Cinta Pythagoras, Saranghae Om Duda

Cinta Pythagoras, Saranghae Om Duda
Kisah Rain dan Gwen


__ADS_3

"Makasih loh bang, udah mau temani mama belanja" ucap Sky menggandeng Rain sembari menyusuri rak buah-buahan di salah satu swalayan. Sepulang sekolah Rain langsung tancap gas menuju kantor mama nya, dan menjadi supir sekaligus bodyguard dadakan Sky.


"Papa emang kapan balik dari Manchester ma?" sahut Rain. Siang tadi Bumi kembali mengingatkan Rain untuk menemani mama nya pergi belanja atau kemana pun Sky pergi.


"Pokoknya papa pinta tolong ya bang selama papa di luar negeri, kamu jagain mama dan adik-adik kamu. Terlebih mama mu, jangan biarkan dia pergi sendiri" ulang Bumi lewat telpon saat pria itu sudah di bandara.


"Emang kenapa sih pa, kalau mama pergi sendiri? cuma belanja keperluan dapur ini" sanggah Rain.


"Jangan gitu dong bang. Papa ga mau mama kamu di ganggu orang jahat" ucap Bumi. Walau sebenarnya tak ingin Sky di lirik pria lain, karena di usia hampir tiga puluh enam, Sky masih terlihat seperti gadis, bukan ibu dari empat orang anak. Tapi juga Bumi masih trauma dengan kejadian penculikan Sky waktu itu.


"Papa kamu seminggu di sana Rain. Ngurus bisnis nya yang di sana"


"Mama ga diajak? siapa tahu papa mau jumpai selingkuhan nya..auuu.." Rain meringis saat cubitan gemes mendarat di pinggang nya


"Kamu kalau ngomong"


Troli yang di dorong Rain tampak sudah penuh dengan berbagai jenis belanjaan dapur dan Snack para bocil yang setiap orang sudah memberikan list pesanan pada Sky.


"Bang, kamu udah punya pacar belom? mama khawatir kamu tuh terlalu dekat sama ketiga teman kamu. Takut salah pergaulan. Kamu ga gay kan bang?" Karena Sky beberapa kali mencuri dengar pembicaraan Rain dengan teman-teman nya, Rain selalu mengatakan tidak tertarik sama cewek.

__ADS_1


Tiba-tiba Rain menghentikan langkahnya. Menatap aneh pada mama nya.


"Kenapa? kok lihatin mama kayak gitu?" tanya Sky tak bersalah.


"Ma..mama kok bisa kepikiran aku gay sih hanya karena belum pernah pacaran?"Rain geleng-geleng kepala lalu melanjutkan mendorong trolinya meninggalkan Sky di belakang.


"Maaf deh..mama kan pengen kamu itu menikmati masa SMA mu. Enak loh pacaran pas sekolah, jadi motivasi buat semangat belajar. Asal pacarannya sehat. Tahu batasannya" tambah Sky setelah berhasil mengejar langkah Rain.


Begitu mereka tiba di rumah, ketiga bocil berhamburan lari menyambut Sky dengan menodong pesanan mereka.


Sementara Rain dengan langkah panjang nya naik ke atas menuju kamarnya. Mandi, berkutat dengan tugas-tugas sekolah. Setelahnya akan berlama-lama di balkon dengan gitar akustiknya.


Sesekali Rain masih tetap melukis. Saat mood nya datang, dia bisa berjam-jam lama nya bersemedi di ruang lukisnya. Menghasilkan satu dua lukisan yang indah.


Rain tidak suka gadis yang terlalu kecentilan pada nya dan juga yang menarik perhatiannya dengan memamerkan lekuk tubuh mereka. Entah lah, gadis seperti apa yang dia sukai, dia sendiri pun tidak tahu. Diantara mereka berempat, Exel lah yang sudah memiliki pacar. Dan itu hanya bertahan paling lama dua bulan Hobby nya yang suka gonta-ganti pacar membuat dirinya di sematkan sebagai playboy sekolahan.


***


"Gue kesal banget lihat cewek-cewek yang nge daftar buat jadi anggota team basket putri cuman buat caper sama kalian berempat" umpat Chika, ketua team basket putri sewot.

