
Perkelahian itu berhasil di lerai, dan kini keduanya duduk di kursi pesakitan di hadapan kepala sekolah, guru olah raga dan guru BK.
"Bapak ga paham. Bukan kah kalian itu berteman akrab? kalian juga atlet basket sekolah kita. Kenapa jadi adu Smack down begini?" tanya pak kepala sekolah. Walau dia sudah tahu siapa Rain, tapi tidak semerta-merta dia meloloskan anak itu tanpa peringatan dan hukuman.
"Kalian di hukum seminggu membersihkan pekarangan sehabis pulang sekolah" putus pak kepsek.
Setelah di peringati dan berjanji untuk tidak mengulangi nya lagi keduanya di perkenankan untuk keluar. Sebentar lagi bel pulang akan segera berbunyi. Sepanjang koridor, melewati beberapa kelas, mereka yang berjalan beriringan menjadi perhatian banyak siswa. Ada yang nyorakin, ada yang masih tetap histeris melihat keduanya walau sudah babak belur masih menyisakan aura Casanova nya.
Kai sempat melirik saat melewati kelas Gwen. Dia tak ingin gadis itu melihatnya dalam keadaan begini. Dia tak mau kalau pacar nya itu akan merasa khawatir akan keadaannya. Gwen memang melihat mereka lewat.
Kabar bahwa keduanya adu jotos di lapangan basket sudah sampai ke telinga siswa-siswi lainnya termasuk Gwen. Saat kedua nya lewat, Gwen memang melihat kearah mereka, tapi fokus nya lebih kepada Rain.
Gwen berharap bisa keluar untuk melihat keadaan Rain secara dekat, tapi saat melihat Kai yang menatapnya, Gwen memilih untuk diam.
Sepulang sekolah, Kai tetap menunggu Gwen pulang. Ketika Gwen tiba di parkiran, Kai sudah duduk di atas motornya menanti kedatangan Gwen. Tapi berbeda dengan sebelumnya, Rain tidak ada di sana.
Meyakini kalau Rain sudah pulang, terbukti motor nya juga sudah tidak ada di sana. Dengan Lemas Gwen mendekati Kai.
"Sakit kak?" tanyanya menyentuh luka Kai yang sudah di oles betadine di UKS sebelumnya.
"Ga papa kok Gwen. Namanya juga cowok, kalau ga berkelahi ya banci" sahutnya mencoba tertawa di tengah rasa perih karena sudut bibirnya yang pecah. Kai tak ingin Gwen khawatir padanya.
"Emang kenapa sih kalian berantam?" tanya nya menatap Kai. Pelipis, pipi dan juga bibir Kai pecah. Gwen sempat bergidik, membayangkan bagaimana kalau dirinya nanti yang membuat Rain marah. Jadi lemper dia!
"Aku juga ga tahu Gwen. Tiba-tiba aja dia provokasi aku, ga lama ya gitu, kita jadi berkelahi"
Lagi-lagi Gwen turun di tempat biasa. Kepala nya celingak-celinguk mencari sosok yang hampir tiap hari mengantarnya ke rumah setelah di turunkan Kai di simpang ini. Tapi hingga menunggu lima belas menit, Rain tak muncul juga.
__ADS_1
Gwen memutuskan untuk berjalan cepat. Tak perduli panas dan haus yang membuat pertahanan tubuhnya melemah. Jantung nya berdenyut kencang semakin perih.
Ingin membuka tas nya, bermaksud mengambil jimat yang biasa dia minum, tapi diurungkan. Tak ada waktu, dia ingin tiba di rumah secepat mungkin.
Jarak dari simpang hingga ke perumahan hanya memerlukan waktu berjalan kaki selama dua puluh menit.
Dengan wajah memerah dan nafas yang ngos-ngosan Gwen tiba di rumah nya. Membuka pagar, lalu segera berlari ke kamar nya. Hanya selang lima menit, gadis itu turun lagi setelah membasuh wajahnya agar lebih dingin sedikit setelah terbakar panas matahari tadi.
"Eh..mau kemana lagi? baru juga pulang" hardik Bunda Ane keluar dari dapur. Membawa nampan berisi agar-agar yang di hias indah.
"Ke depan Bun. Sebentar aja" balasnya seraya memakai sendalnya.
