
"Apa Rain gak tahu kalau aku sakit? Apa lebih baik aku telpon dia? Aduh, bego! Aku juga gak tahu kan nomor teleponnya. Eh, tapi kan aku punya nomor Anika. Dih, gengsi kalau harus nelpon duluan," batin Olin, kembali moodnya jadi buruk.
Jadi, Olin memutuskan untuk membuat status di Wa nya saja. Berharap Anika akan cerita kalau dia sakit, terus Rain datang mengunjunginya.
Kenyataannya harapan Olin masih jauh dari angan-angan. Rain tidak datang sama sekali hingga larut malam. Hanya Naya dan juga teman-teman Sagara yang datang. Mereka bercanda tawa tertawa untuk menghiburnya.
Olin terhibur, mungkin sedikit, dia ikut tertawa bersama mereka, tapi tetap saja dia tidak puas. Pikirannya menerawang jauh ke sosok pria yang dia rindukan.
Gelak tawa mereka terhenti saat mendengar ketukan pada daun pintu. dokter yang biasa merawat Olin muncul menemui mereka.
"Maaf, pasien harus beristirahat, jadi sebaiknya kalian pulang, ya," ucap Dokter Yuni tegas. Para siswa SMA itu akhirnya mengangguk bersamaan dan segera membubarkan diri.
Bisa ditebak tentu saja aksi Yuni itu dipelopori oleh seseorang yang tidak menyukai banyak pria berada di sekitar Olin. Lagi pula kekasih hatinya itu perlu beristirahat. Terlalu banyak duduk dan juga tertawa membuat kondisi fisikalin bisa jadi lemah.
"Aku sudah melakukannya, Bos. Sebenarnya kenapa sih begitu peduli pada Carolin? Siapa dia?" tanya Yuni yang memang seangkatan dengan Rain.
Rain yang lagi duduk di kursi kebesarannya hanya menyipitkan satu mata, lalu tanpa menjawab, meminta Yuni segera pergi dari ruangan kerjanya.
***
Dua hari dirawat di rumah sakit, Dokter Yuni sudah memperbolehkan Olin pulang, tapi meminta untuk beristirahat total, kalau bisa tidak udah pergi ke sekolah dulu.
Olin sudah tidak sabar untuk pulang. Nyatanya semakin lama dia di rumah sakit itu, dia semakin terkurung dan tidak bisa bertemu dengan Rain.
***
Dua hari beristirahat di rumah, Olin akhirnya masuk sekolah.
Hal pertama yang dia lakukan adalah pergi ke ruang UKS. Dia sudah tidak tahan, rindunya begitu tebal pada Rain. Dia tidak peduli kalau pria itu akan mengusirnya nanti yang penting dia bisa bertemu Rain, memeluk pria itu dan meminta mencium bibirnya, sebagai ganti rugi karena pria itu sudah tidak datang ke rumah sakit menjenguknya.
__ADS_1
Namun, kenyataan pahit menyambutnya. Kakinya terpaku hingga dia tidak bisa bergerak dan mulutnya seolah dilem dengan lem yang begitu kuat, susah untuk terbuka.
"Kamu sakit? Kenapa hanya berdiri di depan pintu?" tanya wanita yang memakai jas putih itu.
"Itu... Apa dokter Rain ada?" Akhirnya Olin bisa mengatakan sesuatu.
"Oh, Dokter Rain sudah tidak bertugas di sini lagi, saya yang akan menggantikan tugasnya di sini," jawab wanita itu ramah, tersenyum pada Olin.
"Sampai kapan kakak menggantikan Dokter Rain?" tanya Olin dengan suara bergetar, menahan dir untuk tidak menangis.
"Seterusnya, karena dokter Rain sudah melapor pada pihak yayasan, berhenti tugas di sini, karena banyak pekerjaan yang harus dia urus di rumah sakit," terang wanita itu.
Tanpa pamit Olin segera pergi dari sana. Air matanya meleleh lagi. Dia pikir semua akan baik-baik saja. Olin pikir saat bertemu dengannya hari ini, Rain akan minta maaf, dan mengatakan tidak jadi putus.
Niat awal Rain untuk berhenti diawal bulan, berubah. Dia mempercepat karena tidak ingin membuat Olin semakin menderita. Kalau Rain masih di sekolah, gadis itu akan susah melupakannya.
