
Bee datang setelah mendengar laporan dari Olin, bergegas mendatangi sekolah. Panik saja dia begitu mengkhawatirkan Putra sulungnya sekaligus anak laki satu-satunya.
"Olin, bagaimana keadaan Saga?" tanya Bee saat tiba di ruang UKS.
"Kak Saga di dalam Tante, dia udah mendingan," jawab Olin menemani Bee masuk.
"Anak Mama, kamu gak papa kan, Nak? Kenapa bisa sampai terluka?" Raung Bee memecah keheningan. Naya yang juga baru datang karena harus ikut rapat OSIS ikut menyerbu masuk.
Naya sebenarnya baru tahu, karena rapat kali ini sekaligus membahas mengenai even pekan kreativitas siswa, yang tiap tahun di adakan.
"Mama, udah dong. Aku gak papa, cuma lecet dikit, nangis nya gak usah berlebihan," ucap Saga merasa malu, terlebih karena dilihatin oleh Olin.
Tengsin dong dia. Seharusnya dia bisa menunjukkan karakter kuat dan tangguh agar bisa menarik perhatian Olin, ini ibunya justru datang meraung menangisi luka di lututnya yang menurutnya juga hanya luka kecil.
"Saga, lo benar-benar gak papa?" tanya Naya khawatir. Matanya tidak bisa menyembunyikan gurat kegelisahan dan Olin melihat jelas hal itu. Dia mundur, memberikan kesempatan kepada Naya untuk menunjukkan perhatiannya pada Saga.
"Om, ada tisu enggak?" ucap Olin yang sudah berada di depan Rain yang tengah sibuk bekerja dengan laptopnya. Pria itu tidak serta-merta menjawab, bahkan menganggap teguran Olin hanya angin lalu, seolah sosok yang berdiri di depannya itu kasat mata.
"Om udah lama budeg, ya? Kasihan, padahal cakep, loh, tapi kok budeg, ya?" lanjut Olin dengan kesal.
Mau tidak mau, Rain akhirnya mendongak menatap Olin, dengan tetapan permusuhan. Terlebih dia kesal karena gadis kecil itu memanggilnya Om. Apa Olin pikir dia sudah setua itu?
"Siapa yang kamu panggil Om?" debat Rain menyandarkan punggungnya kesandaran kursi lalu melipat tangan di dada dan terus menerkam lewat sorot matanya.
__ADS_1
"Ya situlah! Memangnya ada orang di ruangan ini yang tua selain Om? Atau jangan-jangan Om ini merasa masih muda ya?" ucap Olin semakin memperkeruh suasana.
Rain tidak terima, ingin sekali menjewer telinga gadis yang masih dianggapnya bocah itu. Rain kembali memajukan tubuhnya, perdebatan itu tampaknya akan berlangsung lama.
Olin melirik ke samping Rain, benda yang dicarinya berada tepat di sisi kanan pria itu, lalu dengan mencondongkan tubuhnya yang secara otomatis membuat Rain mundur lagi ke belakang, mencopot dua helai tisu tanpa mengatakan apapun.
Kesabaran Rain benar-benar diuji oleh gadis itu. Menurut Rain, Olin hanya gadis manja yang menyebalkan, penilaiannya di kali pertama bertemu dengan Olin.
"Sekarang apa lagi? Kau sudah mendapatkan yang kau mau, pergi keluar dari ruanganku!" hardik Rain ingin kembali fokus ke layar laptopnya. Namun, bukannya pergi, gadis itu malah duduk di depannya melipat tangan di atas meja lalu menunduk dan meletakkan kepalanya di sana.
Rain yang kaget mencoba untuk diam, memperhatikan gerak-gerik Olin. Dia menebak bahwa ini adalah strategi gadis itu untuk membuatnya kesal. Anak zaman sekarang sudah jarang memiliki sopan santun dan selalu menganggap sesuatu hal sebagai lelucon baik itu terhadap orang yang lebih tua dari mereka sekalipun.
1 menit... 2 menit... 3 menit berlalu, Olin masih belum mengangkat kepalanya, bahkan samar-samar Rain mendengar suara tangis yang begitu pelan yang ditahan oleh gadis itu.
"Woi bocah, kamu lagi nangis, ya?" Hardik Rain mengerutkan keningnya. Menurutnya Olin gadis yang aneh, bersikap labil tidak seperti anak seumurannya.
Terdengar serutan Olin yang sedang membuang cairan dari hidungnya akibat dari tangisnya yang tiba-tiba tumpah.
