
Jantung Sagara masih belum bisa berdetak dengan stabil, pelukan Olin tadi masih membuatnya berdebar cepat. Mobil sudah berhenti di depan gerbang rumah mereka. Sementara Sagara meredam debar jantungnya, Olin justru takut masuk.
Dia tidak mungkin berhasil masuk ke kamarnya tanpa bertemu dengan Bee di rumah tamu.
"Kenapa belum turun?" tanya Olin menoleh ke samping. Sagara seperti orang yang kesambet anak jin, bengong menatap ke depan. "Sagaaaa!" ulang Olin sambil mentoel lengan pria itu.
"Lo sendiri, kenapa gak turun?" ucap Sagara kembali ke alam nyata. Mencoba melihat ke arah Olin, dan jantung nya kembali berdetak semakin cepat.
Kalau begini, dia bisa pingsan kalau semakin lama di dekat Olin.
"Gimana nih, Kak? Aku gak bisa masuk ke dalam tanpa ketahuan sama Tante Bee. Bantuin dong, Kak," rengeknya menggoyang-goyangkan tangan Sagara. Sontak hal itu semakin membuat Sagara semakin blingsatan.
Biasanya dia akan cuek, menutupi rasa gugupnya setiap di dekat Olin dengan wajah cuek, tapi kali ini beda. Melihat ketakutan di mata gadis itu, membaut Sagara tidak tega.
Sagara perlahan membuka pintu rumah dengan perlahan. Benar dugaan Olin, kedatangan mereka disambut Bee dengan senyum. "Udah pulang, Bang? Olin mana?" tanya Bee celingukan melihat ke belakang Saga, tapi orang yang dicari tidak tampak batang hidungnya.
"Gak tahu, Ma. Mungkin di kamarnya," ucap Sagara asal jawab. Tidak bisa berbohong membuat Sagara tampak gugup. Ini kebohongannya yang pertama, dan ini semua demi Olin, gadis yang dia sukai.
Langkah seribu, Sagara naik ke atas, berbelok ke pintu kamar Olin. Gadis itu benar-benar menyusahkannya.
"Baju yang mana harus aku ambil?" gumamnya menggeser pintu lemari Olin. Bingung memilih, akhirnya Sagara mengambil acak, karena buru-buru menarik, tanpa sengaja pakaian dalam Olin jatuh berserakan. Matanya tertegun melihat b*Ra milik Olin.
Hampir saja Sagara lupa caranya bernapas. Matanya melotot melihat benda warna pink dengan renda imut menempel di sana. Diambilnya dengan menjepit menggunakan unjuk telunjuk dan juga jempol, buru-buru melemparkan ke dalam lemari, dan segera berlalu.
"Nih," ucapnya menyodorkan pakaian yang tadi dia bawa. Daster imut yang biasa Olin pakai.
"Thanks, Kak. Sekarang Kakak keluar," pintanya. Sagara segera menurut agar gadis itu bisa ganti baju di mobil.
__ADS_1
"Loh, kok kalian bisa barengan? Olin, kamu udah pulang? Kok Tante gak lihat?" tanya Bee memergoki keduanya masuk ke dalam rumah mengendap-endap.
"Oh, itu, tadi aku keluar mau lihat kang eskrim langganan kita, Tante," jawab Olin gelagapan.
Olin pikir dirinya sudah selamat, nyatanya? pandangan Bee berhasil kejanggalan atas diri Olin. "Kamu pake daster kok malah pakai sepatu sekolah?"
Olin dan Sagara serentak menatap ke arah kakinya. Dia sampai lupa kalau belum membuka sepatu dan kaos kaki tadi.
"Itu... Itu... tadi buru-buru Tante, jadi gak sempat cari sendal," ujarnya cengengesan.
Sagara segera menarik tangan Olin naik ke atas, tanpa kata menyelamatkan gadis itu dari interogasi ibunya.
"Makasih, ya Kak udah bantuin aku. Kalau gak ada Kakak, pasti Tante Bee khawatir sama aku," ucap Olin menarik jemari Saga lalu mengayun-ayunkan. Tatapan gadis itu begitu sendu. Dia kembali teringat pertengkarannya dengan Naya.
Olin sebenarnya tidak ingin berkelahi dengan Naya, bagaimanapun mereka adalah teman. Olin juga merasa sangat tidak enak hati pada Sagara karena gara-gara dirinya, pria itu jadi sulit untuk bersikap harus membela Nay atau dirinya.
