
"Gue nungguin," ucap Kai menyambut kedatangan Rain yang baru keluar dari kamar. Senyum Kai masih belum memudar.
"Siapa gadis itu?"
Bertahun-tahun lamanya mereka mencoba menghibur Rain dari kesedihannya setelah kehilangan Gwen, tidak satupun gadis yang mampu membuat pria itu bisa melupakan sosok istrinya, tapi kini tiba-tiba saja Kai melihat seorang gadis berada di kamar Rain dengan seragam SMA pula!
Rain mengambil tempat di depan Kai. Terdengar menarik napas yang panjang, lalu menatap Kai yang masih menunggu.
"Sorry, gue gak cerita selama ini. Gue juga baru kenal sama dia. Namanya Olin, siswa di sekolah Opa gue. Seperti yang Lo tahu sendiri, kalau gue diminta bekerja di UKS sekolah sampai ada dokter umum yang mau bertugas di sana," terang Rain dengan cepat. Dia paling tidak suka melihat tatapan Kai yang seperti menginterogasi nya.
"Tapi dia anak SMA, apa Lo yakin kalau orang tuanya bakal ngizinin Lo nikah sama dia?"
Kembali Rain menarik napas panjang, justru itu yang jadi persoalan.
"Dari mimik wajah lo, gue tebak, pasti terbentur restu orang tua, kan?" tebak Kai mengamati perubahan wajah Rain. Perlahan Rain mengangguk.
"Terus keputusan Lo?"
"Gue gak bisa melepaskan Olin. Gue udah jatuh cinta sama dia. Perasaan yang begitu besar, bahkan dia bisa menarik gue dari kesedihan yang selama ini membelenggu gue rasakan, Kai," jawabnya, kali ini sembari mengangkat wajahnya.
Kai bisa melihat kebenaran dari ucapan Rain. Dia bisa merasakan perubahan dalam diri Rain. Pantas saja pria itu begitu bersemangat menjalani hari-harinya. Bahkan saat mereka berempat kumpul, setiap saat Rain selalu mengecek ponselnya.
Rain menceritakan semua kisahnya dengan Olin, mulai dari pertemuan pertama hingga kedekatan mereka tak lupa juga konflik yang terjadi.
"Gue akan dukung semua keputusan Lo. Kalau gitu gue pamit. Kapan pun Lo butuh bantuan, gue siap," jawab Kai.
"Lo gak jadi-"
"Gimana mau istirahat, bini Lo di dalam," jawabnya menyambar jas yang sempat dia buka dan diletakkan di sandaran kursi.
Setelah Kai pulang, bergegas Rain memeriksa isi kulkasnya. Tebakan pria itu benar, Olin yang mengira minuman dalam botol itu adalah sirup sudah menghabiskan semua isinya yang memberikan efek sedikit mabuk.
Rain bisa membayangkan banyaknya minuman itu dia habiskan pasti membuat Olin kepanas, makanya saat dia masuk tadi kancing baju gadis itu sudah terbuka pada bagian atas memamerkan br*a putih yang melekat menutupi kedua miliknya yang tampak menjulang sempurna.
__ADS_1
"Dasar gadis bodoh!" umpatnya kembali ke dalam kamar. Lagi-lagi Rain harus kembali menguatkan imannya.
Olin sudah menendang selimutnya hingga kembali memamerkan paha mulusnya lagi. Kini dengan kemeja sekolah yang terbuka, Olin sudah hampir tidak pakai baju lagi.
"Hei, bangun!" panggilnya kembali menepuk pipi Olin.
"Mmmmmhhh....," gumam gadis itu sembari menggeliat. Entah sudah seperti apa bentuk pakaian yang dia kenakan. Berulang kali Rain memperbaiki, tetap saja Olin menyentaknya.
Bagi Rain yang seorang dokter, sudah hal biasa melihat tubuh seseorang, tapi tidak menjadi biasa kalau yang dia lihat itu adalah tubuh kekasihnya.
Libidonya naik, dan sebisa mungkin Rain menahan diri. Terlebih dia sudah pernah merasai bagaimana nikmatnya bibir mungil milik Olin.
"Bangun, Olin," pinta Rain, kali ini lebih kencang. Ini masih siang, belum bubar sekolah, Rain menebak gadis itu mungkin bolos sekolah.
