
Rain sama sekali tidak menyentuh bakso pesanannya. Bukan, ralat itu bukan pesanannya, karena dia memang tidak memesan. Olin yang memaksa pria itu untuk mau makan bakso sekaligus memesan untuk Rain.
"Kenapa gak dimakan?" tanya Olin menatap wajah Rain, lalu beralih ke bakso yang ada di mangkok Rain.
"Aku gak lapar dan juga tidak ingin memakannya. Tadi juga sudah ku bilang gak usah pesan untukku," tukas Rain cuek, masih memperhatikan Olin makan. Bibirnya tampak semakin memerah karena sambal yang banyak dia masukkan dalam mangkok baksonya.
"Boleh buat aku?"
"Ambil untuk mu semua," jawab Rain ketus, mendengus kesal. Bisa-bisanya dia terjebak dengan bocil di sini.
"Terima kasih," jawab Olin riang. Dia menoleh ke sekeliling, tampak empat orang gadis duduk tidak jauh dari mereka. Sejak masuk tadi sudah memperhatikan Rain, dan melempar senyum pada pria itu seolah ingin mencari perhatian pada Rain. Tentu saja itu mengganggu Olin.
Dia kesal pada gadis yang melirik dan berusaha merebut perhatian Rain. Dia tidak akan mengizinkan wanita manapun memandang Rain, terlebih di depannya.
"Sayang, kamu sayang banget sama aku ya. Sampai ngasih bakso kamu sama aku semua?" ucapnya dengan keras, menoleh sekilas ke meja para gadis yang lebih tua dari Olin.
Rain hanya mengerutkan kening, lalu kembali tampak tidak peduli. Olin memilih pindah ke samping Rain, hingga bisa berhadapan langsung ke arah keempat gadis itu. Rain ingin menjauhkan tubuhnya, memberi jarak diantara mereka, tapi Olin buru-buru menarik ujung kaos Rain di bawah meja, dan melotot mengancam Rain agar pria itu tidak menjauh darinya.
"Itu para gadis di depan sedang melihat ke arah mu, dan aku gak suka!" bisiknya menetap tajam pada Rain.
"Kenapa gak suka? Mereka punya mata, terserah mereka mau lihat siapa," jawab Rain asal. Lagi pula dia juga gak peduli pada pandangan gadis-gadis itu. Sudah hal biasa di dapat Rain setiap dia pergi kemana pun dan bertemu banyak gadis-gadis.
"Tapi aku gak suka!" desisnya sedikit lebih kuat. "Aku gak suka ada wanita lain yang memperhatikan mu. Hanya aku yang boleh memandangmu!" ucap Olin serius. Wajahnya berubah kesal, tidak seperti tadi yang selalu ceria. Dan coba tebak, lelucon apa ini, Rain merasa terintimidasi oleh gadis kecil itu.
__ADS_1
Dia memilih diam. Jangan coba-coba membantah gadis pencemburu. "Jangan melihat ke arah mereka sedikitpun!" terdengar seperti perintah. Olin semakin kesal karena pada gadis yang ada di depannya itu justru tetap tersenyum pada Rain.
Dalam pandangan mereka tentu saja, Olin lebih tepat seperti adik Rain, alih-alih menjadi kekasih pria itu. Salah satu dari keempatnya yang busananya lebih berani mendekati meja mereka. Dari perawakan dan juga cara berpakaian mereka, Olin tebak mereka pasti mahasiswa semester atas.
"Hai, boleh kenalan," sapa wanita berambut pirang itu mengulurkan tangannya ke hadapan Rain. Pria itu sama sekali tidak peduli terus mengamati ponselnya.
Justru Olin yang menantang dengan menatap tajam pada gadis itu. Olin mengambil tangan gadis itu dan menjabat tangannya sebagai ganti Rain.
"Maaf, Kak, pacar aku memang cuek sama sekeliling, terlebih sama cewek lain. Pandangan dia selalu tertuju hanya padaku," jawab Olin merasa senang karena Rain tidak memberi tanggapan.
"Pacar? Oh, maaf, aku pikir kamu adik atau keponakannya," jawab wanita itu terus terang sekaligus mengiris sedikit kepercayaan diri Olin. Apa dia terlihat sebocah itu? Dia sudah memakai riasan dan bahkan lipstik sebelum ke ruang Sky. Apa terhapus setelah dia makan bakso tadi?
