
Senyum Olin mengembang, kala matanya tanpa sengaja menangkap Rain berjalan menyusuri koridor menuju ruang UKS. Bukan karena melihat wajah tampan yang selalu mencuri hatinya itu, tapi lebih pada kemeja yang dipakai Rain. Itu kemeja pemberian Olin!
"Napa lo kesambet? Senyum-senyum gak jelas," sikut Naya yang menoleh pada Olin. Gadis itu tidak menjawab, tetap tersenyum mengikuti gerak langkah Rain yang sebentar lagi akan sampai ke ruangannya. Naya akhirnya ikut melihat ke arah pandangan dan saat melihat sosok yang mencuri perhatian Olin, barulah Naya mengerti, gadis itu hanya bisa geleng-geleng kepala melihat sahabatnya itu yang sedang jatuh cinta saat ini.
Naya ikut senang melihat Olin bahagia, tapi kali ini pilihan gadis itu terlalu tinggi, Naya takut kalau akan buat gadis itu patah hati.
Setelah kemarin mendengar tentang perasaan Olin kepada Rain, Naya langsung mencari informasi mengenai pria itu di media sosial. Banyak pemberitaan tentang sosok Rain yang menggambarkan kalau pria itu bukan pria sembarangan, segudang prestasi dan juga ahli waris dari Hendardi.
Seketika Naya ingat pada Sagara. Bagaimana keadaan pria itu saat ini. Apa patah hati setelah ditolak Olin?
"Lin, Sa-ga, apa dia baik-baik aja?"
Olin yang masih fokus dengan objek yang dia lihat, mengabaikan pertanyaan Naya. Bahkan sedikitpun dia tidak mendengar apa yang sahabatnya itu tanyakan kepada dirinya. Barulah setelah Naya menangkup kedua pipi Olin dan memutar kepalanya agar melihat ke arah Naya barulah Olin cengengesan.
"Naya, apaan sih, orang lagi fokus sama pujaan hati aku," ucap Olin kembali melihat ke arah Rain, tapi pria itu sudah berbelok ke ruangannya.
"Tuh, kan, pangeran ku udah masuk," lanjutnya kini menoleh pada Naya.
"Lo dengar gak gue tanya apa?"
"Mmm.... Gak," jawab Olin kembali cengengesan.
__ADS_1
Naya ingin sekali menggetok kepala Olin, tapi tidak dia lakukan. "Saga, apa dia baik-baik saja?" Naya mengulang pertanyaannya.
"Kak Saga? Baik, memangnya kenapa?" delik Olin tidak mengerti. Setahunya Sagara baik-baik aja, malah tadi mereka berangkat sekolah bareng.
Untuk sesaat Naya diam, mempertimbangkan apa lebih baik dia langsung bertanya saja kepada Olin, apakah Sagara sudah menyatakan cinta kepada gadis itu atau belum, tapi ada rasa sungkan yang Naya rasakan hingga dia hanya bisa menggigit bibirnya.
"Nanti aja deh, gue tanya langsung ke Sagara," batin Naya.
***
"Halo, Om," sapa Olin, kepalanya menyembul di balik pintu yang tentu saja tidak dia ketuk sebelumnya.
Rain tersentak, kedatangan gadis itu tentu saja mengganggunya, walau anehnya dalam hati, sejak tadi dia mencari-cari sosok Olin, menebak apa gadis itu akan datang. Dia hanya menoleh sekilas, lalu kembali menekuni pekerjaannya.
Sejak pelajaran pertama, Olin sudah gelisah, menanti jam pelajaran berakhir. Berulang kali memperhatikan jarum jam, berharap berputar dua kali lebih cepat. Saat ada teman yang mengajukan pertanyaan, maka Olin akan menatap tajam ke arahnya karena sudah membuat guru semakin lama di dalam kelas.
"Dih, kok aku dicuekin?" ucap Olin berdiri, lalu duduk di sisi meja. Lagi-lagi menantang kewarasan Rain. Belum lagi bibir Olin selalu tersenyum padanya.
Rain masih bergeming, jarinya tetap menari-nari di atas keyboard, walau pikirannya sudah blank. Merasa kesal karena tidak dianggap, Olin mencondongkan tubuhnya ke depan Rain, hingga wajah mereka begitu dekat.
