
Rain tidak menunggu ucapan Muklis lebih lanjut, berlari keluar apartemen, dan kemudian menyelusuri satu persatu gedung-gedung yang ada di sekitar apartemen itu.
Hati Rain semakin takut, mengingat baru dua hari lalu gadis itu keluar dari rumah sakit. Membayangkan Olin dengan seragam sekolahnya membuat Rain hampir gila ketakutan. Jangan sampai terjadi hal buruk pada gadis itu.
Rain seperti orang linglung, berlari kesana kemari mencari keberadaan Olin, sampai dia melihat gadis itu meringkuk di depan ruko. Hari Rain marah sekaligus mencelos sedih melihat keadaan Olin. Marah karena sikap Olin yang begitu bodoh, menyiksa dirinya hanya untuk bertemu dengan Rain, dan sedih karena gadis itu harus mengalami kesusahan hanya untuk bertemu dengannya.
"Olin, bangun, kenapa kamu tidur di sini?" bisik Rain dengan suara bergetar. Tubuh Olin terasa hangat, bisa jadi gadis itu demam lagi.
"Olin, bangun, Sayang," ucapnya dengan parau, menegakkan kepala gadis itu hingga bola mata Olin perlahan terbuka.
"Om...," desisnya menghambur dalam pelukan Rain kala menyadari pria itu lah yang ada di depannya.
Tangis Olin pecah, membasahi kemeja Rain yang memang sudah basah terkena gerimis yang tak kunjung berhenti.
Menyadari pakaian Olin yang basah, tanpa menunggu lebih lama, Rain menggendong gadis itu. "Naik," perintahnya setengah jongkok membelakangi Olin. Gadis itu menurut, naik ke punggung Rain, terasa hangat menyentuh dadanya.
Rain tidak peduli bagaimana cara Muklis dan orang-orang yang mereka lewati saat menatap mereka. Rain tetap menggendong Olin melewati lobi apartemen hingga masuk ke dalam lift.
Rain mendudukkan Olin di sofa begitu mereka masuk ke dalam apartemen Rain, kemudian memberikan handuk tebal kepada gadis itu lalu mempersiapkan air hangat yang dia tampung di bathtub agar Olin bisa mandi.
"Air mandi mu sudah siap, segera mandi dan jangan lupa cuci rambutmu," ucap Rain yang sudah menyediakan handuk bersih dan peralatan mandi di dekat bathtub, lalu membantu Olin berdiri dan menuntun hingga sampai ke depan pintu kamar mandi di kamarnya.
"Ini kamar kita?" tanya Olin yang berhasil membuat mata Rain melotot kesal.
"Kamar Om, maksudku," ralatnya tersenyum, lalu segera masuk ke dalam kamar mandi.
"Nggak sekalian dimandiin aja, Om?" ucapnya dengan wajah memelas. "Atau kita mandi bareng aja?"
Wajah Rain begitu merah, kembali gadis itu sudah mampu membungkam mulut pria itu. Raun tidak mengatakan hal lain, memilih untuk pergi dari hadapan gadis itu dengan rona merah di pipinya.
__ADS_1
Hanya Olin saja yang bisa membuatnya tersipu malu di saat keadaan buruk seperti saat ini.
Rain memilih untuk mandi di kamar mandi tamu, karena memang tubuhnya juga sudah basah, tidak lupa dia membawa pakaian ganti dari kamarnya.
Rain buru-buru menyelesaikan mandinya. Jantungnya sejak tadi berdebar begitu kencang tidak karuan. Sempat-sempatnya di dalam pikirannya muncul bayangan Olin yang sedang mandi. Sungguh betapa mesum dirinya!
Rain sudah menyelesaikan mandinya, sudah rapi dan wangi, duduk di ruang tamu menunggu Olin. Tidak lupa dia juga sudah membuatkan susu coklat panas untuk gadis itu yang dia beli di supermarket di lantai satu apartemennya.
Lama Rain menunggu, Olin belum juga keluar yang membuat Rain menjadi khawatir. Pria itu memutuskan untuk mengetuk pintu kamar mandi dan memanggil gadis itu, siapa tahu karena kondisi tubuh Olin yang begitu lemah membuat gadis itu pingsan ketika berendam di air hangat.
