
Tak bisa di pungkiri, bisa jalan bersama Rain kemarin membuat hati nya gembira. Bahkan semalam dia selalu senyum-senyum mengingat Rain. Ya walaupun mereka tidak saling bicara, buat Gwen suatu kehormatan bisa ada di dekat pria itu.
Hingga berangkat sekolah, mood Gwen begitu gembira. Wajah nya ceria dan selalu di hiasi senyuman. "Aduh, anak bunda ceria amat. Bunda perhatikan kamu senyum-senyum terus Gwen, ada apa nih?" tanya Bunda penasaran. Duduk di samping Gwen yang sedang mengoles rotinya dengan Nutella.
"Iih..Bunda kepo deh" ucap nya seraya cekikikan. Angkasa, adik laki-laki Gwen yang sekarang sudah kelas lima SD ikut tertawa mendengar ucapan kakak nya.
Tak ada yang lebih membahagiakan bagi Bunda selain melihat tawa Gwen. Dia ingin putri cantik nya itu selalu bahagia. Gwen sangat special di hati orang tuanya terlebih bunda. Bukan bermaksud membandingkan dengan Kasa, tapi Gwen memang sedikit berbeda.
Suasana hati nya yang sedang baik, membuat nya bernyanyi kecil mulai dari gerbang utama sekolah hingga menuju kelasnya. Dia memang datang selalu lebih pagi dari kedua sahabatnya. Bukan apa-apa, kalau ada pe-er yang dia lupa atau kurang mengerti, dia bisa menyalin punya Nara.
Sesekali Gwen akan meliukkan tubuhnya mengikuti hentakan musik yang dia dengar kan dari earphone di telinga nya. Lagi pula ini masih terlalu pagi, masih sedikit siswa yang hadir. Tapi...
"Woi, minggir Lo, jalan apa mau joget Lo? ngalangin orang lewat tahu ga!" hardik seseorang setelah mentoel punggungnya dari belakang. Itu pun dengan buku TOEFL yang tepal.
"Eh..maaf kak" ucapnya gagap melihat siapa yang sudah menghardiknya. Dia sama sekali tidak menyadari kalau Rain ada di belakangnya.
Ya Tuhan, berarti dia lihat gue joget-joget kayak orang bego dong?mampus gue..tengsin..
Gwen dengan malu hanya menyingkir, memiringkan tubuhnya agar Rain bisa lewat. Setelah menjauh, Gwen hanya mampu menatap punggung lebar pria itu.
Setiap kali melihat nya akan ada rasa hangat di hati nya namun jika pria itu sudah berbicara pada nya maka hati nya seakan jungkir balik.
Ruang kelas masih di huni beberapa siswa yang memang selalu pagi datangnya. Gwen duduk lalu memeriksa agenda nya. Tiba-tiba dia ingat sesuatu. Kegiatan rutin nya yang belum dia lakukan. Segera dikeluarkan pouch kecilnya dan juga botol air yang selalu tersedia dalam tas nya.
Setelah selesai meminum beberapa butir, Gwen memasukkan kembali jimat nya dalam tas. Seharusnya selesai sarapan pagi tadi diminum, tapi sangkin bahagia nya dia lupa. Tapi toh, dia tak merasakan nyeri itu pagi ini.
__ADS_1
"Hai sayang ku, udah nyampe aja Lo" tegur Nara duduk di samping Gwen.
"Pagi juga Ra" Gwen beruntung bisa mengenal Nara dan Juli. Di SMP, Gwen banyak memiliki teman. Awal nya mereka tidak menerima Gwen sebagai teman, bahkan suka membuli nya.
Gwen bahkan pernah meminta pada bunda untuk berhenti sekolah saja. Setiap hari hinaan dan juga pelecehan mental dia terima. Namun itu hanya sampai kelas dua.
Kelas tiga semua teman sekelasnya berubah baik padanya setelah keesokan harinya, bunda menghadap kepala sekolah. Meminta Gwen izin seminggu.
Saat masuk semua temannya menyambut kehadirannya. Yang dulu suka ngatain dia, kini malah menjadi sahabatnya hingga kini.
Gwen harus pisah dengan teman-teman nya, saat ayah pindah tugas ke Jakarta. Ayahnya yang seorang tentara di tugas kan di Jakarta setelah naik pangkat.
