Cinta Pythagoras, Saranghae Om Duda

Cinta Pythagoras, Saranghae Om Duda
Ciuman Pertama


__ADS_3

Rain tetap bertahan tidak membukakan pintu, tapi Olin dengan sangat tidak sabar mengetuk kaca mobil, memaksa agar pria itu membukakan pintu untuknya.


Rain menyerah, menekan tombol di sampingnya agar Olin bisa masuk. "Kok aku ditinggal?" bentak Olin membuka pintu mobil dan segera masuk. Wajah garangnya tertuju pada Rain.


"Memangnya aku punya kewajiban untuk mengajakmu pulang? Kau 'kan bisa pulang sendiri?" ucap Rain menunjukkan wajah tidak peduli. Pria itu sebenarnya sudah menunggu Olin datang. Setengah jam berlalu dari jam pulang sekolah tapi wajah gadis itu tetap tidak muncul juga. Rain yang tidak mau dua kali dibohongi oleh Olin, diminta menunggu tapi kenyataannya gadis itu yang tidak datang juga. Jadi, setelah menunggu setengah jam dari waktu pulang sekolah, Rain memutuskan untuk pulang.


"Harus dong. Om 'kan pacarku, tugas Om dong jemput dan ngantar aku pulang sekolah," jawab Olin santai, lalu memajukan wajahnya, ke depan pria itu hingga berhasil membungkam mulut Rain. Setiap gadis itu menggodanya, wajah Rain akan memerah dan dia tidak dapat berkata apapun lagi.


Rain akhirnya memutuskan untuk mengantar gadis itu pulang ke rumah, tapi 10 menit berlalu setelah mereka meninggalkan gerbang sekolah, Olin protes tidak mau diantar pulang ke rumah.


"Terus kita mau ke mana?" Pertanyaan Rain justru membuat Olin tersenyum, pria itu tidak sadar, perkataannya justru menandakan bahwa dia bersedia diajak Olin pergi ke manapun gadis itu mau.


"Kita nonton ya, pleaseee," pintanya melipat tangan di dada, memohon sambil mengedip-edipkan matanya berulang kali. Wajah menggemaskan itu kembali berhasil menaklukkan hati Rain.


Mungkin kalau ada yang mengenal karakter Rain, maka pria itu akan mentertawakan Rain karena sudah mudah ditaklukkan oleh seorang bocah berusia 17 tahun.


Salah satu mall terdekat yang mereka lalui menjadi tempat perhentian mobil Rain, tidak ada alasan khusus memilih mall itu, hanya kebetulan lebih dekat dari sekolah. Ketika memasuki pintu mall, orang-orang sudah mulai memperhatikan mereka terlebih karena Olin yang memakai seragam sekolah.


Kok dari tadi orang orang pada ngeliatin kita ya, Om?" tanya Olin yang juga merasakan pandangan aneh dari pengunjung mall.


"Itu karena kau pergi ke mall pria yang lebih tua dan memakai pakaian sekolah," jawab Rain santai. Dia sama sekali tidak peduli pandangan orang, hanya saja tidak tega melihat Olin yang dianggap sebelah mata.


"Oh, aku gak peduli sama sekali. Mereka hanya itu karena aku punya pacar cakep," jawabnya semringah, melingkarkan tangannya pada lengan Rain. Tanpa dilihat Olin, Rain mengulum senyum, ada perasaan senang yang hinggap di hati Rain.

__ADS_1


Satu hal lain yang tidak disangka oleh tidak ada resi dirasakannya ketika Olin merangkul lengannya dan bergelayut manja pada dirinya biasanya jangankan untuk membiarkan orang garis bermanja dengannya saja ada yang tidak akan mengizinkan


"Kita nonton film itu, ya?" ujar Olin menunjuk stand film yang akan tayang hari ini.


"Memangnya Lo udah bisa nonton film itu? Lo bukannya masih anak-anak, ya?" tanya Rain menggoda Olin.


"Sini aku bisikkan," pinta Olin ingin membalas, menarik lengan Rain agar bisa menjangkau telinga pria itu. Rain yang tinggi membuat Olin harus menarik pria itu agar merendah kan tubuhnya. "Aku bahkan sudah bisa membuat anak, Om mau coba?"


