
Sudah bisa ditebak, Bee sangat marah! Bahkan dia tidak lagi mempertimbangkan Rain sebagai anak sahabat suaminya.
"Kamu masuk!" perintah Bee pada Olin. Dia bukan tidak bersyukur kala melihat wajah Olin lah yang muncul diambang pintu.
Sejak siang, menunggu Olin pulang sekolah, tapi hingga sore, gadis itu tidak kunjung datang, bahkan paling parah tidak ada kabar berita.
Berulang kali Bee mencoba untuk menghubungi, tapi gadis itu tidak menjawab. Kali ini bukan tidak aktif, hanya saja tidak diangkat. Hal itu tentu saja semakin membuat Bee merasa sangat panik.
Ketika Sagara sudah tiba di rumah, Bee bergegas meminta putranya itu untuk mencari Olin ke sekolah, tapi tetap tidak ditemukan.
Bee juga sudah mendatangi rumah Naya, gadis itu juga tidak melihat keberadaan Olin di sekolah, karena biasanya orang akan menunggu ayah untuk pulang bersama.
Dicari kemanapun tetap tidak menemukan gadis itu, yang semakin membuat Bee kalut. Pikiran buruk tentang Olin yang terluka atau dijahati orang bahkan mungkin pingsan di tengah jalan karena memang kondisi tubuhnya belum fit membuat Bee semakin ketakutan dan menghubungi suaminya dengan rasa panik yang sudah menjalar ke seluruh bagian tubuhnya.
"Ada apa, Sayang? Kamu tenang dulu," ucap Bintang ketika menerima telepon dari istrinya.
"Bagaimana aku bisa tenang, Mas. Olin belum pulang, dan sudah dicari kemana pun tetap tidak ketemu," ceritanya dengan berapi-api.
"Kamu sudah coba untuk menghubungi ponselnya?"
"Sudah! Aktif, tapi gak mau ngangkat," jawab. Bee semakin panik.
__ADS_1
Sore itu juga Bintang pulang dari kantor lebih awal. Segera menemui istrinya, menanyakan kronologi dan juga informasi yang sudah didapatkan Sagara saat mencari Olin di lingkungan sekolah.
Be sempat terpikir bahwa ada kemungkinan gadis itu mencari Rain, tapi pemikiran itu segera ditepisnya. Olin tidak mungkin bersama Rain, karena Rain sudah pernah berjanji kepadanya untuk menurut dan juga menjauhi Olin.
Bintang mengitari lingkungan sekolah dan tempat yang diperkirakan Sagara dikunjungi gadis itu, tapi tetap tidak menemukan Olin.
Akhirnya mereka pulang dan Bintang berencana akan membuat laporan ke kantor polisi tentang berita kehilangan anggota keluarga mereka, melaporkan Olin yang hilang, tapi untuk diterimanya laporan itu oleh pihak yang berwenang, biasanya harus sudah pergi atau tidak diketahui kabar beritanya kurang lebih dari 24 jam lamanya.
Jadi, mereka akan menunggu. Namun, Bee yang tidak sabar dan terus dihantui rasa takut terjadi hal buruk ada online mendesak bintang untuk membuat laporan pengaduan saat itu juga.
Bintang pun mengikuti kemauan Bee, bergegas ke kantor polisi terdekat dan Bee memaksa untuk ikut. Namun, baru akan berjalan ke arah pintu, daun pintu terbuka dan wajah Olin muncul di sana.
"Kamu dengar gak, Tante ngomong apa? Kamu masuk ke kamar!" Ulang Bee penuh emosi. Walau di bagian sudut hatinya ingin sekali menghambur memeluk Olin ketika melihat gadis itu tadi, tapi amarahnya mengambil alih semuanya.
"Kita bicara baik-baik," ucap Bintang merangkul istrinya untuk duduk dan tak lupa mempersilakan Rain untuk ikut duduk juga.
Selama duduk dalam satu ruangan, tidak sekali pun Bee mau melihat ke arah Rain. Benar-benar kesal pada pemuda itu.
"Kalian dari mana Rain malam-malam begini baru pulang?" tanya Bintang memulai percakapan. Untuk urusan menahan amarah, Bintang jagonya. Lagi pula tidak mungkin dia bersikap kasar pada Rain, dia masih menghargai Bumi dan Sky, serta selama ini yang dia ketahui, Rain adalah anak yang baik.
