Cinta Pythagoras, Saranghae Om Duda

Cinta Pythagoras, Saranghae Om Duda
Lupa Waktu


__ADS_3

Dunia Rain yang selama ini kelam akhirnya sirna, berganti terang setelah seorang gadis mungil bernama Olin datang.


Rain sendiri tidak menduga kalau dirinya akan bisa terbuai oleh pesona Olin, siswa SMA yang selalu berkeliaran di sisinya.


Dunia nya seolah jadi jungkir balik setelah kehadiran Olin. Dunia Rain yang tenang jadi porak-poranda saat Olin yang selalu berisik dan selalu mengganggunya. Olin yang banyak bicara, yang tidak pernah berhenti sebelum dijawab semua pertanyaannya.


Terlebih kini, setelah ciuman itu sudah menjadi pertanda dalam hati Olin kalau Rain sudah menerimanya.


Keduanya keluar dari bioskop dengan wajah tertunduk malu dengan tangan saling bergandengan. Rain merasa dirinya hidup kembali kini. Merasakan gairah yang selama ini terpendam, kembali menyala.


Olin yang berjalan di sisinya tidak bisa berhenti tersenyum. Debar jantungnya saja kian berdetak hebat hanya dengan membayangkan ciuman mereka di studio tadi. Dia masih bisa merasakan lembutnya bibir Rain, walaupun dia sedikit malu karena tidak pintar berciuman.


Olin sudah memutuskan agar lebih banyak menonton drakor yang ada adegan ciuman bibirnya. Tanpa sadar Olin menyentuh bibirnya dengan jari dan hal itu dilihat oleh Rain.


"Kenapa bibirnya dipegangi terus?" tanya Rain ketika mereka sudah sampai di dalam mobil, bersiap untuk mengantar Olin pulang.


"Ciumannya enak, nikmat banget, mau lagi," ucap Olin mendekatkan wajahnya.


Astaga, siapa saja tolong kasih paham gadis polos ini. Apa tidak sadar kalau perkataannya itu membuat darah Rain berdesir, dan sesuatu di bawah sana juga semakin ingin dipuaskan.

__ADS_1


Rain menyentil jidat Olin agar sedikit menjauh dari wajahnya. Kalau tidak, pertahanannya bisa jebol lagi.


"Iih, Om, kok jidat aku kok disentil?" protes gadis itu tidak terima.


"Makanya dijaga, jangan asal ngjeplak aja itu mulut," ucap Rain mulai menjalankan mobilnya ke rumah dari parkiran bioskop.


Selama dalam perjalanan, Olin tidak hentinya menguap, rasa ngantuk merajai nya hingga tidak kuasa dan akhirnya menutup matanya mulai tertidur.


Rain melihat hal itu hanya geleng kepala, mungkin biasanya gadis itu harus tidur siang sepulang sekolah, tapi kali ini malah pergi hingga langit berubah gelap.


"Hai, bangun," ucap Rain membelai lembut pipi lembut Olin, membawa gadis itu terjaga, tapi tampaknya susah. Rain harus berulang kali melakukan hal itu, hingga bola mata indah itu terbuka kembali walau hanya sedikit kemudian Olin mengucek matanya dengan punggung tangan, sangat menggemaskan di mata Rain hingga membuatnya tersenyum.


Kedepannya, dia harus bersabar menghadapi tingkah Olin yang begitu manja dan sesukanya. Sudah resiko, berpacaran dengan gadis kecil itu.


"Udah sampai, ya?" ucap Olin menguap dan mengucek matanya lagi.


"Udah. Turun, gih!"


"Mau peluk dulu," ucapnya manja.

__ADS_1


"Mau disentil lagi jidatnya?" ucap Rain hingga membuat wajah Olin kembali cemberut.


"Ya udah, aku masuk dulu," ucap Olin menunduk, bibirnya mengerucut tidak senang karena Rain tidak memberikan lagi permintaannya.


Tidak ingin membuat kekasihnya cemberut, Rain menarik tangan Olin, mencium puncak kepalanya. dan hasil membuat gadis itu tersenyum.


Rain bahagia. Itu jelas. Dia hidup kembali. Semesta memberikan kesempatan baginya untuk bisa merasakan kehidupan yang lebih baik lagi.


***


"Dari mana kamu, Lin? Kenapa jam segini baru pulang, Nak? Gak ngabarin Tante, itu buat Tante khawatir," ucap Bee saat membuka pintu rumah.


"Maaf, Tante, tadi ponselku lowbat," jawab Olin merasa bersalah. Saking senangnya berduaan dengan Rain, akhirnya lupa memberi kabar.


"Kamu pergi dengan siapa?" delik Bee ingin tahu.


"Dengan... dengan...," Olin menimbang untuk jujur atau menyembunyikan dari Bee. Tapi selama ini dia tidak pernah menyembunyikan apapun dari Bee.


"Olin, Tante tanya, kamu pergi dengan siapa?"

__ADS_1


"Om Rain..."


__ADS_2