Selama sisa jam pelajaran, Olin tidak bergairah. Sampai tiba waktu pulang, dia segera pergi ke ruang UKS. Ingat akan perkataan gadis itu yang mengatakan kalau Rain harus bertanggung jawab dengan pekerjaan yang ada di rumah sakit.
"Kau datang lagi?" sapa wanita itu bersiap untuk pulang.
"Maaf, ada yang perlu aku bicarakan dengan Dokter Rain soal penyakit ku yang serius, bisakah aku bertemu dengan nya? Di rumah sakit mana aku bisa menemuinya?" Olin akan melakukan segala cara agar bisa bertemu dengan Om kesayangannya itu.
"Rumah sakit Charity Center Hospital," jawab dokter itu, dia penasaran sakit apa yang diidap oleh Olin.
"Terima kasih, Kakak dokter," ucapnya tersenyum, lalu pergi tanpa sempat dokter itu bertanya padanya.
***
Betapa terkejutnya Olin, saat taksi online yang membawanya ke tempat tujuannya berhenti di depan rumah sakit, tempat dia dirawat tiga hari lalu. Ternyata dia dirawat di rumah sakit milik keluarga Rain.
__ADS_1
"Jadi, aku di sini, tapi tetap saja tidak bertemu dengannya" batin Olin sedih. Gadis itu melangkah menuju ruang informasi, tapi karena semua front office lagi sibuk, dia memutuskan bertanya pada satpam yang berjaga di pintu masuk rumah sakit itu.
Setelah bertanya pada satpam rumah sakit, Olin hanya bisa terduduk lemas. Rain sedang tidak ada di tempat.
"Kapan kembalinya, Pak?" tanya Olin yang lagi-lagi mengatakan kalau ada keperluan penting perihal konsultasi mengenai kesehatannya.
"Wah, kalau itu saya kurang tahu, Dek," jawab pak Satpam dengan logat bataknya yang kental.
"Kalau gitu, saya nunggu di sini aja deh, Pak. Tapi Bapak yakin kan, kalau dokter Rain setiap masuk lewat pintu yang ini? Bukan dari pintu lain?" tanya Olin memastikan.
"Iya, Dek, Bapak yakin sekali."
Dengan tidak sabar dan raut wajah bosan, Olin terus menunggu. Dia tidak akan menyerah, harus bisa bertemu dengan Rain hari ini.
Lama ditunggu, Rain tidak kunjung datang juga. Olin mulai jenuh, mana perutnya juga lapar. Sejak pagi dia tidak sarapan. Bekal yang dia bawa pagi tadi juga sudah dikasih pada Tya.
"Pak, kapan nih, dokter Rain datang?" tanya Olin kembali ke hadapan pak satpam.
"Waduh, Bapak kurang tahu, Dek. Atau begini saja, tanya saja pada informasi, kapan bisa kembali lagi bertemu dengan dokter Rain. Mungkin mereka tahu jadwal beliau," jawab pak Satpam bernama Togar.
Olin menimbang, hal itu tidak ada gunanya. Dia baru ingat, kalau Rain tinggal di apartemen. Kenapa dia tidak tanya aja dimana tempat tinggalnya.
Penuh semangat, Olin mendekat ke meja front office, lalu berusaha tenang agar lebih dipercaya.
"Maaf, Kak. Saya disuruh Papa untuk menyampaikan surat pada Om Rain. Katanya beliau sedang keluar, jadi papa minta aku ngantar ke apartemen aja. Boleh aku tahu alamat apartemennya?" tanya Olin tenang, berharap dia bisa mendapatkan informasi.
"Aduh, saya pegawai baru, gak tahu apa saya boleh kasih tahu adek atau gak," ucap wanita itu menatap Olin ragu.
"Gak papa kok kak, udah biasa kok. Sebenarnya udah pernah ke sana dulu, tapi lupa nama apartemen. Aku cuma minta nama apartemen aja, nanti aku cari sendiri jalan apa," jawab Olin yakin pasti mendapatkan informasi itu.
__ADS_1
"Oh, baik lah. Sebentar aku cek di komputer data Dokter Rain," ucapnya sembari mengutak-atik data karyawan. Lalu segera memberikan secarik kertas pada Olin.
"Tapi kalau ada yang tanya, jangan kasih tahu dapat dari aku, ya dek," ucap wanita itu yang diangguk Olin dengan mantap.