Wanita itu pun akhirnya berlalu. Olin menunduk memikirkan hal itu. Biasanya dia tidak akan peduli kalau orang memandang hina dirinya, tapi ini di depan Rain. Harga diri serta kepercayaan diri nya runtuh.
Rain menangkap perubahan sikap Olin, dan seharusnya dia tidak harus peduli, tapi kenyataannya, dia justru tidak tenang. "Kau sudah selesai?" tanya Rain menoleh pada Olin yang sudah menghentikan makannya.
Sisa perjalanan itu mereka tempuh dengan diam. Harusnya Rain senang akan hal itu, kenyataannya, dia merasa kesepian. Dia memilih untuk mendengarkan celoteh gadis itu dari pada harus melihatnya bersedih begini.
Mobil berhenti di depan pagar. Olin masih larut dalam lamunannya, tidak menyadari kalau mereka sudah sampai.
"Hei, kita sudah sampai," ucap Rain menyadarkan. Olin mengangkat kepalanya, lalu memperhatikan sekelilingnya.
"Oh," gumamnya lemah.
__ADS_1
"Kau kenapa? Bukannya tadi sangat gembira? Kenapa tiba-tiba jadi murung begini?" tanya Rain, lalu mengutuk kebodohannya, karena sudah bertanya. Apa pedulinya?
Olin menoleh menatap wajah Rain dengan tatapan sendu. Pertanyaan Rain yang hanya sekedar bertanya justru ditanggapi gadis itu sebagai bentuk perhatian Rain padanya.
"Om memperhatikan ku? Om berarti peduli padaku?" ucapnya dengan suara serak, lalu akhirnya menangis tersedu.
"Loh... Kenapa nangis? Diam dong," pinta Rain jadi bingung. Kalau sampai keluarga Danendra tahu Olin menangis, pasti mereka akan menuduh bahwa dirinya yang sudah menyakiti perasaan gadis itu.
"Huaaaaa... Om se-peduli itu. Aku sedih karena omongan wanita tadi, yang menganggap aku anak kecil, dikira ponakan Om. Aku kan udah dewasa. Apa aku gak pantas jadi pacar Om?" tangis Olin makin pecah. Dia takut kalau Rain jadi ilfil melihatnya begitu.
"Itu...,"
"Om malu kalau punya pacar kayak aku?" sambar Olin, memotong kalimat Rain, masih dengan tangisnya.
"Hah? Gak," jawabnya gugup, ditatap seintens itu oleh Olin. Eh, tunggu dulu, tadi dia jawab apa? Gak? Artinya dia juga mau pacaran sama Olin?
"Benar, Om?" pekik Olin girang seketika menghentikan tangisnya. "Oke, mulai sekarang ini kita pacaran. Om tenang aja, aku ini udah dewasa, gak akan buat malu, Om," sambar Olin menghapus jejak air matanya. Matanya yang tadi terlihat sedih kini berubah gembira. Berbinar menatap Rain yang saat ini terkejut, karena sudah terjebak oleh omongannya sendiri. "Aku masuk dulu, Sayang. Makasih udah mengantarku pulang. Sampai besok di sekolah," ucapnya, lalu sigap mengecup pipi Rain yang lagi-lagi tanpa disadari pria itu.
Rain masih di sana. Mengamati punggung Olin yang menjauh masuk ke dalam rumah. Lalu setelah hilang di balik pintu, baru lah Rain bisa menguasai dirinya. Dia mengusap pipi tempat Olin meninggalkan ciuman tadi.
"Apa? Pacaran?" gumamnya baru menyadari apa yang sudah dikatakan Olin tadi.
Sementara gadis yang sudah membuat Rain terkena serangan jantung ringan tadi, meraba dadanya, merasakan debaran jantung yang saat ini berdetak sangat cepat. Pipinya memerah hanya dengan membayangkan bahwa dia sudah mencium pipi pria yang sangat dia cintai itu.
__ADS_1
Olin membuka buku hariannya, menandai tanggal hari ini dengan bentuk love.
"Hari ini, jadi tanggal jadian kita. Om duda, Sarangheeeee," gumamnya mendekap buku diary ke dadanya.