Cinta Pythagoras, Saranghae Om Duda

Cinta Pythagoras, Saranghae Om Duda
Sedih tak berujung


__ADS_3

Sudah sejam Rain uring-uringan di apartemen Kai. Keempat nya bolos untuk mata kuliah hari ini. Seolah merayakan sesuatu, mereka berempat minum dan berbaring layaknya tidak punya beban pikiran.


"Sebenarnya ada apa sih Rain?" tanya Kai yang mengikuti langkah Rain menuju balkon apartemen nya.


"Gue ga ngerti maksud lo!" jawabnya menghisap dalam rokoknya.


"Lo sama Gwen ada masalah apa? yang bisa buat lo kayak orang gila gini cuma kalau lagi ada masalah sama Gwen!" ucap Kai.


"Masa iya begitu..gue lemah banget dong" sahut Rain sembari tertawa garing.


Kai hanya diam memandang sahabatnya itu. Sejauh apa pun Rain memandang jalanan di luar, tatapan pria itu hanya ada Gwen.


"Gue udah putus sama dia" ucap Rain getir memecah keheningan diantara mereka. Kedua sahabat mereka yang lain bahkan sudah teler di dalam.


"Berat ya? sampai harus putus?" ucap Kai tidak menyangka. Dia pikir setelah dirinya mundur, maka kedua insan yang saling dimabuk cinta itu akan bahagia selamanya. Lagi pula kedua orang tua juga sudah mendukung.


"Gue ga tahu masalah nya dimana. Tiba-tiba aja dia minta putus dari gue" Rain menyembunyikan wajah nya pada kedua tangannya. Mengusap wajahnya dengan kasar berharap setelah nya semua ternyata hanya mimpinya, dia dan Gwen masih baik-baik saja, masih tetap bersama.


"Dan Cheril?" susul Kai.


"Dia hanya alat, tapi justru gagal"ucap Rain putus asa. Kai pun sudah menduga kalau sahabatnya itu tidak mungkin secepat itu berpaling pada gadis lain sementara perasaan nya pada Gwen begitu dalam.


"Jadi rencana lo apa sekarang?"


"Gue mau bunuh si bangs*t Aldo, biar ga gangguin Gwen lagi. Atau mungkin Gwen udah jatuh cinta sama dia?" Rain bicara seolah ke dirinya. Dua orang dalam dirinya saling berdebat. Mengatakan Gwen yang sudah berpaling, dan satu lagi mengatakan Gwen masih setia padanya.


"Woi..di Richard nantang nih, ada yang mau beli ga?" tiba-tiba suara Deri muncul diambang pintu.


"Lagi ga mood Der" potong Kai.


"Tapi tawarannya ini besar loh" ucapnya mencoba menyakini.


"Siapa aja yang main coy?" masih dengan mata tertutup, Exel berseru dari tempatnya.

__ADS_1


Deri membaca beberapa nama, hingga muncul satu nama yang membuat roh Rain kembali ke tubuh nya.


"Gue ikut. Tolong lo pasangin buat gue" seru nya.


Ketiga temannya melihat Rain bersamaan. Hanya Kai yang sadar kenapa sahabat itu bersemangat untuk bertanding. Ada satu nama yang ingin dia hapus dari muka bumi.


***


Suasana malam area balap liar itu begitu mendung. Tak satu pun bintang ada di langit. Sudah sejak setengah jam keempat sahabat itu ada di tempat itu. Mata Rain tak henti menantikan satu sosok yang ingin diajak nya duel.


Saat ekor matanya menatap pria itu, Rain bergegas pergi menemui pria itu.


"Gue pengen bicara sama elo" ucapnya Rain dingin.


"Ga ada yang perlu gue bicarakan sama lo!" tolak Aldo melangkah pergi. Tapi Rain yang sudah geram melihat pria itu, langsung melepas pukulannya tepat di rahang Aldo.


"B*ngsat, bangun lo!" maki Rain marah.


"Cuih..mau lo apa hah?" balas Aldo melepas satu pukulan tepat di pelipis Rain. Kedua nya masih ingin saling bunuh, tapi kerumunan orang banyak segera menghentikan perkelahian itu.


Dara yang kebetulan ada di sana, melihat perkelahian mereka mencoba menghubungi Gwen.


