
Kehidupan keluarga Hendardi berjalan dengan Damai. Walau masih sering terselip perdebatan tapi Bumi dan Sky tampak semakin romantis. Dan Bumi begitu posesif pada Sky walau kini mereka sudah di karunia empat orang anak. Rain, Bulan, Arunika, dan si bontot Cakrawala.
Bumi yang gelisah akan terus menghubungi istrinya jika Sky terlambat pulang kerja walau hanya lima belas menit. Pria semakin hari semakin bucin parah pada sang istri.
"Kenapa sih kak, aku ga boleh jalan sama Winda dan Lena lamaan dikit?" ucap Sky saat Bumi menunggu kepulangan nya dari acara hang out bareng teman-teman nya. Padahal saat itu Sky yang berjanji pulang jam lima, kembali pukul enam sore.
"Aku ga tahan kalau jauh terlalu lama dari mu Sky" selalu itu jawaban pria itu.
"Ih..apaan sih kak, gaje deh! ga malu lihat anak udah lajang gitu?" gerutu Sky menerima uluran tangan suaminya menunju kamar mereka.
Yah..waktu berjalan cepat. Rain kini sudah duduk di kelas dua SMA. Bulan di kelas empat SD, Arunika di kelas tiga dan Cakra di kelas dua.
Setelah memiliki Bulan, Bumi terus merengek meminta anak lagi, karena ingin membentuk keluarga besar katanya. "Aku anak tunggal Sky, ga enak loh sendirian" alasan klasik dari Bumi saat meminta Arun. Nyatanya setelah kelahiran putri cantik nya itu, Bumi masih meminta dengan janji satu lagi saja. Maka lahir lah Cakra.
Setelahnya, Sky benar-benar memutuskan untuk steril. Bagi nya empat anak sudah cukup untuk melengkapi kebahagiaan mereka. Dan Syukur lah Bumi bisa mengerti dan menyetujui keputusan Sky untuk sterilisasi.
"Pagi Abang.." ucap Sky yang tengah mengocok telur dan menuangkan ke pan kecil. Arun setiap pagi selalu meminta di masaki telur dadar buatan sang mama.
"Pagi ma" Rain mengecup pipi wanita berusia tiga puluh lima tahun itu. Rain tumbuh tinggi dengan sangat tampan dan memiliki tinggi 170 cm. Menjadi ketua tim basket sekolah menjadikan nya incaran kaum hawa di sekolah. Baik adik kelas atau pun seniornya.
__ADS_1
Tapi perumpamaan buah tidak jatuh dari pohon nya sepertinya benar. Sifat dan karakter Bumi langsung di copy paste oleh Rain. Cuek dan pendiam. Bagi yang tidak mengenalnya, Rain akan kerap dianggap sombong.
Rain begitu menyayangi mama dan ketiga adik-adiknya. Cakra bahkan memasang photo Rain besar saat men shoot bola ke dalam keranjang yang di photo Bumi saat mereka sekeluarga ikut menyaksikan pertandingan Rain dan team di gelora bung Karno. Saat itu Rain masih kelas satu SMA.
"Pagi ma, bang.." ketiga adik Rain yang baru turun ikut menyapa dan berurut memberi ciuman di pipi Sky sebelum duduk dengan rapih di meja makan. Sky sudah menghidangkan sarapan mereka masing-masing.
Karena sekolah ketiga nya sama dan full day, Sky hanya membekali mereka dengan yogurt dan beberapa potong buah, karena makan siang sudah di sediakan di sekolah.
Untuk pergi dan pulang pun ketiga nya akan di jemput oleh bus sekolah hingga Sky bisa berangkat kerja dengan tepat waktu. Namun Kalau semua anak-anaknya begitu mandiri dan mudah di atur, tidak dengan bayi tampan besarnya.
"Skyyyy...." teriakan dari dalam kamarnya akan selalu terdengar pada jam begini.
