
Sumpah demi apapun, Rain masih terbengong, kagetnya belum hilang padahal si pembuat onar sudah keluar. Tanpa sadar pria itu meraba permukaan dadanya tempat jantungnya yang saat ini berdegup sangat kencang.
Apa-apaan dia, bisa blingsatan hanya karena tingkah konyol seorang bocah. Tiba-tiba ucapan Olin kembali terngiang.
"Om Dokter, aku ini bukan gadis kecil lagi ya, Udah gede! Bahkan udah bisa buat anak kecil malah!"
Anehnya dia justru semakin panas dingin memikirkan hal itu. Dia mungkin sudah gila!
***
"Tumben, Nyet, Lo ngajak kita ngumpul," ucap Deri yang tampak begitu gembira mendapat calling-an dari Rain. Selain karena rindu pada teman-temannya itu, ini momen tepat untuknya bisa bebas dari rumah. Paling gak, bisa tenang dan menikmati hidup walau hanya tiga-empat jam.
Setelah menikah, Deri benar-benar merasa dipenjara. Istrinya ngomel melulu hingga membuat Deri yang terkenal sangar, kini justru melempem setelah menikah. Tunduk pada perkataan istri.
Diantara mereka berempat, Deri dan Exel yang sudah menikah. Sementara Rain, yang seperti diketahui, sudah ditinggal istrinya, alias menjadi duda di umur 19 tahun. Masih terlalu dini untuk mendapatkan gelar seorang duda, tapi itu memang terjadi.
Rain menikahi gadis yang sangat dia cintai, sekaligus cinta pertamanya saat SMA. Gwen, yang mengidap penyakit tidak punya kesempatan untuk bertahan lebih lama, dan saat itu, Rain ingin mewujudkan impian gadis itu yang ingin menjadi pengantin. Dia menikahi Gwen, dan tepat dihari yang sama, gadis itu menghembuskan napasnya di pelukan Rain.
Sementara si tampan Kai, masih asyik menikmati hidupnya dengan sekumpulan wanita yang silih berganti merayu dan menggodanya. Pria itu mungkin juga belum bisa lepas dari cinta pertama, yang kebetulan adalah Gwen juga.
"Gue kangen sama bacot Lo," jawab Rain asal yang membuat Kai dan Exel tertawa. Mereka saling mengerti arti ucapan Rain. Setelah menikah, Deril jadi sering menghubungi mereka sekedar untuk curhat rasa kesalnya pada sang istri.
"Lo ngatain gue? Hebat banget lo, ya!" Deri meninju pelan lengan Rain yang membuat mereka berempat ngakak bersama.
Keempatnya ngobrol diiringi gelak tawa. Namun, pikiran Rain sekali melihat mengingat Olin. "Sial, kenapa justru wajah gadis itu muncul dalam pikiranku, ya?" batin Rain menatap gelasnya. Dia mengajak teman-temannya berkumpul karena ingin melupakan kejadian siang tadi, tapi kenapa justru muncul lagi?
Syukurnya besok dia tidak harus ke sekolah, jadi tidak perlu bertemu dengan gadis itu lagi. Atau mungkin dia akan menugaskan salah satu dokter yang ada di ruang sakit mereka untuk menjadi dokter di sekolah itu.
__ADS_1
***
"Ayo, semuanya, kita udah telat nih," ucap Bee berteriak dari anak tangga pertama. Mereka sudah telat dari waktu yang ditentukan Bee.
Ceritanya hari ini mereka akan pergi berkunjung ke rumah Bumi. Bee dan Bintang ingin mengucapkan terima kasih secara langsung pada Rain. Ketepatan hari ini Sky memang mengundang mereka datang, Rain ulang tahun hari ini.
Satu persatu anggota keluarga Bee turun. Siera dan Siena, yang senang diajak pergi, Sagara yang berat hati untuk ikut, dan juga ada Olin yang sedikit kurang bersemangat untuk ikut.
Namun, tidak satupun yang berani menolak. Semua harus ikut aturan Bee. Lagi pula ini bentuk penghormatan mereka pada Rain yang sudah menolong Sagara.