"Gue secara pribadi mau bertarung sama lo. Kalau gue menang, gue minta lo jauhi Gwen. Tapi kalau gue yang kalah gue janji ga akan menggangu lo dengan dia" ucap Rain pada Aldo. Semua orang mendengar kalimat itu.


Aldo merasa kasihan melihat Rain begitu frustasi atas hubungannya dengan Gwen. Kalau lah Rain tahu bahwa dirinya tidak punya hubungan dengan Gwen.


Tapi jika Aldo bisa memenangkan pertandingan ini, berarti dia bisa membantu Gwen untuk lepas dari pria ini seperti yang gadis itu harapkan.


"Ok, gue setuju" seru nya menerima jabatan tangan Rain.


Sebentar lagi pertandingan mulai. Nara masih berharap Gwen segera tiba untuk menghentikan Rain duel dengan Aldo. Kedua nya penuh amarah yang pasti akan berakibat buruk saat di atas motor.


Rain sengaja meminta untuk putaran pertama, hanya dirinya dan Aldo yang bertanding. Dia siap membayar mahal untuk itu, dan pria penanggung Jawa itu setuju, memberikan tempat untuk keduanya bertanding.

__ADS_1


Beruntung saat keduanya sudah berada di atas motor, Gwen tiba. Lalu setengah berlari menemui keduanya yang sudah bersiap mendengarkan aba-aba dari seorang wanita sexy yang berdiri di tengah mereka.


"Kak Rain.." seru Gwen sembari mendekat. Rain yang mendengar segera mencari arah suara yang dia kenali milik Gwen.


"Bersiap..ready.."


"Sebentar bang.."ucap Rain menahan bendera tanda mulai pertandingan.


"Lo ngapain di sini? mau ngomong sama gue apa sama dia? tanya Rain sinis. Dia tak memungkiri dirinya terkejut dengan kehadiran Gwen yang tiba-tiba di sana. Tapi dia juga tidak punya alasan marah, bisa saja kedatangan Gwen bukan untuk dirinya mengingat saat ini gadis itu dan Aldo sedang dekat.


"Aku..aku mau bicara sama kakak..aku mohon kalian hentikan pertandingan ini. Kalian bisa celaka. Kak Aldo, please" ucap Gwen memohon.


Rain tersenyum sinis. Ternyata yang Gwen khawatir kan adalah keselamatan pria itu, bukan dirinya.


"Hah! takut lo pacar lo mati tanding sama gue?" bentak Rain tidak tahan.


"Pacar? maksud kakak apa?" ucap Gwen menatap Rain.


"Udah, sana gue mau tanding nih. Bawa cowok lo pulang" hardik Rain marah. Dia ingin me.buat perhitungan dengan Aldo, tapi melihat raut cemas di wajah Gwen yang mengkhawatirkan Aldo membuat Rain tidak tega dan berniat membatalkan pertandingan.


"Ga boleh. Pokoknya kakak ga boleh ikut balapan" ucap Gwen menarik tangan jaket Rain.


"Lepas..gue mau tanding sama yang lain. Lo balik gih sama dia!" hardik Rain.


"Ga mau kak. Aku mau balik sama kakak. Ayo kita pulang kak" rengek nya. Bahkan air matanya sudah menetes di pipi. Dengan kasar Gwen menghapus cairan bening itu dengan punggung tangannya.


"Ngapain ngajak gue sih? yang jadi cowok lo kan dia?" umpat nya kesal.


"Gue bukan cowok Gwen. Sebaiknya Lo ikut sama dia. Antar dia pulang. Sebentar lagi hujan, kasihan Gwen kehujanan" potong Aldo.


Rain benar-benar terkejut mendengar penuturan mereka. Tapi apa yang dia lihat waktu itu? Ah..semua itu tidak penting. Yang terpenting dirinya saat ini bersama Gwen, hanya itu.


"Ayo pulang kak..aku ketakutan di sini" rengek Gwen terisak, lengannya bahkan sudah dikalungkan di leher Rain.

__ADS_1


"Naik" ucapnya memberi kan tangan pada gadis itu. Setelah memastikan Gwen naik di motornya, Perlahan motor besar itu meninggalkan arena itu menuju tempat bagi mereka untuk bercerita..


__ADS_2