Rain begitu bahagia, bisa memiliki orang tua seperti mereka. Walau kadang alay masih pada suka ngambek-an di usia mereka yang tidak muda lagi, tapi Rain bisa melihat cinta dan kasih sayang antara kedua orang tuanya. Rain memang belum pernah pacaran, tapi dia pria normal yang tahu bagaimana melihat dua orang yang saling mencintai karena dia bisa melihat dari kedua orang tua nya.
Rain juga memiliki sisi badung, sama seperti Bumi dulu. Punya teman genk basket yang suka nongkrong, godain cewek walau hanya suit-suit serta nonton film dewasa. Exel, salah satu temannya yang paling punya otak mesum, punya koleksi majalah dewasa dan film blue yang entah dari mana dapatnya.
Sekolah Rain, sama dengan sekolah kedua orang tuanya. Karena memang milik keluarga. Tapi lagi-lagi Rain meminta sang kakek untuk merahasiakan identitasnya sebagai cucu yayasan.
"Dari mana aja sih Lo nyet, lama bet nyampe. Ga tahu kita gelisah nungguin Lo?" delik Deri yang menyongsong kedatangan Rain di depan pintu kelas. Tanpa ba-bi-bu langsung mengambil tas ransel Rain dan membawa ke dalam kelas. Meletakkan di atas meja yang sudah di tunggu dua teman nya yang lain. Tampang mereka bak serigala lapar yang menunggu daging mentah untuk di mangsa.
__ADS_1
Melihat tingkah ketiga temannya, Rain hanya bisa geleng-geleng kepala. Rutinitas pagi mereka bertiga ya gini, menyalin hampir setiap pe-er yang diberikan guru pada mereka. Rain, si pintar, mewarisi kecerdasan mama dan papanya selalu menjadi juara umum di sekolah mulai dari SD.
Nakal boleh, tapi pendidikan harus jadi prioritas. Itu selalu ditekankan Bumi pada anak sulungnya itu. Rain yang sejak kecil banyak mengalami penderitaan saat bersama mama nya, menempa nya menjadi karakter yang kuat dan dewasa.
"Pelan-pelan ayam, buku gue lecek, gue hajar Lo pada" umpat Rain melihat kehebohan temannya menyalin. Sebentar lagi bel berbunyi dan guru matematika, pelajaran pertama mereka hari ini akan masuk.
Ketiga teman kompak nya, Exel, Deri dan Kai bodoh di bidang akademik tapi jangan tanya kalau sudah di lapangan, tubuh proporsional mereka akan membuat histeris siswi-siswi saat dengan jago nya mendribble, dan men shoot bola ke dalam keranjang.
Tak ada yang meragukan kehebatan tim basket sekolah Bhineka semenjak Rain dan ketiga temannya bergabung dalam team.
"Nanti seleksi untuk anak kelas satu kan ya" ucap Deri menyeruput minumannya saat istirahat di kantin sekolah.
"Kalian aja ya. Lagian masih di bantu senior kan? gue mau temani nyokap belanja" ucap Rain menyendok batagornya.
"Duh..anak mami..so sweet banget sih jadi cowok. Gue jadi jatuh cinta nih. Bang, sentuh adek bang..." goda Exel meraba-raba dada bidang Rain.
"Najis Lo t*i. Sana ga Lo?!" delik Rain yang geli dan menjauhkan diri agar tidak bisa di sentuh Exel, namun cowok gokil itu semakin mendekat hingga Rain mengangkat kakinya seolah ingin menunjang Exel. Kedua teman mereka yang lain tertawa terbahak-bahak membuat mereka menjadi bahan perhatian siswa yang lain.
Tatapan terpesona dari hampir semua cewek di sana kebanyakan di tujukan untuk Rain, si kapten basket. Tapi tak sedikit juga pada ketiga yang lain yang memang tampan. Terlebih Kai si humoris.
__ADS_1