Cinta Pythagoras, Saranghae Om Duda

Cinta Pythagoras, Saranghae Om Duda
Om Duda Tampan


__ADS_3

Rain menghela nafas panjang setelah membuka helm sportnya. Dari dalam rumah terdengar suara tawa mama nya diantara sayup-sayup suara seorang wanita yang tengah bercerita.


Dahi nya mengkerut. Tidak biasanya mama nya mendapat tamu pada jam segini. Rain seperti biasa pulang jam lima sore setelah latihan basket terlebih dahulu bersama teamnya di sekolah.


Dengan langkah gontai, Rain masuk ke dalam rumah. Di ruang tamu, mama nya sedang duduk bersama seorang wanita sebaya nya.


"Hai bang. Sudah pulang. Sini, salim dulu sama tante Ane"


Mengikuti permintaan mama nya, Rain mendekat dan mencium punggung tangan tante Ane.


"Wah..tampan banget anak kamu Sky" Sky tersenyum bangga mendapat pujian untuk Rain. Tapi itu benar. Sky sendiri kadang merasa takjub, melihat pertumbuhan Rain setelah dewasa. Kadang dia suka menggoda Rain saat putranya itu duduk di dekatnya.


"Kok kamu bisa setampan ini sih bang" setelah nya Rain pasti berlalu meninggalkan mama nya yang dianggap lebay.


"Rain, tante Ane ini tetangga kita yang baru. Tuh, depan rumah kita. Udah Enam bulan loh ternyata mereka pindah ke sini"


Rain hanya manggut-manggut mendengar mama nya.


"Tapi memang, saat baru pindah ke sini, tiga bulan kita bolak balik ke rumah sakit, makanya jarang kelihatan keluar rumah"


"Ok deh ma, tante. Aku masuk dulu ya"


***


Minggu pagi, saat semua anggota keluarga Hendardi berkumpul. Bumi tiba kemarin, hingga hari ini memutuskan akan pergi ke rumah Oma dan opa mereka.


Tapi lima belas menit sebelum mereka berangkat, Oma Hana mengabari kalau mereka akan pergi ke acar reunian Akbar teman sekolah opa Ari, jadi rencana ke rumah Oma batal.


"Jadi kita ngapain dong ma?" tanya Arun duduk di samping mama nya. Dengan gerakan malas, merebahkan kepalanya di bahu sang ibu.


"Gimana kalau kita pergi ke SeaWorld aja?" saran Bumi membelai rambut Cakra.

__ADS_1


"Yeeeey..teriak Cakra dan Arun bersamaan.


Bulan hanya mengangguk setuju ketika mama nya menanyakan pendapatnya. Gadis berumur sebelas tahun itu lebih kemayu, penurut dan lebih tenang. Gambaran Sky saat masih kecil dulu. Arun dan Cakra lebih mewarisi sifat Bumi yang lebih cuek dan spontan. Kalau Rain, perpaduan antara keduanya. Walau memiliki sisi cuek dan pendiam, tapi Rain mewarisi kelembutan hati seperti mama nya. Tapi hanya bagi orang-orang yang masuk dalam kategori berarti untuk nya.


Tok..tok..tok..


Pintu rumah yang sebenarnya tidak di kunci di ketuk. Keluarga Hendardi memang jarang bersosialisasi dengan tetangga, karena Sky juga bekerja jadi waktunya di rumah berbaur dengan para tetangga tidak ada. Paling saat weekend atau tanggal merah.


"Bang, lihat siapa yang datang dong" pinta Sky manja. Dengan malas Rain yang sedari tadi duduk sambil memainkan game online di ponselnya bangkit dari kursinya. Berjalan ke arah ruang tamu lalu ke pintu mahoni besar itu.


Deg!


Rain terpaku saat seorang yang mungkin saja dia kenal berdiri diambang pintu. Dengan kikuk tersenyum pada nya.


Mungkin dia lupa nama gadis itu. tapi rambut ikal nya yang menjuntai di dadanya tak mungkin Rain lupakan.


"Maaf kak. Ini..bunda minta aku ngantar rainbow cake ini" ucap gadis itu gemetar.


"I-iya kak"


"Lo adik kelas gue kan?"


"I-iya kak" nada suara Gwen semakin pelan. Aura Rain sangat mengintimidasi dirinya.


