Cinta Pythagoras, Saranghae Om Duda

Cinta Pythagoras, Saranghae Om Duda
Praktek Dadakan


__ADS_3

Hingga pagi menjelang, kedua gadis itu masih menikmati film yang mereka tonton. Ketiga season dari film itu mereka tonton maraton.


Baru'lah setelah selesai keduanya memutuskan untuk tidur pukul empat pagi. Anehnya justru setelah menonton, Naya dan Olin justru susah untuk terpejam. Tubuh mereka menggigil karena menahan sesuatu yang sulit dijelaskan.


Siangnya Olin kembali ke rumah, dia mengantuk sekali dan masih ingin tidur, tapi kalau dia tidak rumah kembali ke rumahnya, maka Tante Bee akan khawatir mencarinya.


"Astagaaaa Olin, mata kamu sampai bengkak begitu, nonton film apa sih?" tanya Bee mendekat dan memperhatikan mata Olin yang terlihat memiliki lingkar hitam di bawah matanya.


"Tante, aku mengantuk, ingin tidur," jawabnya melanjutkan langkahnya.


sisa hari itu dihabiskan oleh untuk tidur tidak peduli dengan rasa lapar yang dia rasakan.


***


'Aku menunggumu di apartemen.'


Satu pesan diterima Rain dari Olin, padahal saat itu pria itu sedang rapat dengan beberapa dokter, membahas penambahan ruangan dan pembangunan rumah sakit.


Ada saja yang diperbuat gadis itu untuk menarik perhatian Rain. Lihat kan pria itu jadi gak bisa berkonsentrasi.


Berbagai pendapat diutarakan oleh para dokter dan juga pengurus terkait, tapi Rain masih susah untuk berkonsentrasi.


Belum lepas dari kegugupannya, satu pesan kembali diterima, dan pengirimnya orang yang sama. Olin.


Kali ini bukan pesan, malah lebih berani. Olin mengirim fotonya yang tenang ber-selfie dengan pose menggemaskan dan menantang.


"Dasar gadis nakal!" batinnya mengepal tinju.

__ADS_1


Rapat yang dicanangkan diadakan dua jam nyatanya tidak sampai satu jam. Rain segera membubarkan rapat dan memilih untuk pulang.


"Akhirnya kau pulang," sambut Olin yang melompat ke pelukan Rain. Mengalungkan tangannya pada leher pria itu dan menggosokkan ujung hidung mereka.


Tingkah Olin jelas membuat Rain terkejut. Dia merasa ada yang aneh pada gadis itu. Tiba-tiba saja berubah menjadi lebih agresif.


"Lepaskan tanganmu," pinta Rain mencoba membuka jalinan jari Olin yang membuat pelukan gadis itu semakin erat.


Bukan patuh, Olin justru melompat hingga Rain dengan sigap melompat di gendongan Rain, mengaitkan kakinya di pinggang pria itu.


"Apa yang kau lakukan, cepat turun!" hardik Rain, tapi gadis itu menggeleng.


"Bawa aku ke kamar, Om," pinta Olin manja. Rain begitu terhipnotis dengan tatap Olin, mata gadis itu tampak berbeda, memancarkan hasrat yang menggebu.


Rain sudah menggendong hingga ke kamar, lalu kembali mencoba menurunkan gadis itu, tapi Olin juga menarik Rain hingga keduanya terjatuh di atas kasir. Olin tidak menyia-nyiakan kesempatan itu, segera mencium bibir Rain, mencoba keahliannya yang dia pelajari dari film yang dia tonton kemarin.


Rain bahkan sampai gelagapan mengimbangi Olin. Gadis itu malu-malu mengerahkan semua keahlian dadakan yang dia dapat.


Olin berguling, hingga kini posisi berada di atas tubuh Rain. Sesaat dia menatap wajah Rain yang juga sudah memerah. Matanya tampak berkilat terbakar gairah. Olin membangun singa lapar yang sudah bertapa sekian purnama.


Rain tidak sempat bertanya mengapa Olin jadi berubah agresif dan liat seperti ini. Dia sudah terlanjur dimabukkan oleh sensasi dan rasa nikmat yang diberikan gadis itu.


Olin tersenyum, lalu kemudian menunduk untuk mulai menjelajah tubuh Rain. Dia ingat betul apa adegan yang sudah dia tonton, dan sekarang saatnya mempraktekkan.