"Om apaan sih? Ngapain mentol kepalaku? Gimana kalau aku nanti nggak pintar lagi? Om mau tanggung jawab? Selama ini aku selalu jadi juara, jangan karena Om menjitak kepalaku, aku jadi bodoh ya! Nanti aku tuntut loh," ucap Olin berdiri lalu memutari meja Rain untuk mengambil tisu.
Rain seperti terhipnotis, merasa jadi bodoh melihat tingkah gadis itu. Tiba-tiba pintu ruangannya yang kecil diketuk dan sebelum mempersilakan masuk, Ber sudah membuka pintu dan melangkah ke arahnya tepat saat Olin menjatuhkan tubuhnya ke lantai, hingga tubuhnya tertutup oleh tingginya meja kerja Rain.
Pria itu menatap aneh ke arah Olin, meminta penjelasan atas tindakan gadis itu yang bersembunyi di sana, sama sekali tidak ada anggun-anggunnya gadis itu, memilih untuk duduk di lantai dengan rok pendeknya hingga memamerkan paha putih yang mulus miliknya.
__ADS_1
Rain yang sempat menangkap hal itu tentu saja membuat aliran darahnya mendidih, napasnya tersenggal, seolah hal itu menjadi pemandangan asing baginya. Padahal bertahun dia kuliah di luar negeri lebih dari sepotong paha juga sudah dia lihat, tapi mengapa ketika melihat paha Olin dia justru geregetan.
"Kamu pasti Rain, anaknya Sky dan Mas Bumi," ucap Bee tersenyum, lalu menarik kursi duduk di hadapan Rain.
"Oh iya, Tante benar," jawab Rain dengan gugup ini. Benar-benar tidak masuk akal, bisa-bisanya dia merasa gugup di dekat gadis ingusan yang bahkan lebih muda dari Bulan, adiknya.
"Terima kasih sudah merawat Saga. Dia itu anak sulung Tante. Menurut kamu, apa lebih baik Tante membawanya ke rumah sakit sekarang?" tanya Bee ingin berkonsultasi mengenai keadaan Saga.
"Menurut saya tidak perlu, Tante. Lukanya sudah saya obati dan yang sobek sudah saya jahit. Dia hanya perlu untuk beristirahat dan Jangan bergerak terlalu banyak dulu," jawab Rain.
"Baiklah kalau gitu, Tante bawa dia pulang dulu. Sekali lagi terima kasih Rain, sudah merawat Saga. Oh ya, di sekolah ini, selain Saga, Tante juga punya keponakan yang sudah Tante anggap sebagai putri Tante sendiri, Olin namanya. Tadi anaknya ada di sini tapi setelah Tante cari udah nggak ada, nggak tahu kemana tuh anak, mungkin masuk ke kelas. Tante mohon agar kamu bisa menjaga Saga dan Olin saat di sekolah," ucap Bee dengan penuh kelembutan.
Rain diam. Seketika berpikir, menurut perkataan Bee tadi, dia menyimpulkan bahwa gadis yang berada di sampingnya ini adalah keponakan sekaligus gadis yang sedang dicari oleh Bee saat ini, lalu tersadar akan tatapan Bee yang menunggu jawabannya, Rain akhirnya mengangguk.
Setelah memastikan Bee keluar dari ruangan, barulah Olin mencoba untuk berdiri. Namun, kakinya kesemutan terlalu lama ditekuk.
"Ngapain lagi? Orangnya udah pergi. Keluar dari sana," ucap Rain yang mendorong roda kursinya agar bisa memberi jarak di antara mereka.
"Tunggu bentar Om, kakiku kesemutan. Memangnya kenapa sih, nggak betah amat lihat wajahku," ucap Olin merengut lalu berusaha untuk bertumpu pada kakinya agar bisa berdiri. Namun, lagi-lagi gadis itu bernasib sial, belum sampai berdiri dengan sempurna, Olin menginjak tali sepatunya yang sebelah kiri hingga membuatnya terjatuh ke pangkuan Rain, tepat saling berhadapan.
Yang paling menggelikan, kaki kanan Rain justru berada diantara kedua paha Olin, dan tangan gadis itu memegang pundaknya.
Begitu dekat hingga hembusan napas keduanya saling beradu dan Rain bisa mencium aroma vanilla yang membawanya pada kenangan yang tak ingin dia lupakan.
__ADS_1
Seperti adegan dalam film, untuk persekian detik keduanya saling menatap tanpa dapat berkata apapun, lalu tersadar dan buru-buru memisahkan diri.
"Aku pergi dulu deh, Om. Makasih untuk tisunya," ucap Olin dengan begitu gugup dan dengan debar jantung yang berdetak begitu kencang meninggalkan ruangan Rain.