
Rain berjalan dengan masih menggenggam tangan Olin. Sedikitpun tidak membiarkan gadis itu lepas.
Mereka sudah pamit pada Tamara, dan segera keluar dari cafe itu. Olin tidak memikirkan perkataan teman-teman Tamara lagi, yang terpenting Rain sudah ada di sampingnya saat ini.
"Kapan pulang?" Olin menoleh merapat wajah tampan pemilik hatinya itu. Senyumnya terus mengembang sulit untuk diredam.
"Baru landing setengah jam lalu, langsung ke sini," jawab Rain tanpa membalas Olin yang saat ini masih terpesona padanya.
"Hah?" Olin mengehentikan langkah mereka dengan menarik tangannya. "Terus tahu aku di sini dari mana?" tanya Olin penasaran.
Rain tidak mungkin mengatakan pada Olin kalau dia meminta orang memantau Olin dari jauh, menjaga gadis itu selama Rain tidak ada di negara ini.
"Rahasia."
"Dih, jangan gitu, cepat bilang," rengek Olin mengayun-ayunkan tangan mereka.
"Aku tanya hatiku, dan hatiku bilang kau ada di sini," ucap Olin sembari menyentil pelan ujung hidung mancung Olin.
Terserah lah, kalau pria itu tidak mau mengatakan yang sebenarnya, yang terpenting bagi Olin, kekasihnya itu sudah ada di sini.
"Aku merindukanmu," bisik Olin setelah mereka masuk dalam mobil. Basemen tampak sepi, hanya ada jejeran mobil yang tanpa penghuni.
"Terus?" goda Rain menaikkan satu alisnya.
"Kiss me," bisiknya parau, sambil menatap bibir menggoda pria itu. Rain bahkan belum mendaratkan bibirnya di bibir Olin, tapi gadis itu seolah bisa merasakan panasnya sengatan bibir pria itu.
Rain masih diam, menatap kekasihnya. Bisa gila rasanya kalau sampai memikirkan Olin tidak bisa dia miliki. Dia sudah sangat jatuh cinta pada gadis kecilnya ini.
Kemarin, sesaat sebelum dia berangkat ke luar negeri, Sky bertanya, tentang gadis yang saat ini dekat dengannya.
__ADS_1
"Mama ingin kamu kenalkan dengan gadis itu," ucap Sky saat membantu Rain berkemas.
"Gadis mana, Ma? Gak ada gadis," jawab Rain datar.
"Mama kenal dengan mu. Sangat mengenal baik sikap kamu. Mama juga lihat perubahan besar dalam dirimu, Nak. Mama bisa rasakan kalau saat ini kau lagi jatuh cinta. Mama hanya ingin bertemu dan berterima kasih pada gadis yang sudah membuatmu hidup kembali," ucap Sky yang berhasil menjadi beban pikiran Rain.
Olin masih menunggu, tapi tidak ada pergerakan dari Rain, hingga membuat Olin mengambil inisiatif. Dia merangkak duduk di mengangkang di pangkuan Rain.
Lalu tanpa kata, mulai mencium bibir Rain, melepaskan dahaga rindunya pada pria itu. Ciuman itu semakin menuntut. Napas Olin memburu, kala Rain menyentuh salah satu miliknya.
Olin semakin ganas. Mengeluarkan lidahnya, membiarkan meliuk-liuk di dalam rongga mulut Rain, menyapu langit-langit mulut pria itu hingga Rain mengejang dan spontan semakin menguatkan remasan tangannya.
Langkah kaki beberapa orang membuat Rain tersadar hingga mengangkat Olin untuk kembali ke kursinya.
"Kenapa diakhir? Masih mau," rengek Olin.
"Ya Tuhan, kuatkan iman hambamu ini," jawab Rain menghidupkan mesin mobil.
***
Keduanya semakin lengket, tidak terpisahkan. Meski Rain harus berjuang untuk menguatkan dirinya agar tidak meminta milik Olin yang paling berharga, meski dia yakin, kalau Olin akan dengan senang hati memberikannya.
