Cinta Pythagoras, Saranghae Om Duda

Cinta Pythagoras, Saranghae Om Duda
Bermaafan


__ADS_3

"Kenapa bermuram durja, wahai istriku yang cantik?" tanya Bintang yang melirik ke sebelahnya. Sejak masuk dalam mobil, Bee hanya diam, berkutat dengan pikirannya sendiri.


Dia sudah mendengar semuanya dari Naya. Ada kekecewaan sekaligus rasa bangga pada gadis itu. Kekecewaan karena Naya sudah tega mengatai Olin, bahkan sampai membawa kematian orang tua Olin. Sudah kehilangan kedua orang tua yang sangat dia cintai, Olin justru dikatain anak pembawa sial penyebab kedua orang tuanya kecelakaan.


Penuh ketakutan dan rasa bersalah, Nay mengakui perbuatannya. Dia lah yang memulai pertengkaran itu dengan Olin. Dia patut dipersalahkan. Namun, di sisi lain, Bee merasa bangga pada Naya, karena mau mengakui kesalahannya.


"Kamu mau minta maaf pada Olin soal menyebarkan fitnahan itu?" tanya Bee lembut. Tangannya masih menggenggam erat tangan Naya, atau justru Naya yang kini memegang erat tangan Bee.


Gadis itu mengangguk. Dia masih belum mau mengangkat wajahnya. Tante juga akan bicara soal buku harian mu. Di posisi itu, Olin memang salah," jawab Bee tidak mau berat sebelah.


"Aku minta maaf sama Tante dan Om. Aku tahu aku sudah mengecewakan kalian. Tapi aku mohon, jangan benci aku, Tante. Aku sudah gak punya siapa-siapa lagi yang peduli padaku," ucap Naya. Pertahanannya jebol, air matanya mengalir deras. Bee sungguh luar biasa, bisa memancing perasaan emosionalnya hingga menangis.


"Gadis bodoh, Tante dan Om gak mungkin membencimu. Kami sayang padamu. Setidaknya kamu lebih beruntung dari Olin, walau orang tua mu jauh darimu, setidaknya ada hari dimana kalian bisa bertemu, Olin? Dia tidak akan pernah bisa melakukan hal itu," ucap Bee mencoba menjelaskan bagaimana perasaan Olin dan mereka patut menyayangi gadis itu karena nasib sedihnya.


Lagi-lagi Naya mengangguk. Dia mengerti sekarang. Bicara dengan Bee membuatnya lega. Dia akan mencari Olin nanti, jika dia sudah siap.


Untuk sekarang, biarlah keadaannya begini dulu. Nay juga yakin kalau Olin juga butuh waktu untuk menata hatinya.


Bukan salah gadis itu, kalau Sagara jatuh cinta padanya. Olin gadis yang sempurna dari segi penampilan ataupun karakter yang begitu lembut dan menyenangkan, disukai banyak orang, tidak sepertinya yang introvert dan keras.


"Hei, kok malah bengong. Suami dikacangin begitu," ucap Bintang mentoel hidung Bee, membawa gadis itu kembali sadar.


"Hah? Oh, sorry, Mas. Aku lagi mikirin anak-anak. Naya dan Olin."


"Jangan terlalu dipikirkan, masa remaja hal biasa seperti itu, ribut bentar, nanti kita temenan lagi," tukas Bintang membelai rambut istrinya.


***


Setelah satu jam mondar-mandir di dalam kamar, akhirnya Olin memutuskan untuk mengunjungi Nay. Sudah tiga hari mereka diam-diaman, dan itu gak enak rasanya.

__ADS_1


"Mau kemana Lo? tanya Sagara yang melihat gadis itu tergesa-gesa menuruni tangga.


"Ada perlu," jawabnya singkat. Namun, seketika dia mundur lagi. "Kakak gak latihan basket?"


"Papa sama Mama lagi pergi kondangan, jadi minta gue jagain kalian para bocah," ucap Sagara sedikit menjauhkan tubuhnya dari Olin, takut gadis itu mendengar debar jantungnya.