"Loh, itu kotak P3k nya mau di bawa kemana? siapa yang sakit Gwen?"
Pertanyaan Bunda Ane hanya tertiup angin. Dari tempatnya dia memperhatikan Gwen yang berlari kecil menyebrang lalu masuk ke dalam rumah mewah itu. Bunda Ane hanya tersenyum mengerti.
Pak satpam dengan senang hati mengizinkan Gwen masuk. Selain karena kenal Gwen adalah tetangga depan rumah, Gwen juga setahu pak satpam adalah teman Rain. Karena setiap siang saat pulang sekolah, Rain akan mengantar Gwen pulang sampai depan rumah nya.
"Belum kak. Kakak mau cari mama?"
"Eh, bukan. Mau ketemu kak Rain, ada?"
"Oh, Abang. Ada di kamar nya. Masuk aja" terang Bulan dan melanjutkan lukisannya.
Jantung Gwen semakin berdebar. Ini kali kedua dia datang ke rumah ini. Pertama kali saat mama Ane memintanya mengantar Rainbow cake buatannya.
Sebenarnya Gwen sudah lama tahu kalau di depan rumahnya adalah rumah kakak kelasnya. Justru saat baru pindah ke Jakarta, Gwen yang saat itu melihat Rain pergi ke sekolah merasa langsung jatuh cinta pada pandangan pertama. Mungkin memang itu cinta monyet, tapi ya tetap saja cinta.
__ADS_1
Setelahnya, saat ayah menanyakan akan memilih SMA yang mana, Gwen meminta di daftarkan ke sekolah yang sama dengan Rain.
Selama enam bulan lama nya, dia memperhatikan Rain dalam diamnya. Kadang kala tanpa pria itu sadari, dari atas balkon kamar Gwen, dia bisa dengan puas melihat Rain yang tampan dengan tubuh atletis nya tanpa baju. Berjalan mondar mandir hanya dengan Boxer.
Pesona Rain memang sangat kuat. Bahkan di kamarnya Gwen punya poster Rain yang sedang main basket, yang dia bingkai dan si simpan di laci nakas paling bawah dekat tempat tidurnya.
Rain mungkin tidak sadar selama dari enam bulan lalu ada gadis cantik yang sudah jatuh cinta padanya. Namun gadis itu hanya berani mencintai Rain dalam keheningan dan imajinasinya saja.
Tok..tok..tok
Masih deg-degan. Malah Kini frekuensinya semakin cepat. Ritme dentaman jantungnya makin tidak karuan.
Tok..tok.. tok..
Kembali Gwen mencoba peruntungannya. Kali ini berhasil. Terdengar knop pintu di putar dan tak lama daun pintu terbuka lebar. Keduanya berdiri saling pandang. Kotak P3k yang Gwen pegang hampir saja terjatuh sangkin gugupnya di pelototin oleh Rain.
"Kak aku.."
"Ngapain Lo kemari?" bentak Rain. Sorot tajam matanya membuat Gwen bergidik ngeri. Sorot mata penuh kemarahan dan kebencian yang Rain tujukan padanya.
"Ngapain Lo kemari? budek Lo?" hardiknya sekali lagi.
"Aku..aku mau ngobatin luka kakak" ucap Gwen masih terpaku memandang bola mata itu. Hati nya ingin menangis, tak satu pun orang yang pernah membentaknya. Dia selalu jadi Putri kesayangan di rumahnya. Gwen mencoba menahan kesedihannya agar air matanya tidak jatuh di pipi.
"Gue ga butuh. Pergi Lo sekarang juga" amarah Rain tampaknya semakin menjadi saat melihat wajah Gwen. Dia marah. Ya, dia terbakar cemburu. Baginya Gwen sama seperti cewek lain. Munafik!
Awalnya Rain senang saat Gwen bilang sudah menolak Kai. Tapi nyatanya keduanya malah sudah jadian hanya berselang sehari dari ucapan Gwen. Apa namanya kalau bukan cewek munafik. Pura-pura ga suka, tapi malah n.erima.
__ADS_1
Gwen masih berdiri terpaku di tempatnya. Rasanya perih hatinya. Matanya mulai berkaca-kaca menatap Rain. Hingga saat pria itu mendorongnya, air mata Gwen jatuh di pipinya.
"Pergi Lo dari rumah gue. Muak gue lihat Lo!"