
Motor itu melesat membelah jalan. Sudah setengah jam berlalu tapi Rain belum juga memutuskan dimana mereka akan berhenti. Menimbang membawa Gwen pulang, tapi hati nya ingin sekali bicara dengan Gwen hati ke hati.
Sepihak Rain memutuskan untuk membawa Gwen ke pasar malam yang kebetulan mereka lewati. Suasana riuh itu setidaknya bisa menyamarkan perasaan mereka yang campur aduk.
"Kita..di sini dulu ya?" ucap Rain kikuk. Turun dari motor dan memilih bangku kosong di pinggir taman. Suara tong setan yang sedang melakukan atraksi bahkan begitu kuat terdengar.
Mengikuti langkah Rain, Gwen hanya tertunduk. Banyak pertanyaan penuh kebimbangan kini terselip di hati nya. Dia datang ke perlombaan gila itu karena ketakutan membayangkan Rain yang mungkin saja mati dalam arena itu.
"Bunda, aku pergi mencari kak Rain" hanya itu ucapan pamit Gwen sebelum melesat pergi dengan Ojol pesanannya yang menunggu di luar.
Ternyata semua usahanya menjaga jarak dengan pria itu tidak berhasil membuatnya lelah untuk menyerah akan rasa rindu itu. Dan rasa luka saat melihat Rain dengan gadis lain tidak mengurangi rasa cinta nya sedikitpun pada pria itu.
Melihat tubuh mungil itu meringkuk kedinginan, Rain membuka jaketnya dan menyampirkan ke punggung Gwen, mengerat kan resleting nya hingga menutup leher mulus Gwen.
Tidak ada yang memiliki inisiatif untuk mulai bicara. Keduanya hanya duduk diam, seperti tidak saling kenal. Tapi kedua tangan mereka saling menggenggam erat.
Kata hatinya, Rain harus menjelaskan mengenai Cheril, tapi lagi-lagi lidah nya keluh untuk memulai. Sementara Gwen, masih berperang dalam hatinya, memutuskan untuk berkata jujur akan alasannya atau tetap memilih diam.
Semua keputusan ada di tangan Rain. Kalau nanti nya pria itu akan meninggalkannya setelah tahu dia gadis penyakitan, maka biar lah itu terjadi.
"Kak.."
"Gwen.."
Kedua nya serentak memulai percakapan. Hingga karena merasa canggung, kembali tertunduk malu.
"Lo aja duluan" ucap Rain mempersilahkan.
"Kakak aja.."
__ADS_1
Saat mulai bicara, dua orang remaja lewat depan mereka. Dari postur tubuhnya, kemungkinan masih SMP. Kedua nya tampak cerita tertawa gembira. Terlebih saat anak laki-laki itu memberikan hadiah gelang hasil kemenangan nya memasukkan gelang dalam botol, kedua ABG itu saling berpelukan.
Rain ingat akan cincin yang kemarin di pulangkan Gwen. Sialnya cincin itu ada di lemarinya. Kalau tidak mungkin malam ini adalah malam yang tepat untuk melamarnya.
Dia tidak akan perduli lagi, walau orang tua Gwen bahkan menentang, dia akan tetap bersama gadis itu.
"Gadis yang waktu itu bersama ku, bukan siapa-siapa, bukan pula pacar. Dia hanya teman di kampus, yang aku gunakan untuk membuat mu cemburu agar kembali padaku..maaf Gwen.." pengakuan Rain yang kini sudah membuat nya lega. Baginya penting apa yang dipikirkan Gwen tentangnya.
"Kakak..." Gwen memandang wajah Rain yang begitu bersinar diterpa lampu malam di taman itu.
"Kamu mau maafin aku kan?" sambung Rain. Gwen hanya mengangguk sebelum mengikuti ajakan Rain untuk masuk dalam pelukannya.
"Kak, kita naik itu ya?" Gwen menunjuk bianglala yang begitu indah dengan cahaya lampu warna-warni.
"Itu? bukan nya itu mainan untuk anak-anak?" tolak Rain. Sedikit geli untuk melakukan hal yang menurut nya norak. Tapi demi melihat senyum di wajah Gwen, Rain pun mengiyakan.