"Dari apartemen, Om," jawab Rain jujur. Seujung kuku pun dia tidak mau mengatakan hal yang tidak benar. Dia akan terbuka, tidak ada yang salah diantara mereka. Hubungan mereka tidak menyalahi norma yang ada, jadi apa yang perlu dia takutkan?
__ADS_1
"Apa? Dari apartemen? Kamu bawa Olin ke apartemen mu? Apa yang sudah kamu lakukan padanya? Astaghfirullah...," pekik Bee mengusap wajahnya. Pikirannya semakin kalut, menerka kalau keduanya sudah salah dalam melangkah.
"Mama tenang dulu. Dengar penjelasan Rain," sambar Bintang sebelum semua semakin melebar kemana-mana.
"Om, Tante, aku minta maaf atas apa yang sudah aku lakukan. Aku juga tidak tahu kalau Olin datang menemuiku. Hari ini aku berada di Bandung, dan saat kembali ke apartemen sudah malam. Satpam memberitahukan kalau Olin mencariku. Iya, aku memang membawa Olin masuk, tapi hanya untuk berganti pakaian dan mandi, karena dia sudah kehujanan, selebihnya hanya makan dan setelahnya mengantarnya pulang. Tante, tidak ada yang terjadi diantara kami yang melebihi batas," terang Rain, sedikit menutupi soal ciuman panas mereka tadi. Itu cukup jadi pengecualian!
"Tante sangat kecewa padamu! Kamu kan sudah janji pada Tante, untuk menjauhi Olin, kenapa masih terus mendekatinya? Kalau memang dia yang terus mencarimu, kamu kan bisa menolaknya. Bila perlu kamu bisa mengatakan hal yang menyakiti hatinya atau apa lah, yang penting dia menjauh darimu!" seru Bee tampak tidak berperasaan. Tapi itu dia lakukan karena memang sangat menyayangi Olin.
Rain tertegun mendengar penuturan Bee. Apakah harus gunakan segala cara hanya untuk memisahkan mereka? Bahkan tidak peduli bahwa Olin akan tersakiti hati nantinya dengan Rain, jika pria itu bersikap kasar kepadanya.
"Maaf Tante, Om. Aku ingin bertanya, apa yang salah dengan hubungan kami ini? Kami saling mencintaimu, dan aku tahu kalau memang alasannya hanya karena Olin yang masih muda, aku siap untuk menunggunya sampai selesai sekolah. Aku akan menjaganya, tidak akan merusak atau pun melakukan perbuatan yang menyakiti hatinya. Aku mohon, Om, Tante, izinkan aku untuk menjaga dan menyayangi Olin, seperti kalian menyayanginya," ucap Rain dengan kesungguhan yang ada dalam hatinya.
Sungguh Bintang tersentuh dengan tekad bulat dan ketulusan yang Rain tunjukkan. Dia percaya Rain adalah pria yang baik dan Olin akan bahagia bersama Rain, terlebih karena mereka memang saling mencintai.
Dia ingat perjuangannya dulu ketika mendapatkan Be. Tidak mudah, bahkan pernikahan mereka sempat kandas di perceraian. Dia harus menerima caci maki dan rasa benci istrinya itu karena mengetahui bahwa Bintang sudah melunasi semua utang ayahnya agar bisa mendapatkan Bee.
Ayah Bee memaksa putrinya untuk mau dinikahkan dan menjadi istrinya dengan kata lain, seperti meminjam perumpamaan yang dikatakan Bee saat itu padaa Bintang, bahwa pria itu sudah membelinya dengan harga yang sangat mahal.
Setiap cinta patut untuk diperjuangkan, begitu juga dengan Rain yang mencoba memperjuangkan cintanya.
Bintang salut kepada Rain, bisa merendahkan egonya demi Olin yang masih muda. Tidak mudah untuk membimbing Olin yang masih meledak-ledak dan suka ngambekan, tapi Bintang percaya Rain mampu melakukannya.
__ADS_1
"Maaf, tapi Tante tetap tidak setuju. Olin terlalu muda bagimu, walaupun kau mau menunggunya sampai dia beranjak dewasa, tapi kamu sudah memutuskan untuk mencarikan jodoh yang lain untuk Olin. Jangan membuat keadaan semakin rumit. Kau tahu bahwa orang tuamu dan juga kami adalah sahabat terbaik. Jangan karena hal ini, membuat hubungan kita semua menjadi buruk. Kau adalah pemuda yang sangat tampan dan tante tahu bahwa Banyak gadis yang tergila-gila pada mu. Masih banyak gadis lain yang bisa kau dapatkan. Tante mohon sekali lagi jauhi Olin!"