
Bee begitu terkejut mendengar penuturan Olin. Dari banyak nama yang dia tebak pergi bersama Olin, Rain tidak masuk dalam list nya. Awalnya dia pikir Olin pergi bersama Naya, keduanya begitu akrab hingga lupa waktu dan lupa pula mengabari nya. Kenyataannya Olin justru pergi dengan Rain?
"Rain? Rain- anak nya Tante Sky?" tanya Bee sedikit merasa aneh. Kenapa mereka berdua bisa pergi bersama?
"I-iya, Tante," jawab Olin pelan. Sebelum membulatkan tekadnya, Olin sudah mengerti akan ada pertentangan dari banyak pihak, salah satunya dari keluarga Bee. Naya juga sudah mengingatkannya saat itu.
"Gimana kalau nanti keluarga Lo gak setuju? Jarak umur antar Lo sama Rain itu jauh banget, apa mungkin disetujui?"
"Aku gak peduli Nay, siapa pun yang menentang, pasti akan tetap aku perjuangkan hubungan kami," jawab Olin tegas. Dan terbukti ucapan Naya jadi nyata. Terlihat mimik tidak senang. Kalau semua orang tidak setuju, Olin tidak peduli asal jangan Bee. Wanita itu sudah dia anggap sebagai ibunya sendiri.
"Kenapa kamu bisa pergi bersama dia? Kemana dia membawamu? Apa dia melakukan hal yang tidak baik padamu?" delik Bee menatap tajam Olin. Dia tidak mengerti mengapa keduanya bisa bersama, dari segi apapun tidak mungkin dua orang yang punya sifat dan kepribadian yang bertolak belakang itu bisa bersama.
"Itu...,"
"Apa dia memaksamu?" tanya Bee. Segala kemungkinan bisa saja terjadi. Dia kenal karakter Olin sangat polos, bisa jadi memang Rain yang memaksanya.
"Gak Tante, justru aku yang mengajaknya nonton," sahut Olin spontan, dan semakin membuat Maya Bee membelalak.
"Nonton? Kamu punya hubungan apa dengan Rain? Tante gak melarang kamu bergaul sama siapa saja, tapi sebaiknya dengan teman seumuran mu. Kamu itu masih sangat muda. Kamu dengarkan Tante pernah cerita tentang Rain? Umurnya saja sudah dua kali lipat lebih tua darimu!"
Olin hanya menunduk. Nada bicara Bee jelas menunjukkan wanita itu sangat marah saat ini. Bee pun menyadari kalau dirinya sudah sangat keras berbicara pada Olin. Ekor matanya menangkap suaminya yang berdiri di balik tembok, menggeleng lemah, memintanya untuk tidak melanjutkan interogasi pada Olin.
"Sudah, kamu naik ke atas. Mandi, makan dan segera istirahat. Tante gak mau dengar lagi kamu pergi dengan Rain!"
Olin melangkah dengan wajah menunduk lesu. Sejak tadi menahan tetesan air matanya yang ingin turun.
Baru lah sesampainya di kamar, Olin duduk bersandar ke ranjang, melipat kaki dan menutup wajahnya dengan lengannya yang ada di atas dengkulnya.
__ADS_1
Tangisnya pecah. Dia sangat mencintai Rain, tidak akan bisa hidup tanpa pria itu. Tapi dia juga menyayangi Bee. Jadi, apa yang harus dia lakukan?
***
"Apa aku terlalu keras padanya?" ucap Bee dengan suara tercekat, duduk di samping pria itu, meringkuk dalam pelukan hangat Bintang.
"Semua yang kau lakukan adalah karena sayang padanya. Tapi Olin hatinya begitu lembut, lebih baik kau ajak bicara hati ke hati, agar dia merasa tetap mendapatkan perhatian bukan penghakiman," ucap Bintang menghapus air mata Bee yang sudah menetes. Dia merasa bersalah karena sudah berkata kasar pada Olin.
Bee mengerti maksud Bintang, dan dia pikir, apa yang disampaikan pria itu benar adanya. Tidak seharusnya dia marah membabi-buta seperti tadi.
Nanti dia akan coba bicara pada Olin. Namun, sejujurnya, Bee tetap tidak akan setuju jika Olin pacaran dengan Rain.