"Kenapa tertawa?" ucap nya datar khas wajah Rain.
"Wajah kakak lucu, aku makin gumush deh" ucap Gwen tepat posisi mereka berada paling atas. Langit yang tadi tampak mendung kini tampak terang gemerlap oleh pantulan cahaya lampu. Bianglala berhenti berputar sesaat. Rain mengambil kesempatan, menarik dagu Gwen dan menyatukan bibir mereka.
Kali ini Rain melakukannya dengan lembut. Penuh perasaan seakan ingin menyampaikan rasa rindu dan gelisah nya selama jauh dari Gwen.
"Kau hidupku. Aku mohon jangan pernah pergi dari ku Gwen. Aku tidak akan sanggup kehilanganmu" ucap Rain tepat di atas bibir gadis itu. Mata mereka kembali beradu. Gwen menangkap siluet air mata di bola mata pria itu.
Begitu pun Gwen, yang begitu terharu tanpa sadar meneteskan air mata. Betapa beruntung nya dirinya, bisa di cintai pria hebat seperti ini, hingga akhir hayat nya.
Kalau pun waktu nya telah tiba nantinya, dia rela, ikhlas menerimanya. Cinta Rain membuat nya bersyukur dilahirkan di dunia ini.
Sekaligus dirinya wanita yang paling kejam di buka bumi ini mungkin, karena akan mematahkan hati pria yang paling dicintainya ini, bahkan bisa saja membuat pria itu jadi gila.
__ADS_1
Tapi Gwen percaya, Rain akan kuat. Dia akan bangkit nantinya. Dan bertemu dengan wanita yang tepat. Maka untuk sekarang biarlah Gwen menyimpan Rain hanya untuknya.
Debar jantung Gwen kembali menghentak. Begitu pun rasa sakit yang menyerang pada kepalanya. Wajah gadis itu tampak pucat hingga membuat Rain ketakutan.
"Gwen..kamu kenapa sayang?"
"Kak..kita pulang ya..aku ga enak badan" rintih nya berusaha memamerkan dirinya yang masih kuat.
Secepat yang dia bisa, Rain membawa Gwen pulang. Gadis itu tampak semakin lemas hingga setelah tiba di depan rumahnya pun gadis itu tak sanggup untuk turun sendiri dari motor.
Perlahan, Rain menapaki kaki turun dari motor agar Gwen yang masih di atas tidak terjatuh.
"Ayo sayang..aku bantu. Kita sudah sampai" ucap Rain lembut membantu Gwen turun dan memapah hingga sampai di depan pintu.
Bel yang sudah di tekan Rain hingga dua kali tak juga mampu membuat orang membuka pintu. Rain menoleh pada Gwen yang ada di sampingnya, yang sudah semakin lemah dalam pelukan Rain. Sekali lagi Rain berteriak memanggil nama Ane, baru lah pintu itu di buka.
"Rain.. Gwen..ya Allah Gwen..kamu kenapa nak?" histeris Ane membuat ayah juga ikut turun.
Tanpa memperdulikan kepanikan Ane, Gwen sudah menggendong tubuh lemah itu ke kamarnya.
"Yah..kita bawa Gwen ke rumah sakit sekarang juga" pinta Ane mulai menangis. Tepat malam itu pukul sembilan, dan hujan pun turun dengan deras, seolah ikut menangis akan keadaan Gwen.
Malam itu juga Gwen di larikan ke rumah sakit. Setelah memeriksa kondisi nya, pihak rumah sakit menghubungi ahli saraf terbaik di kota ini. Dan kini, mereka masih memeriksa keadaan Gwen yang saat di perjalanan tadi sudah tidak sadarkan diri.
"Sebenarnya Gwen sakit apa tante?" tanya Rain bergetar. Melihat tangisan dan ratapan Ane tadi, Wanita itu tanpa sadar menyinggung soal kematian yang membuat jantung Rain hampir berhenti berdetak.
***
Besar harapan semua nya akan mampir di kisah novel induknya ya. Untuk semua dukungannya, aku ucapkan banyak terima kasih
__ADS_1