama anak bau kencur. Ini saja kalau dak terus dipepet Olin, tidak akan mungkin buat Rain luluh.
Tiba-tiba dia ingat pada Anika. "Aku adiknya, Anika. Kalau gak percaya, telpon aja orangnya," ucap Olin penuh harap kalau satpam itu akan percaya.
Muklis pun akhirnya mencoba menghubungi nomor Rain, untuk mempertahankan perihal keberadaan Olin dan kebenaran ucapan gadis itu, tapi nomor pria itu tidak aktif.
"Gimana, Pak?" tanya Olin jadi cemas.
"Nomornya gak aktif dek."
"Jadi, gimana dong? Aku nunggu di dalam aja deh," ucapnya menunjuk lobby apartemen.
__ADS_1
"Oh, maaf, gak bisa. Saya sarankan adik pulang aja dulu, kembali lagi nanti," ucapnya Muklis yang tetap tidak memperbolehkan Olin masuk.
"Aku gak mau pulang, Pak. Ada hal penting yang harus aku sampaikan sama kak Rain," ucap Olin bersikeras.
"Maaf, saya tidak bisa mengizinkan. Nanti saya yang dimarahi, Dek. Maaf ya," ucapnya menutup kembali portal hingga Olin benar-benar tidak bisa lewat.
"Tolong lah, Pak," ucapnya memelas. Tetap saja Muklis bergeming.
Olin tidak punya pilihan lain selain menunggu di depan apartemen. Duduk di bahu jalan, berharap Rain segera datang.
Waktu terus berlalu, Rain masih belum pulang. Olin pun jadi bahan pandangan orang yang keluar masuk dari apartemen itu. Tatapan penuh selidik. Mungkin karena hari sudah magrib dan dia masih menggunakan seragam sekolah.
Tidak ingin menjadi bahan cibiran, Olin pun pindah, beberapa langkah dari sana ada warung gerobak, dia lapar tapi hanya ada jual minuman di warung itu.
Olin rasanya lelah sekali. Duduk sebentar di dekat gerobak, tapi hanya sebentar, tidak lama, pemilik gerobak mau pulang karena gerimis sudah mulai turun.
Lantas kemana Olin akan berteduh? Diliriknya bangunan yang ada di samping apartemen, mungkin kalau dia kembali ke sana, akan lebih mudah melihat Rain datang.
Diliriknya jam di pergelangan tangan, hampir pukul tujuh malam. "Om kemana, sih? Kenapa belum datang juga!" umpatnya kesal. Olin lelah, kepala pusing dan perutnya lapar. Dia tidak peduli lagi, mendudukkan dirinya di lantai ruko itu dengan beralaskan karton bekas yang ada ditemukan di teras ruko.
Olin ingat kalau belum menghubungi Bee, buru-buru dia mencari ponselnya untuk menghubungi wanita itu, tapi sampai semua isi tas dikeluarkan, Olin tidak berhasil menemukan ponselnya.
"Mampus aku, kemana ponsel ku?" batinnya dengan gigi gemeretak. Kedinginan bahkan menggigil.
Olin berusaha mengingat kemana ponselnya, barulah dia sadar kalau ketinggalan di laci mejanya.
Kini Olin jadi tambah panik, dia pasrah. Tidak ingin usahanya sia-sia, tetap bertahan di sana. Derasnya hujan membuatnya mengantuk. Olin meringkuk, merapatkan kakinya dan bersandar ke dinding, dan mulai memejamkan mata.
__ADS_1
***
Mobil sport hitam tampak memasuki gerbang utama apartemen. Muklis yang bertugas membuka portal dan mengizinkan mobil itu masuk sembari memberikan bow ke arah Rain yang terus menyetir hingga tiba di parkir.
Akan kembali ke posnya, baru lah Muklis ingat akan gadis yang datang mencari Rain tadi. Setengah berlari Muklis mendatangi Rain yang baru saja keluar dari dalam mobil.
"Maaf Mas Rain, tadi ada yang datang mencari Anda," ucap Muklis mencoba mengingat nama Olin.
"Siapa, Pak?" tanya Rain penasaran. Sejujurnya tidak ada orang yang pernah datang ke apartemennya. Baik itu sahabat ataupun orang tuanya. Jadi sesuatu yang aneh jika ada orang yang datang ke apartemennya terlebih malam-malam begini.
"Ngakunya sih adik Mas Rain. Namanya... Nika... Manika... Malika, eh itu kecap dari kedelai pilihan ya, Pak," ucap Muklis mencoba mengingat dengan benar.
"Anika?" tanya Rain memperjelas.
"Benar, Mas. Anika, tapi karena saya gak bisa menghubungi Mas, jadi saya tidak mengizinkannya masuk," terang Muklis takut dimarahi.
"Untuk apa Anika kemari?" gimana Rain tapi masih bisa di dengar Muklis.
"Itu dia, Mas, karena saya juga tidak pernah melihat keluarga ataupun adik Mas Rain datang, makanya saya pikir dia bohong. Masa iya anak SMA masih pakai seragam berkeliaran mencari abangnya? Kenapa tidak datang dengan orang tua Mas Rain saja, ya kan, Mas?" ucap Muklis bisa tenang. Tampaknya Rain sendiri pun tidak yakin bahwa gadis yang datang mencarinya itu adalah adiknya.
"Pakai seragam SMA?" tanya Rain kaget, bagaimana tidak, Anika masih SMP, jadi tidak mungkin yang datang itu adalah adiknya. Lagian mau apa Anika tiba-tiba datang ke apartemennya? Kalaupun dia mau menemui Rain, tentu gadis itu lebih dulu menghubunginya.
"Iya benar, Pak. Anak SMA, tinggi paling 160, rambut panjang, matanya berwarna coklat kayak abu-abu, seperti keturunan bule begitu. Kan gak mungkin adik Mas Rain. Pasti gadis itu penipu," celoteh Muklis.
Tubuh Rain menegang. Semua ciri-ciri yang dikatakan Mukhlis sesuai dengan milik Olin. Dia yakin gadis itulah yang datang mencarinya.
Lantas ke mana gadis itu sekarang? Apa dia sudah pulang? Namun, mengapa hatinya mengatakan bahwa gadis itu masih ada di sekitar sini? Dia kenal watak Olin, kalau sampai dia datang menemuinya hingga mencari alamatnya, dia tidak akan mundur sampai mereka bertemu.
__ADS_1
"Lantas kemana dia pergi?" tanya Rain mulai khawatir. Kalau mengingat watak Olin, dia tebak gadis itu pasti pergi tanpa pamit pada keluarganya, terlebih lagi dia masih pakai seragam sekolah. Lagi pula gadis itu baru saja sembuh dari sakit, dan hal itu semakin membuat Rain semakin khawatir.
"Mu-mungkin sudah pulang, Mas, tapi saya juga gak yakin sih, tadi sempat lihat berteduh, di warung gerobak, tapi sekarang gak tahu kemana," terang Muklis mulai diserang rasa takut.