Namun, tampaknya kebahagiaan mereka tidak bertahan lama. Entah dari mana Bee mengetahui Olin yang masih menjalin hubungan dengan Rain.
Wanita itu sangat marah dan Pertengkarannya hebat dengan Olin pun tidak bisa dihindari.
"Tante sangat kecewa padamu, Olin. Kamu masih saja melanjutkan hubungan dengan Rain. Kamu sadar gak sih, kalau dia itu jauh lebih tua darimu, dia duda!"
"Memangnya kenapa Tante? Aku mencintainya. Aku ingin bersama Rain!" Teriak Olin merasa putus asa. Menatap tidak ada yang mengerti perasaan dan cinta kasih mereka.
__ADS_1
"Tante tidak setuju! Kau harus melupakan Rain!" Bee tidak kalah nyaring berteriak.
Bintang yang ada di luar kamar Olin hanya bisa diam, membiarkan kedua wanita itu memuaskan isi hati mereka. Siapapun tidak dia bela dan dia salahkan. Baginya semua memiliki porsi pembenaran masing-masing.
Dia tahu, Bee melakukan hal itu untuk kebaikan Olin. Di sisi Olin, dia merasa tidak bersalah, karena mencintai seseorang itu bukanlah suatu kesalahan.
"Terserah kalau Tante tidak setuju! Aku tetap akan bersama Rain!"
Bee yang marah dan akal sehatnya ditutupi emosi, membuatnya tidak lagi menjaga kalimatnya pada Olin.
"Kau harus ikut apa kata Tante. Lupakan Rain kalau tidak-"
"Kalau tidak apa Tante? Aku gak mau melupakan Rain. Tante bukan mamaku yang bisa memaksa kehendak Tante padaku. Kau bukan ibuku!" teriak Olin di luar kendali. Mendengar hal itu refleks Bee mengangkat tangannya hendak menampar Olin tapi tatapan gadis itu mengingatkannya pada Mira Dan Darren, hingga seketika menurunkan tangannya kembali, lalu segera keluar dari kamar, dan mengunci pintu kamar Olin dari luar.
Olin berteriak sekencang-kencangnya meminta pintu dibuka, tapi perintah Bee pada semua orang yang ada di rumah itu sudah valid, tidak ada yang boleh membuka pintu kamar Olin!
Satu jam menangis, menendang pintu dan melempar barang yang ada di kamarnya, baru lah kini terdengar hening kembali dari kamar gadis itu.
"Kau harus pergi melihatnya. Jangan sampai terjadi hal buruk padanya yang pastinya akan membuatmu semakin menyesal. Aku tahu niatmu baik, tapi Olin masih muda. Baru mengenal cinta, tidak akan bisa diingatkan dengan teriakan dan amarah. Ajak dia bicara. Sekarang, yang terpenting adalah, coba periksa kamarnya. Pastikan dia beristirahat dengan baik," ucap Bintang membelai pipi Bee yang sejak tadi menangis.
Pertengkaran dengan Olin tidak hanya menyakiti hati Olin, tapi juga meremehkan jantung Bee. Dia begitu sayang pada Olin dan menginginkan yang terbaik bagi gadisnya itu.
Jam 12 Malam, Bee memeriksa kamar Olin dan mendapati gadis itu tertidur, meringkuk di ranjang. Penuh kasih sayang, Bee menyelimuti gadis itu.
"Tante hanya ingin yang terbaik untukmu. Tante mohon, dengarkan perkataan Tante," ucap Bee membelai rambut Olin lalu mencium kening gadis itu sebelum meninggalkan kamar itu.
***
"Tumben kau mengajak ku janjian bertemu di luar, biasanya kau akan ke rumah," ucap Sky setelah duduk di depan Bee.
__ADS_1
Pagi tadi, Bee mengajak Sky bertemu. Dia ingin membicarakan masalah Olin dan Rain. Dia tahu tidak seharusnya sejauh ini melangkah, tapi kenyataannya, dia tidak punya pilihan lain.
"Ada yang ingin aku bahas dengan mu. Ini tentang Rain," ucap Bee tegas. "Aku tidak ingin Rain mendekati Olin lagi!"