Sagara melihat bekas luka cakar di tangan Olin, segera menarik gadis itu dan memintanya duduk di tepi ranjang. Sagara keluar dari kamarnya, tapi hanya sebentar lalu masuk lagi membawa kotak p3k di tangannya.
"Dih, apaan sih, Kak. Masa cewek cantik kayak kita dikata monyet," jawab Olin memonyongkan bibirnya yang berhasil membuat Sagara kembali salah tingkah. Ingin sekali rasanya dia menarik bibir itu, ingin merasai kelembutannya, tapi akal sehat nya masih jalan. Dia gak mau Olin menganggapnya mengambil kesempatan dalam kesempitan.
"Lin, sebenarnya kalian kenapa bertengkar, sih?" tanya Sagara menatap lurus pada wajah Olin. Setahunya, Olin bukan tipe gadis meledak-ledak. Dia justru sangat kalem dan lembut. Jauh dari kata bar-bar. Namun, sikap yang ditunjukkan Olin hari ini sangat bertolak belakang dengan dirinya sehari-hari. Sagara tebak, pasti ada yang diluar batas yang membuat Olin tidak bisa mentolerir kesalahan Naya, hingga terjadilah pertengkaran itu.
Gadis itu mendongak, menatap mata Sagara yang sangat dia sukai. Dia tidak mungkin mengatakan awal mula timbul perselisihan di antara mereka.
"Maaf, Kak, aku belum bisa cerita saat ini," jawab Olin meneteskan air mata. Lihat kan, bagaimana mungkin gadis cengeng ini bisa cari pasal dengan Nay. Ini pasti ada sebabnya. Sagara menghargai keputusan Olin yang tidak mau cerita padanya saat ini.
"Ya udah, kamu istirahat," jawab Sagara bangkit, membawa serta kotak putih itu dan berlalu dari sana.
__ADS_1
Sagara tidak mungkin tinggal diam, dia akan cari tahu, terlebih Nay sudah membuat tangan Olin terluka.
***
Semua member di keluarga itu suda selesai makan malam, dan kembali ke habitatnya masing-masing. Olin yang sejak tadi menunduk karena diperhatikan terus oleh Bee segera permisi naik ke kamarnya.
Ketenangan tidak bertahan lama. 15 menit kemudian, Bee sudah muncul di ambang pintu menyapanya. "Boleh Tante masuk, Cantik?" tanya Bee tersenyum. Olin yang tadi sedang rebahan, mendudukkan dirinya seraya mengangguk.
"Ada apa Tante?" tanya Bee menarik selimut, guna menutupi bekas cakar di tangannya. Ada sedikit ketakutan di hati Olin, karena sejak tadi Bee dan Bintang saling tukar pandang setelah melihat ke arahnya.
Olin juga sih yang salah, saat makan malam, biasanya dia hanya memakai celana pendek dan kaos oblong, tapi tadi, dia mengenakan Hoodie, padahal suhu lagi gerah.
Bee mengambil posisi di samping Olin, membelai rambut panjang dan indah gadis itu.
"Tadi, Om dapat telepon dari sekolah. Kamu berkelahi dengan Naya, ya? Ada masalah apa, Sayang?"
Olin menunduk. Dia malu pada Bee. Dia pikir seorang diri bisa menyelesaikan masalahnya. Ini kali pertama dia bertengkar, dan tidak kepikiran kalau buntut dari perkelahiannya, walinya, yaitu keluarga Danendra akan mendapatkan masalah. Sangat malu karena sudah menyusahkan Bee dan Bintang saling yang sudah sangat baik menjaga dan merawatnya.
"Maafkan, aku, Tante," isak Olin menghambur dalam pelukan Bee. Kelembutan wanita itu selalu bisa membuatnya meleleh. Walau bukan ibu kandungnya, tapi Bee sama dengan ibunya, begitu lembut dan penuh kasih sayang padanya.
"Sudah, Sayang. Jangan nangis lagi, kamu nanti sakit. Ayo ceritakan pada Tante, akar permasalahannya."
"Aku minta maaf, Tante, aku belum siap cerita. Ini juga gak sepenuhnya salah Nay, aku yang sudah mendatanginya lalu mengajaknya bertengkar," terang Olin tersedu-sedu.
Dia menyesali perbuatannya, tapi nasi sudah menjadi bubur, Bintang harus menghadap ke kepala sekolah mereka besok.
"Ya udah, gak papa, Sayang. Tante akan menunggu sampai kamu siap cerita."
__ADS_1
Suara lembut Bee semakin membuat Olin merasa bersalah.
"Tante, apa Om Bintang jadi benci padaku?"