Namun saat membuka pintu kamarnya, betapa pria itu terkejut ketika mendapati gadis itu sedang duduk di tepi ranjang mengenakan bathrobe dengan belahan paha yang tersingkap sehingga memamerkan paha mulusnya.
Eheem! Dehem Rain mencoba menghilangkan rasa gugupnya. Dia pria normal, tentu saja pandangan pertamanya langsung tertuju pada paha Olin.
Bukan menutup pahanya dengan memperbaiki duduknya, Olin malah tersenyum manis pada Rain, bahkan begitu tampak sensual.
"Kau sedang apa? Kenapa tidak pakai baju?" tanya Rain gugup. Kalau ada speaker di dekat dadanya, pasti bunyi jantungnya yang berdetak kencang akan terdengar nyaring.
Demi Neptunus! Tahukan gadis itu kalau dirinya sudah berhasil membuat Rain kalang kabut begini?
Rain segera membuka lemarinya mengambil kaos dan juga celana pendek. "Pakai ini, nanti kita ke bawah beli pakaian untuk mu," ucap Rain yang sekuat mungkin menahan imannya.
"Aku lapar. Aku belum makan dari pagi," ucap Olin merentangkan tangannya meminta Rain mendekat. Bisakah pria itu menolak? Setelah mengatakan kalau dia belum makan?
Rain maju mengikis jarak diantara mereka. Olin segera berdiri, lalu mengalungkan lengannya ke leher Rain. "Cium," pintanya manja.
"Katanya lapar," ujar Rain blingsatan.
"Iya, tapi untuk makanan pembuka, aku mau dicium dulu, itung-itung buat booster tubuhku yang lemah tanpamu," ucap Olin memonyongkan bibirnya.
__ADS_1
Rain kalah! Pria itu menyatukan bibir mereka, mencium, membelai bibir Olin dengan lidahnya.
Ciuman itu semakin panas kala Rain menangkup tengkuk Olin hingga semakin erat memainkan lidah mereka.
Rain membelai semua ruang dalam mulut Olin, mencercap rasa manis yang ditawarkan gadis itu. Olin tidak mau kalah, gadis itu meng*hisap lidah Rain yang membuat sesuatu dibawah sana menegang.
Napas keduanya memburu. Oh, alam semesta, Rain bahkan sempat melirik ranjang yang memanggil dirinya untuk membawa Olin ke sana. Imannya sudah semakin menipis, tapi cintanya pada gadis itu membuatnya tidak ingin merusak Olin.
Ciuman panjang itu semakin panas, kala Rain yang sudah terbakar, turun menyelusuri leher jenjang Olin, menyapu dengan lidah dan mencercap dengan bibir panasnya.
"Aku bisa kehilangan kendali kalau begini. Kau harus segera pulang!" bisik Rain menatap mata Olin dengan sorot gairah yang membakar tubuhnya.
"Tapi aku gak mau pulang," rengek Olin.
"Olin, jangan begitu, kalau kita mau memperjuangkan perasaan ini, maka kau harus bisa bersikap dewasa. Jangan lari-lari begini. Aku akan cari cara dan waktu yang tepat untuk mengajak Tante dan Om mu bicara," ujar Rain mengusap puncak kepala Olin.
"Om janji gak akan ninggalin aku lagi? Jangan menghilang lagi dariku," ucap Olin masih enggan melepas pelukannya di leher Rain.
"Aku janji," balas Rain mencium kening Olin.
Olin makan dengan lahap, itu pun karena disuapin Rain, lalu keduanya turun untuk membeli pakaian Olin.
Rain akan mengantar gadis itu, sekaligus mempermisikan Olin pada Bee. Biarlah semua kesalahan Olin yang pergi tidak permisi menjadi tanggung jawabnya.
"Om turun juga?" tanya Olin khawatir. Dia tidak ingin Bee marah pada Rain karena kesalahannya.
"Iya, kenapa?" tanya Rain menatap Olin. Bibir gadis itu masih bengkak dan itu hasil maha karyanya.
"Gak usah deh, Om," larang Olin takut akan terjadi keributan. Biar saja dia yang menanggung amarah Bee.
__ADS_1
"Mulai sekarang, kau adalah tanggung jawabku. Ayo," jawab Rain memegang erat tangan Olin memasuki halaman rumah.