__ADS_1


Hari ini, masih rangkaian seleksi siswa yang diterima menjadi team basket sekolah. Banyak sekali yang datang mengembalikan formulir pendaftaran, tapi saat di tes skill nya, jangan kan mendribble bola, pegang saja masih pada belum benar.


Exel yang duduk di lantai GOR sekolah tertawa geli melihat ekspresi Chika. Gadis cantik nan judes itu tampak semakin cantik kalau lagi kesal. Chika sudah menjadi incaran Exel sejak kelas satu, tapi gadis itu juga berulang kali menolak karena dia sudah menyukai orang lain. Yup. Rain..


Dan Exel juga tahu akan hal itu, tapi tak bisa berbuat apapun karena nyatanya bukan salah siapa pun, apa lagi Rain. Setelahnya Exel berpacaran sama beberapa anggota basket putri lainnya atau pun di luar anak team.


Chika sudah terang-terangan menunjukkan perhatian dan rasa suka nya pada Rain, tapi nyatanya pria itu tidak memberi tanggapan apa pun.


"Kok Lo ketawa sih. Ga lucu" lanjut Chika berlalu pergi. Selagi mereka sibuk mencoba skill para junior, mata Rain menangkap sosok gadis yang masuk membawa satu dus coklat yang ukurannya lebih besar dari nya. Gadis itu terlihat kesusahan membawa bebannya, tak lama menghilang di balik ruangan guru olah raga mereka.


Rain ingin mengalihkan perhatiannya, kembali pada gadis cantik yang sedang coba mendribble bola, namun gagal. Rain bosan harus ikut menyeleksi anak-anak baru, tapi dia tak bisa berpangku tangan saat teman-temannya yang lain sibuk. Dan hatinya masih tertawan untuk memperhatikan gadis tadi. Rambut ikal hitam nya begitu bercahaya saat dia berjalan dengan susah payah.


"Woi, lihat apaan sih Lo. Noh, si dede gemes udah kelar praktek itu" ucap Deri memukul pundak Rain hingga pria itu kembali pada kenyataannya. Sekali lagi dia melirik, tapi gadis itu tak jua keluar dari ruangan itu. Akhirnya hingga acara itu selesai, Rain tak lagi mengingat perihal gadis itu.


"Kantin yok, lapar gue" seru Exel menarik tangan Rain. Keempatnya berjalan menyusuri koridor sekolah. Pagi ini, kelas mereka kosong karena guru fisika berhalangan masuk. "Kerjakan halaman 25, jangan ada yang ribut apa lagi nongkrong di kantin. Guru kalian tidak masuk, dikarenakan sakit" terang Bu Nola guru Kimia.


Anak- anak kalau di bilang jangan ada keluar justru akan semakin cepat pergi ke kantin. Sebagian mungkin ada yang benar-benar mengerjakan tugas yang di beri. Ada juga yang main gendang di atas meja, meng-ghibah bersama. Sisa nya kebanyakan anak cowok pasti nya memilih kantin sebagai basecamp mereka.


Rain bersama temannya berjalan ke arah kantin melewati lapangan sekolah yang saat ini di penuhi anak-anak kelas satu yang tengah belajar praktek olah raga. Seperti biasa saat mereka lewat akan menjadi pusat perhatian para siswi. Deri dan Exel akan melambai-lambai kan tangan nya bak selebriti, sementara Kai hanya akan senyum jika nama nya dipanggil. Hanya Rain yang akan tetap diam sebagaimana pun panggilan untuknya.

__ADS_1


"Kak Rain..I love you" teriak salah satu dari para siswi yang duduk melingkar. Entah angin apa yang membuat Rain seketika menoleh. Bukan karena kalimat itu. Sejak tadi jenis Kalimat seperti itu sudah menggema beberapa kali dan tak di gubris. Tapi entah mengapa dia mengalihkan wajahnya dan melihat wajah yang dulu samar dia lihat. Wajah itu bersama wajah lainnya melihat ke arahnya, tersenyum puas. Namun saat gadis itu sadar kalau Rain juga menatapnya, dengan cepat gadis itu menunduk dan menggeser duduk nya agar tersamarkan dengan teman nya yang lain.


Ah..masa remaja yang indah. Masa SMA yang akan selalu diingat..


__ADS_2