Cinta Pythagoras, Saranghae Om Duda

Cinta Pythagoras, Saranghae Om Duda
Demi Pulang Bersama


__ADS_3

"Kamu harus menjelaskan, apa maksud dari perkataan mu? Kenapa aku yang salah? Sahabat? Sagara maksudmu?" pekik Olin. Tampaknya gadis itu juga sudah habis kesabaran nya.


Naya yang terkaget mendengar suara gas Olin yang menantangnya untuk memberi penjelasan membuat garis itu menghentikan langkahnya. ada rasa bersalah dalam hati Naya tidak seharusnya dia melampiaskan amarahnya kepada Olin


Kenyataannya Sagara yang tidak bisa menerima kenyataan bahwa Olin tidak menyukainya, justru melampiaskan rasa kesalnya kepada Naya, menganggap Naya sebagai pengkhianat dengan tidak memberitahukan tentang perasaan Olin yang menyukai pria lain.


Sagara tidak berpikir bahwa mungkin alasan Naya untuk tidak memberitahunya hanya karena ingin menjaga perasaan pria itu.


Lantas, pantaskah dia menyalahkan Olin atas amarah Sagara pada dirinya? Ada penyesalan kini di hati Naya.


"Gue minta maaf, Lin, nggak seharusnya gue marah sama Lo, maafin gue, ya," ujar Naya pada akhirnya, sedikit malu atas kebodohannya.


Keduanya menepi dan memilih untuk duduk di dekat halte bus. Naya akhirnya bercerita mengenai Sagara yang marah atas penolakan Olin.


"Aku memang nggak bisa menerima perasaan Kak Saga, kau tahu sendiri alasannya. Mmm... Kenapa gak langsung saja kau mengungkapkan perasaanmu kepada Sagara? Itu... Aku tahu kau menyukainya," ucap Olin merasa tidak enak hati, mengingatkan mereka kembali mengenai kelancangan Olin yang membaca diary Naya kalau itu.


Naya mengangkat wajahnya, menatap Olin dengan begitu tajam. "Jangan sampai ada orang lain yang mendengar perkataanmu ini Lin, atau gue benar-benar gak akan mau berteman dengan Lo lagi!"


"Mau sampai kapan kamu sembunyikan perasaanmu? Kamu harus berani mengejarnya, kita tidak tahu kan, bisa saja Sagara jadi menyukaimu juga," lanjut Olin tanpa rasa takut, walau Naya udah membulatkan mata padanya.


"Kayak Om Lo, yang sudah mulai jatuh cinta sama Lo, gitu?" jawab Naya dan kini sudah bisa tersenyum. Tidak ada lagi ketegangan di antara mereka.


Tiba-tiba Olin berdiri, dan menepuk jidatnya, yang juga menarik perhatian Naya.


"Habislah aku! Aku melupakan janjiku dengan Rain hanya karena ingin mengejarmu," ucapnya cemberut. Padahal dia sudah menantikan kesempatan ini.


Mendengar hal itu Naya bukannya merasa empati justru tertawa terbahak-bahak lalu memeluk Olin dan mencoba menenangkan gadis itu.


"Udah dong, jangan mewek, besok juga Lo bakal ketemu sama dia, kan?"


"Ya nggak sama, Nay. Gimana kalau dia marah? Gimana kalau dia menganggap aku gadis yang nggak bisa dipegang omongannya? Bagaimana kalau tadi dia benar-benar nunggu aku gimana?"

__ADS_1


"Udah, gimana kalau kita nonton aja?" Naya mencoba ingin menghibur Olin. Gadis itu diam untuk beberapa menit, lalu wajahnya bersinar lagi.


"Ayok."


"Lo, ya!" Naya menyambar omongan Olin. Dia heran, sebentar sedih, sebentar kemudian bisa langsung bergembira lagi. Keduanya tertawa, dan Naya semakin erat memeluk Olin.


***


Besoknya jam istirahat pertama Olin segera datang menemui Rain dengan membawa dua kaleng susu steril dengan kemasan bergambar naga.


"Hai, aku datang," sapanya riang. Meletakkan susu kaleng di atas meja. Rain hanya melirik sekilas lalu kembali memperhatikan pekerjaannya.


"Sayang, pacarnya datang kok gak disambut?" ucap Olin mendekat. Senyum tanpa merasa bersalah mengembang di bibirnya.


Reaksi Rain hanya menggeleng, lalu bangkit pergi meninggalkan Olin.


"Mau kemana?" tanya Olin merentangkan tangan, memblokir langkah Rain yang hendak keluar.


Rain merasa sangat kesal, bagaimana tidak. Berjam-jam dia menunggu di ruang UKS, bahkan Bu Sinta, yang terang-terangan menyukainya datang menanyakan kenapa Rain belum pulang.