"Ternyata begini perasaan sebagai orang tua yang sudah punya anak gadis remaja, ya?" ucap Bee menengadahkan wajahnya. Bintang tersenyum, lalu mengecup bibir Bee dengan penuh cinta.
"Tapi kau adalah ibu yang hebat, yang pasti sangat disayang, dan dibutuhkan semua anak perempuan mu untuk menemani mereka bertumbuh," jawab Bintang menyemangati istrinya.
Langkah pertama yang dia akan lakukan adalah pergi ke sekolah, untuk menemui Rain. Lebih baik bicara empat mata pada pria itu agar mau menjauhi Olin. Bagaimana pun Bee tahu Rain akan bisa mengerti kegelisahan hatinya sebagai orang tua.
***
Olin berangkat sekolah tanpa memakan sarapannya. Bee juga sempat melihat wajah sendu gadis itu, bahkan mata bengkaknya. Jadi memutuskan untuk menitipkan bekalnya pada Sagara.
Pria itu menurut, hal itu juga membuat Bee sedikit terkejut. Biasanya Sagara tidak pernah mau diminta tolongin membawa bekal Olin, terlebih setelah mereka tidak saling bicara.
Sagara bukan tanpa alasan membantu. Dia ikut prihatin apa yang terjadi pada Olin. Dia mendengar pembicaraan mamanya dan juga Olin.
Kini dia tahu, alasan Olin tidak menerima perasaannya, karena gadis itu jatuh cinta pada Rain.
__ADS_1
Seujung kuku pun tidak menyangka, Olin akan menyukai pria sang sangat jauh umurnya dari Olin. Sagara jadi tidak bersimpatik lagi dengan Rain. Menganggap pria itu tidak tahu malu, karena memacari gadis yang pantas jadi ponakannya.
Mulai saat ini, dia akan mengawasi gerak-gerik Olin. Tidak akan membiarkan gadis itu bisa bertemu lagi dengan Rain. Sagara yakin kalau semua ini pasti karena Rain yang sudah merayu Olin.
***
"Tante, silakan masuk," sambut Rain yang sedikit terkejut mendapati Bee ada di depan ruang UKS. Tanpa suara tanpa salam. Kalau Rain tadi tidak hendak pergi ke ruangan kepala sekolah dia tidak akan mungkin tahu akan keberadaan Bee di sana.
Rain sudah menemukan penggantinya, dan dia akan melaporkan pada kepala sekolah kalau bulan depan akan ada dokter yang bertugas di UKS ini, karena Rain harus kembali mengurus rumah sakit.
"Maaf kalau Tante mengganggu waktumu. Boleh kita bicara?" tanya Bee tegas.
Rain bisa melihat bahwa ada hal serius yang ingin dibicarakan oleh Bee padanya. Sorot mata yang begitu tajam, membuatnya sedikit tidak nyaman, seolah dirinya adalah seorang penjahat.
"Silakan masuk, Tante," jawab Rain membawa Bee ke ruangan pribadinya.
"Maaf kalau kedatangan Tante mendadak, tapi masalah ini harus Tante bicarakan sama kamu," jawab Bee masih dengan nada tidak bersahabat. Dia tidak lupa kalau Rain anak sahabatnya, tapi justru jangan sampai dirinya dan Sky saling benci, lebih baik dihentikan saat ini juga.
"Masalah apa Tante? Apa yang bisa aku bantu?" Rain mengerutkan kening. Menerka masalah serius apa yang membawa Bee sampai menemuinya di sekolah.
"Tante tahu kalau Olin menyukaimu, bahkan bisa dibilang kalau saat ini dia begitu tergila-gila padamu. Tapi mohon maaf, Tante gak bisa menyetujui hubungan kalian!"
Wajah Rain pias. Jadi ini yang membawa Bee menemuinya? Seketika Rain begitu mengkhawatirkan Olin. Dia tidak peduli kalau Bee akan memarahi atau bahkan menghina dirinya. Tapi jangan sampai memarahi Olin.
"Boleh aku tahu alasannya, Tante?" tantang Rain.
"Maaf, tapi perbedaan usia dan juga... status mu yang membuat Tante tidak setuju. Olin masih muda, dia masih labil. Kalau kau mau menjauhinya, Tante yakin, dia pasti bisa melupakan mu," ucap Bee menggenggam tangan Rain, memohon dengan segenap hatinya.
__ADS_1