
"Pagi Tante, wah, banyak banget kue nya, mau ada acara ya?" tanya Olin yang menarik kursi demi melihat kesibukan Bee yang tengah menyusun kue ke dalam toples.
"Bukan, ini Tante buat untuk dibagi sama Tante Winda sama Tante Sky juga. Mereka suka banget kue ini," ucap Bee tersenyum pada Olin.
Menyebut nama Sky, Olin segera mendapatkan ide yang membuat bibirnya tersenyum.
"Tante, aku aja yang ngantar ke rumah Tante Sky, ya. Mau ketemu sama Anika. Kemarin janji ngasih pinjam komik," sambar Olin cepat.
"Beneran, kamu mau nganterin? Gak merepotkan?" tanya Bee menatap Olin.
"Gak, Tante," sambar Olin cepat.
***
"Kemana Lo, menor benar?" Tanya Saga menatap curiga. Dia rada kesal pada Olin sejak gadis itu terus main ke rumah Naya hingga dia tidak punya waktu untuk mengajak jalan guna mengungkapkan perasaannya.
"Ada deh, want to know aja," jawabnya melesat pergi, taksi pesanannya sudah menunggu di depan.
Sagara hanya bisa mendengus sembari menatap kepergian gadis itu. Gagal lagi dia menyatakan cinta, padahal hari ini libur, dia pikir ini waktu yang tepat, nyatanya harus kandas lagi.
Hanya perlu waktu 45 menit, Olin sudah tiba di rumah Hendardi. Dia tersenyum menatap rumah mewah ini, berharap akan bertemu pujaan hatinya.
Kembali Olin mematut wajahnya di cermin spion taksi sebelum keluar, memastikan kalau wajahnya cantik seperti biasa, baru setelahnya turun dari sana.
Anika yang menyambut kedatangannya, karena Sky sedang ada di dapur. "Nih, janji ku," ucap Olin menyerahkan paper bag pada Anika, tapi matanya celingak-celinguk mencari seseorang yang buat jantung nya sejak tadi berdetak kencang.
"Wah, ada Olin. Apa kabar, Sayang. Tumben kemari? Tante senang banget kalau kamu sering main kemari, ngajarin Anika tuh matematika," sambut Sky mencium pipi kiri kanan Olin.
__ADS_1
"Tante, ini disuruh ngantar kue sama Tante Bee," ucapnya menyerahkan kantong berisi tiga buah toples kue.
Sky mengajak Olin untuk duduk di ruang tengah, menjamu Olin dengan es krim dan kudapan lainnya.
"Kok sepi, yang lain pada kemana, Tante?" tanya Olin sudah tidak sabar. Rasanya setengah jam di sini, tapi kok sosok yang dicarinya gak muncul juga.
"Siapa? Om dan Cakra?" lagi di luar, pergi mancing," jawab Sky memasukkan cookies yang tadi dibawa Olin.
Ingin menyebut satu nama lainnya, tapi Olin takut ketahuan.
Lama gadis itu menunggu, beberapa kali menajamkan pendengarannya, barang kali ada gerak langkah menuruni anak tangga yang pastinya Rain.
Sky bisa melihat kegelisahan di hati Olin, hanya saja dia tidak tahu apa penyebabnya. Setiap ditanya, Olin hanya jawab, gak papa.
Anika mengajak Olin ke kamarnya, menonton film yang menurutnya pasti disukai gadis itu. Olin bernapas lega, setidaknya ajakan itu bisa membuatnya merasa leluasa menanyakan perihal Rain.
"Kakak suka dekor ruang kamar ku? makanya main ke mari," jawab Anika mulai memutar film.
"Gak enak dong, sering main kemari. Harus punya alasan tepat kalau kemari, kan?"
"Kalau gak, kakak pacaran aja sama kak Rain, biar kita jadi ipar," celetuk Anika cengengesan. Dia memang sangat menyukai Olin. Semua yang ada pada diri Olin dia sukai, bahkan menjadikan gadis itu role modelnya. Bagi Anika, Olin itu bak boneka Barbie, cantiknya kebangetan, terlebih mata bulenya itu.
Olin terduduk, kalimat itu sangat berarti baginya, lebih dari apapun. "Dih, mana mau kak Rain sama aku. Lagian Abang kamu itu sukanya pasti tipe cewek dewasa. Dia aja menganggap aku anak kecil," tukas nya. Kalimat paling akhir tentu saja dia katakan dengan sangat pelan.
"Ngomong-ngomong, Abang kamu mana?" Olin masuk dalam topik utama yang sebenarnya sejak tadi ingin dia tanyakan.
"Bang Rain gak tinggal di sini. Dia tinggal di apartemennya sendiri," celetuk Anika yang memberikan jawaban atas tanya Olin sejak tadi.
__ADS_1
"Duh, gak jadi ketemu dong sama Rain, padahal sejak awal mau nganterin kue juga karena punya niat terselubung. Gini nih, kalau gak ikhlas. Eh, tapi aku ikhlas kok." Olin bermonolog dalam batinnya.
"Udah sore, Anika, aku pamit pulang, ya?" ucap Olin turun dari ranjang. Buat apa dia lebih lama menunggu, toh orang yang dia cari gak tinggal di sini.
"Loh, kok pulang? Tapi katanya mau nonton drakor?" Anika menghentikan niatnya mengambil bantal berbentuk sapi kesayangannya.
"Udah sore, baru ingat kalau ada pr yang belum aku kerjakan," jawab Olin mengulum senyum.
Keduanya turun beriringan, sambil bercerita dan mengatur rencana untuk jalan Minggu depan.
"Mama, Kak Olin mau pamit," teriak Anika dari ruang tamu.
"Loh, udah mau pulang, Sayang? Aduh, mana papa sama Cakra belum pulang, siapa yang ngantar kamu," ujar Sky melirik jam.
"Oh, gak papa Tante, aku bisa pulang sendiri," sambar Olin cepat, tidak ingin merepotkan keluarga itu.
"Jangan ah, nanti kamu diganggu orang jahat. Ini udah hampir magrib," tukas Sky, lalu berbalik ke arah meja, mengambil ponselnya.
"Bentar ya, Cantik, Tante telpon Rain dulu. Biar dia yang ngantar kamu pulang," tukas Sky mulai menyambungkan.
Deg!
Ini yang Olin tunggu. Di bersedia untuk menunggu beberapa lama pun, asal bisa bertemu dengan pria itu.
"Sudah, Rain lagi kemari. Kamu tunggu dulu ya, Lin," ujar Sky membelai pipi Olin.
"Tumben bang Rain mau, Ma?"
__ADS_1
"Mama paksa!"