Cinta Pythagoras, Saranghae Om Duda

Cinta Pythagoras, Saranghae Om Duda
Mabuk


__ADS_3

Rain pulang dengan luka menganga di dadanya. Sekuat apapun dia memohon pada Bee, wanita itu tidak akan memberikan izin padanya untuk mendekati Olin.


Tapi kali ini Rain tidak akan menyerah. Tetap memilih untuk mempertahankan hubungan mereka.


Sesampainya di apartemen dia mengecek ponselnya dan melihat ada pesan dari Olin.


'Aku minta maaf karena Tante udah marahi, Om. Tapi aku mohon jangan menjauh dari ku lagi. Kalau Om menghilang lagi, aku cari sampai kemana pun!'


"Dasar bodoh!" desisnya mengulum senyum. Perasaan Rain mengembang. Inikah rasanya memperjuangkan cinta? Dia beruntung karena Olin lah yang mau berjuang dengannya.


***


Bee masuk ke dalam kamar Olin, melihat gadis itu sudah tertidur pulas. Bee memilih duduk di pinggir ranjang.


"Tante minta maaf karena sudah berkata kasar padamu, sudah membentak mu, Sayang. Tante hanya khawatir dan ingin memberikan yang terbaik untukmu," ucap Bee membelai rambut Olin sembari menangis. Betapa dirinya merasa sangat menyesal karena sudah membentak gadis itu.


Dia jadi ingat Mira. Tersentak oleh raut wajah sahabatnya itu setelah membentak Olin tadi. Mata Bee jadi bengkak karena tangisnya. Dia menyesal dan berjanji tidak akan pernah membentak Olin lagi.


"Apa dia sudah tidur?" tanya Bintang yang ternyata menunggu Bee di depak kamar Olin. Wanita itu hanya mengangguk lemah, lalu menatap Bintang dengan mata berkaca-kaca.


"Sudah, jangan menangis lagi. Kau melakukannya karena memang sangat menyayangi Olin. Dia akan paham," ujar Bintang menarik istrinya dalam pelukannya.


***


Paginya Olin turun dengan kepala menunduk. Sebenarnya dia tidak ingin sarapan, tapi suara Bee yang memanggilnya membuat gadis itu berbelok ke ruang makan yang sudah ada Saga dan juga si kembar.


"Makan yang banyak. Kamu baru sembuh. Jangan sampai jatuh sakit lagi," ucap Bee meletakkan piring yang sudah berisi nasi goreng dan juga telor mata sapi kesukaan Olin di depan gadis itu.


Dia tahu, Bee sangat menyayanginya, tidak ada ragu sedikitpun, tapi Olin merasa dia juga sudah dewasa, bisa menentukan dan memilih pilihan yang menurutnya baik untuk nya.


Dua hari Olin menjalani hari-hari dengan terasa membosankan. Dia ingin bertemu dengan Rain, dia sangat rindu. Tapi pesan dari pria itu yang mengatakan untuk jadi anak baik dulu, agar tidak membuat Bee marah, membuatnya menahan diri untuk tidak mencari Rain.

__ADS_1


"Wajah Lo cemberut aja, kenapa lagi?" tanya Naya menoleh ke belakang. Siang itu Olin main ke rumahnya. Dia hampir gila karena tidak bisa menemui Bee.


"Nay, bantuin aku dong. Pengen banget ketemu sama Rain," ucapnya berguling ke samping. Sejak tadi entah sudah berapa kali bolak balik, berguling ke sana kemari.


Naya diam sesaat. Dia sudah mendengar semua cerita Olin. Bagaimana pun dia salut pada sahabatnya itu karena sudah begitu berani memperjuangkan cintanya, bukan kayak dia yang pengecut, bahkan untuk mengatakan perasaannya pada Saga pun dia tidak berani.


"Tolongin apa?"


"Pikirin gimana caranya aku bisa ketemu dengan Rain. Aku bisa gila kalau gini terus! Mau cari dia, tapi gak punya alasan sama Tante Bee! Nyebelin banget, sih!" umpatnya meninju boneka Doraemon milik Naya.


"Kenapa Lo gak minta sama Tante Bee buat les aja, jadi kan Lo punya alasan buat ketemuan sama Om Lo!" saran Naya yang terakhir disesalinya.


"Benar juga! Naya, kamu memang teman terbaik, Sarangheeeee," jeritnya turun dari ranjang dan berlari ke arah Naya yang duduk di kursi belajar nya, memeluk gadis itu dari belakang dan mencium pipi kanannya dengan begitu lama.


***


Sejak itu, mereka selalu bertemu secara sembunyi-sembunyi Olin pun selalu mencari alasan untuk bisa pulang lebih lama salah satunya oleh meminta agar dia mengikuti les sehabis pulang sekolah.