Rain baru akan melanjutkan sesi tanya jawab nya, namun terpotong saat Sky muncul di samping nya.


"Hai tante..ini bunda nyuruh aku ngasih ini" ucap nya seraya menyerahkan kotak berisi cake.


"Kamu.." tanya Sky yang merasa tidak mengenal gadis itu.


"Oh..maaf tante. Aku Gwen, tetangga depan" ucap nya seraya menunjuk rumah nya dengan arahan kepalanya.

__ADS_1


"Ya ampun. Kamu anak nya Ane?" Gwen hanya mengangguk dan tersenyum tipis.


"Iya..iya..tante ingat. Bunda kamu cerita banyak sama tante. Kata nya kamu jago masak. Ini kamu yang buat?" tanya Sky membuka tutup kotak. Rain yang merasa tak berminat dengan acara ramah tamah tetangga itu memilih untuk masuk ke dalam rumah, naik ke kamar nya dan mengunci diri.


Dari balkon kamar dia bisa melihat dengan jelas rumah di depan sana. Sungguh tak menyangka kalau ternyata gadis itu yang dia lihat di GOR kemarin adalah tetangganya. Dan bukan kah kemarin mama nya bilang mereka sudah jadi tetangga selama enam bulan?


Kebetulan atau memang takdir? biar waktu yang menjawab.


Rain melempar ponselnya ke atas meja. Dia masih asik duduk di balkon tapi pikirannya melayang ke lantai satu. Gadis itu masih ada di rumah nya. Sedari tadi dia menunggu melihat gadis itu pulang ke rumah nya baru dia akan turun. Tapi sudah lima belas menit, gadis itu belum menyeberang juga, yang artinya masih di bawah.


Tok..tok..tok


"Bang..kok malah ngejogrok di situ? turun dong. Ada Gwen nih. Ternyata kalian satu sekolah ya. Adik kelas kamu ternyata" ucap Sky riang, berdiri di pintu geser menuju balkon.


"Kok belum balik dia ma?" tanya nya tak perduli.


"Hus, ga boleh gitu. Ayo turun. Ingat mama ga suka punya anak cakep tapi ga ada sopan santun. Gwen itu tamu loh. Dan lagi dia udah bawain kita cake. Enak loh bang. Mama udah coba. Udah cantik, jago masak. Sempurna sekali buat dijadiin pacar" lirik Sky ke arah Rain.


Rain tahu arah tujuan pembicaraan itu. Dan dia tak ingin memperpanjang angan-angan sang mama. Rain mengagumi rambut gadis itu, benar. Tapi hanya sebatas itu. Tidak lebih. Rain sedikit pun tidak tertarik pada Gwen walau dia cantik kata mama dan juga Kai.


Rain memilih untuk turun agar mama nya tidak membahas soal Gwen padanya. Niat wanita itu terlalu bisa di tebak Rain. Mungkin Mama nya masih meragukan orientasi *** nya hingga begitu melihat Gwen langsung berpikir untuk menyatukan mereka. Tidak semudah itu, Markonah! (: Bumi mood on).


Dari tadi, Gwen bisa dengan santai bercerita dengan Bulan, Arun, Cakra bahkan Bumi yang sesekali bertanya mengenai ayah dan bunda nya. Sampai sosok devil itu turun, membuat dirinya gugup berkepanjangan.


"Gimana sih Rain, teman kamu datang kamu malah naik" seru Bumi melihat anak lajangnya. Kedatangan Gwen menyadarkannya, Anak sulung nya itu sudah remaja. Sebentar lagi, anak itu akan memiliki tambatan hati. Melewati hari-hari nya dengan senyum dan mungkin ada duka. Tapi itu akan menjadikannya pria sejati.


"Ini, cobain deh. Pasti kamu suka" ucap Sky menyerahkan potongan cake pada Rain. Semua orang yang hadir di ruangan itu menatap kearah Rain yang sedang mengunyah cake itu. Seolah menanti pendapat Rain akan rasanya.


"Mmmm?" tanya Sky meminta pendapat.


Rain melihat ke arah mereka satu per satu hingga tatapannya persekian detik terkunci pada mata indah Gwen. "Enak"

__ADS_1


__ADS_2