
Begitu terkejutnya Bee kala mendapati Olin yang baru saja tiba dengan taksi di depan rumah. Wanita itu baru saja pulang dari toko Indomart yang ada di depan rumah mereka untuk membeli creamer.
"Olin? Kamu udah pulang, Nak? Kenapa? Kamu sakit?" tanya Bee khawatir. Wajah Olin begitu pucat pasi. Bee meletakkan punggung tangannya di dahi Olin, hanya hangat.
"Kita masuk dulu, ya. Kamu istirahat, nanti Tante bawakan air rebusan jahe sama obat," ucap Bee memapah Olin ke kamarnya.
Olin tidak mau diajak ke rumah sakit, hanya minta istirahat, jadi Bee memutuskan untuk memanggil dokter ketika sampai sore Olin masih demam.
Ternyata demam biasa yang dianggap Olin, nyatanya tidak kunjung reda. Gadis itu semakin lemah dan tubuhnya demam tinggi. Bagaimanapun Bee memaksa Olin untuk makan, tetap saja ditolak, bahkan ketika mencoba memasukkan dua sendok makanan, gadis itu akhirnya muntah, dan Bee tidak sampai hati melihat gadis itu tersiksa.
"Kamu makan dong, Sayang. Tante mohon," ucap Bee dengan mata berkaca-kaca. Tapi Olin hanya menggeleng.
"Aku gak lapar, Tante. Aku mau tidur aja, boleh, ya?" jawab Olin minta untuk ditinggalkan sendiri.
"Ya sudah, tapi janji, nanti kamu makan buburnya, ya?"
***
"Bagaimana keadaan Olin, Ma?" Saga yang sejak tadi duduk di depan pintu kamar Olin, segera menghadang langkah Bee.
"Masih sama. Olin masih belum makan. Coba kamu yang bujuk nanti. Sekarang dia lagi tidur," jawab Bee menepuk punggung Saga.
Pria itu mematung memandangi daun pintu kamar Olin. Dia bukan tidak tahu penyebab gadis itu jatuh sakit. Dan Saga punya alasan untuk semakin membenci Rain.
"Aku akan buat perhitungan denganmu, kalau sampai Olin kenapa-napa!" umpatnya. Baru akan melangkah meninggalkan kamar Olin, dari dalam kamar gadis itu sayup-sayup terdengar suara isak tangis namun, samar.
Sagara bergegas masuk, takut kalau terjadi hal buruk pada Olin. Gadis itu masih berbaring di ranjangnya. Mengigau, mungkin mengalami mimpi buruk.
__ADS_1
Sagara mendekat dan duduk di tepi ranjang. "Lin, kamu kenapa? Hei, bangun," ucap Sagara membelai puncak kepala Olin. Gadis itu terus mengigau, dan demamnya panas. Gadis itu terus meracu dalam bahasa yang tidak dimengerti oleh Sagara.
"Maman, tu me manques, Maman, emmène-moi avec toi," (Mama, aku merindukan mu, Mama, bawa aku bersamamu)
Sagara yang semakin khawatir membangunkan Olin semakin kencang, sampai pada akhirnya Olin tersentak, terbangun membuka mata.
Tangisnya merebak, Sagara yang melihat hal itu ikut teriris hatinya melihat kesedihan gadis itu. Sagara menarik tubuh Olin, memeluk gadis itu. Olin menumpahkan tangisnya di dada Sagara, memeluk pria itu dengan sisa tenaganya hingga Olin jatuh pingsan.
Malam itu Olin dilarikan ke rumah sakit. Dokter yang memeriksa mengatakan kalau Olin harus di opname karena sudah kekurangan banyak cairan tubuh.
"Sayang, Tante mohon, jangan begini. Kamu harus sembuh," ucap Bee menemani Olin yang saat ini tertidur.
"Sudah, Sayang, jangan menangis lagi. Kamu juga harus jaga kesehatan mu," ucap Bintang memeluk pundak Bee dari belakang. Bintang mengajak Bee untuk minum teh di kantin rumah sakit.
"Tapi nanti kalau Olin siuman?" tanya Bee tidak ingin jauh dari Olin.
***
Rain hanya bisa menatap wajah gadis yang saat ini berbaring lemah di ranjang rumah sakit. Perih rasa hatinya. Tangannya ingin sekali menyentuh gadis itu, membelai dan mengecupnya, tapi apa daya, pria itu hanya bisa melihat melihat dari ambang pintu.
