
Sudah 10 menit Olin berdiri di balik pintu kamar setelah menutupnya. Jantungnya masih berdebar sangat kencang. Tidak sedikitpun dia menduga kalau Saga menariknya ke balkon untuk menyampaikan perasaannya.
Olin sampai tidak bisa berkata-kata. Kalau saja Sagara menyampaikan hal itu sebelum mengenal Rain, mungkin dia akan mempertimbangkan meskipun dia akan dibenci Naya.
"Kak Saga...," desis Olin dengan tatapan saling mengunci. Mereka begitu dekat hingga bisa merasakan deru napas Sagara yang terdengar memburu.
"Lin, aku serius. Aku sangat menyukaimu. Aku berharap kamu mau jadi pacarku," kata Sagara membelai pipi Olin dengan lembut. Sentuhan pria itu semakin membuat perasaan Olin gak karuan. Namun, dia coba menenangkan hatinya, mencari kebenaran, apa benar ini yang dia inginkan? Seketika wajah Rain muncul, dan itu adalah jawaban yang dia butuhkan.
"Maaf, Kak. Aku gak bisa," jawab Olin pelan. Menatap wajah Sagara dengan mata bening berkilau. Haru tentu saja ada, ternyata Sagara juga menyukainya, tapi semua terlambat, Rain sudah bertahta dalam hati Olin.
"Kenapa? Bukannya Lo juga suka sama gue?" kali ini nada Sagara terdengar keras. Tidak ada kelembutan dan panggilan Aku dan Kamu di awal, kini kembali berubah jadi lo dan gue lagi.
"Aku... Aku menyukai cowok lain, Kak. Aku gak bisa menerima perasaan Kakak," jawab Olin lesu, menunduk tidak tahan melihat kekecewaan yang ada di mata Sagara, tapi ini adalah kebenaran. Olin memang lebih menyukai bahkan kini sudah tergila-gila pada Rain.
Tidak mungkin hanya karena kasihan, dia menerima Saga untuk menjadi kekasihnya. Lagi pula akan ada hati yang tersakiti kalau sampai dia dan Sagara pacaran.
Sagara akhirnya melepaskan Olin, menjauh dari tubuh gadis itu menatap jalanan di depan rumah. Olin mengambil kesempatan itu untuk masuk ke dalam kamarnya.
"Maaf, Kak Saga," cicitnya menjatuhkan diri ke ranjang.
Sejak malam itu, Sagara menjauhinya. Bahkan tidak ingin bicara atau terlihat dalam satu ruangan dengan Olin. Bagaimanapun usaha Olin untuk mengajaknya bicara, ada saja tindakan Sagara yang dilakukannya untuk menunjukkan rasa tidak sukanya sekaligus menjauhi gadis itu.
__ADS_1
***
"Lepasin, Saga, Lo buat tangan gue sakit!" pekik Naya meronta, menarik tangannya dari genggaman Saga namun rasa kesal dan juga ketidakterimaan Sagara membuatnya berubah menjadi pria berhati dingin dia membawa Naya ke belakang perpustakaan tempat di mana saat itu dia curhat pada Naya tentang perasaannya kepada Olin.
"Lo udah tahu'kan?" Pekiknya melempar tubuh Naya, membuat jarak diantara mereka. Naya yang kebingungan akan maksud sahabatnya itu hanya mengerutkan kening.
"Tahu apa?"
"Lo udah tahu bahwa Olin suka sama cowok lain, Lo udah tahu bahwa dia sebenarnya nggak suka sama gue! Tega lo, Nay! Gue cerita sama lo Nay, gue kira lo teman gue. Saat gue minta pendapat, Lo bilang dia bakal terima gue, Lo bilang dia akan suka dengan gelang pemberian gue, nyatanya apa? Dia nolak gue, Nay!" seru Sagara dengan luapan emosi, mengingat kala dia mengatakan perasaannya pada Olin.
"Jadi Sagar udah mengungkapkan perasaannya dan Olin menolak?" batin Naya yang kini memahami duduk persoalan. Menyadari bahwa masalah ini menjadi penyebab sikap dingin Sagara, pria itu tiba-tiba berubah. Sagara kebanyakan diam bahkan menolak untuk latihan padahal turnamen basket hanya tinggal hitungan hari lagi.
