
Pendingin dalam mobil mewah itu bukan tidak berfungsi, dijamin 100% berfungsi dengan baik, tapi entah mengapa suhu dalam mobil itu berubah panas.
Olin masih terus menyerang bibir Rain hingga pria itu kelimpungan karena terkejut sekaligus terbakar gairah.
Olin akhirnya menghentikan tindakannya setelah merasakan sesuatu di sela pahanya terasa mengganjal. Olin menarik wajahnya ke belakang melihat Rain yang tatapannya sudah sangat terbakar gairah.
"Itu... Apa?" tanya Olin gugup. Dia sudah menebak, hanya ingin memastikan apa isi pikirannya.
Eheemmmm... Rain membersihkan tenggorokan yang terlebih dahulu selalu menjawab pertanyaan gadis itu. "Itu..."
"Nggak usah dijawab, aku udah tahu," potong Olin beranjak dari pangkuan Rain.
Suasana di mobil itu semakin tidak karuan, gugup, ada malu dan juga grogi yang menyerang. "Apa kita sudah bisa jalan sekarang?" tanya Rain setelah mengambil waktu 10 menit untuk meredakan dan membujuk adiknya agar mau kembali tidur lagi.
Olin tidak bersuara hanya mengangguk dan setelahnya Rain menjalankan mobil menuju rumah Naya.
Namun, di tengah perjalanan pikiran Olin berubah, kembali dia tidak ingin pulang dan meminta Rain membawanya ke apartemen.
"Kamu kenapa, sih? Kenapa gak mau pulang?" tanya Rain merasa sikap Olin yang sedikit aneh.
"Gak ada apa-apa. Aku cuma malas pulang," jawab Olin gugup.
Namun, Rain tidak ingin mengambil resiko. Dia tetap mengantar Olin pulang ke rumah Naya, tidak ingin membuat masalah diantara kedua sahabat itu. Jangan sampai Naya memandang rendah dan tidak percaya lagi kepada Olin karena gadis itu sudah berjanji akan pulang dan menginap di rumahnya.
"Kok malah pulang? Dibilang nggak mau pulang, juga," ucap Olin yang memperhatikan jalan yang mereka lalui. Rute itu tetap menuju perumahan tempat mereka tinggal.
"Jadi gadis yang baik, pacar penurut," ucap Rain fokus mengemudi. Rain selalu punya senjata untuk membungkam mulut Olin yang cerewet. Setiap pria itu memintanya menjadi gadis penurut, Olin akan diam dan benar-benar menjadi gadis penurut, tidak ingin membuat Rain kesal, terlebih setelah Olin mendengar ucapan Aurelia dan juga gadis lainnya yang mengatakan mereka harus jadi gadis yang menyenangkan, agar pacar mereka betah bersama mereka.
Rain menghentikan mobilnya tepat di depan pagar rumah Naya. Olin masih tetap cemberut dan tidak mau melihat ke arahnya.
"Udah sampai," celetuk Rain mengulum senyum. Dia harus lebih banyak bersabar menghadapi Olin yang moodnya selalu naik turun, resiko sendiri kenapa pacaran dengan anak SMA.
"Senyum dong, Sayang. Jangan cemberut," bisik Rain membelai pipi Olin lembut.
__ADS_1
"Kenapa gak mau bawa aku ke apartemen?" Olin memutar tubuhnya menghadap Rain.
"Kamu sudah janji akan pulang dengan Naya. Dia juga sudah membantumu minta izin kepada Tante Bee . Kalau kau sampai tidak menepati janjimu untuk pulang maka Naya akan semakin khawatir akan keadaan mu. Apa kamu mau membuatnya mengkhawatirkan mu semalaman?" ucap Rain yang berhasil menyadarkan Olin.
Olin mengangguk, lalu bersiap untuk turun, tapi Rain menarik tangan Olin. "Ciuman selamat malamnya mana?"
Pipi Olin memerah, lalu memejamkan matanya. Rain maju dan kembali mencercap bibir ranum milik Olin. Kalau bukan mengingat Olin masih sekolah, mungkin Rain sudah mengajaknya menikah saat ini juga. Siapa yang tahan terus digoda imannya seperti ini.
***
"Nay, kamu ada saran gak film yang... itu...," Olin bingung harus bagaimana mengatakannya. Dia malu, tapi dia butuh rekomendasi film seperti itu.
"Film apa, sih? Film Korea?" tanya Naya penasaran. Sejak tadi Olin terlihat grasak-grusuk di tempat tidur. Naya menutup laptopnya, matanya lelah main game sejak tadi hanya karena menunggu Olin pulang.
Naya mengempaskan tubuhnya di ranjang, tepat di samping Olin. "Lo kenapa, sih? Sejak pulang ada yang aneh sama Lo," tanya Naya menatap Olin penuh selidik.
"Janji jangan bilang siapa-siapa ya?" Olin memberikan kelingking pada ke hadapan Naya.
"Apa-apaan, sih. Kayak anak kecil, aja," ucap Naya menyingkirkan jari Olin yang tepat di depan wajahnya. "Ada apa?"
"Terus maksudnya, Lo mau nonton film begituan biar tahu cara-caranya?" tebak Naya yang bisa membaca isi pikiran Olin.