Mata Rain terpejam dengan deru napas yang memacu kencang. Olin menikmatinya, merasa bangga bisa memberikan kepuasan pada Rain. Dia jadi ingat apa yang dikatakan Aurelia yang mengatakan kalau dirinya tidak akan bisa membuat Rain bernafsu.


Olin menjilat, mengecup bahkan mengemut setiap jengkal kulit leher Rain. Setiap gadis itu meninggalkan tanda kepemilikan di lehernya, Rain akan menggelinjang nikmat. Tangan Olin dengan cepat membuka kemeja yang menutupi dada bidang itu. Olin seperti dewi percintaan, ingin menguasai tubuh Rain dan mengklaim tubuh pria itu menjadi miliknya.

__ADS_1


Rain sudah tidak tahan lagi kala bibir Olin sudah mendarat di perut Rain, mencium, memainkan lidahnya di dada pria itu.


Rain terbakar, cukup sudah. Akal sehatnya sudah tumpul, jadi jangan salahkan dia.


Rain membalikkan tubuh Olin, berganti menyerang gadis itu dengan ciuman bertubi-tubi. Tangan Rain tidak kalah cepat saat membuka kancing kemeja Olin. Jemarinya menyusup ke balik baju gadis itu, membuat kulit Olin terbakar kala Rain menyentuh miliknya yang tampak sempurna.


Olin tidak sempat berpikir apakah miliknya itu cukup besar untuk memuaskan Rain, jangan sampai cemooh Aurelia menjadi kenyataan, bahwa Rain akan ilfil ketika menyentuhnya, dan mendapati bahwa miliknya teramat sangat kecil.


"Aaah..," ******* Olin mulai keluar dari bibir mungilnya. Rian benar-benar sudah kehilangan kendali, menurunkan bibirnya yang sejak tadi ******* bibir Olin, kini bermain dengan salah satu puncak milik Olin yang sekal dan tampak berwarna merah muda.


Jiwa Olin sudah terbang ke awan. Ini kali pertama seorang pria menyentuh miliknya. Semua kenikmatan itu semakin membelenggu Olin saat Rain menghisap puncak simbol kewanitaannya.


Oh semesta, ini terasa nikmat. Olin bahkan sampai ingin menangis ketika Rain berhenti bermain di atas dadanya hanya untuk menatap wajahnya yang berselimut kabut asmara.


Olin ingin lebih, jadi menarik kepala Rain dan meminta tanpa suara agar pria itu kembali menenggelamkan bibirnya di sana. Mencercap kembali dan mengklaim bahwa semua yang ada di tubuh Olin adalah milik Rain seutuhnya.


"Om, aku mau itu," ucapnya memberanikan diri. Olin sudah tidak sadar, melupakan rasa malunya karena nikmat yang baru dia cercap selama 18 tahun usianya.


Rain mengangkat tubuhnya, berbaring di samping gadis itu, membelai rambut Olin penuh sayang. "Mau apa?" bisik Rain dengan suara parau. Dia pun setengah mati mengendalikan hasratnya. Hasratnya sebagai lelaki sudah ingin sekali menjadikan Olin miliknya seutuhnya malam ini.


"Ini," bisik Olin dengan mata masih terkunci pada bola mata Rain. Tangan gadis itu terulur memegang milik Rain yang sudah membesar dan terasa sesak dibalik celananya.


Rain semakin terbakar, kala Olin memegang, bagian mengelus permukaannya. Segera Rain menahan tangan gadis itu, dan membawanya dari sana.


"Aku ingin sekali. Aku bersumpah kalau pertahanan ku hampir cebol. Tapi kita gak bisa melakukan hal itu," jawab Rain membawa tangan. nakal Olin ke bibirnya untuk dia cium, baik telapak atau pun punggung tangan gadis itu.


"Kenapa gak? Aku udah dewasa, Om. Aku udah 18 tahun," jawabnya mengecup sekilas bibir Rain. Dia sudah memikirkan segalanya. Olin ikhlas memberikan miliknya yang paling berharga untuk Rain saat itu juga.

__ADS_1


Dia percaya pada Rain. Pria itu tidak akan meninggalkannya, karena Olin yakin akan cinta pria itu padanya.


"Aku tidak akan melakukan hal itu sebelum kau sah menjadi istriku. Kalau kamu masih kita melakukannya, maka kau harus bersedia menikah dengan ku besok!"


__ADS_2