Hanya perlu waktu 20 menit untuk mereka bisa tiba di sana. Sudah ada Winda beserta anak dan suaminya. Agus juga, yang menjadi pusat perhatian karena membawa seorang wanita yang bukan istrinya.
Semua tamu undangan disambut gembira oleh Sky dan Bumi. Tidak lupa Oma dan Opanya juga hadir malam itu. Lucunya, justru orang yang berulang tahun yang tidak nampak batang hidungnya.
Rain memang tidak tinggal di rumah itu. Dia memilih tinggal sendiri di apartemennya.
Ancaman Sky berbuah manis. Bintang utamanya yang sudah lama ditunggu datang juga. Berhubung acara sudah sangat jauh terlambat untuk dimulai, Sky langsung meminta untuk tiup lilin aja.
Rain melakukannya. Apapun yang diminta Sky. Tidak pernah sekalipun Rain menolak permintaan ibunya itu, karena hanya dia yang tahu, bahwa perjuangan sang ibu untuk melahirkan sekaligus membesarnya tidak mudah, berjuang berdua tanpa ada sosok Bumi bersama mereka.
Setelah tiup lilin dan potong kue, semua tamu undangan dipersilakan menikmati hidangan.
Olin yang sejak tadi duduk bersama Anika, adik Rain yang ketiga, masih sibuk melihat foto-foto keluarga. Keduanya langsung begitu akrab, walau usia cukup terpaut jauh.
"Ini siapa?" tanya Olin yang semakin antusias melihat foto-foto Rain. Hanya dia yang tahu kalau hatinya tidak mudah mengabaikan bayangan Rain. Setiap melihat foto pria itu yang diambil paksa, kata Anika oleh Sky, karena pria itu memang tidak suka di foto, Olin semakin terpikat pada pria itu.
Apa yang sudah terjadi di ruang UKS tidak mungkin bisa dia akan begitu saja. Bahkan berhari-hari debar jantung Olin kian berdebar kencang setiap melewati UKS. Bayangan dan senyuman pria itu menari-nari di pelupuk matanya. Bahkan adegan yang terjadi di ruangan Rain, sampai kebawa mimpi.
__ADS_1
"Oh, ini kakak iparku, istrinya bang Rain," jawab Anika santai.
Namun, gadis itu tidak tahu kalau informasinya itu membuat hati Olin kecewa.
"Abang kamu udah nikah?" ucapnya begitu pelan, hampir seperti bisikan. Kabar itu terlalu menghentak nya. Seketika hatinya terluka, seolah tidak rela.
"Iya, Kakak gak tahu?" Anika mencondongkan tubuhnya, menoleh melihat wajah Olin yang tertunduk muram. Perlahan gadis itu menggeleng. Dia menutup album foto itu, dan tersenyum pada Anika.
"Kita gabung dengan yang lain, yuk," ajaknya. Dalam hati terus mengutuk kebodohannya karena sudah mulai menyukai pria itu. Tidak mungkin dia mengejar suami wanita lain.
"Sayang, kamu gak makan? Dari tadi Tante perhatian kamu diam aja," ucap Bee mengusap lengan telanjang Olin.
"Ini Olin ya? Maaf ya, Sayang, Tante tadi gak sempat menyapa, sibuk ngurusin Rain. Kamu udah tumbuh dewasa, ya. Makin cantik lagi," sapa Sky mencubit dagu Olin pelan dan penuh gemas.
Wajah Olin yang cantik, selaras dengan kulitnya yang putih bersih, dan ditambah dengan pipi chubby yang penuh, sungguh sangat menggemaskan.
Olin hanya tersenyum malu, atas pujian Sky. Wanita itu selalu baik padanya setiap mereka bertemu.
"Kamu udah makan?" ulang Bee dan didukung oleh tatapan Sky yang juga ingin tahu.
"Nanti aja, Tante. Belum lapar. Tante Sky, aku boleh lihat-lihat taman bunganya?" tanya Olin yang sempat melihat taman bunga yang indah saat baru tiba di sana.
"Tentu saja, Sayang. Pergi lah," jawab Sky ramah.
Tujuan Olin ke taman itu bukan hanya ingin menikmati indahnya bunga, tapi juga ingin mengambil waktu sendiri.
"Ngapain kamu sendiri di sini, Gadis kecil?"
__ADS_1