"Gwen, tahu ga kalau kak Exel nembak gue kemaren? kebayang ga, gimana bahagia nya gue saat ini" bisik Nara tak ingin teman yang lain yang ada di sana mendengar.
"Bukan nya kak Exel udah punya pacar ya? kakak kelas kita kan?" tanya Gwen datar. Dia bukan tidak tahu Exel itu tipe buaya. Hobby koleksi mantan. Gwen ga suka sama cowok kayak begitu, walau pun banyak yang bilang Exel itu baik orang nya.
"Kemarin? terus nembak elo?" susul Gwen tak mengerti.
"Ya kemarin juga. Dan langsung dong gue terima dan kita jadian" ungkapnya sembari tersenyum.
"Hah? kilat amat Ra?" Gwen ingin mengatakan pendapatnya, tapi rasanya kurang pas. Gwen tak ingin Nara marah pada nya hingga menjauhinya. Sikap Nara yang kurang bagus, mungkin karena dia anak tunggal, dia sedikit bossy.
Dari mereka bertiga, Nara yang menjadi leader nya. Mau pergi atau nongkrong kemana pun Nara lah yang memutuskannya.
"Tapi bukan nya Lo suka nya sama..kak Rain?" ucap nya. Itu lah salah satu alasan Gwen tak berani menatap Rain. Takut Nara marah.
__ADS_1
"Ya emang, tapi susah Gwen kalau bos nya yang di harapkan, ga bakal deh ngelirik gue"
"Oh.." sedikit lega hinggap di hati Gwen.
"Dan lo juga harus tahu ini. Juli juga jadian sama Kak Deri loh" dengan riang Nara menyampaikan berita itu. Kadang Gwen heran, kenapa memutuskan untuk menerima seseorang itu begitu cepat buat mereka. Yang Gwen tahu, mereka hanya tahu kulit luarnya empat devil dan baru beberapa hari lalu lah teguran di kantin untuk pertama kalinya selama jadi penduduk Bhineka.
Tak lama orang yang sedang mereka bicarakan muncul. Juli pagi ini sedikit berbeda, kalau sehari-hari dia hanya menggunakan bedak dan liptint tipis, kali ini dia mendempul wajahnya dengan riasan tebal.
"Duh..yang baru jadian, touch up nya ngeri euy.." seru Nara lalu keduanya tertawa bersama tinggal lah Gwen bingung harus ikut tertawa atau malah merasa sedih.
Seminggu tepat setelah kedua nya jadian dengan personil devil, Gwen mulai mereka tinggal sendiri. Sesekali mereka masih jajan bersama di kantin. Duduk satu meja dengan four Devil, tapi kebanyakan mereka akan pergi sendiri-sendiri dengan pasangannya.
Tak mengapa, Gwen hanya akan duduk di kelas. Memakan bekal yang di siapkan bunda setiap pagi nya. Kadang dia merasa ada untungnya Nara dan Juli jadian, beberapa kali dia bisa duduk di dekat Rain. Tapi tak jarang juga saat devil ke kantin, sang leader tidak ikut, dan saat itu Gwen juga akan meminta untuk tinggal di kelas.
"Eh Gwen, ada yang mau gue omongin sama elo" ucap Nara saat pak Sanusi guru fisika sudah keluar.
"Apa Ra?"
"Kak Kai minta gue sampein ke elo, nanti dia nungguin Lo pulang sekolah katanya. Di tunggu di parkiran sebelah timur" ucap Nara tersenyum.
"Untuk apa kak Kai nungguin gue Ra?" delik nya. Perasaannya mulai tidak enak.
Berawal dari tadi malam. Sebuah nomor yang tidak di kenal menghubungi nya. Gwen yang penasaran mengangkat panggilan itu. Ternyata itu dari Kai yang mendapat nomor nya dari Nara.
Lalu Kai mengajaknya cerita ngalor ngidul. Sejujurnya Kai orang yang asik diajak cerita. Anak nya juga masih sopan dan membuat Gwen nyaman, tapi tetap saja hatinya sudah tertambat pada raja devil yang tinggal di depan rumahnya.
__ADS_1
"Mungkin mau nembak Lo kali"