"Aku boleh minta passcode apartemen Om gak?" tanya Olin suatu hari saat mereka selesai makan sate pak kumis.


"Dih, sinis amat. Baju aku tempo hari kan ada tinggal di sana. Mau ngambil baju!" jawabnya kesal. Rain gak peka banget dengan perasaan Olin, padahal gadis itu berniat ingin mengunjungi apartemen Rain menyiapkan makanan untuk Rain dan menunggu pria itu pulang kerja. Seolah mereka main rumah tangga-an.


Rain tidak menjawab. Lama Olin menunggu tapi pria itu tetap saja asyik makan. Merasa terganggu ditatap oleh gadis itu, Rain pun menoleh. "Cepat habiskan makan mu!"


Sepanjang jalan mengantar Olin pulang hingga simpang rumahnya, gadis itu menutup rapat bibirnya, bahkan memonyongkan bentuk rasa kesalnya.


"Aku turun dulu. Makasih udah diantar," ucapnya membuka pintu mobil lalu mengempaskan dengan kuat. Hanya melewati dua rumah maka Olin sampai.


Rain akan menunggui hingga tubuh gadis itu menghilang di balik pintu gerbang besar itu, baru dia akan pulang.


Saat akan membuka pintu, Olin yang menunduk, mendengar satu pesan masuk ke ponselnya yang dengan malas dibukanya.

__ADS_1


Seketika wajah murungnya berubah cerah. Satu pesan dari Rain. Tidak ada kata sayang, hanya ada beberapa angka. Itu saja, tapi bisa membuatnya bahagia sampai ke ubun-ubun.


***


"Aku mau ketemu, kangen!" ucap Olin lewat panggilan telepon pagi itu, tepat saat Rain baru saja sampai di tempat meeting. Ada projek yang akan dia kerjakan dengan Kai, dan juga Exel juga.


Suara teriakan Olin bahkan sampai terdengar oleh Kai yang duduk di dekat Rain hingga membuat pria itu tersenyum menatap Rain dengan geli. Kalah malu, Rain menutup panggilan itu. Lalu buru-buru mengirim pesan.


'Aku lagi meeting. Gak bisa bertemu hari ini.'


***


Meeting dengan investor selesai dan berjalan dengan baik. Akhirnya impian mereka untuk membuka bisnis dibilang property jadi juga. Lahan itu berhasil mereka dapatkan.


"Gue malas balik, numpang tidur ke apartemen Lo," ucap Kai ikut masuk ke dalam mobil, Exel sudah pulang lebih dulu karena ada urusan.


Keduanya asyik ngobrol, hingga tidak berasa sudah sampai di apartemen. Rain membuka pintu dan Kai memilih untuk masuk ke kamar Rain, karena begitu mengantuk setelah dua hari tidak tidur. Namun, Kau berhenti di depan pintu, terpaku melihat pemandangan yang dia saksikan.


"Ada apa? Kenapa Lo bengong?" tanya Rain yang ikut menghampiri Kai sekaligus ikut melihat ke arah kamarnya. Apa mungkin ada yang aneh.


Astaga, Rain benar-benar tidak menyangka atas apa yang mereka lihat, buru-buru mendorong tubuh Kai hingga terlempar ke samping, lalu menutup pintu kamar yang terbuka.


"Wow...." hanya itu yang bisa Kai katakan, sembari menatap Rain geli, menyipitkan sebelah mata dan bibirnya tersenyum lebar.


"Apa?" tanya Rain berkacak pinggang. Dia masih belum lepas dari kagetnya. Apa yang dilakukan Olin di kamarnya. Kenapa dia datang tanpa memberitahu dirinya terlebih dulu?


"Main juga Lo, anak sekolah Lo embat, mana bening banget, ada temannya gak?" tanya Kai dengan senyum genitnya.


"Jaga mulut Lo! Tunggu di sini!" ucap Rain masuk dalam kamar.


Glek! Kembali dia menelan salivanya. Bagaimana tidak, sekuat apa imannya melihat Olin yang berbaring di ranjang dengan rok sekolahnya yang tersingkap hingga sebatas pakaian dalamnya, yang hampir saja terlihat.

__ADS_1


"Hei, bangun," ucap Rain menepuk pipi Olin pelan. Tapi tampak gadis itu bukan hanya tidur, tapi juga sudah mabuk. Aroma alkohol tercium dari bibir gadis itu.


Rain akhirnya memilih untuk menyelimuti dan membiarkan Olin tidur, lalu keluar menemui Kai yang sudah menyimpan banyak tanya.


__ADS_2