Rain yang masih berada di rumah sakit malam itu, melihat kedatangan Olin dan juga keluarga Danendra.
Begitu melihat wajah Olin yang pucat saat di dorong untuk masuk ruangan, Rain merasa seolah nyawanya lepas dari tubuhnya.
Pantes saja hari ini dia tidak melihat Olin di gerbang saat mau pulang sekolah. Sejujurnya setelah pertengkaran mereka siang itu, Rain merasa khawatir dan ingin menemui Olin, tapi hingga siswa terakhir yang pulang, Olin tidak tampak juga, hingga sekolah itu benar-benar kosong.
Rain sama sekali tidak menyangka kalau pertengkaran mereka akan membuat Olin jadi sakit begini.
__ADS_1
Dokter yang memeriksa adalah dokter yang dipilih Rain. Sengaja memilih dokter wanita untuk mengurus gadis itu karena tidak ingin disentuh oleh pria lain.
Dokter itu melaporkan kepada Rain bahwa keadaan Olin begitu lemah. Gadis itu menolak untuk makan hingga membuat ketahanan tubuhnya semakin drop. Walaupun tidak bertanya tapi Rain tahu, masalah mereka pasti salah satu yang menjadi pemicu gadis itu mogok makan.
Rain yang tidak tahan akhirnya memilih untuk masuk. Hatinya terus mendorong untuk segera berada di samping Olin.
"Gadis bodoh! Kenapa kau menyiksa diri? Aku sangat marah sekali saat tahu penyebab kau demam. Apa dengan begitu kita bisa mendapatkan yang kita mau? Aku mohon ,Olin, jangan menyiksa dirimu lagi. Kau harus makan, Sayang. Aku mohon," ucap Rain parau. Tanpa sadar air matanya jatuh, mengenai tangan Olin yang dia genggam.
Buru-buru Rain menghapus air matanya. Dia tidak boleh terlihat di sini. Semua ini demi kebaikan Olin. Jangan sampai keluarga Danendra mendapatinya di ruangan itu.
"Aku pergi dulu, Sayang. Aku mohon, jangan nakal. Jadilah gadis penurut, kau harus makan dan cepat sembuh," bisik Rain, mencium punggung tangan dan juga kening Olin sebelum meninggalkan ruangan itu.
Setelah cairan infus masuk, Olin sudah memiliki tenaga. Dia sudah siuman dan mau merespon sekelilingnya yang mengajak nya bicara.
Saat pagi ini dia bangun, Olin merasa sedikit punya semangat. Setelah mengalami mimpi yang indah, Olin ingin bangun, dia ingin meraih mimpi dan kebahagiaannya. Bukan dengan menyerah seperti ini. Mimpi itu seakan nyata. Dia bisa merasakan Rain berada di sisinya, memberikan kekuatan dan juga mengucapkan kata sayang untuknya.
"Tante, apa kita bisa pulang hari ini?" tanya Olin saat Bee sedang menyisir rambut Olin. Gadis itu bersikeras ingin mandi, dan bersisir.
Ini semua karena mimpinya tadi malam. Dia ingin tampak terlihat cantik setiap saat siapa tahu Rain akan datang menjenguknya. Mungkin seperti di film-film yang dia tonton, kalau setelah pertengkaran, sang gadis jatuh sakit maka pangeran tidak akan jadi mengatakan putus justru sebaliknya akan tetap berada di sampingnya.
"Bisa, tapi kamu harus makan dulu. Sehat dan punya tenaga," jawab Bee setelah selesai menyisir rambut panjang lurus gadis itu.
"Tante, apa saat aku sakit gak ada yang datang menjenguk?" tanya Olin hati-hati. Dia tidak mau menciptakan pertengkaran baru antara dirinya dengan Bee.
Wanita itu tahu tujuan omongan Olin. Tentu saja dia masih tidak suka kalau gadis itu masih mengharapkan Rain. "Gak ada, Sayang. Cuma Naya tanya kapan pulang, dia mau datang sama Sagara dan teman-teman kalian yang lain. Mungkin saat ini masih dalam perjalanan," tutur Bee.
"Oh," jawab Olin lemah. Dia bukan tidak suka Naya atau siapapun teman-temannya datang untuk mengunjunginya hanya saja orang yang paling dia inginkan datang menemuinya justru mengabaikannya.
__ADS_1