Olin mengangguk sembari tersenyum. Ada perasaan malu, tapi kalau dia tidak cerita pada Naya, mau sama siapa lagi?
"Kamu juga pasti mau tahu, kan, Nay? Nanti kalau kamu jadian sama Saga, terus nggak ngerti caranya, apa kamu nggak malu? Anggap aja ini pelajaran pendidikan ****," ucap Olin menggapai tangan Naya, memohon agar gadis itu seturut dan sepikiran dengannya.
Olin selalu berhasil mempengaruhi Naya entah bagaimanapun caranya, gadis itu bisa membuat keteguhan hati Naya jadi goyah. Di sudut hati yang terdalam, Naya juga penasaran, bagaimana pasangan kekasih melakukan hal-hal yang dianggap nikmat dan membuat ketagihan. Selama ini mereka hanya menonton sebatas drama romantis yang sentuhan fisiknya paling jauh juga hanya dengan ciuman.
"Lo bisa searching di Mbah Goo*gle, cari aja rekomendasi film yang berbau plus 21," ucap Naya yang membuat Olin tambah semangat.
Rekomendasi film sudah mereka dapat. Ada beberapa film yang sudah mereka list untuk mereka tonton malam ini. Keduanya sudah mempersiapkan segala keperluan untuk menonton film yang pastinya ngeri-ngeri sedap itu.
Cemilan sudah ada di samping kiri begitupun dengan minuman, lalu Naya mulai memutar film pertama yang akan mereka nikmati bersama.
__ADS_1
"Yang mana dulu kita tonton, Nay?" tanya Olin menatap Naya. Bahkan tangan Olin tampak gemetar menunjukkan film yang sudah dia list.
"Pilih yang paling banyak ditonton orang," sahut Naya ikut deg-degan. Padahal hanya perkara nonton film, tapi menegangkan seperti saat dia lagi berduaan dengan Saga.
"Nay, pintu udah kamu kunci, kan?" tanya Olin memastikan. Padahal walaupun tidak dikunci, siapa yang akan datang ke kamar mereka? Di rumah itu hanya ada mereka berdua bersama seorang pelayan dan satu orang satpam yang berjaga di pos depan.
"Berisik! Buat gue jadi deg-degan aja. Kita ini mau nonton atau mau mencuri, sih? Kok jadi takut begini?" tanya Naya memegangi dadanya. jantungnya berdebar, padahal film belum dimulai tapi dia sudah merasa berdosa.
Durasi film itu hampir dua jam lamanya. Selama itu, keduanya menahan napas, terlebih ketika melihat adegan bagaimana pasangan kekasih itu melakukan hal yang masih dianggap terlalu tabu bagi banyak orang.
Sebenarnya film itu bukan film yang bisa dianggap blue film, karena pada dasarnya masih bisa diakses melalui tayangan net*flix, hanya saja tampilannya dan adegan yang disuguhkan memang sangat frontal.
"Nay, yang aku baca, kalau untuk pertama kali 'kan sakit, kok ceweknya nggak ngerasain sakit, ya?" tanya Olin menatap Naya yang saat itu masih fokus menatap layar laptopnya.
"Nggak tahu. Lo jangan tanya gue! Ini film ada tiga season. Season pertama aja udah buat engap, gimana yang kedua dan ketiga? Lo masih niat melanjutkannya?" tanya Naya meminta pendapat Olin. Film pertama sudah selesai mereka tonton, dan berhasil merenggut pikiran polos mereka.
Seandainya Olin mengatakan tidak, mungkin Naya akan sedikit kecewa karena dia sudah terhanyut dalam romansa film itu. Selain menayangkan adegan vulgar, kenyataannya alur ceritanya begitu menarik terlebih pemeran prianya begitu tampan yang membuat Naya tiba-tiba saja mengingat Saga.
"Ya, nonton lah masa nanggung gini. Aku harus banyak tahu dari film-film gini nih, biar nggak dianggap cupu," ucap Olin yang masih terus mengamati adegan dalam film itu. Ada kalanya dia merasa ngilu dan sejujurnya miliknya terasa basah terlebih ketika menonton adegan yang sangat mendebarkan jiwa dan raganya.
"Kalau begitu kita perlu buat kopi, biar bisa melek, dan melanjutkan film ke dia dan ke tiga," saran Naya yang mantap diangguk Olin.
"Nay, aku kayaknya udah pipis di celana deh, berasa basah gini. Aku ke kamar mandi dulu, ya," ucap Olin sedikit malu. Kalau dibilang buang air kecil, harusnya kasur Naya basah, tapi kenapa ini gak basah sama sekali?
"Gue pikir, gue aja yang begitu," jawab Naya cengengesan. Keduanya buru-buru masuk ke kamar mandi, untuk membersihkan diri, lalu kembali ke depan laptop, memulai petualangan yang baru lagi.
*
*
*
Malam semuanya, bab berikutnya aku mau nampilkan bab dari kisah induk mereka. Dua novel yang menghasilkan tokoh dari novel ini, karena berharap pembaca lebih mengerti alurnya dan yang belum baca cerita induk mereka, bisa mampir ya. Makasih 🙏🥺
__ADS_1
Untuk Kisah Om Duda, Sarange lanjut besok aja, gak usah ditunggu makan ini. Salam Sayang.