Sagara hanya bisa menyalahkan dirinya tanpa mengetahui bahwa dirinya pun sakit. Naya pun kecewa karena pria yang dia sukai justru menyukai wanita lain, tapi dia tidak pernah marah kepada Sagara. Dia tidak membenci pria itu, justru dia berusaha untuk menerima keadaan bahwa cinta tidak bisa dipaksakan. Kalau Sagara memang memilih Olin, maka dia siap mundur Walaupun sakit tetap menyesat dalam relung hatinya.
"Alah, bacot, Lo! Gue benci sama Lo! Lo gak bisa dipercaya. Mulai sekarang, Lo bukan teman gue lagi!" teriak Sagara meninggalkan Naya yang terbengong memandangi kepergian pria itu. Lalu tuh Naya merosot terduduk di tanah dan sedetik kemudian terdengar suara tangisnya yang begitu menyayat.
Nasibnya selalu sial dari segi kacamata manapun memandang. Orang tuanya membuang Naya dengan tidak mempedulikannya, dan kini teman sekaligus orang yang paling dia cintai mencampakannya.
Naya sudah terbiasa dengan kesedihan dan juga kekecewaan. Tampilan di luar, dia berusaha untuk mencoba tegar dengan segala apa yang terjadi di dalam hidupnya, tidak seorang pun tahu bahwa hatinya terluka, kesepian bahkan tidak terima dengan keadaan dirinya saat ini.
Orang sekitarnya memandang sebelah mata, menganggapnya aneh. Hanya Saga saja yang mau berteman dengannya, tapi kini pria itu pun sudah menjauh. Tampaknya Naya memang harus hidup seorang diri, terkucilkan, seolah semesta tidak menerima kehadirannya di dunia ini.
__ADS_1
Puas menangis tanpa suara, Naya kembali ke kelas. Sebenarnya dia ingin minta izin pulang karena tidak sanggup bertemu dengan Sagara, tapi tentu saja tidak mudah untuk keluar dari lingkungan sekolahnya, perlu alasan valid, salah satunya adalah permintaan keluarga ataupun orang tua. Namun, untuk alasan itu tentu saja tidak akan mungkin, karena jujur saat ini saja dia tidak tahu di belahan bumi mana ayah dan ibunya berada saat ini.
Bel pulang sudah berbunyi, Sagara segera keluar dari ruang kelas menuju parkiran, bahkan panggilan Bobby dan Fajar tidak diindahkannya lagi. Nay merasa sedih atas sikap Sagara. Nay melirik jam di pergelangan tangannya, sebentar lagi Olin pasti datang untuk menemuinya, mengajak pulang bersama. Naya bergegas mengambil tasnya lalu pamit pada Boby dan Fajar, mengambil jalan yang berbeda agar tidak bertemu dengan Olin. Dia tidak ingin pulang dengan gadis itu hari ini. Dia ingin sendiri menikmati kesedihannya.
***
"Lin, boleh Tante masuk?" tanya Bee mengetuk pintu kamar Olin. Gadis itu mempersilakan masuk, dan Bee mengambil tempat di sisi ranjang, melihat lurus pada Olin yang sedang mengerjakan pr.
Bee tahu ada yang terjadi antara Olin dan Saga. Keduanya terlihat diam dan menjaga jarak, pasti ada sesuatu hingga membuat keduanya tidak saling sapa. Bee datang ingin mencari tahu letak permasalahan mereka.
Biasanya kedua remaja itu masih suka saling sapa, dan ada kalanya Olin akan menggangu Sagara di kamarnya, tapi sudah seminggu terlihat begitu tenang, bahkan tidak pernah terlihat saling bicara.
"Olin, Tante mau minta waktu kamu, temani Tante ngobrol," pinta Bee. Olin sudah menebak alasan kedatangan Bee ke kamarnya malam ini.
"Ada masalah apa kamu sama Saga?" tanya Bee setelah gadis itu duduk di sampingnya.
Olin masih diam. Mencari alasan yang masuk akal. Tapi akan sangat sulit, karena sebaik apapun dia mengemas kebohongan itu, Bee pasti saja tahu. Kadang Olin bingung sendiri, menduga, apa Bee punya ilmu nujum, mengetahui isi hati dan pikirannya, atau memang dianya yang tidak pintar berbohong.
"Ceritakan semua sama Tante. Anggap, Tante bukan mamanya Sagara. Kita bicara selayaknya teman," tukas Bee mencoba membuat Olin nyaman untuk terbuka padanya.
"Kak Sagara nembak aku, Tan. Tapi aku gak bisa terima, karena menyukai cowok lain."
__ADS_1