"Siapa yang bocah? Enak aja, aku udah gede! Gak lihat, nih?" tanya Olin membusungkan dadanya yang membuat bola mata Sagara membulat. Gadis itu selalu out of the box setiap bertindak.


"Udah, sana!" ucap Sagara mendorong kening Olin hingga gadis itu tertawa terpingkal-pingkal.


Sepanjang jalan, Olin memikirkan kalimat apa untuk pertama kali dia akan katakan pada Naya nanti. Bagaimana kalau gadis itu tidak mau bicara padanya, atau justru memarahinya?


Olin terus berjalan dengan menunduk, hingga tubuh seseorang menghadangnya.


"N-Nay...," ucapnya tertahan.


"K-kamu mau kemana?" Naya mencoba menutupi rasa gugupnya.


"Mencarimu."


Keduanya memutuskan untuk berjalan ke taman yang tidak jauh dari tempat mereka berdiri saat ini.


Masih belum ada yang berani memulai. Keduanya masih merasa sungkan satu dengan yang lain.


"Nay...,"


"Lin...,"


"Kamu, dulu," ucap Naya cepat, mengulum senyum untuk mengurangi kegugupannya.

__ADS_1


"Nay, aku minta maaf atas kejadian tempo hari. Aku menyesal sudah menjambak dan mencakar mu," ucap Olin memberanikan diri.


"Gak, Lin. Aku yang salah. Kalau saja aku gak menyebar berita itu, kamu juga gak akan mungkin terpancing. Aku minta maaf, ya Lin," ucap Naya dengan suara tercekat. Gadis itu berusaha sekuat mungkin untuk tidak menangis.


"Aku yang salah," samar Olin menyentuh lembut punggung tanga Naya.


"Gak, Lin. Aku yang salah," bantah Naya.


"Kalau begitu, kita berdua sama-sama salah," tukas Olin yang membuat keduanya tertawa.


"Aku malu, Lin, perbuatan ku benar-benar gak pantas," ucap Nay merasa lega.


"Apa yang aku lakukan juga gak pantas. Maaf karena sudah membaca buku harian mu. Aku benar-benar menyesal," ucap Olin menarik napas panjang. Di sinilah dia mulai kebohongan nya yang sudah dia pertimbangkan sejak beberapa hari lalu.


"Sudah lah, Lin. Aku udah memaafkan mu," jawab Nay tulus.


"Nay, kalau kamu memang suka sama Kak Sagara, kenapa gak ngomong aja?" ucap Olin memancing. Dia tahu sikapnya ini terkesan munafik. Tapi dia sudah memikirkan, dia akan mengorbankan perasaannya yang sudah lama ada untuk Sagara, demi Nay.


Nasehat Bee yang mengatakan bahwa hidup Nay yang berat dengan semua persoalan hidupnya, harus nya membuat mereka semakin dekat dan sayang pada gadis itu, dan Olin menyetujui perkataan Bee. Se-menyedihkan hidupnya, Nay lebih menderita, kesepian, sementara Nay? dia seolah sebatang kara padahal punya orang tuanya. Jadi, dia memutuskan untuk mundur.


"Aku mohon jangan bilang pada Sagara kalau aku menyukai nya," ucap Nay pelan. Malu dan juga gugup membuatnya menunduk. Terlebih dia juga tahu kalau Olin juga suka pada Sagara.


"Kamu harus bilang tentang perasaan kamu," paksa Olin. Dia tahu itu yang diinginkan Nay.


"Tapi kamu juga suka Sagara 'kan, Lin?"


"Itu dulu," ucapnya tersenyum, mengedipkan mata pada Naya. "Sekarang tidak lagi."


"Kenapa begitu? Bukannya kau sangat ingin menjadi istrinya?" Naya ingat betul kalimat yang sering diwartakan gadis itu sejak pindah ke sini.

__ADS_1


"Karena aku menyukai cowok lain," jawab Olin mengembangkan senyum palsunya.


__ADS_2