Cinta Pythagoras, Saranghae Om Duda

Cinta Pythagoras, Saranghae Om Duda
Kicauan Rubah Betina


__ADS_3

Perasaan Olin melambung saat Rain memperkenalkan dirinya sebagai pacar pada sahabat-sahabatnya.


Kini ketiganya asyik saling bicara dan Olin diajak pergi mengambil makanan oleh kekasih Exel, yang baru.


"Kamu gak makan ini, kan?" tanya Fani, menunjuk potongan cake coklat yang tampak begitu lezat.


"Makan dong, makanya aku ambil. Aku paling suka cake coklat," jawab Olin tanpa canggung. Bahkan piring kecil yang mereka bawa untuk mengambil makanan sudah penuh, sangat berbeda dengan piring Fani.


Sesuatu yang tabu bagi para gadis seumuran Fani kalau harus mengkonsumsi makanan yang tinggi kandungan lemak dan karbohidratnya. Semua itu hanya karena satu tujuan, tidak ingin menambah lingkar pinggang.


Fani hanya geleng-geleng kepala memperhatikan makanan yang diambil oleh Olin. Setelah dirasa cukup, Fani membawa Olin duduk di meja tempat Aurelia dan gadis-gadis cantik lainnya duduk.


"Loh, kenapa kita gak balik ke meja itu?" tunjuk Olin ke arah Rain dan teman-temannya.


"Di sini aja, itu meja tempat para cowok, mereka juga punya privasi saat berbicara, gak perlu juga kamu pantau terus, jagain duduk di sampingnya, yang ada kalau begitu dia akan bosan sama kamu," celoteh Fani salah dia adalah seorang pakar percintaan nomor wahid.


Olin mengangguk lemah, lalu mengikuti langkah Fani menuju meja yang berada sedikit jauh dari tempat Rain.


"Kamu gadis yang bersama Rain tadi, kan?" tanya Aurelia langsung menyerbu.


Olin mengembangkan senyum, lalu dengan cepat mengangguk. Tentu saja dia merasa bangga bersanding dengan Rain datang ke acara itu. Dia jelas bisa melihat pandangan sirik dari beberapa gadis yang melihat ke arah mereka, salah satunya Aurelia. Olin tahu bahwa gadis itu tidak terima bahwa Olin yang berada di sisi Rain, dan terlebih pria itu menggenggam tangannya.


"Kalian pacaran?" sosor gadis lain yang entah siapa namanya.


"Iya," jawab Olin semakin melambung.


Beberapa gadis mengucapkan selamat padanya dan mengatakan bahwa dirinya sangat beruntung bisa memiliki Rain.

__ADS_1


"Tapi pacaran sama keempat pangeran sekolah itu gak gampang, loh. Harus kuat mental. Kadang aja aku tersaingi sama banyak garis-garis yang mencoba untuk merebut perhatian dari Excel," ucap Fani ingin juga dianggap gadis spesial karena sudah berhasil menggaet hati salah satu personil black devil.


"Pastinya. Semua gadis pasti ingin berada di posisi para kekasih keempat pangeran tampan itu apalagi posisi kamu, Lin. Semua ingin berebut menjadi kekasih hati Rain, pengusaha sukses sekaligus pewaris besar Hendardi yang hartanya tidak habis tujuh turunan," sambar gadis yang lain, tapi tampaknya tidak menyimpan perasaan tidak suka pada Olin.


"Apa yang kamu katakan itu benar, dan kamu Olin, harus hati-hati, banyak yang akan menjatuhkan mu. Kamu harus siap mental dan juga bisa memberikan yang terbaik dari dirimu, kalau gak mereka bisa aja dapatkan dari garis lain. Kamu harus bisa memuaskan mereka, agar tidak kepikiran untuk pergi dari mu," ucap Aurelia yang ingin membuat Olin down.


"Benar, banget, Aurel. Tipe pacaran mereka itu bukan lagi kayak pacaran sama anak sekolahan yang ogah disebut, norak dan kampungan. Lagi pula udah biasa kalau gaya pacaran orang zaman sekarang ini lebih jauh, kalau kamu gak siap, maka kau tidak akan lama menjadi kekasih mereka," sambar sahabat Aurel.


"Maaf, maksudnya memberikan yang terbaik dari dalam diri?" tanya Olin gak paham.


"Ya melayani mereka, dan bukan hanya sekedar melayani, tapi juga harus tahu cara memuaskan mereka. Kalau hanya sekedar memberikan tubuh, mereka bisa mendapatkannya dari pe*lacur sekalipun tapi bagaimana cara memuaskan, itu yang perlu kamu kuasai," sambar Aurel ingin melihat reaksi Olin. Dia tahu bahwa gadis itu begitu polos, terlihat dari body language Olin, bahkan gadis modis mana yang tidak menjaga makanannya?