Rain memang senang bertemu dengan Olin, dia juga sangat merindukan gadis itu, tapi kalau sampai karena hanya ingin bertemu, Olin sampai bolos, maka dia akan marah pada gadis itu.
"Olin, bangun, dong," pinta Rain lembut. Perlahan mata gadis itu terbuka.
"Kepala mu sakit? Kamu udah makan, belum? Kenapa satu botol itu kau minum semua?" tanya Rain mendekat, memijit kening gadis itu. Tentu saja dia akan pusing, terlalu banyak minuman keras itu dia habiskan.
Olin merebahkan kepalanya di dada pria itu, mengalungkan lengannya di leher Rain.
"Kiss me," bisik nya tepat di bibir pria itu. Rain tergoda, tentu saja dorongan yang sejak tadi dia tahan akhirnya, dia lepaskan.
Rain mengabulkan permintaan gadis itu yang juga keinginannya.
Ciuman Rain yang awalnya lembut berubah menjadi ganas dan panas. Dengan rakus Rain mengeksplor rongga mulut Olin, masih terasa sisa minuman itu di sana.
Olin yang mulai terbakar ditambah rasa panas dari dalam tubuhnya akibat minuman itu membuat gadis itu lebih berani, membalas ciuman Rain dengan memainkan lidahnya.
Keduanya saling *******, bermain dengan liukan lidah yang saling membelai. Olin tidak puas, dia ingin lebih, berpindah duduk, di pangkuan Rain dengan mengangkang.
Kulit Olin yang mulus di balik rok sekolahnya masih bisa dirasakan Rain pada kulitnya meski terhalang celana kerjanya.
__ADS_1
Rain turun ke leher gadis itu mencium, menjilat tanpa berani meninggalkan bekas kepemilikan. Dia tidak ingin Olin mendapat masalah dengan Bee nantinya atau siapapun yang melihat leher gadis itu.
Rain kembali ke bibir Olin. Untuk saat ini, cukup baginya menikmati bibir gadis itu sampai membuatnya halal.
Rain menyudahi ciuman itu. Menyatukan kening mereka sembari mendengar desah napas keduanya yang saling beradu.
Rain menjatuhkan tubuhnya ke belakang, membawa Olin bersamanya yang saat itu masih berada di atas tubuhnya. Keduanya saling berpelukan dengan debar jantung yang begitu kencang.
"Aku mencintaimu, Rain," bisik Olin lembut di dada pria itu. Untuk pertama kali Olin memanggil nama Rain dari bibirnya.
Senyum Rain mengembang dengan mata terpejam, kala mendengar ucapan Olin.
"Aku juga mencintaimu, Caroline," jawab Rain tapi hanya dalam hatinya. Dia masih kesulitan untuk mengatakan langsung pada Olin.
Lama keduanya saling berpelukan. Kulit bersentuhan yang membuat mereka semakin menyatu.
"Sebaiknya kita segera bergerak dari sini, kalau tidak, akan ada hal lain yang terjadi dan aku tidak ingin engkau menyesal kedatanganmu hari ini ke sini," bisik Rain mengelus punggung Olin.
"Apa Om gak suka memelukku? Atau apa kau berat?" tanya Olin yang bangkit dari tubuh Rain.
Bagi sebagai seorang wanita memiliki tubuh yang proporsional sangatlah menjadi idaman. Hal itu juga menjadi nilai plus di mata kekasih sekaligus menambah rasa percaya diri.
"Justru karena sangat suka, aku gak mau melakukan hal yang membuatku terlihat brengsek," jawab Rain ikut bangkit. Dia berjalan menuju lemari, mengambil kaos putih miliknya dan melempar pelan namun tepat mendarat di wajah Olin.
"Ganti bajumu, mataku jadi ternoda," ucapnya tersenyum, lalu keluar dari kamar menuju dapur.
Dia yakin gadis kecilnya itu belum makan, dan Rain ingin menyiapkan makanan untuk Olin.
"Om sedang apa?" Olin sudah muncul di depan pintu dapur.
"Buat makan siang," jawab Rain tanpa menoleh.
"Duh, baik banget pacar aku. Calon suami idaman banget," celetuk Olin yang mengundang tawa keduanya.
__ADS_1