"Om tampan deh, pakai kemeja itu. Aku makin cinta sama Om," bisiknya yang berhasil membuat bulu kuduk Rain meremang.
__ADS_1
Apa-apaan ini, masa gadis kecil bisa membuat jantungnya gak karuan begini? Berdetak kencang, dan darahnya seolah berdesir hingga membuatnya salah tingkah.
Sial memang! Ini salahnya, kenapa dia harus termakan ancaman bocah itu. Pagi ini, setelah selesai mandi, Rain merasa dilema. Di tangannya sudah ada kemeja hitam yang dia ambil dari lemari dan berencana akan memakinya hari ini ke sekolah, tapi tiba-tiba wajah Olin muncul di cermin, membawa ingatannya akan ancaman gadis itu.
Entah dorongan dari mana, Rain mengembalikan kemeja itu ke dalam lemari lalu berjalan menghampiri nakas dan mengambil paper bag yang diberikan oleh Olin padanya kemarin. Rain mengeluarkan kemeja itu dan segera memakainya.
Kemeja itu begitu pas melekat di tubuhnya, membungkus otot-otot serta dada bidangnya dengan sempurna. Dia menyukai penampilannya yang dia lihat di cermin, Rain juga menyukai selera gadis itu. Mungkin kemeja itu bukan yang termahal yang dia punya, tapi entah mengapa dia menyukai yang satu ini.
"Om takut ya, aku cium, makanya kemejanya dipakai? Aku senang banget, Om pakai, makin cakep, buat aku makin cinta berat. Om ganteng banget, sih," cerocos Olin di dekat Rain. Pria itu masih mencoba menahan tidak terpengaruh pada ucapan gadis itu, walau dia yakin pertahanannya tidak sekuat itu.
"Padahal aku berharap Om gak pakai, biar biar bisa aku cium," lanjutnya tanpa peduli kalau saat ini jantung Rain semakin cepat berdetak, mungkin kalau begini terus, dia akan pingsan.
Tolong lah, siapa saja! Dia bukan ABG lagi, kenapa harus deg-degan dan terpengaruh oleh ucapan gadis bau kencur itu. Bukan malah menghardik Olin yang mengganggunya, otaknya justru membayangkan perkataan Olin dan membayangkan bibir gadis itu. Ck!
"Ada apa kau kemari? Kau sakit? Saya pikir sih, kau memang sudah lama sakit tapi sayangnya bukan sakit fisik tapi sakit mental, jadi saya gak bisa bantu menyembuhkan mu," ucap Rain yang merasa kikuk melihat senyum Olin yang sejak tadi mengembang di bibirnya. Entah apa yang dipikirkan gadis itu, tapi Rain merasa terganggu. Tapi sejurus kemudian dia tebak, saat ini yang ada dalam pikiran gadis itu adalah dirinya.
"Dih, kok ngomongnya kasar, sih Om. Tapi aku memang sakit sih, tiap detik mikirin Om melulu, sampai kebawa mimpi, menurut Om aku kenapa, sih?"
Rain semakin blingsatan menghadapi Olin. Dia belum pernah bertemu gadis se tidak tahu malu Olin, dengan terus terang mengatakan apa saja yang ada dalam isi pikirannya. Walaupun dia mungkin masih muda, tapi anak zaman sekarang sudah cepat dewasa. Ada yang namanya rasa malu dan sungkan, terlebih melihat rentang umur mereka yang sangat jauh. Harusnya Olin merasa segan kepadanya, tapi alih-alih segan, Olin justru menganggapnya seperti teman seumuran.
"Kalau kau memang tidak punya kepentingan ke sini lebih baik kamu kembali ke kelas saya sibuk ucap Rain yang sudah panas dingin menghadapi gadis itu.
__ADS_1
"Tentu saja aku punya kepentingan. Aku ingin mengajak Om nonton malam minggu nanti. Mau ya, ngedate dengan ku?" jawab Olin masih dengan mengembangkan senyum yang memperlihatkan lesung pipinya.
Wajah Rain pias, tidak menyangka akan mendengar Olin mengajaknya berkencan. Rain tahu gadis itu menyukai nya, tapi terang-terangan mengajak berkencan, sungguh di luar perhitungan nya. Rain tidak tahu lagi apa yang harus dia lakukan agar gadis ini mengerti bahwa mereka tidak akan pernah bisa bersatu.