Biasanya Rain akan pulang 15 menit sebelum jam bubar sekolah, tapi kini ada yang tidak biasa. Pria itu masih bertahan di ruangannya padahal sudah satu jam berlalu dari jam pulang sekolah.


Dia mengutuk kebodohannya, seharusnya dia tidak perlu menunggu Olin. Seharusnya dia sudah pulang sejak awal, tidak perlu mengindahkan omongan bocah kecil yang meminta untuk ditunggu. Mengapa dipercaya perkataan Olin yang plin-plan? Dengan sabar menunggu gadis itu.


Ketika dentang waktu terus bergulir dan Olin belum juga menunjukkan batang hidungnya, Rain pikir mungkin gadis itu piket jadi datang terlambat, tapi semakin lama tidak ada tanda-tanda kedatangan gadis itu, Rain akhirnya menyerah. Bahkan tidak satu muridmu tampak di sekolah itu lagi.


Dengan perasaan kesal, Rain akhirnya pulang dan menjadi pembelajaran dalam hatinya sampai kapanpun dia tidak akan percaya lagi ucapan gadis itu.


"Gue pasti udah gila, karena benar-benar menunggu tu bocah!" umpatnya mengutuk kebodohannya yang mau saja mendengarkan perkataan gadis itu.


Tanpa Rain sadari, sebenarnya sudah mulai menyukai Olin, hanya saja dia masih malu mengakuinya kalau dia tertarik pada bocah ingusan. Banyak hal yang akan memberatkan hubungan mereka. Tidak hanya dari segi umur, tapi juga status Rain yang sudah duda, membuatnya yakin kalau keluarga Olin tidak akan menyetujui hubungan mereka.

__ADS_1


Hingga jam istirahat berakhir, Rain tidak kembali ke ruang UKS. Entah dimana pria itu bersembunyi. Olin terpaksa kembali ke kelas.


Pada istirahat kedua, Olin tidak mengunjungi UKS. Ada rapat OSIS dan dia dipaksa ikut oleh Ken, ketua OSIS.


Sudah bisa ditebak bahwa Ken memang mengincar Olin, gadis yang paling cantik dan pintar di sekolah, dengan menjadikan Olin anggota OSIS maka Ken punya peluang dan kesempatan yang lebih untuk mendekati gadis itu.


Awalnya Olin menolak ikut menghadiri rapat OSIS. Dia sama sekali tidak tertarik menjadi bagian keluarga OSIS di sekolahnya, tapi guru pembimbing ikut memberi suara agar Olin berpartisipasi selama menjadi siswa di sekolah mereka.


Hingga jam pulang sekolah, rapat OSIS belum juga berakhir. Olin di bangkunya sudah grasak-grusuk tidak sabar ingin keluar dari ruang rapat itu.


Dia ingin segera menemui Rain, dan pulang bersama pria itu.


"Ken, ini masih lama? Aku pulang duluan, ya?" bisiknya sembari melihat kiri kanan, jangan sampai ada orang yang dengar.


"Jangan dong, Lin. Nanti aja kita pulang bareng. Tenang, aku bakal ngantar kamu, kok," jawab Ken penuh percaya diri.


Olin semakin kesal pada Ken yang mencoba menahannya. Ingin sekali menonjok wajah pria itu dengan senyum sok ketampanannya itu.


Olin terus gelisah, dari kaca ruang OSIS bisa melihat sudah banyak anak-anak yang berhamburan untuk pulang. Di saat genting, dia mendapatkan ide.


"Tama, boleh titip ini, gak? Aku mau ke toilet," bisik Olin pada teman sekelasnya yang juga terpilih sebagai kandidat calon OSIS.


Setelah Tama setuju, Olin pun izin pada Ken untuk ke toilet. Bergegas Olin segera menuju parkiran sesaat setelah tadi singgah sebentar ke kelasnya untuk mengambil tas dan juga buku sekolah.


Dia mengenali mobil Rain, semakin gelisah karena sudah tidak ada di parkiran. Olin hampir menangis, kesal karena gagal lagi pulang dengan Rain, tapi bola matanya tiba-tiba menangkap mobil mewah milik Rain masih akan memutar keluar gerbang sekolah. Olin tidak menyia-nyiakan waktu, segera mengejar, tidak tanggung, Olin berdiri di depan mobil itu, lalu setelah diyakini Rain tidak akan melaju, Olin pun mengetuk kaca mobil berulang kali.


Rain bertahan, tapi tidak lama. Tangan Olin yang terus mengetuk berulang kali dengan sekuat-kuatnya, membuat Rain tidak punya pilihan lain selain membuka kaca.


"Ada apa?"


"Buka, aku mau naik!"

__ADS_1


__ADS_2