Banyak lagi ucapan para gadis yang mengelilingi Olin yang membuat tubuh Olin bergidik nyeri. Ternyata gaya pacaran orang dewasa di dunia nyata begitu jauh. Mereka menganggap hal biasa melakukan hubungan suami-istri walau tanpa adanya ikatan pernikahan.


"Tapi aku yakin Rain tidak seperti itu. Tidak semua pria mau bertahan di sisi kita hanya karena kita bisa melayani mereka. Itu sama aja seperti pe*lacur dan aku tidak mau menjadi pe*lacur bagi Rain. Aku ingin menjadi wanita yang dicintai dan dihargainya. Aku akan memberikan tubuhku saat kami menikah nanti," jawab Olin secara frontal yang mengundang tawa para gadis yang ada di meja itu.


Olin tetap bertahan di meja itu, walau sebenarnya dia ingin sekali menangis dan pergi dari sana, tapi dia harus kuat, tidak ada yang boleh menilainya lemah dan menganggapnya tidak pantas untuk Rain.


Hingga tidak lama Rain datang menjemputnya. Pria itu tanpa malu mencium puncak kepalanya, menunjukkan kekuasaannya untuk melindungi Olin.


"Sayang, kita pulang," ucap Rain menatap wajah Olin. Rain sengaja menekankan kata sayang saat berbicara dengan Olin. Gadis itu mengangguk lalu mencoba mengembangkan sedikit senyumnya dan bangkit berdiri kala Rain membantu mendorong kursinya.


"Terima kasih untuk jamuan dan bincang seru kita malam ini. Dan untuk Aurelia, selamat ulang tahun, semoga saat merayakan ulang tahunmu tahun depan, kamu sudah punya kekasih, yang mencintaimu dan bersedia di sisimu, tanpa harus menyerahkan apa yang kamu anggap sebagai suguhan," ucap Olin penuh makna.


Mata Aurelia membola memancarkan amarah pada Olin. Kalau saja yang berdiri di belakang gadis itu bukanlah Rain, dia pasti sudah menjambak rambut cantik wanita itu.


Lalu Rain menggenggam tangan Olin dan membawa gadis itu pergi dari hadapan para penyihir yang ada di sana. Sepanjang jalan Olin menutup rapat bibirnya, dia hanya menunduk mengamati langkah dan ujung sepatunya terlihat jari kakinya begitu cantik, dihiasi kuteks berwarna biru laut dengan manik-manik indah.

__ADS_1


Rain bukan tidak tahu kesedihan hati gadis itu. Saat dia berbicara dengan ketiga temannya dan mendengar tawa yang berasal dari meja Aurel, dia sudah mulai khawatir. Dia mengenal bagaimana perangai Aurel semenjak sekolah.


Rain bergegas mencari Olin karena takut gadis itu dikeroyok oleh para siluman rubah yang tidak senang karena dia membawa Olin ke pesta itu. Benar dugaannya, saat melihat wajah sendu dan riak air mata pada netra Olin yang berusaha ditekan gadis itu untuk tidak keluar, Rian ingin marah tapi dia ingin membalas para rubah itu dengan cara yang lebih elegan, menunjukkan pada mereka betapa Olin begitu berarti baginya.


Rain mencium puncak kepala Olin dengan begitu lama dan juga penuh cinta agar semuanya tahu bahwa Olin begitu berarti bagi Rain.


Dan saat Olin melemparkan kata-kata menusuk pada Aurel, Rain begitu bangga pada gadisnya, karena bisa membela harga dirinya tanpa harus mengandalkan nama belakang Rain yang membuat orang akan takut.


Rain tahu gadis itu belum siap untuk bicara maka Rain akan memberikan waktu sebanyak yang wanita itu butuhkan.


Olin hanya berusaha untuk tetap tegar di hadapan Rain, menunjukkan bahwa dirinya bukanlah gadis SMA yang cengeng, dengan menahan air matanya.


Setengah jam berkendara, Olin tiba-tiba saja meminta agar Rain menghentikan mobilnya.


"Kamu kenapa?" tanya Rain panik.


"Hentikan mobilnya, Om!" teriak Olin menatap Rain dengan bola mata berkaca-kaca.


Rain menurut, menepikan mobil dan menoleh pada Olin. Menyentuh pipi gadis itu.


"Kamu kenapa?" tanya nya lembut.


Bukan menjawab, Olin justru membuka sabuk pengamannya. Lalu tanpa diduga, gadis itu sudah beranjak naik dan duduk di pangkuan Rain, dengan wajah menghadap wajah Rain.


"Olin, apa yang kau lakukan?" pekik Rain kaget.


Olin terlalu enggan untuk menjawab pertanyaan Rain, memutuskan untuk membungkam mulut Rain dengan bibirnya yang bergetar, ******* bibir Rain penuh gelora dan gairah.

__ADS_1


__ADS_2