Wajah Rain memerah, bahkan kalau bisa digambarkan sudah seperti kepiting rebus. Gadis itu sudah berhasil membuat naluri kelaki-lakiannya bangkit. Apa gadis bodoh itu tidak tahu betapa berbahayanya Rain?


Sebisa mungkin Rain mengabaikan omongan Olin, menganggap perkataan gadis itu hanya angin lalu hanya untuk membuat suasana di antara mereka berdua tidak menjadi canggung.


Olin duduk memandang Rain yang mengantri tiket bioskop. Dia kini bisa merasakan benar-benar memiliki seorang kekasih. Dia berjanji berikutnya dia akan memakai pakaian yang anggun, bukan pakaian sekolah seperti ini sehingga Rain akan bangga mengajaknya pergi.


"Terima kasih, pacar ku," ucapnya tersenyum manis. Rain hanya mendengus, membuang muka agar warna merah di pipinya tidak terlihat kembali oleh Olin. Hari ini entah sudah berapa kali gadis itu mampu membuatnya tersipu malu.


"Tapi kita belum beli popcorn nya," celetuk Olin lagi yang membuat Rain ingin mencekik leher gadis itu, tapi saat gadis itu memasang wajah menggemaskan, Rain kembali luluh.


Mau tidak mau, Rain akhirnya kembali lagi mengantri untuk membeli popcorn dan juga minuman dingin. Lalu setelah semua keinginan Olin terpenuhi, tepat saat tiba film mereka akan diputar.


10 menit berlalu dinginnya tempat itu membuat Olin berulang kali mengusap lengannya hal itu tidak luput dari tatapan Ren yang pada akhirnya membuat pria itu berinisiatif untuk membuka jaketnya dan memberikan kepada Olin


"Nih, pakai," ucapnya ketus.

__ADS_1


Penuh sukacita Olin menerima jaket itu dan buru-buru memakaikannya, bahkan karena kesusahan untuk memakai bagian tangan sebelah kanan, Rain membantunya yang semakin membuat Olin meleleh menerima perhatian pria itu.


Tampaknya Rain yang tidak menyukai film romantis bisa larut melebur bersama Olin, menikmati suguhan film yang ada di hadapannya itu.


Olin mengedarkan pandangannya ke sekeliling, melihat beberapa pasangan yang duduk di dekat mereka saling berpelukan membuat Olin memiliki inisiatif untuk mengikuti apa yang dilakukan mereka.


Tanpa menunggu lama Olin pun segera melakukan aksinya, menyelipkan tangannya di dada Rain dan langsung memeluk erat pria itu. Rain yang terkejut berusaha untuk melepas tangan Olin namun, pegangan gadis itu semakin kuat hingga pria itu hanya bisa geleng-geleng kepala, membiarkan Olin yang menempelkan tubuhnya semakin erat padanya.


Tubuh Rain bagi itu hangat hingga membuat Olin nyaman dan menjadi mengantuk dari situ tetap mempertahankan matanya tidak ingin melewatkan sedikitpun momen bersama Rain.


"Aku melihat beberapa pasang yang duduk di dekat kita saling berpelukan dan berciuman, Om gak pengen gitu cium aku?" celetuk Olin spontan.


"Jangan mikir yang aneh-aneh udah fokus pandanganmu pada layar," ucap Rain memutar kepala Olin agar tidak melihatnya. Dia bisa gila kalau terus digoda gadis kecil itu.


"Tapi aku ingin dicium, Om," ucap Olin memutar kembali kepalanya dan merengek meminta hal yang membuat Rain ingin melompat dari duduknya.


Sungguh gadis itu sudah membuatnya gila! Mana film itu masih lama lagi berakhir.


"Om, ayo dong ciuman, aku belum pernah merasakan ciuman bibir itu gimana," bisik Olin masih merengek. Tangannya masih tetap memeluk tubuh Rain, hingga membuat pria itu benar-benar mati kutu.


Oke sejarah membuktikan bahwa kejatuhan pria ke dalam dosa adalah karena rayuan seorang wanita dan jangan salahkan karena Rain kini tergoda oleh bibir manis Olin yang minta untuk dicicipi.


Tiba-tiba saja Rain memegang tengkuk Olin dan menarik wajah gadis itu untuk mendekat ke wajahnya dan bibir Rain mengklaim bibir Olin untuk pertama kalinya.

__ADS_1


__ADS_2